Gangguan Obsesif-Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder)

 

Dalam film The Aviator, Industriawan sukses dan salah seorang genius dalam bisnis penerbangan Howard Hughes (Leonardo Di Caprio) dikisahkan mengidap sebuah gangguan yang mendorongnya untuk mencuci tangan. Ia hampir selalu mengenakan sarung tangan, dan tidak mau berjabatan tangan dengan orang lain. Suatu ketika, dikisahkan ia berjabat tangan dengan orang dalam sebuah pesta, dan sialnya ia lupa memakai sarung tangan kulitnya. Setelah menekan kegelisahan beberapa lama, ia akhirnya bisa ke toilet – untuk mencuci tangan dengan sabun. Sekalipun tidak ada apa-apa di sana, tangan itu disabung terus hingga tangannya justru lecet-lecet. Ia juga dikenal sebagai seorang perfeksionis, dan dikisahkan juga, untuk membuat film yang indah dan realistis, ia bahkan “berburu” awan – sekalipun awan di langit itu hanya untuk sepenggal adegan pertempuran udara. Kesempurnaan yang ada dalam pikirannya mengalahkan akal sehat bisnisnya, sehingga ia terus menerus bertengkat dengan penasihat keuangannya.

 Atau mungkin yang berlangganan TV kabel pernah melihat profil detektif satire Adrian Monk? Seorang yang cerdas, cermat, tetapi mengidap gangguan ini. Ia tidak bisa berjabatan tangan dengan orang,  takut pada kekototan dan ketidak teraturan, dan semua hal harus balance dan teratur. Meja kurang ke tengah, dia akan dorong. Jumlah bunga dalam tiap vas beda, dia akan sesuaikan. Sehari-hari, dia didampingi seorang konselor yang berusaha mengingatkan dia bila gangguan tersebut sudah semakin ekstrim. Uniknya, dengan gangguan itu ia justru lebih cepat menyadari adanya hal yang tidak biasa, tidak balance, tidak pada tempatnya, dan akhirnya mencurigakan dalam tiap-2 kasus.

448871a-i10

Senyata apa sebenarnya OCD itu?

Dalam Wikipedia disebutkan bahwa, di Amerika Serikat gangguan obsesif-kompulsif (OCD) sudah dianggap mendekati kejamakan asma dan diabetes melitus. 1 dari 50 orang dewasa mengidap gangguan ini – dari tingkat yang rendah hingga hingga yang parah. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Oprah Winfrey mengangkatnya sebagai topik dalam salah satu episode show-nya.

Dalam show itu diangkat kisah nyata proses terapi 5 orang dewasa (campuran laki-laki dan perempuan, kaukasia dan negro) hingga sembuh dari gangguan ini. Dalam proses terapi mereka, lima orang pengidap gangguan ini diajak ke beberapa tempat yang selama ini mereka jauhi, dan dipaksa untuk melakukan sesuatu yang mereka hindari. Intinya, mereka dihadapkan dan dibenturkan pada realitas agar konsep ketakutan di alam bawah sadar mereka terangkat dan bisa diterapi.

Bagaimana sebenarnya orang yang mengidap OCD itu?

Dalam Wikipedia disebutkan bahwa, ciri orang yang mengidap OCD ada 6, yaitu:

Obsesi:

1.        Pikiran, dorongan, dan bayangan yang menetap dan berulang, dan menyebabkan kecemasan dan stress.

2.        Pikiran, dorongan, dan bayangan itu bukan semata kecemasan berlebihan terhadap masalah kehidupan yang nyata.

3.        Pengidap mencoba untuk mengabaikan atau menekan pikiran, dorongan, dan bayangan tersebut atau menetralisasinya dengan pikiran dan tindakan lainnya.

4.        Pengidap mengetahui bahwa pikiran, dorongan, dan bayangan obsesif-nya hanyalah produk pikirannya semata, dan tidak didasarkan atas kenyataan.

Kompulsi

5.        Perilaku atau sikap mental berulang, buah dari obsesi yang dimiliki, atau yang rasanya harus dilakukan sesuai dengan aturan yang dilaksanakan secara ketat.

6.        Perilaku atau sikap mental tersebut bertujuan untuk mencegah atau mengurangi stress, atau mencegah datangnya kejadian yang mengerikan, sekalipun perilaku dan sikap mental tersebut tidak berhubungan dengan kejadian mengerikan (yang dikhawatirkan) tersebut.

 

Kembali dalam kasus yang diangkat dalam show Oprah Winfrey, kelima pangidap OCD tersebut diterapi dengan cara yang cukup ekstrim. Kelimanya dibawa ke sebuah lorong di samping gedung bertingkat, tepatnya ke sebuah pembuangan sampah besar, dan terapis yang memimpin meminta mereka menempelkan tangan (kanan dan kiri) mereka ke dinding dalam tempat sampah. Tangan tersebut lalu harus diusapkan ke rambut dan dijilat.Alasannya, orang normal biasanya tanpa sadar menyentuh segala macam benda, dan tanpa sadar diusapkan ke kepala bahkan dijilat. Tempat sampah itu terlihat sangat menjijikkan, dengan bau (sesuai pengakuan pelaku) yang memuakkan, bahkan terlihat ada bekas muntahan.

Hampir semua tidak ada yang berani memulai, karena memang pengidap OCD biasanya sangat sensitif terhadap kebersihan. Yang pertama memulai adalah seorang wanita tengah baya yang mengalami gangguan perfeksionisme. Ia tidak menyukai kekotoran dan kekacauan, sehingga tidak pernah mengajak anak-anaknya ke warung es krim yang menyebabkan anak belepotan. Setelah ada yang memberikan contoh, barulah yang lain berani mencoba. Itupun dengan roman muka penuh ketakutan dan kecemasan. Mereka mengakui, hampir menangis rasanya memasukkan tangan ke sana, apalagi kemudian harus mengusap kepala dan menjilat tangan “kotor” itu.

Sesi terapi berikutnya adalah konsultasi kelompok, dalam sebuah ruangan yang hangat, nyaman, dan bersahabat. Pertanyaan terapis sebenarnya tidak aneh, bahkan cenderung sederhana. Tetapi untuk menjawabnya, ternyata tidak mudah. Terapi bertanya kepada peserta sesi: Kapan terakhir kali kamu menangis

Jadi, setelah pintu ketakutan pertama dibuka (di bak sampah besar), rupanya peristiwa traumatis yang tersembunyi di bawah sadar mulai menampakkan diri. Wanita paruh baya pengidap perfeksionisme yang diberi pertanyaan ini seperti mencoba bertahan, sekalipun ia masih berusaha mengingat-ingat. Terapis melanjutkan dengan pernyataan: Orang menangis saat mereka merasa aman.

Tiba-tiba, mata wanita perfeksionis tadi mulai berkaca-kaca, dan air mata meleleh. Ia menjelaskan pada Oprah Winfrey, saat itulah pertama kali ia menangis lagi setelah sekian tahun tidak bisa menangis. Menangis menunjukkan kelemahan, sehingga menangis tidak ada dalam dunia perfeksionis. Setelah perilaku tidak realistisnya disadari, ia pulang dengan lebih hangat, bebas memeluk anaknya dan menunjukkan emosinya yang positif, bahkan langsung mengajak anaknya makan es krim – dan membiarkan anak-anaknya belepotan karena saling lempar es krim.

Peserta lain, yang OCD-nya berupa dorongan mencuci tangan, mengakui bahwa ia merasa bersalah dengan kematian saudara kembarnya. Sejak lahir mereka memang kelihatan berbeda. Ia besar dan kuat, sementara saudara kembarnya kecil dan sakit-sakitan. Padahal, umumnya anak kembar akan punya kualitas fisik dan mental yang sama. Pada usia 10 tahunan, saudara kembarnya itu akhirnya meninggal, dan entah bagaimana ia merasa bersalah. Sejak itulah, ia perlahan-lahan mulai mengidap OCD – dan yang paling mengganggu adalah dorongan untuk terus mencuci tangan.

Setelah menyelesaikan sesi, semua pengidap OCD terbebas dari gangguan. Mereka bisa berguling-guling di tanah, membersihkan tanah dengan tangan, berkotor-kotor, pendek kata mengalami kebebasan dari belenggu ketakutan yang tidak realistis sebelumnya.

Bagaimana dengan di Indonesia? Tampaknya sejauh ini belum ada penelitian yang signifikan tentang hal ini. Namun demikian, menekan sebuah kondisi ke alam ketidak sadaran sudah jamak dilakukan pada masyarakat kita, sebab norma sosial tidak mengijinkan segala hal dibuka begitu saja. Dalam etnis Melayu (termasuk sebagian orang Indonesia) fenomena latah dan “amok” justru menjadi ciri khas – karena tidak didapati pada masyarakat Barat misalnya.

Pernah saya bicara dengan seorang teman (perempuan) yang mengidap latah. Setiap kali kaget, dia selalu menyebut alat kelamin laki-laki. Katanya, dalam mimpi (tidak jelas berapa kali dia bermimpi), dia melihat banyak sekali alat kelamin laki-laki. Bayangan “organ tubuh” ini selalu ada di kepalanya. Sekarang, setelah menikah, latah itu hilang dengan sendirinya, dan tidak pernah lagi menyebut alat kelamin laki-laki bila kaget.

Fenomena amok biasanya didapati pada orang-orang yang biasanya justru tidak dikenal sebagai orang pemarah. Tiap stress ditekannya, dan dikompensasinya dengan pikiran lain. Stress itu menetap karena tidak pernah ada upaya mencari solusinya. Misalnya, di rumah ia selalu menjadi korban kemarahan. Tidak ada yang benar, dan caci maki diterimanya dengan diam. Ibarat sebuah gelas yang diisi air terus menerus, pada suatu ketika – karena penambahan yang mungkin hanya setitik – air itu tumpah. Orang yang amok, bahkan karena alasan yang sepele, bisa marah membabi buta, bahkan membunuh siapa saja yang dijumpai di jalan.

Yang sekarang perlu kita pahami adalah, menyimpan masalah di alam ketidak sadaran, akan membawa dampak buruk cepat maupun lambat. Bila menemui masalah, alangkah baiknya bila kita mencoba berbicara dengan orang yang kita percaya – sekalipun sekedar sharing dan agar didengarkan saja

2 Responses to “Gangguan Obsesif-Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder)”

  1. nice article🙂
    kalo di indonesia, ada tidak yayasan atau lembaga yg khusus menangani masalah OCD ini? sy butuh banget…. T.T trima kasih sebelumnya

    • hzulkarnain Says:

      Sepertinya lembaga khusus tidak ada, tetapi bisa mencoba terapi psikiater atau psikolog klinis. Di beberapa rumah sakit tingkat propinsi biasanya layanan semacam ini sudah ada.
      Semoga bisa bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: