Menjadi Tua dan Tidak Bahagia

 

menjadi tua adalah kodrat, bagaimana persiapan kita?
menjadi tua adalah kodrat, bagaimana persiapan kita?

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (QS. Al-Baqarah 266)

 Akhir minggu yang lalu, saya menengok seorang Bude (kakak dari Ibu) yang sudah sepuh terbaring di ruang perawatan intermediate di sebuah rumah sakit di Surabaya. Lanatran bukan kelas utama, dalam bangsal tersebut ada sekitar 10 tempat tidur yang semuanya sudah terisi, semuanya sudah cukup lanjut (minimal tengah baya), dan bercampur laki-laki dan perempuan. Di sebut dengan ruang intermediate karena sifatnya masih semi-intensif (pasien yang lepas dari ICU untuk sementara ditempatkan di sana). Dalam keadaan berbaring dengan infus di salah satu tangan, Bude juga mengenakan masker oksigen untuk melapangkan pernafasannya yang terganggu.

Di ruangan yang tidak seberapa luas itu, suara-suara dan pemandangan orang-orang berusia lanjut yang tengah menderita membuat saya miris, sekaligus mensyukuri nikmat kesehatan yang belum diambil kembali oleh Yang Punya. Cara Allah mengambil kembali nikmat itupun bermacam-macam dengan cara yang tidak kita duga. Seorang pasien menderita karena kekeliruan dalam penanganan gejala penyakit, yang lain lagi kekeliruan konsumsi obat, sementara Bude menderita degenerasi pada ginjal sehingga ada kemungkinan harus menjalani cuci darah (hemodialisis).

Keluarga Bude (Pakde masih ada, beliau adalah pensiunan dosen di Unair, dan hingga 10 tahun-an yang lalu masih mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta) mempunyai 5 orang anak, 2 di antaranya perempuan. Yang bungsu saja sudah berusia 35 tahunan. Semuanya ada di sekitar Surabaya. Semuanya tidak memiliki kemampuan ekonomi yang bisa diandalkan, sekalipun 3 di antaranya adalah sarjana.

Memperoleh uang senilai 1 juta saja, untuk pembiayaan pengobatan Bude, sungguh sulit diupayakan kelima bersaudara tersebut – sekalipun ditanggung bersama.

Sungguh petikan ayat dari Suratul Baqarah tersebut di atas menggambarkan kondisi yang dihadapi kerabat saya itu.

Sejak muda, saya dan keluarga Bude terbilang sangat akrab, karena salah satu putra beliau seusia dengan saya, dan kami sering main bersama. Saya masih ingat, bagaimana rasanya berada di rumah Bude yang berhalaman belakang cukup luas, dengan aroma canda yang renyah (bahkan kadang agak keterlaluan). Hidup terasa ringan, santai, karena penghasilan Pakde sebagai dosen dan peneliti yang lumayan cukup untuk menopang gaya hidup tersebut. Kehidupan dan gaya hidup keluarga tersebut sebenarnya tidak mewah, bahkan cenderung bersahaja. Tidak lantas tiap hari makan berlauk daging, bahkan acapkali sarapan yang tersedia hanya tempe goreng dan sambal bawang. Cozy, leisure, atau indiscipline, mungkin itu gambaran yang lebih memadai.

Rumah adalah tempat untuk pulang, seperti cangkang keong atau kura-kura yang memberikan perlindungan tiap kali ada bahaya. Sehingga, alih-alih menerjang tantangan hidup yang keras, berdiam di rumah adalah pilihan yang lebih menyenangkan. Para sepupu di sana seperti lepas dari etos kerja yang produktif, sekali lagi karena merasakan kenyamanan dalam menjalani hidup sehari-hari.

Karena agama tidak menjadi panduan utama dalam menjalani kehidupan, sulit menegakkan prinsip Islam dalam keseharian mereka. Bagaimana mulai menjelaskan kandungan Al Qur’an bila sepotong buku agama saja tidak ada di sana. Kakak sepupu yang sudah saya kenal dua puluh tahun lebih, lebih kurang sama dengan yang saya jumpai minggu kemarin. relax, dan indiscipline. Nyaris tidak ada perubahan, nyaris sama useless-nya. Ketiga kakak sepupu yang laki-laki semuanya tidak bisa menghasilkan uang yang cukup dari keringat tangannya sendiri, mengingatkan pada tanaman jenis epifit di sebuah pohon.

Di masa tuanya, di usia yang sudah sekitar 70 tahunan, Pakde dan Bude belum bisa tenang juga duduk santai, karena setiap hari harus memikirkan sekurangnya 1 anak dan 4 cucu yang bergantung pada mereka, karena tidak bisa bergantung pada orang lain.

Ketika kebun kurma dan anggur masih melimpahkan hasil, sebaiknya kita sudah memikirkan yang terbaik bagi anak-anak kita. Bukan memberikan mereka anggur dan kurma tiap hari, melainkan justru membawa mereka ke kebun untuk melihat dan bekerja bersama para penggarap. Anggur dan kurma bisa habis atau busuk. Kebun ribuan hektar bisa lenyap dalam semalam. Tapi rasa syukur nikmat dan ilmu akan menjadi warisan yang tak akan lekang dimakan masa.

Sayangnya, orang tua sering lupa bahwa kasih sayang mereka yang tiada cela, bila tidak cermat dalam cara memberikan, justru akan menyebabkan anak-anak mereka menjadi beban di hari tua. Terlalu protektif, menyebabkan anak tidak mandiri. Terlalu sayang, membuat anak tidak kenal sopan santun. Pada ujungnya, anak yang merasa terlalu nyaman dengan kondisi rumahnya, tidak menemukan tantangan yang perlu diselesaikan, akan menumpulkan daya juang mereka untuk membentuk pribadi yang lebih baik.

 CATATAN TERAKHIR 2008

31 Desember 2008 / 22:56 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: