Penipuan via Telepon

 

phone_hookoffKemarin, seorang kolega saya hampir saja terkena penipuan menggunakan jaringan telepon dengan modus yang sebenarnya sudah pernah kita dengar sebelumnya. Kejadian tersebut saya sharingkan di sini untuk menjadi pengingat dan pelajaran.

Sekitar jam 10.00 pagi tanggal 8 Januari 2009 kemarin, teman saya yang bermeja di dekat saya mengeluhkan panggilan terus menerus yang mencoba mengontaknya. Panggilan tersebut dikatakan dari seseorang yang bernama Iptu Gunawan Santoso dari bagian narkoba Polres Pasuruan. Pengontak tersebut mengatakan bahwa nomor telepon teman saya tersebut sudah dipergunakan oleh sindikat Narkoba (tapi jangan khawatir anda tidak terlibat – katanya) dan sekarang ini sedang dalam pelacakan. Untuk keperluan itu, Iptu Gunawan Santoso (yang juga memberikan sebuah nomor fix-line) meminta teman saya mematikan HP-nya selama 2 jam.

Teman saya tidak menghiraukan permintaan tersebut, bahkan ia mencoba mencari tahu nama Gunawan Santoso di Polres Pasuruan, yang hasilnya adalah nihil. Bahkan penerima telepon yang ada di Polres tersebut mengatakan bahwa nomor yang diberikan itu adalah nomor di wilayah Paiton – Probolinggo. (Note: sekalipun bekerja di PLTU Paiton, teman saya itu sebenarnya berasal dari Pasuruan, dan ber-KTP Pasuruan).

Karena teman saya tidak mematikan HP-nya, Iptu gadungan tersebut mencoba mengontak lagi, tapi teman saya tidak menghiraukannya. Ia hanya me-reject tiap panggilan yang masuk. Akan tetapi, ternyata panggilan-panggilan demi panggilan terus bergelombang masuk. Teman saya mencatat, ada 2 nomor yang tidak dikenalnya berusaha mengontaknya terus menerus. Nomor dari Iptu gadungan tadi berusaha sebanyak 35 nomor, sementara nomor kedua 17 kali.

Ketika hal bombardir panggilan itu dikeluhkan kepada saya, apalagi saat ia menyebutkan “HP dimatikan selama 2 jam”, saya langsung teringat modus penipuan serupa yang mengena pada diri tetangga saya. Saya langsung menyarankan teman saya mengontak istrinya di Pasuruan, karena pengalaman penipuan tersebut. Dalam pikiran saya, gelombang panggilan tersebut bisa jadi adalah upaya memblokir HP korban yang tidak dimatikan – sehingga efeknya hampir sama dengan mematikan HP, yaitu tidak bisa dihubungi.

Nomor HP istrinya mailbox, pertanda dimatikan. Telepon rumahnya di Pasuruan tidak merespon. Tidak ada nada panggil. Demikian juga dengan semua HP yang ada di rumah. Ia terus mencoba mengontak nomor rumah. Tapi terus gagal. Teman saya mulai panik.

Akhirnya ia memutuskan mencoba nomor mertuanya (yang juga di sekitar Pasuruan). Mertuanya rupanya kaget menerima telepon teman saya itu, dengan pertanyaan: Lho, nak, katanya kecelakaan? Terihat eskalasi emosinya, yang sebelumnya hampir tidak pernah terlihat. Mertuanya tersebut menerima telepon dari seseorang yang mengabarkan bahwa menantunya itu mengalami kecelakaan di Paiton.

Jadi benar yang saya khawatirkan. Ini modus yang sama dengan yang terjadi pada tetangga saya. HP korban dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak bisa dihubungi, dan pada saat terbatas itu istri atau keluarga korban dikabari bahwa korban mengalami kecelakaan – parah – dan butuh dana cepat untuk beli obat.

Setelah mengontak mertua, ia mencoba mengontak Ibunya yang ada di sekitar Probolinggo. Ternyata sang Ibu tidak tahu kabar tersebut. Saat masih mengontak Ibuya, teman saya minta tolong saya mencoba mengontak rumahnya. Agak sulit, pada awalnya tidak diangkat, tapi akhirnya istri teman saya itu mengangkat. Setelah selesai bicara dengan istrinya, teman saya kemudian bercerita:

Sekitar 1 jam sebelumnya, istrinya dikontak oleh seseorang berpangkat Inspektur (lupa namanya) dari Polres Probolinggo yang menyebutkan bahwa suaminya kecelakaan di perempatan Paiton (bersama 3 orang lainnya), karena ditabrak truk tangki Pertamina. Sekarang, teman saya itu sedang menjalani persiapan operasi, dan sang Inspektur gadungan mengatakan bahwa di sampingnya ada dokter yang akan menangani operasi. Untuk kelancaran pembelian obat, dokter itu minta dikirimkan dana 25 juta dalam tempo 20 menit.

Untuk menunjang kelancaran operasi, istri teman saya itu diminta untuk mematikan semua piranti elektronik, termasuk HP, karena gelombang elektromagnetik bisa mengacaukan peralatan operasi.

Istri teman saya itu mulai percaya (karena tidak ada orang di rumah sehingga tidak ada teman untuk saling bertimbang rasa). Ia pun melengkapi formulir transfer bank yang memang dimiliki di rumah. Tapi … siapa yang akan ke bank?

Tidak lama kemudian ada 2 orang teman guru yang datang ke rumah, mengantarkan daftar nilai yang perlu diotorisasi oleh istri teman saya itu. Istri teman saya itu pun minta bantuan untuk melakukan transfer bank (dengan formulir yang sudah lengkap), dalam kepanikan yang tinggi.

Namun demikian, teman guru tersebut mencoba tidak gegabah. Melalui telepon rumah, ia hubungi telepon kantor di Paiton, panggilan diterima oleh seorang laki-laki (padahal resepsionis di kantor adalah perempuan) yang menyebutkan bahwa teman saya itu sedang keluar bersama 3 orang (dinas luar). Nomor telepon teman saya sudah pasti tidak bisa dikontak (karena sedang digelontor panggilan). Polres Probolinggo (selain bagian SIM) tidak bisa dihubungi. Bahkan ketika mencoba ke nomor telepon Ibu teman saya, yang menerima adalah laki-laki tidak dikenal.

Meskipun berangkat ke bank, teman guru tadi sangat ragu-ragu. Ia punya pengalaman, kerabat yang mengalami kejadian serupa dan berujung pada penipuan. Di bank, sekuriti bank juga menyarankan untuk menunggu sedikit lama, karena salah seorang karyawan bank juga menjadi korban penipuan bermodus telepon kecelakaan. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak jadi melakukan transfer bank, dan kembali ke rumah teman saya. Tidak lama kemudian, telepon saya (yang akhirnya berhasil masuk – setelah sekian lama seolah-olah tidak ada yang mengangkat) berbunyi.

Duduk persoalan jadi jelas, dan episode upaya penipuan telah gagal.

Teman saya tersebut kemudian mencoba mengontak nomor telepon yang diberikan kepadanya. Mesin penjawab Telkom mengatakan: nomor ini tidak bisa dihubungi atas permintaan pemilik.

Sedikit siang, ternyata ada kondisi di kantor yang terkait dengan kisah teman saya tadi. Sekitar jam 9 pagi, ada telepon dari seseorang yang mengaku dari Telkom Probolinggo bernama Ir. Antonius Nugraha, menanyakan berapa line yang ada di kantor. Karena resepsionis tidak tahu, ia re-direct ke bagian IT. Ternyata, orang Telkom gadungan itu meminta telepon kantor dimatikan selama 1 jam, sebab nomor telepon kantor telah dipergunakan beberapa perusahaan di Probolinggo sebagai pengalihan tagihan yang mencapai 700 juta.

Caranya bagaimana? Katanya, cabut saja kabelnya.Tentu saja hal ini mustahil dilakukan karena bagaimana mungkin kantor harus idle dari komunikasi? Gertakan balik teman saya membuat “orang Telkom” tadi menutup sambungan. Kepala bagian IT langsung menduga akan ada karyawan yang akan menjadi korban penipuan.

Ada beberapa hal yang saya catat dari kejadian ini, sekaligus menyimpulkan bahwa sekalipun modus ini tidak baru tetapi jauh lebih canggih.

1.      Bila orang tidak mau mematikan telepon, alternatifnya dibombardir dengan panggilan yang tidak terputus. Sepertinya sindikat tersebut bisa memprogram panggilan secara auto, agar tiap kali putus (karena tidak diangkat atau di-reject) langsung mencoba kontak lagi.

2.      Semua hal yang terhubung dengan telepon rumah korban di-jammed, dan otomatis ter-divert ke nomor lain.

3.      Pelaku tidak bertindak sendiri, melainkan bermain secara team yang terdiri dari sekurangnya 4 orang yang berbeda. Dari pengalaman sebelumnya, salah seorang akan mahir berbicara seperti polisi dan seorang lagi mampu memberikan penjelesan layaknya dokter. Salah seorang lagi sudah pasti punya keahlian dalam bidang telekomunikasi – fix-line phone maupun seluler.

4.      Orang yang dikabarkan kecelakaan dan penyedia dana sudah pasti terpisah secara geografis, dan entah bagaimana sindikat tahu cukup banyak tentang kondisi orang yang dikabarkan kecelakaan. Semua jalur yang memungkin untuk menghubungi orang yang dikabarkan kecelakaan tertutup melalui koordinasi dan mekanisme yang rapih.

5.      Waktu 30 menit hingga 1 jam sejak kabar kecelakaan diluncurkan adalah waktu krusial Sepertinya mereka akan me-release fix-line yang “dikerjain” setelah 1 jam-an.

 

Telepon fix-line atau telepon rumah merupakan sarana inti pergerakan penipuan ini, sehingga yang utama “dikerjain” adalah telepon rumah korban. Rupanya ini sudah jadi concern Telkom juga. Kebocoran semacam ini mungkin terjadi karena selama ini yang mengerjakan jaringan (instalasi, maintenance) adalah pihak ketiga (outsourcing). Di sinilah Telkom tidak bisa memantau orang per orang individu yang bekerja pada perusahaan outsourcing tersebut.

Knowledge adalah power, dan menyalahgunakan power yang dimiliki ternyata bukan semata dominasi orang di jajaran elite. Karena power memang bisa sangat memabukkan. 

One Response to “Penipuan via Telepon”

  1. vho_nie Says:

    Dia hanya sejauh DOA.. dunia ini makin kejam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: