Musim Kampanye Tiba!!!

 

 

 

langit Indonesia selama 24 hari

langit Indonesia selama 24 hari

Musim kampanye legislatif sudah tiba. Tanggal 16 Maret 2009 peluit pembuka sudah dibunyikan, dan pawai parpol pun bergerak. Waktu yang diberikan pada kepada parpol peserta Pemilu legislatif tidak banyak, dibandingkan dengan jumlah parpol yang ikut serta. Beberapa parpol bermodal besar sudah menyiapkan kampanye kelas nasional, dengan jurkam public figure di Senayan hingga ornag nomor satu dan dua di negeri ini. Yang lain sudah ancang-ancang show of force di lapangan, dengan pertunjukan dangdut seperti biasa. Pendek kata, jangan harap waktu yang kurang dari 1 bulan ke depan akan sepi dari gesekan dan konflik horizontal, antar massa kampanye.

Secara pribadi, saya tidak terlalu bergairah pada pemilu legislatif tahun ini – justru karena terlalu banyak parpol yang “coba-coba” ikut serta dalam pemilu, dengan impian menempatkan jajaran legislatif mereka di gedung dewan. Dalam akal sehat saya, semakin banyak partai yang terpampang dalam surat suara semakin mirip karnaval jadinya. Megah, enak dilihat, tapi tidak serius.

Kalau kita tinjau berbagai partai yang bertarung di ajang kampanye pemilu kali ini, sebenarnya tidak semua punya basis massa yang kuat. Yang selalu punya basis massa karena sudah veteran dan establish, sebut saja partai besar macam Golkar, PDI Perjuangan, dan Partai Persatuan Pembangunan yang sudah ada sejak era orde baru. PKB dan PAN selalu bisa berharap dari basis massa NU dan Muhammadiyah mereka. PKS adalah nama yang belum terlalu lama terdengar, namun kian diperhitungkan, karena kemampuannya menggalang basis massa yang solid. Personality, kharisma, dan pola kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah pasti berpengaruh besar pada penggalangan massa Partai Demokrat dalam pemilu bulan depan.

Selain SBY, mantan petinggi militer lain yang dulu juga aktif semasa orde baru, dan sekarang ikut muncul dengan partai bentukan mereka, adalah Wiranto (Hanura) dan Prabowo (Gerindra). Mungkin Gerindra akan menjadi partai baru yang patut diperhitungkan, karena sokongan dana yang kuat sehingga memunculkan berbagai advertorial yang sangat menawan. Jauh lebih inspiratif daripada iklan partai lain, yang saling klaim (Gerindra setali tiga uang sebenarnya, mengklaim kelemahan pemerintahan sekarang dan keyakinan bisa berbuat lebih baik, namun kemasannya jauh lebih mantap).

Di luar itu, ada barisan sakit hati individu yang hengkang dari sebuah partai dan bergabung dengan partai lain atau membentuk partai baru. Ada juga partai yang gagal 4 tahun lalu, sekarang masuk lagi dengan modifikasi nama. Beberapa partai yang bertarung dalam pemilu yang lalu tidak bisa maju lagi, namun ada pula yang benar-benar fresh dan baru muncul sekarang.

Issue golput, massa mengambang yang memutuskan untuk tidak memilih, adalah momok dalam setiap pemilihan umum. Sebut saja pemilihan kepala daerah di berbagai tempat belum lama berselang, berapa banyak nama yang akhirnya memutuskan untuk tidak hadir di bilik suara untuk memberikan suara mereka. Tidak heran, dalam berbagai kesempatan, lembaga yang berwenang dalam penyelenggaraan pemilihan umum selalu mencoba meyakinkan massa untuk tidak golput. Berbagai alasan dirayukan agar orang mau menyalurkan suara mereka dalam pemilu bulan depan. Bahkan tak kurang dari MUI sampai mengeluarkan fatwa haram untuk tindakan golput (sigh!).

Entah apa yang dipikirkan para calon legislatif saat menempelkan gambar dan foto mereka di sudut jalanan, dengan biaya yang tidak murah. Sungguh lucu bila sempat memperhatikan foto-foto caleg yang terpampang di jalanan. Beberapa orang tampil dengan gaya serius, gagah berpeci, senyum mengembang, bahkan ada yang norak juga, dan lain sebagainya. Semua gelar akademis, kultural, dan personal ditampilkan, sehingga ada yang bernama Raden Roro Hj. XXXXX, Msc. Figur Bung Karno, Megawati, SBY, Gus Dur, tak jarang menjadi background. Yang kurang pe-de, bahkan menyebutkan nama bapaknya yang sebelumnya dikenal masyarakat sebagai orang terpandang.

Berbagai kalimat manis ditulis di sana, janji-janji politik nan manis diungkapkan, bahkan ada yang melakukan kontrak politik segala. Pernah terlihat caleg yang menjanjikan 100% gajinya untuk hibah pada masyarakat, tapi ada yang hanya 10% saja. Kira-kira, kalau mereka terpilih,  apakah benar mereka mau berbuat seperti itu? Apakah orang akan tertarik begitu saja akan datang ke bilik suara untuk mengantarkan orang yang tidak mereka kenal ke kursi dewan – yang dipahami bermandikan materi?

Berapa banyak caleg yang berada di tengah konstituennya dan berbicara dengan mereka? Kok rasanya tidak pernah saya dapati seorang calon legislatif “blusukan” kampung untuk berbicara di forum-forum kecil untuk memenangkan perhatian para calon pemilih? Semua partai yang berbicara atas nama rakyat, wong cilik, akar rumput, bagaimana cara mereka bicara?

Setelah Obama terpilih sebagai Presiden, beberapa kisah biografinya yang disiarkan di televisi menceritakan bagaimana dia berjuang keras dan konsisten untuk memenangkan suara di beberapa wilayah yang menjadi basis konstituennya. Ketika para kandidat kulit putih tumbang, Partai Republik akhirnya memunculkan kandidat berkulit hitam pula (maunya supaya head-to-head dengan Obama dalam menarik minat pemilih berkulit hitam), namun akhirnya Obama jua lah yang memenangkan pertarungan. Sistem pemilihan di Amerika memang berbeda dengan Indonesia, namun demikian saya pikir pemilu legislatif sekarang ini semakin mirip dengan pemilihan anggota kongres maupun senat.

Pada masa orde baru, kita mengenal istilah caleg nomer sepatu karena pola masuk caleg ke dewan sesuai dengan urutan yang ditentukan partai. Semakin kecil nomor, lebih mungkin seseorang masuk ke gedung dewan. Di sisi lain, caleg nomor sepatu (nomor besar – 39, 40, 41 dst) seperti penggembira saja, karena tidak mungkin mereka masuk ke gedung dewan dengan mudah.

Kalau sekarang undang-undang memperbolehkan masyarakat memilih caleg dengan nomor sepatu untuk masuk ke gedung dewan asalkan suara yang dijaring mencukupi, seharusnya mereka lebih aktif mempromosika diri di dapil masing-masing. Tidak sekedar pasang foto, dan seolah-olah pekerjaan mereka selesai. Bagaimana mereka bisa yakin orang akan memilih mereka, sementara mereka tidak pernah menampakkan batag hidung di depan konstituen?

Yang lebih parah lagi, kelakuan korupsi (atau sekurangnya dugaan korupsi) anggota legislatif yang terhormat seperti tidak pernah berhenti. Ironis sekali, hanya dalam hitungan puluhan menjelang pemilu, masih ada anggota DPR yang tertangkap basah oleh KPK, dan diduga terlibat dalam konspirasi korupsi. Satu persatu KPK menggelandang oknum-oknum tersebut ke kursi pesakitan. Belum lagi pengakuan Permadi tentang perilaku anggota dewan yang tidak senonoh, dan kemangkiran yang seolah sudah jadi penyakit kronis. Di layar kaca, terlihat anggota dewan baku pukul di ruang sidang, dan kelakuan anarkis lain yang tidak perlu. Pendek kata, sungguh ironis bahwa orang yang berani menyebut dirinya sebagai wakil rakyat yang terhormat tidak menunjukkan perilaku yang terhormat.

Kalau melihat semua fakta, rasanya demokrasi yang berkibar selama 10 tahun terakhir masih jauh dari wujud yang kita harapkan. Gedung dewan dan anggota dewan yang kita harapkan mampu memandu agenda demokrasi, justru sibuk mencari cara menaikkan citra pribadi dan partai – bukan kepentingan rakyat. TAPI KITA TIDAK BOLEH MENYERAH.

Ada figur-figur yang selalu bicara untuk dan demi rakyat. Ada partai yang mengemban amanat rakyat dengan setia. Pada merekalah kita bisa menyerahkan kepercayaan kita. Panji-panji demokrasi tidak boleh jatuh ke tangan penguasa yang otoriter lagi, dan Indonesia akan kembali terpuruk dalam kondisi yang sama dengan masa orde baru atau orde lama. Demokrasi memang butuh waktu, dan sekalipun banyak partai yang mengritik penguasa – pada kenyataannya – proses demokrasi tetap berjalan ke arah yang benar.

Suara rakyat adalah suara Tuhan. Allah tidak akan mengubah nasih sebuah bangsa sebelum bangsa itu sendiri yang mau berubah. Rakyat Indonesia sudah ingin berdemokrasi, dan Allah akan memenuhi janjiNya.

Kalau Amerika (misalnya) sudah sedemikian maju dengan iklim demokrasi mereka, dan kita hendak memperbandingkan diri dengan mereka, itu tidaklah adil. Indonesia baru 60 tahunan merdeka dan 10 tahunan mengecap alam demokrasi yang sebenarnya – sementara Amerika sudah sejak tahun 1700-an merdeka, dan setelah lepas dari kolonisasi Inggris terus bergerak menjadi sebuah republik yang kian mapan. Bahkan Amerika Serikat pun pernah mengalami masa perang saudara selama masa penegakan republik federasinya. Jadi, kalau hanya riak-riak kecil selama proses demokrasi, Indonesia masih jauh lebih beruntung.

Dalam dua periode pemilu yang lalu, pasca kejatuhan orde baru, Indonesia telah melakukan pemilu dengan aman dan tertib. Hal itu sungguh mencengangkan banyak negara Barat – sebab bangsa ini terdiri dari begitu banyak suku dan negara pun berbentuk kepulauan yang terpisah lautan. Bandingkan dengan beberapa pemilu di belahan Asia lain – yang sama-sama sedang berjuang dalam iklim demokrasi – seperti India, Pakistan, Bangladesh, bahkan tetangga-tetangga kita seperti Filipina, Myanmar, Thailand, dsb. Indonesia yang jauh lebih luas wilayahnya, jauh lebih majemuk dan jauh lebih rawan konflik perpecahan, justru jauh lebih aman dibandingkan dengan negara-negara tersebut.

Saya selalu bangga menjadi bagian dari bangsa ini, dengan segala macam kelebihan dan kekurangannya. Semoga demokrasi yang sedang berproses ini terus bergulir hingga menemukan bentuknya yang paling cocok dengan karakter bangsa – sebab demokrasi justru adalah tuntunan Rasulullah Saw.

Muhammad Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan sistem pemerintahan monarki sebagaimana yang banyak dianut negara-negara Islam, dengan menunjuk putri atau atau cucu beliau sebagai penerus. Kaum Muslimin lah yang menentukan pemimpin mereka sendiri melalui pemilihan. Karena itulah, demokrasi harus tegak di bumi Pancasila ini, dengan wajah dan semangat yang paling sesuai dengan karakter bangsa. Demokrasi yang cocok untuk orang Islam, maupun bukan orang Islam. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: