TIPS

 

barokahnya rizki

barokahnya rizki

Pernah suatu ketika, enam – tujuh tahun yang lalu, saya terhenyak oleh celetukan seorang tukang becak yang saya tawar “harga keringatnya”: “Alaah Pak …, wong cuma selisih 500 perak!”

Sentakan ini timbul kebali setelah saya membaca sebuah inspirasi di sebuah milis yang saya ikuti.

Dalam perenungan saya, muncul bayangan-bayangan dari masa lalu. Kalau mau naik becak, saya menawar. Harga sepakat setelah tawar menawar, katakanlah 4 ribu perak, itulah nilai yang akan diterimanya nanti. Saat naik angkot, saya akan melihat pengumuman tarif jauh-dekat, let’s say Rp. 2000. Nilai itulah yang saya bayarkan pada kenek atai sopir. Kalau mau angkat barang di stasiun, layanan portir kita tawar seminim mungkin, dan itulah yang akan diterimanya nanti.

Sudah lazim kita idak pernah memberikan uang tips kepada penarik becak, sopir bemo, bajaj, portir di stasiun, dsb.? Sementara banyak di antara kita yang terbiasa memberikan uang tips kepada sopir taxi atau bell boy di hotel.

Ironis, kita cenderung merelakan selisih 1000 bahkan hingga hampir 5000 pada sopir taksi – sedemikian mudahnya. Kita juga tidak terlalu keberatan melepaskan 5000 perak pada pembawa barang kita hingga ke kamar hotel. Orang jarang mengeluh saat diberi kembalian berupa permen di Supermarket, tapi coba kalau hal itu dilakukan oleh penjual sayuran di pasar basah!

Padahal, siapa sebenarnya yang lebih butuh tambahan 1000 rupiah – tukang becak atau sopir taksi? Bell boy di hotel atau portir di terminal? 100 perak bagi Mbok Yem yang jualan sayur sangat penting, dibandingkan dengan pengusaha supermarket, tentunya.

Apakah kita melakukan pemborosan dengan memberikan uang tips kepada pemberi jasa, atau tidak menawar pada tukang becak?

Pertanyaan yang kemudian melintas adalah, apakah yang ingin kita capai dengan memberi atau tidak memberi uang tips?

Mungkin kita mencoba mengapresiasi kenyamanan yang ditawarkan taksi atau supermarket, dengan cara memberikan uang tips. Akan tetapi, lambat laun kita menjadi terbiasa untuk tidak berpikir saat nyaman, dan mempersoalkan kenyamanan sekalipun sudah dikompensasi dengan harga barang atau jasa yang murah.

Semua orang sudah pasti menginginkan keuntungan dalam hal perniagaan dan jasa. Karena itulah, seorang penjual atau pemberi jasa mematok harga yang sudah memberikan profit bagi dirinya. Di sisi lain, pembeli atau pemakai jasa berusaha menghemat pengeluaran dengan menawar ke harga terpantas.

Tanpa menyudutkan gender, biasanya kaum Ibu paling bangga bila berhasil menawar harga seketat mungkin. Bagi kaum laki-laki, mencari selisih yang kisarannya tidakbegitu signifikan seringkali tidak bisa dipahami. Memang, yang namanya kepuasan tidak bisa dinilai dengan nominal uang. Di sisi lain, kaum laki-laki tidak sedemikian mudah bercerai dengan tiap keping atau lembar rupiah kembalian, karena bisa dirupakan sebagai batangan rokok.

Kita semua pasti pernah merasakan kebaikan seorang penjual kue, servis ganti oli, pangkas rambut, dsb. Tiba-tiba, ibu penjual kue memberikan tambahan sepotong kue karena kita beli 10 biji (orang Jawa bilang: di-imbuhi – ditambahi). Waktu ganti oli, ternyata pemilik bengkel menyuguhi sebotol teh Sosro dingin. Waktu pangkas rambut, eh … ternyata, setelah leher pegal karena harus duduk tegak selama dipangkas, tukang pangkasnya memijat pundak dan belakang leher sebagai bonus. Apa yang kita rasakan? Gembira pasti. Memang bonus dari penjual atau pemberi jasa adalah semacam taktik penjualan, agar pelanggan loyal dan puas. Ada hal yang dihitung di luar perhitungan profit sekarang, yaitu kesinambungan profit. Bagaimana dengan kita sebagai pelanggan?

Seringkali saya termenung memandang uang 1000 rupiah di tangan, hasil kembalian sesuatu. Nilai ini tidak besar, biasa kita lihat, dan bahkan bisa tergeletak di manapun. Kalau pas kebetulan beli makanan di resto fastfood nilai ini sama sekali tidak berarti. Tapi seberapa mau kita mengulurkan uang itu pada pengemis pertama yang kita jumpai? Ataukah kita lebih suka menyimpannya di dashboard mobil untuk ongkos parkir?

Dalam Surat Al Ma’aru 19-21, Allah berfirman tentang nash manusia: Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.

Sungguh dari ayat ini saya bisa bercermin dan memahami bahwa sulit menyedekahkan harta benda adalah hakikat manusia, siapapun itu. Jadi, betapa besar upaya orang untuk bisa lepas dari nash yang sedemikian ini. Tapi bagaimana caranya?

Kelanjutan surat ini adalah: kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang  yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa, dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.

Pernahkah anda berhenti untuk memperhatikan apa yang dilakukan oleh seorang pengemis tulen (yang benar-benar mengemis karena tidak ada lagi yang bisa dikerjakan) saat menerima 1000 atau 2000 rupiah dari anda? Kebanyakan pengemis yang saya temui biasanya akan mengucapkan doa untuk kita. Mungkin kita bisa bahkan biasa menyepelekan makna doa mereka, sementara kita tidak tahu doa siapa yang akan dikabulkan oleh Allah Swt.

Saya ingat sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang indah: Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis . Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.(QS Al Baqarah 265)

Balasan dari Allah yang tidak terhingga atas semua belanja kita demi mencari ridha-Nya adalah kebarokahan atas rizki. Mungkin dari tahun-ke tahun, pendapatan kita tidak banyak beringsut, namun sangat ajaib bila ternyata rizki kita yang hanya sedemikian itu telah menjadi pintu rizki pula bagi orang lain yang kita sayangi (keluarga, kerabat, teman). Barokah adalah rumusan yang tidak dikenal oleh akuntansi dan budgetting, namun ia sungguh ada, bisa kita rasakan, dan semoga menjadi jalan kesyukuran kita lebih jauh. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: