Lingkaran Kebingungan

desperate1Islam mengajarkan pada umatnya untuk selalu melihat ke bawah dalam urusan dunia, namun sebaliknya harus melihat ke atas ketika menimbang kapasitas keagamaan. Tuntunan itu jelas, akan tetapi manusia lebih sering melakukan hal yang sebaliknya. Untuk urusan dunia, dorongan yang terbesar adalah melihat ke atas, sementara urusan agama bahkan sama sekali tidak ditengok. Tanpa bermaksud membuka aib (karena itu biarkan tetap anonim) saya ingin mencatat kondisinya sebagai pengingat bagi saya sendiri, dan mungkin yang membaca blog ini.

Teman saya, seorang pria, masuk ke perusahaan tempatnya sekarang bekerja sekitar 10 tahunan yang lalu. Awalnya dia direkrut sebagai resepsionis, saat perusahaan masih dalam masa proyek. Jadi, kebutuhan saat itu memang resepsionis pria. Saya lihat, dia adalah seorang yang punya kemampuan berpikir baik, dan bisa menyelesaikan persoalan secara proporsional.

Dalam perjalanannya, dia dipromosikan sebagai staf transportasi. Hal itu sungguh tidak mengherankan, mengingat dirinya punya kapabilitas, Tugasnya adalah mengurus armada mobil perusahaan yang saat itu jumlahnya puluhan (maklum banyak expatriate). Untuk seorang staf biasa, gajinya sama sekali tidak buruk (karena dia bekerja di sebuah PMA). Bahkan dia bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di PT swasta di kotanya.

Saat baru bergabung dia belum menikah, sekarang anaknya sudah dua orang. Perusahaan tempatnya bekerja menerapkan sistem struktur organisasi yang flat (bukan piramidal), sehingga semua staf langsung melapor dan bertanggung jawab kepada manajer bagian. Salah satu dampaknya adalah spesialisasi posisi, dan pintu promosi yang sangat terbatas (tapi gaji tetap diapresiasi tiap tahun). Masalah muncul ketika dia berhenti mengapresiasi dirinya sendiri, dengan tidak lagi meningkatkan kapabilitas personalnya. Sebagian dari dirinya beranggapan bahwa dengan lulus sarjana, perusahaan harus memberikan nilai respek lebih padanya, tanpa terlebih dahulu menunjukkan bahwa kapasitas personalnya memang setara dengan gelar S-1 nya (swasta lokal). Padahal, sudah menjadi rahasia umum, tidak semua lulusan sarjana di Indonesia ini memiliki kompetensi sebagaimana seharusnya, sehingga menutup pintu kerja bagi lulusan setara SMA – karena pengusaha bisa menggaji sarjana dengan gaji lulusan SMA.

Teman saya itu menciptakan comfort zone-nya sendiri, dan tidak mau menerima saran orang lain demi perbaikan. Ketika atasannya tidak lagi menaruh respek, dan akibatnya performance appraisal-nya jatuh, alih-alih mencari cara mengoreksi diri dia justru menyalahkan atasannya sebagai boss yang pilih kasih. Seperti lingkaran kebingungan yang diciptakan setan, kinerja yang buruk menyebabkan penilaian performan kinerja yang tidak bagis, dan berbutntut kenaikan gaji yang tidak signifikan. Prosentase kenaikan gaji yang kurang bagus membuat demotivasi. Semangat kerja menurun, dan akhirnya asal masuk kerja saja. Pekerjaan yang monoton dijadikan kambing hitam, tapi bila diberikan enlargement (tambahan pekerjaan untuk peningkatan karier) tidak dikerjakan dengan banyak alasan. Sebagai pelarian, akhir minggu dihabiskan dengan menuntaskan hobi: memancing, bahkan hingga ke kota lain di hari kerja. Bukan sekedar melepaskan diri dari rutinitas, bahkan kalau perlu mencari cara supaya bisa datang ke lokasi pemancingan yang jauh (dan mahal). Kalau terlalu lelah karena memancing hingga hari Minggu, gampang … cari surat sakit di dokter umum.

Beberapa tahun sudah, kondisi ini terjadi. Atasannya jenuh, dan dia sendiri juga jenuh. Teman saya itu mulai mencari-cari pekerjaan baru. Dia merasa yakin dengan kapasitas dan kapabilitasnya sebagai orang general affair, sehingga posisi yang dilamarnya pun adalah supervisor atau sekurangnya staf senior di bidang transportasi. Masalah baru muncul. Dengan bekerja selama 10 tahun di perusahaan PMA, gajinya sudah terdongkrak cukup tinggi. Bila dia minta gaji yang sama saja dengan gajinya sekarang – dengan posisi staf – tidak ada perusahaan yang mau. Apalagi usianya juga sudah tidak muda lagi. Untuk posisi supervisor, kompetensinya tidak mencukupi (sekalipun dia yakin sekali mampu mengerjakannya), karena dia sudah berhenti mengapresiasi dirinya sendiri sekian tahun yang lalu.

Kalau saja dia selalu meng-upgrade kemampuannya sendiri, mungkin ceritanya lain. Kalau saja dia berhenti menyalahkan orang lain, dia akan bertambah baik. Kalau saja usianya lebih muda 5 tahun, peluangnya lebih terbuka. Kalau saja … Ada seribu “kalau saja”, yang menandakan penyesalan. Ketika ia berhenti mengapresiasi dirinya sendiri, saat itulah rasa syukur tidak lagi menjadi pijakan. Tatkala kepercayaan perusahaan terkhianati, ia semakin menjauhkan rahmat dari nafkah halalnya. Perusahaan tidak pernah terlambat membayar gaji, jadi sudah sepantasnya sebagai orang Islam kita membalasnya dengan kinerja yang baik. Bila tidak, rizki halal yang diterima seolah-olah kian jauh dari berkah. Tak pernah cukup.

Hidup adalah menjalani hari demi hari, seperti membangun sebuah rumah, menyusun dari satu bata ke bata yang lain. Cita-cita besarnya adalah sebuah rumah tinggal yang kokoh. Bila esok pagi bisa menambah sebuah batu bata saja, itu sudah cukup membedakannya dengan hari ini bahkan kemarin. Kalau besok tidak berhasil menambah satu batu bata saja, kita adalah orang yang merugi – demikian Islam mengajarkan. Apalagi kalau besok justru ada batu-bata yang runtuh.

Sekali lagi – kalau saja – teman saya itu berpegang pada Islam sebagai sandaran, bukan sekedar melakukan ritual salat dhuhur atau ashar di kantor, insyaallah dia akan berhenti bertindak destruktif dan mulai mencari sebuah batu bata untuk esok pagi. Sayangnya hidup adalah pilihan, dan kita tidak pernah bisa kembali ke titik crucial di masa lalu – satat kita membuat pilihan – tersebut.

2 Responses to “Lingkaran Kebingungan”

  1. hmmmm……….jadi termenung hbis bacanya.
    gimana kita tau suatu pilihan baik dan terbaik buat masa depan??

    • hzulkarnain Says:

      Kunci yang paling penting adalah isiqomah.
      Apapun yang ada di depan kita, yang menjadi bagian dari hidup kita, harus disyukuri. Salah satu cara untuk bersyukur adalah “menjalaninya” day by day, tekun, istiqomah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: