12 Emosi Negatif Penghambat Kemajuan

kecemasan perlu diatasi

kecemasan perlu diatasi

 

Dari tulisan Patricia Patton, yang menulis tentang aspek dalam kecerdasan emosional, saya menemukan 12 konsep emosi negatif yang harus ditinggalkan bila kita ingin berkembang.

Tentu saja, tidak ada hal yang mudah dalam kehidupan ini, apalagi sisi negatif emosi yang sering kita rasakan kebanyakan telah menjadi bagian kehidupan – artinya bila ingin meninggalkannya berarti harus melakukan beberapa perubahan dalam kehidupan.

 

Ke-12 emosi negatif tersebut adalah:

1.  Cemburu

Cemburu sebenarnya berintikan rasa iri. Iri terhadap sesuatu yang dimiliki orang lain, yang pada akhirnya akan membatasi kemampuan kita untuk melihat apa yang kita miliki sendiri. Cemburu hanya akan menyebabkan kita gagal melihat potensi dalam diri kita. Sikap ini menempatkan orang lain sebagai obyek rasa frustrasi. Ketika kita cemburu, kita menjadi tidak terbuka, membenci dan sulit untuk bertindak apa adanya.

Islam mengingatkan umat Islam tentang iri hati sbb: Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain,  bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita  ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nisa 32)

2.  Perasaan Tidak Aman

Setiap orang memiliki wilayah rasa aman, yang ditandai dengan rasa nyaman dan kita enggan meninggalkannya. Orang Jawa mengekspresikannya dengan istilah “nrima” (menerima), yang bermakna, seolah-olah apa yang diterima atau dimiliki sekarang ini sudah final dan tidak mungkin bertambah baik lagi. Keluar dari wilayah ini hanya akan menimbulkan rasa tidak aman.

Rasa tidak aman dapat mencegah kita mencoba hal baru dan menghalangi peluang untuk sesuatu yang bermanfaat bagi hidup kita. Kita menarik diri dari segala sesuatu yang akan menjauhkan kita dari area yang aman atau yang menyenangkan. Ini sangat menghambat perkembangan kita sebagai seorang individu. Topeng yang sering dipakai untuk menutupi rasa tidak aman ini adalah agresivitas yang berlebihan. Sikap ini menghambat komunikasi dengan orang lain dan mempersulit untuk bisa santai dan menikmati keberhasilan.  

Rasulullah adalah contoh utama manusia yang meninggalkan kenyamanan, kehidupan makmur bersama Siti Khadijah, karena melaksanakan perintah Allah. Bukan hanya beliau, termasuk juga para sahabat: Abu Bakar As-Shidiq dan Usman Bin Affan yang kaya, Umar Bin Khaththab dan Ali Bin Abi Thalib yang terpandang, semua keluar dari zona rasa aman mengejar impian yang lebih besar. Mengejar mimpi seharusnya menjadi bagian dari kehidupan.

Mengutip ucapan Mario Teguh dalam salah satu episode Golden Ways-nya: Jadilah pejuang bagi impianmu, sebelum kau menjadi narapidana bagi semua penyesalanmu.

3.  Dengki

Level yang lebih tinggi dari iri hati dan cemburu adalah dengki. Dengki bermuatan kemarahan, bahkan dendam kepada seseorang hanya karena rasa iri yang mendalam, sekalipun tanpa sebab yang jelas. Memendam perasaan dengki dapat menyumbat sistem emosi kita dengan cara yang tidak konstruktif. Memendam rasa dengki sama dengan menumpuk perasaan marah karena merasa bahwa dunia ini tidak adil, hanya berpihak terus menerus pada orang-orang yang sama, sehingga orang yang dengki akan gagal total menilik potensinya sendiri. Kehidupan ini rasanya hanya berisi sedikit kumpulan tulisan nasib buruk, dan terasa menyengsarakan.

Islam mengkategorikan pendengki sebagai kekufuran, karena tidak bisa menerima perbedaan karunia Allah pada tiap-tiap orang. Firman Allah berbunyi: Alangkah buruknya  mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya  kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah  kemurkaan . Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. (QS Al Baqarah 90)

4.  Kebencian

Tidak menyukai orang lain adalah hal yang biasa terjadi pada seseorang. Bila bersifat akumulatif, dan meningkat dari waktu ke waktu, mungkin karena terus menerus bertemu, rasa tidak suka yang wajar mungkin akan berubah menjadi kebencian.

Emosi yang satu ini bersifat stress, sehingga dapat menyebabkan masalah kesehatan, sekaligus pada saat yang sama membuat orang yang pandai sekalipun tampak bodoh.   Bagaimana bisa? Karena membuat sang pembenci kehilangan objektivitas dalam berpikir dan mengambil keputusan. Apapun yang dilakukan oleh orang yang dibenci membuat sang pembenci tidak suka, mempengaruhi motivasi kerja, dan sangat subjektif.

Islam mengingatkan kita untuk bersikap dan menilai segala hal dengan objektif, dan memupuskan kebencian karena kita tidak tahu hakikat yang ada di baliknya. Kutipan dari QS Al Baqarah 216 sbb: … Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi  kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

5.  Tidak Menghargai Diri Sendiri

Coba tanyakan pada orang yang anda kenal, apa kelebihan yang ia banggakan? Apa kelemahan yang harus ia perbaiki? Lihat bagaimana ia menjawabnya.

Dari pengalaman sebagai seorang interviewer, kedua pertanyaan pendek dan sederhana tersebut cukup sulit dijawab, khususnya oleh mereka yang tidak terbiasa berkontemplasi. Seringkali, pada ujungnya muncul jawaban, orang lain lebih bisa melihat kelebihan (atau kekurangan saya). Ini menunjukkan bahwa secara umum kita ini lemah pada daya apresiasi pada diri sendiri. Kemampuan kita mengapresiasi orang lain seharusnya tidak seobjektif apresiasi pada diri sendiri, atau dengan kata lain, kita baru bisa mengapresiasi orang dengan objektif bila kita sudah bisa berbuat demikian pada diri sendiri.

Lemahnya penghargaan pada diri sendiri yang kronis bisa berwujud menyalahkan diri sendiri atas segala sesuatu yang (sebenarnya) berada di luar jangkauan, memandang orang lain sebagai sumber permasalahan dan membiarkan keadaan yang dapat menurunkan harga diri. Perasaan ini membatasi kita untuk berkembang, meremehkan diri sendiri, dan menganggap orang lainlah yang menghancurkan hidup Anda. Tidak menghargai diri sendiri membuat Anda tidak mau memikul tanggung-jawab dan mengambil tindakan.  

Dalam Surat At Tiin (ayat 4) Allah telah memberitahukan kita bahwa, manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah yang menciptakan dan memperindah wujud manusia, dan semua hal yang berkenaan dengan nasib adalah rahasia di sisi Allah. Jadi, Islam mengingatkan kita agar tetap istiqomah.

6.  Kecemasan

Stress dalam porsi yang wajar dan normal berperan penting dalam produktivitas manusia. Akan tetapi, stress yang akumulatif, bereskalasi, dan tidak diatasi, bisa berubah menjadi kecemasan. Kecemasan bisa jadi datang tanpa pemicu, dan hal yang dicemaskan pun tidak jelas. Kecemasan merupakan pangkal ketidak produktifan manusia.

Emosi yang ini sangat melemahkan. Membuat Anda jauh dari kedamaian dan ketenangan. Perasaan ini tidak membebaskan Anda menjadi diri sendiri. Pikiran yang terbelenggu kecemasan dapat menghalangi pikiran rasional untuk bertindak secara efektif. Orang yang cemas bahkan lupa hal sederhana, seperti nomor telepon sendiri.

Seharusnya, kecemasan merupakan hal terakhir yang diidap oleh kaum muslimin, karena kita memiliki tuntutan berupa shalat dan sabar. Dalam Al baqarah 153 disebutkan: Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu , sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.  

7.  Depresi

Depresi juga merupakan suatu bentuk akumulasi stress, dan biasanya terpicu oleh sebuah kondisi yang spesifik seperti dukacita, hambatan yang seolah-olah tidak pernah berhenti, atau gelombang cobaan yang bertubi-tubi. Orang yang memahami bahwa dirinya sedang mengalami depresi (dengan mengenali gejala-gejalanya) akan berusaha untuk mengatasinya, dan meletakkan kehidupannya di jalur yang seharusnya. Dunia adalah permainan, dan ada masa manusia mengembalikan segala kesulitan pada sang pemilik kehidupan. Bisa jadi, manusia justru lebih produktif setelah tenggelam dalam lautan penderitaan.

Sayangnya, sementara orang tidak mengenali bahwa dirinya mengalami depresi, bahkan berusaha menyangkalnya. Kecintaan pada dunianya yang melebihi kecintaan pada Allah dan akhirat-Nya telah membutakan mata batin mereka. Orang seperti ini akan sulit bangkit dari keterpurukannya, karena kunci menjadi diri yang lebih baik adalah penerimaan diri, dan mengerti bahwa sekalipun manusia diciptakan dalam bentuk terbaik, ia hanyalah setitik debu.

Islam mengingatkan: Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka  yang terbaik perbuatannya (QS Al Kahfi 7).

8.  Kemarahan

Sebuah emosi negatif yang akrab pada hampir semua orang adalah kemarahan. Kemarahan terjadi kala harapan tidak bertemu dengan realitas, dan frustrasi yang timbul tidak tersalur dengan benar, hingga mengakibatkan ledakan. Kemarahan sebagai ujung emosi yang tidak terkendali, pada umumnya bersifat destruktif. Oleh karenanya, manusia perlu mengenali akar sebab sebuah kemarahan dan mengendalikannya bila muncul. Sebuah kemarahan yang terkendali bisa menjadi dasar konstruktif perbuatan seseorang, karena bentuknya bukan pelampiasan melainkan penyaluran.

Menahan amarah adalah sebuah kebajikan yang disukai Allah. QS Ali Imran 133-134 berbunyi: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang menafkahkan , baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan  orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

 

9.  Kejengkelan

Hati-hati dengan situasi emosi yang satu ini, karena letaknya yang berada di “perbatasan”. Jengkel atau kesal bisa mengindikasikan banyak hal, seperti kemarahan, kebencian, perasaan tidak aman, dan berbagai hal lain, yang semuanya bersifat destruktif. Oleh karena itu, bila perasaan ini timbul kenali sebabnya, atasi, dan bentuk perubahan yang bersifat konstruktif ke masa depan.

10.  Rasa Bersalah

Manusia yang normal selalu memiliki rasa bersalah, dengan takaran yang wajar. Rasa bersalah muncul setiap kali ia melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh norma sosial dan agama. Hal yang positif dari rasa bersalah adalah memicu kesadaran untuk mengubah apa yang kita perbuat atau katakan. Selebihnya, rasa bersalah merupakan perasaan yang tidak bermanfaat. Perasaan bersalah menghalangi kita untuk mencoba sesuatu yang baru dan memungkinkan kita dimanfaatkan oleh orang lain dengan perasaan bersalah yang kita miliki, untuk mencapai tujuannya.  

Yang harus dilakukan agar rasa bersalah tidak melebihi takaran, adalah mengetahui bahwa manusia adalah tempatnya lupa, khilaf, dan keliru. Kesalahan bisa terjadi, namun sebagai mahluk yang berakal budi, hendaknya tidak jatuh dalam lubang yang sama lebih dari sekali.

11.  Rasa Malu

Rasa malu digariskan oleh Allah untuk dimiliki oleh manusia, dalam takaran yang wajar. Secara konstruktif, malu adalah pengendali manusia agar tetap berjalan sesuai dengan norma sosial dan agama. Malu bersifat personal, dan orang lain tidak mudah meniliknya.

Namun demikian, rasa malu yang berlebihan justru menjadikan orang tidak kreatif, rendah diri, bahkan merasa tidak berharga.

12.  Penyesalan

Penyesalan adalah buah perilaku yang seharusnya bisa dihindari, namun terlanjur dilakukan. Padahal masa lalu adalah tempat terjauh yang mustahil untuk didatangi. Akibatnya, ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, penyesalan muncul sebagai buah masa lalu.

Penyesalan yang sesuai dengan takaran, dan dijadikan cambuk pengingat, bisa konstruktif. Namun demikian, penyesalan yang berlarut-larut akan destruktif pada hal yang bisa dilakukan di masa depan. Cara terbaik untuk menyikapi penyesalan adalah dengan memusatkan perhatian pada apa yang dapat Anda lakukan. Kuncinya adalah merelakan semuanya. Kemudian mencari kesempatan yang baru di masa mendatang.   

 

2 Responses to “12 Emosi Negatif Penghambat Kemajuan”

  1. lalu bagaimana caranya seseorang agar tidak terjadi hal yang seperti itu..?

    • hzulkarnain Says:

      Psikologi maupun Islam sebenarnya mempunyai pendekatan yang lebih kurang serupa dalam menyikapi emosi negatif, yakni menilik akar permasalahan datangnya emosi tersebut.

      Bedanya, dalam psikologi orang diminta untuk membumikan permasalahan – apapun itu. Sebab, seringkali sebuah masalah muncul karena ada ketidak selarasan antara realitas dan harapan. Ketika realitas jauh di bawah harapan, terjadi ketegangan dan ledakan emosi negatif. Emosi tersebut bisa pasif (merusak ke dalam) atau aktif (tampak ke luar bahkan merusak).

      Dengan menemukan dan menerima realitas, selanjutnya orang diminta berpikir konstruktif, bersikap dan bertindak sesuai realitas tadi – sepahit apapun.

      Dalam Islam, semua akar permasalahan adalah sulitnya menerima ketentuan Allah yang tidak sesuai dengan keinginan kita selaku manusia – atau kasarnya su’udzon pada ketentuan Allah.
      Jalan keluarnya adalah mengembalikan semua urusan kepada-Nya, memohon petunjuk, lantas bersabar. Sebagai firman Allah … Jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: