Berhenti Menyalahkan, Hidup untuk Masa Depan

forgiving expands the future

forgiving expands the future

Beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah situasi yang membuatku harus menilik kembali semua hal yang telah terjadi.

Di rumah sakit, ketika menjenguk kerabat yang mengalami kecelakaan, saya duduk-duduk di teras ruang perawatan wanita setelah menyapa si sakit, agar tidak terlalu berdesakan di dalam. Kami agak bebas berkunjung di luar jam kunjungan resmi, karena berada di wilayah ruang perawatan kelas 1. Di seberang tempat saya duduk, ada seorang remaja putri keturunan Tionghoa bersama seorang perempuan yang saya kira adalah Ibunya. Di dahi dan tangan  remaja berusia belasan (paling banyak dua puluhan) itu ada bekas memar dan luka yang dibalut. Saya tidak begitu memperhatikan, dan asyik dengan koran sore yang sengaja saya beli di luar tadi. Saya hanya menangkap kecemasan di wajahnya.

Tak berapa lama kemudian, dua orang remaja seusianya datang bergegas dari arah lift. Mereka langsung menghampiri remaja di depan saya dan berpelukan. Mata saya mulai beralih dari koran pada kejadian di hadapan saya.

“Kamu nggak pa-pa, Lina? Aku tadi waktu dengar kamu kecelaakaan langsung lemes. Soalnya, kata Yeni, mobilnya hancur.”

Lina hanya menggeleng, air matanya berurai. Katanya,”Aku nggak apa-apa. Cuma perlu jahitan di dahi, dan tangan ini aja agak ngelupas.”

“Kamu sama Siska, katanya? Bagaimana dia?”

Lina tersedu. Ibunya menenangkan gadis itu. Saya lihat kedua temannya itu juga mulai berkaca-kaca.

“Siska langsung meninggal. Bagian mobil yang hancur di sebelah kiri depan, pas di mana Siska duduk,” Ibu Lina menjelaskan.

Kedua gadis itu mulai menangis, seraya menyebut teman mereka yang sudah tidak ada itu. Ibu tadi kemudian menjelaskan kronologi kejadiannya. Rupanya, Lina yang duduk di depan saya itu bersahabat dengan seorang gadis lain yang bernama Siska, yang tinggal bersama dua saudaranya di wilayah real estate besar di Barat Surabaya. Orang tua Siska, yang merupakan pengusaha besar, tinggal di basis bisnisnya di Balikpapan. Pagi itu, adik Siska yang berusia 17 tahun baru selesai kursus mengemudi  bermaksud memamerkan kemahirannya pada kedua kakaknya. Kebetulan, Lina yang pagi itu mampir, di ajak sekalian jalan-jalan.

Masih menurut cerita Ibu Lina, Yona (adik Siska yang mengemudi) sudah cukup terampil dan tidak ada masalah. Sedan yang mereka tumpangi juga bagus. Naas terjadi ketika Yona berusaha menyalip angkot di depannya, dan dalam kecepatan tinggi itu, salah satu ban depan meletus sehingga mobil tidak terkendali dan berakhir dengan menghunjam pohon asam di pinggir jalan. Yona mengalami patah tangan, Siska yang duduk di kursi depan terjepit pohon dan langsung meninggal, sementara Virly (kakak Siska) yang duduk di belakangnya patah kaki.

Setelah kejadian itu, Lina baru ingat bahwa ban yang meletus itu adalah ban cadangan yang bukan tubeless. Siska lupa menggantinya lagi dengan ban tubeless yang selesai ditambal, karena siang kemarin buru-buru berangkat kuliah. Padahal ban cadangan itu juga tidak dalam kondisi yang prima. Sebuah kelalaian yang berujung maut.

“Mamanya Siska sudah tahu?”

“Ini Papanya Lina sedang menjemput mereka di Juanda.”

Belum lama Ibu Lina bicara, dua laki-laki tengah baya, seorang perempuan berusia setara, dan seorang anak berusia 10 tahunan tampak dari arah lift. Mata perempuan itu sembab, sementara salah seorang laki-lakinya berwajah seperti tersaput mendung tebal. Asumsiku mereka adalah orang tua Siska.

Lina berdiri dengan wajah cemas dan takut, bercampur sedih yang tidak terhingga. Ibu Siska mendatangi Lina dan memeluknya, yang dibalas Lina dengan pelukan yang lebih erat.

“Kamu nggak apa-apa kan, sayang?” Suara Ibu Siska berdesah dalam, tapi jelas terdengar.

“Aku nggak apa-apa Tante, tapi Siska ….” Lina tidak bisa meneruskan kata-katanya.

“Ssst, sudah Lina. Tante sudah tahu.” Dipeluknya Lina sekali lagi dengan erat.

“Lina, terima kasih telah menjadi sahabat terbaik Siska, ya sayang.” Ibu Siska lalu mencium pipi Lina kanan-kiri seperti anaknya sendiri, dan itu membuat Lina semakin deras meneteskan air mata.

Saya terperangah! Tidak ada sama sekali kata-kata yang menyesalkan meninggalnya Siska. Tidak ada sepenggal katapun yang menyalahkan Yona atau siapapun yang mengakibatkan meninggalnya Siska. Bahkan tak sepenggal desahan yang menyesali kepergian Siska yang terlalu cepat. Ayah Siska pun hanya mengangguk-angguk, tersenyum, dan mencium kening Lina layaknya anaknya sendiri.

Ketika semuanya masuk ke ruang perawatan, tempat Yona dan Virly di rawat, saya termangu sendiri, dengan bekas yang mendalam.

Beberapa saat kemudian, Ayah Lina keluar dan duduk-duduk seperti saya, karena di dalam pasti cukup penuh. Saya mendekatinya untuk mencari tahu situasinya. Yang saya ingat, dia berkata demikian:

“Pak Tanu adalah sedikit dari orang yang mampu mencapai pemahaman tentang esensi hidup. Baginya kematian adalah sebuah proses yang alami, apapun penyebabnya, sebab setiap orang akan mati – cepat maupun lambat. Ia pernah kehilangan seorang anak laki-laki beberapa tahun yang lalu, dan sekarang kehilangan anak perempuan. Keduanya telah menjadi bagian dari sejarah kehidupannya, tak lebih. Baginya, lebih penting untuk memperhatikan anak-anaknya yang hidup daripada meratapi yang telah dipanggil kembali oleh Sang Pencipta.

Ia tidak akan pernah menyalahkan siapapun atas kematian anak-anaknya karena itu semua adalah garis takdir. Prinsipnya: Menyalahkan tidak akan mengubah segala yang sudah terjadi, tapi menerima dan memaafkan akan memperluas masa depan.”

Sekalipun ilmu menghadapi hidup ini saya terima dari seorang non-Muslim, kebajikan dan kebijaksanaan adalah ilmu yang universal.

 

One Response to “Berhenti Menyalahkan, Hidup untuk Masa Depan”

  1. Jika aku berjalan dalam lembah maut sekalipun aku tidak takut bahasa kematian, karena Allah luarbiasa dapat menyelamatkan aku jika kematian akan tiba-tiba datang, dan saya percaya memang kematian itu pasti datang waktunya ditentukan oleh pencipta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: