Menggenggam Syukur

– Catatan akhir Januari 2009 –

Dalam perjalanan kehidupan karier saya sebagai orang yang mengurusi personalia di perusahaan, banyak perilaku orang dan kejadian yang memberikan inspirasi. Hal yang paling saya syukuri adalah, contoh-contoh tersebut memberikan peluang bagi saya untuk memperbaiki diri tanpa saya harus masuk ke dalam suatu situasi yang tidak menguntungkan.

Bila kembali menengok kembali ke belakang, seluruh perjalanan hidup saya tidaklah mulus, namun kiranya sepadan dengan apa yang bisa saya rengkuh dan jalani. Sejauh yang bisa difasilitasi oleh lingkungan dan keluarga, saya berusaha mengoptimalkannya. Bila orang tua mampu membiayai kursus bahasa Inggris di lembaga yang bagus, saya akan menjalaninya secara optimal. Bila uang saku cukup, saya akan menghematnya untuk membeli buku yang saya inginkan. Pendek kata, saya berupaya menyerap fasilitas yang disediakan oleh orang tua (dan itu tidak berlimpah), agar saya lebih siap menghadapi tantangan setelah selesai kuliah.

Memang saya bukan Kiyosaki yang beruntung memiliki “rich dad” dan “poor dad” yang mem-balance bekal moral dan spritualnya, sehingga bisa seperti sekarang. Saya hanya punya seorang “poor dad”, sebagaimana kebanyakan kita, yang mengajarkan bahwa sekolah yang baik dan gelar yang prestisius akan mendatangkan keberhasilan. Lingkungan yang diciptakan oleh orang tua dan keluarga besar, pada umumnya adalah pola pikir konservatif, yang menghendaki anak-anaknya belajar dan belajar, lalu setelah selesai kuliah menjadi pegawai. Dan, memang itulah saya sekarang.

Saya tahu sejak dulu, bahwa ada yang salah dengan kehidupan yang nice tapi monoton semasa masih berada di bawah atap orang tua. Atap yang tidak mewah, tapi hangat, miskin gejolak, serta menjanjikan kenyamanan bila saya harus memutuskan untuk pulang ke rumah. Saya tidak punya alternatif pandangan yang insipiratif. Beberapa kali saya mencoba keluar dari pola, dengan berusaha mencari tambahan uang saku sendiri, namun tidak sepenuhnya berhasil. Saya pernah naik-turun bus kota menjadi sales buku, sampai sepatu bolong. Tapi kelelahan fisik dan mental, serta tekanan untuk menyelesaikan skripsi membuat saya memilih untuk surut dari usaha. Sesekali memang saya menerima terjemahan, menulis cerpen dan artikel ke media massa, namun tidak signifikan.

Saya tidak punya keberanian keluar dari frame, untuk mencari jejak dan peluang baru.

Kalau saya sekarang menjadi pegawai, dan alhamdulillah bekerja di sebuah PMA yang cukup bagus, itu adalah konsekuensi paling optimal yang patut saya peroleh. Semua hasil kerja keras dan networking yang saya jalin berbuah seperti sekarang. Mungkin saja garis hidup saya tidak seberuntung ini, tapi rasanya saya telah mencapai atap. Artinya, di umur yang telah mencapai paruh baya, tidak ada impian yang bersifat materiil yang perlu diobsesikan.

Yang sekarang saya miliki adalah yang terbaik dari Allah Swt. Mensyukuri nikmat Allah sebenarnya adalah berpijak pada realitas, dan pijakan pada semua realitas adalah kunci untuk mensyukuri apa yang sekarang sedang saya miliki. Kalaupun kondisi yang ada sekarang masih di bawah yang saya impikan, itu adalah sebuah keniscayaan, karena manusia ni-nash-kan untuk lupa bila sedang diberikan kenikmatan dan mengeluh bila diberi cobaan. Menjadi orang yang tidak kufur nikmat, itulah yang sekarang sedang saya coba.

Sudah menjadi rahasia dan kepastian bahwa Allah tidak akan memberikan apa yang diminta manusia persis sebagaimana apa yang diminta. Namun demikian, apapun yang diberikan oleh Allah selalu yang terbaik bagi semua kondisi seseorang. Kalau dia tidak bisa menerima manfaat optimal dari ketentuan Allah, mungkin memang Allah menempatkan dirinya sebagai pintu rizki bagi orang lain. Bukankah orang yang paling mulia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain?

Dulu, saya ingin bekerja di sebuah PMA. Dulu, saya punya hasrat bekerja di dekat laut seperti tempat kerja saya di Papua sana, tapi cukup di Jawa ini. Dulu, saya bercita-cita membesarkan anak saya dengan cara yang saya inginkan. Sekarang yang saya dapatkan adalah pekerjaan di PLTU Paiton, sebuah pembangkit listrik swasta (PMA) di tepi pantai, sehingga saya setiap hari bisa melihat laut – persis seperti di Papua. Lalu, dengan tinggal di perumahan, saya bisa menyaksikan anak saya tumbuh terkendali dan optimal, sebagaimana yang saya inginkan.

Allah telah memberikan apa yang saya cita-citakan dan inginkan, dengan generous. Itu yang perlu saya syukuri dulu. Apapun yang nanti saya lakukan, haruslah tetap berpegang pada rasa syukur. Kalau dengan tidak tinggal di dekat kota besar saya jadi tidak bisa mengambil S-2, tidak bisa mengikuti lifestyle modern, dan tidak bisa mengikuti perkembangan gadget yang saya gemari, itu adalah cost yang harus saya terima.

Life is never perfect, yet it is the best possibility from God – Allah Swt.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: