PEMILU untuk Siapa?

 

bendera-partai

Dalam minggu pertama dilaksanakannya kampanye Pemilu legislatif, mulai terlihat peta kekuatan finansial partai-partai yang bertarung menuju Senayan. Seperti bisa diduga sebelumnya, kekuatan lama tidak banyak berubah. Golkar, PDI Perjuangan, yang dikenal sebagai partai berbasis masa kuat, PKB dan PAN yang didukung ormas keagamaan, sekarang ditambah PKS dan Partai Demokrat, berani unjuk gigi menggalang masa dalam jumlah besar. Tentu saja, dana yang disediakan untuk ini tidak kecil.

Seorang pengamat politik menyebutkan bahwa, kampanye massa tidak lagi menjadi cara utama kebanyakan peserta Pemilu karena kekuatan logistik partai (khususnya finansial) tidak bagus. Dengan legitimasi masing-masing, partai-partai cenderung berusaha mendekati rakyat dengan berbagai pelayanan. Persalinan gratis, fogging anti DB gratis, sunat gratis, hingga pijat dan gunting rambut gratis.

Apakah rakyat yang diberi merasa senang? Tentu saja. Tidak biasanya partai politik memperlakukan mereka dengan baik seperti itu. Akan tetapi, tentu saja, mereka tahu bahwa masa “bulan madu” ini hanya sementara saja. Begitu mendekati hari H pencoblosan / pencontrengan, semua servis tadi akan berlalu seperti angin.

Apakah rakyat akan memilih partai yang telah berbaik hati pada mereka itu? Belum tentu. Bahkan mungkin mereka tidak akan ingat lagi nama partai yang baru saja melakukan fogging atau memijat mereka.

Bagaimanapun, kebanyakan rakyat masih melihat kode partai atau sosok dalam partai yang mereka jadikan acuan dalam memilih. Rakyat ingat pohon beringin dan warna kuning; yang lain lebih ingat banteng dan Bung Karno, atau Megawati anak Bung Karno; yang lain ingat partainya Gus Dur, Amien Rais, atau SBY. Ingatan ini tersimpan dalam ketidak sadaran mereka, dan itu akan mempermudah mereka dalam memilih sebuah nama partai di antara puluhan lainnya. Jadi, seperti sebuah proses marketing, hanya partai yang bisa menanamkan image ke dalam alam bawah sadar massa yang bisa mendulang suara besar.

Tak dapat disangkal, sekalipun membawa trauma masa lalu, Golkar selalu dikenal memiliki kader yang berpengalaman dalam pemerintahan. PDI Perjuangan senantiasa diasosiasikan dengan suara rakyat kecil, berkat ingatan orang terhadap Bung Karno yang marhaenis. Yang diprediksikan akan mengejutkan adalah perolehan suara PKS, karena partai ini dikenal kuat dalam pola sosialsiasi dan kaderisasi di akar rumput. Bila orang sudah tertarik pada PKS, apalagi sudah bergabung, hampir tidak mungkin berubah ke “lain hati”.

Suara mengambang yang tidak tersentuh partai politik akan jauh lebih banyak volumenya daripada jumlah masyarakat yang sudah menetapkan pilihan. Mereka inilah yang sebenarnya menjadi target partai-partai gurem yang selalu muncul silih berganti pada tiap Pemilu legislatif. Kalau mereka bisa diyakinkan, bukan tidak mungkin partai sebesar Golkar dan PDI Perjuangan pun akan merasa gentar. Sebaliknya, bila suara mengambang ini tidak dimanfaatkan, keuntungan berada di pihak partai-partai yang sudah mapan dengan konstituen yang jelas.

Seperti dalam kasus pemilihan Gubernur Jawa Barat yang dimenangkan oleh kader PKS. Naiknya sang kandidat menjadi gubernur bukan karena kuatnya suara PKS semata, namun lebih dikarenakan tingginya tingkat golput, sementara seperti diketahui suara PKS selalu solid. Akibatnya, bisa dikalkulasi, voter pada kandidat PKS menuai hasil yang optimal. Kasus serupa juga terjadi di NTB, yang memenangkan kandidat yang tidak didukung oleh partai besar namun didukung oleh para pemuka dan pengikut Nahdlatul Wathon.

Memenangkan kepercayaan rakyat tidaklah mudah, dan lebih tidak mudah lagi dengan banyak terungkapnya kebusukan para anggota dewan legislatif pusat hingga tingkat II. Indikasi bahwa mereka naik menjadi wakil rakyat karena kepentingan pribadi dan golongan seperti sudah menjadi rahasia umum, dan itulah yang membuat rakyat kian muak. Munculnya kabar pengunduran diri mantan Kapolda Jatim dari kepolisian yang dikaitkan dengan kecurangan KPU daerah membuka sebuah babak baru.

Kasus ini memang aneh sejak awal, namun baru menyita perhatian tepat menjelang kampanye Pemilu legislatif saat diungkapkan oleh mantan Kapolda Jatim. Bila sebelumnya ketidak percayaan lebih pada kualitas calon legislatif, sekarang ditambah lagi dengan kredibilitas petugas KPU di pusat dan daerah. Tak kurang dari Megawati Soekarnoputri selaku pendukung Khofifah Indar Parawansa yang bersuara cukup lantang mengenai kinerja KPU ini.

Pengalaman banyaknya masyarakat Indonesia yang tidak menggunakan hak suara dalam berbagai pilkada di Indonesia mengindikasikan sesuatu. Setidaknya, hal itu mengindikasikan ancaman tingginya angka golput dalam Pemilu legislatif nanti. Kondisi ini diperparah dengan tata cara baru dalam pemilihan, seperti: mencontreng bukan mencoblos, boleh mencontreng lebih dari satu asalkan dalam satu partai, ukuran kertas suara yang sebesar koran hingga butuh cara pelipatan khusus agar tidak sobek, dan lain sebagainya.

KPU sendiri sebenarnya sudah mengantisipasinya dan tidak berpangku tangan dalam sosialisasi Pemilu 2009, serta sudah banyak mengupayakan agar masyarakat bersedia menyalurkan suara mereka di TPS-TPS. Iklan dan kampanye anti golput ditebarkan melalui media massa dan berbagai sendi ormas masyarakat, termasuk kaum ulama.  

Pemilu memang pesta demokrasi. Rakyat memegang peranan penting dalam menentukan nasib bangsa, melalui wakil-wakil mereka di parlemen. Berbagai janji politik manis ditebar, agar partai dan caleg terpilih, sementara mungkin ada janji lama yang tidak pernah terealisasikan. Intinya, tanggal 9 April nanti rakyat memegang kendali. RAKYAT MEMANG SEYOGYANYA TIDAK ABSTAIN.

Satu pertanyaan: bisakah apatisme rakyat dibangkitkan lagi dengan janji-janji politik? Kalau rakyat sudah tidak percaya pada komponen sistem (caleg, partai, bahkan KPU) … lalu sebenarnya Pemilu ini untuk siapa?

Menarik untuk disimak nanti, dari seluruh warga bangsa yang berhak memilih, berapa persen yang akan terhitung dalam bilik pemilih. 

One Response to “PEMILU untuk Siapa?”

  1. assalamu alaikum wr. wb.

    Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

    http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/

    sudah saatnya kita ganti sistem, semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

    Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
    Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

    wassalamu alaikum wr. wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: