Time to Move On

Catatan Akhir Februari 2009 – 

 

Akhir bulan ini mungkin merupakan kali terakhir saya bertemu dengan salah seorang teman baik, kolega kerja, yang sama-sama penggemar jazz.

Teman saya itu, seorang wanita, akan ikut suaminya pulang ke negerinya di Denmark sana. Setelah bekerja sekitar 5 tahunan, dia bertemu jodohnya, dan tak dinyana adalah seorang bule asal Skandinavia yang dingin. Bukan Cuma beda negara, sang bule juga punya agama dan kultur yang sangat jauh berbeda. Sebelum mereka menikah, laki-laki Danish itu menjadi mu’alaf, dan setelah pensiun dini (dia pegawai negeri di kota kecil di Denmark sana), dia tinggal dengan istrinya (teman saya itu) di negeri tropis ini. Sekarang mereka sudah punya seorang anak yang lucu yang berusia 7 bulanan, dengan penampilan dan wajah yang sangat Eropa.

Keputusan untuk berhenti bekerja tentunya bukan keputusan yang mudah, mungkin sama dengan keputusan suaminya yang berhenti menjadi pegawai kota praja di negerinya sana. Akan tetapi, yang jauh lebih berat adalah meninggalkan negeri ini dan berpindah ke sebuah negeri yang berbeda 180 derajat. Konon, negeri yang akan ditujunya sangat dingin (tentu saja karena letaknya berada di lingkar Utara bumi), dan danau membeku bila musim dingin seperti saat ini. Negeri yang mayoritas bukan Muslim itu adalah penggemar dua jenis makanan yang diharamkan dalam Islam: khamar dan babi. Sekalipun berada di Eropa, tidak semua orang di negeri itu bisa berbahasa Inggris, sementara teman saya hanya bisa berbahasa Inggris (selain bahasa ibunya dan bahasa Indonesia).

Membina sebuah rumah tangga dengan seorang asing bukanlah hal yang mudah, dan begitu banyak kompromi yang dilakukannya untuk menjaga keutuhan bahtera yang sudah lama diidamkannya dan sekarang sedang dilayarinya bersama sang suami. Sebagai seorang muslimah, ia ingin sang nakhoda adalah navigator ulung yang mampu menyelamatkan bahtera dari badai – dengan berpedoman pada kitabullah dan sunah rasulullah. Akan tetapi, bagaimana bila sang nakhoda masih belum mampu memahami navigasi ala muslim? Itulah seni berumah tangga yang saat ini dimainkan teman saya itu, dan menurut saya dia sangat lihai.

Itu pulalah yang membuat dia harus memutuskan untuk bergerak. Waktunya adalah sekarang. It’s time to move on.

Moving adalah hijrah, sebenarnya adalah salah satu pokok ajaran Rasulullah Saw. Banyak pelajaran yang dikandung oleh perintah ini, khususnya (sebagaimana disebutkan oleh DR Moh. Soleh dalam Terapi Salat Tahajud) untuk memelihara qaulan tsaqila – yaitu perkataan berat yang diturunkan oleh Allah. Dari tafisr Al Maraghi, perkataan berat ini maksudnya perintah yang berat untuk dilakukan oleh seorang mukallaf (seorang Muslim yang baliq dan berakal).

Kalau kita hijrah ke sebuah tempat yang penuh hikmah dan bisa mendorong keislaman kita lebih kuat, itu sangat masuk akal. Teman saya ini justru sebaliknya, dengan kemampuan agamanya yang tidak terlalu baik, dan suaminya yang masih belum kaffah dalam ber-Islam, dia harus memutuskan untuk berhijrah ke tempat yang berpotensi besar melemahkan akidah mereka. Apakah ini keputusan yang benar? Hanya Allah yang tahu kunci jawabannya.

Beberapa hari sebelumnya, seorang teman lain juga resign dari tempat kerjanya – yang menurut ukuran normal sudah lebih dari mencukupi. Di usianya yang muda ia telah mencapai posisi karier yang sangat bagus. Dalam email terakhirnya pada semua kolega kerja, dia memberi header: time to move on.

Manusia – pada hakikatnya – berkarier dalam hidupnya, bukan sekedar karier dalam bidang pekerjaan tetapi juga dalam upaya mencapai tujuan hidup sebagai manusia yang paripurna. Sebuah karier memiliki jenjang, dan seperti sebuah tangga, ada puncak yang bisa diraih. Tiap orang memiliki visi yang berbeda dalam karier kehidupan ini, tergantung bekal yang dulu dipersiapkannya semasa muda.

Kalau saya menganggap bahwa karier pekerjaan saya sudah hampir di puncak, itu sah. Tidak banyak lagi yang bisa saya lakukan untuk mencapainya, selain memberikan peluang pada waktu untuk memainkan kartu-kartunya. Kalau saya menganggap bahwa terlalu enak membiarkan waktu bermain sendiri, dan saya memutuskan untuk mencari jalur baru – agar bisa lebih kuat mencari positioning dalam akhir karier saya – itu juga sah.

Intinya, Allah memberi kita budi untuk menentukan akhir karier saya – baik di bidang pekerjaan maupun sebagai manusia. Kita diberikan keleluasaan untuk berhenti atau terus bergerak. Seseorang mengatakan, my ceilling is the sky … atapku adalah langit, artinya semuanya adalah peluang dan tidak ada kata akhir dalam berusaha. Orang lain berprinsip, my sky is the ceilling … bila menganggap kehidupannya sangat muram dan pesimis.

Hijrah adalah sebuah langkah untuk berubah, baik dalam pemikiran, tindakan, maupun lokasi. Hijrah merupakan tuntunan bagi kaum Muslim agar selalu menyegarkan pikiran, dan mencoba gagasan, lepas dari rasa putus asa maupun pesimisme.

Teman saya yang memutuskan untuk move on pada saat karier kerjanya sedang bagus tersebut memang memilih sebuah pekerjaan lain yang bergaji lebih besar, namun di lokasi yang jauh lebih menantang, dan di bidang yang disukai engineer. Hijrah yang dilakukannya sekarang, diyakininya, adalah sebuah langkah awal dari berbagai langkah lain yang (mungkin) kelak akan dijalaninya.

moving on will face difficulty

moving on will face difficulty

Time to move on, hajran jamila, hijrah yang indah … ke tempat yang memungkinkan kita untuk menjadi orang yang lebih baik. Lebih baik dalam pemikiran, sikap, dan perbuatan.

Tentu saja, hijrah tidak mudah dilakukan, karena hijrah adalah perubahan. Tidak semua orang suka perubahan, dan berani menghadapinya. Comfort zone yang sudah terbentuk menjadi oase semu, karena dianggapnya mampu memberikan kenyamanan yang langgeng – padahal tidak ada satupun kenyamanan yang langgeng di muka bumi.

Dengan berhijrah, kita menjadi terbiasa untuk menghadapi perubahan. Kita jadi berani menantang resiko, dan menyerapnya menjadi survival ability. Intinya, hijrah adalah kebaikan.

2 Responses to “Time to Move On”

  1. membaca tulisan di atas, semakin menguatkan diri untuk berbenah dan bersiap untuk melalang buana..:)

  2. tapi bercermin pada keadaan diri, kadang gamang pun mendera karena sayap masih lemah dan rapuh ….gimana mau bisa terbang jauhh kalo sayap masih satu…uuh dimana kah sayap satu lagi ..???

    hehehe…. kumat lagi dehh..
    sebagi seorang yg masih lajang……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: