Sulitnya Menghadapi Remaja

 

bentuk eksplorasi

bentuk eksplorasi

Berkembangnya pertelevisian, maraknya berita-berita nasional yang bersifat public interest, pada akhirnya menumbuhkan rasa cemas pada orang-orang tua yang memiliki anak usia remaja.

Berkali-kali ditayangkan pelajar selevel sekolah menengah yang digiring ke kantor polisi karena tawuran. Hanya karena urusan sepele, dua kelompok pelajar baku hantam dan saling lempar batu di jalan. Premanisme, pencurian motor, perjudian yang saat terungkap pelakunya ternyata adalah remaja. Gang remaja sekarang bukan hanya laki-laki, bahkan anak perempuan bisa lebih beringas pada sesama ABG perempuan, termonitor lewat kamera ponsel. Penyebaran pornografi melalui ponsel, saling pinjam DVD porno, kontak seksual sebagaimana layaknya orang dewasa, hingga prostitusi terbuka dan terselubung, juga memberikan warna yang menakutkan.

Awam sering bertanya: Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita?

Mungkin pendidikan di negeri tercinta ini belum sempurna, dan masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan untuk membangun sebuah sistem yang lebih baik. Namun demikian, sebenarnya juga perlu dipertanyakan seberapa proporsional pemberitaan-pemberitaan tersebut.

Seperti kita pahami, fenomena yang terjadi di alam pada umumnya adalah distribusi normal. Artinya, kelompok pelajar yang berperilaku menyimpang berada di sisi lain dari kelompok pelajar yang penuh prestasi. Jumlah kedua ekstrim ini tidak banyak sebenarnya. Yang paling banyak justru pelajar yang “sedang-sedang” atau “biasa-biasa” saja. Kalau nakal, masih nakalnya remaja. Kalau pun berprestasi, masih dalam taraf prestasi yang normal. Saya berpendapat, pemberitaan di media televisi dan pemberitaan lainnya kurang proporsional. Bagaimanapun, karena mereka mencari “rating” (bagi televisi) dan oplah (bagi media cetak), sebuah kasus yang memiliki nilai berita akan jadi komoditi yang baik. Tidak lagi bicara soal statistik.

Tanpa hendak mengecilkan kontribusi jurnalisme tersebut, masyarakat perlu paham bahwa penyimpangan perilaku tidak selalu terjadi pada remaja, bahkan kasusnya tidak selalu ditemukan dalam tiap kelompok masyarakat. Yang lebih besar proporsinya pada dasarnya adalah remaja yang bermasalah, dan ketidak berhasilan orang tua untuk menarik anak-anak mereka dari kubangan masalah tersebut.

Sejak dulu, menghadapi remaja tidak pernah mudah. Pola pikir dan pola asuh orang tua kepada anaknya yang sudah terbentuk sejak lama harus berubah saat anak memasuki usia remaja. Dalam pengertian umum, masa remaja adalah tahap transisional  perkembangan fisik dan mental  manusia yang terjadi antara masa anak-anak dan dewasa. Transisi ini meliputi perubahan biologis (pubertas), sosial, dan psikologis, akan tetapi perubahan biologis dan fisiologis yang paling mudah diukur secara objektif. Bukan hanya orang tua yang mengalami kebingungan dalam menghadapi perubahan anak, anak itu sendiri pun mengalami kebingungan dengan perubahan yang terjadi pada dirinya sendiri.

Bila secara fisik pubertas ditandai dengan munculnya sex sekunder sehubungan  kematangan organ-organ seksual, secara psikologis muncul perubahaan mood yang dikenal sebagai mood swings. Tidak heran, emosi remaja sering berubah seketika dan tidak diduga-duga.

Kecenderungan untuk berinteraksi dan bergantung pada peer (teman sebaya) juga merupakan salah satu ciri perkembangan remaja, dan menggeser makna penting keluarga dengan peer group (kelompok sebaya). Tidak mengherankan bila kemudian kelompok mendominasi kehidupan remaja, dan semakin menjauhi orang tua bila sang orang tua tidak bijak menyikapi kondisi ini. Dari sini kita bisa pahami bahwa budaya berkelompok dan gang adalah ciri remaja, sehingga semakin keras orang tua menekan anak untuk berpisah dengan peer group yang cocok dengannya, semakin bingung anak menetapkan pilihannya.

Dalam kehidupan berkelompok, dikenal istilah peer pressure (tekanan kelompok), yang biasanya berkaitan dengan norma dan kaidah sosial tertentu yang dianut kelompok tersebut. Norma ini bisa bersifat negatif tetapi bisa juga positif. Norma yang negatif bisa menggiring remaja pada sikap permisif dalam kontak seksual, konsumsi alkohol dan narkotika, hingga perilaku kriminal. Sebaliknya, norma positif akan membawa remaja dalam lingkungan agamis, kecerdasan intelektual dan emosional, dan bentuk positif lainnya.

Bagaimana remaja menentukan peer group-nya bisa tergantung pada beberapa kondisi, tetapi jelas salah satunya adalah faktor keluarga. Lingkungan rumah (keluarga) membangun pondasi yang kuat dalam pikiran anak dan mencapai puncaknya saat dia memasuki masa remaja. Misalnya, anak yang “teraniaya” akan melampiaskan kemarahannya pada objek yang bisa dimanipulasinya (binatang kecil atau teman yang lebih kecil), dan ketika memasuki masa remaja hal ini mencapai puncak dengan perilaku yang lebih kejam. Dia juga akan lebih memilih menjadi penyendiri atau bergabung dengan peer group yang sejalan dengan pikirannya. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, juga akan memilih kelompok yang tidak jauh dengan sikap dan kepribadian yang dibangun di dalam keluarga.

Mungkinkah sebuah keluarga yang utuh dan harmonis menghasilkan anak-anak remaja yang bermasalah? Secara umum tidak, namun setiap orang tua harus jujur mengakui adanya kesalahan dan kekeliruan dalam pengasuhan anak. Orang tua seyogyanya tidak merasa benar sendiri, dengan dalih demi keutuhan dan keharmonisan keluarga. Utuh dan harmonis bisa dirasakan, bukan sekedar yang ditampakkan. Anak bisa menilai keharmonisan tersebut, dan menentukan sikap berdasarkan apa yang dilihat dan dirasakannya.

Orang tua mungkin bisa menyamarkan kondisi di rumah pada anak-anak karena keterbatasan kapasitas kognitif mereka, namun semakin sulit menutupi fakta dari seorang remaja. Menurut Piaget, salah seorang pakar perkembangan, masa remaja ditandai dengan peningkatan kemampuan kognitif; di periode ini anak mulai mampu menerima bentuk-bentuk abstrak, sehingga individu remaja mulai berpikir dan menalar pada lingkup yang lebih luas. Berkurangnya egosentrisme pada remaja memberikan peluang bagi orang tua untuk berkomunikasi secara lebih terbuka dan mendalam, dan memang remaja membutuhkan perlakuan yang berbeda dibandingkan dengan saat mereka masih anak-anak dulu.

Satu lagi yang menjadi ciri remaja adalah budaya kontemporer, dan ini mau tidak mau harus menjadi perhatian orang tua. Budaya kontemporer yang dianut masa remaja mencakup di antaranya gaya berpakaian, piranti komunikasi dan audio-video semacam ponsel dan iPod, gaya bicara, artis idola, jenis musik, tempat-tempat rendezvous yang “gaul”, dan sebagainya. Sekalipun tidak menyukainya, orang tua perlu memberikan respek pada pengaruh budaya kontemporer semacam ini.

Jadi, perubahan pada individu dari periode anak-anak ke periode remaja bisa dikatakan sebagai proses transisi yang kompleks. Dari segi fisik dan fisiologis, terjadi perubahan dan perubahan tersebut signifikan, bisa dilihat dengan mata. Emosi dan kepribadian anak yang menginjak remaja juga berubah, dan di masa transisi ini terjadi beberapa kelabilan karena sifat alami remaja adalah mencari identitas diri. Identitas diri yang mana?

Pertama, remaja membutuhkan pengakuan bahwa mereka bukan anak-anak lagi. Untuk membuktikannya, mereka cenderung melakukan beberapa pembangkangan langsung maupun tidak langsung – karena meyakini bahwa orang dewasa bisa mengambil keputusan sendiri. Remaja tidak ingin sekedar didikte, karena mereka mulai mau didengarkan. Perkembangan kapasitas intelektual dan emosi mereka memang sudah memungkinkan untuk diperlakukan lebih dewasa.

Kedua, dorongan alami remaja adalah bersosialisasi (seperti halnya orang dewasa), dan menempatkan kelompok di atas orang tua. Bentuk sosialisasi ini bisa berupa eksistensi / keberadaan dalam kelompok dan pengadopsian budaya kontemporer dalam pergaulan.

Bagaimanapun, rumah (keluarga) selalu menjadi tempat pulang bagi remaja dan mereka sebenarnya masih selalu ingin pulang kepada orang tua. Rumah yang terbuka dan dipenuhi dengan kehangatan komunikasi selalu dirindukan oleh remaja.

Bila seorang remaja mulai menunjukkan perubahan ke arah yang negatif: bergaul dengan kelompok delinkuen (menyimpang/kriminal), pacaran yang mulai melebihi batas, berkenalan dengan alkohol dan rokok, memutar film porno, hampir dipastikan karena pengaruh teman akan tetapi telusuri akarnya di dalam keluarga!

Dalam banyak kasus, anak yang mencari penyaluran di luar dikarenakan tersumbatnya komunikasi di rumah. Mungkin orang tua mau mendengarkan, tetapi tidak cukup bijak menyikapi mereka. Mungkin cukup bijak, tetapi kurang intensitas pertemuan. Orang tua haruslah cerdas dalam menghadapi remaja, karena remaja sudah mampu berpikir dan menalar. Bukan hanya harus cerdas, pertemuan yang terjadi haruslah intens dan dalam, agar orang tua mampu mendekatkan diri secara emosional dengan anak mereka.

Apakah orang tua yang bijak tidak perlu marah? Itu konsep yang keliru. Orang tua tetap sebagai komandan dalam keluarga. Bila masih lengkap, orang tua adalah ayah dan ibu. Dominasi dari salah satu di antaranya akan membawa bencana bagi pertumbuhan remaja. Orang tua berhak marah dan mendominasi, menghukum dan menghilangkan privilege anak bila perlu (misalnya ijin menggunakan ponsel atau berinternet), dalam upaya mendisiplinkan anak.

Menjadi dewasa adalah sebuah proses, dan proses pertama disebut dengan masa remaja. Masa remaja adalah periode pencarian identitas diri, yang bertujuan menemukan konsep diri yang merupakan cetak biru kepribadiannya sebagai orang dewasa kelak. Masa remaja tidak akan terlewati dengan baik tanpa peran orang tua.

One Response to “Sulitnya Menghadapi Remaja”

  1. klo dari segi usia mungkin saya sudah tidak remaja lagi …
    memang antara anak dan orang tua terpaut pertalian darah, namun seringkali susah untuk bertaut, bahkan di usia si anak yg sudah tidak remaja lagi. Bahkan kadang ada anak yang lebih merasa dekat dengan orang laen ketimbang dg orang tua sendiri..so ????

    membaca judul tulisan Bapak yang dimaksudkan dari orang tua pada anak..
    hmm…. bagaimana dengan posisi sebagai anak??
    kadang orang tua terlalu egois….
    mungkin bercermin dari pengalaman pribadi, saya mengusulkan
    gimana kalo ada juga tulisan ” susahnya menjalin komunikasi dengan orang tua” atw ‘sulitnya menghadapi orang tua”

    wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: