Psikotes

chalkboard

Adik ipar saya beberapa hari lalu sempat bertanya: Mas, apa arti “overprotektif” dalam tes IQ? (Tes IQ kok ada “overprotektif”?)

Saya tanya lebih jauh: Siapa yang di tes?

Adik Ipar saya menjawab: Itu Rara (anak adiknya yang berusia lima tahunan).

Saya: Di mana tes-nya?

Adik Ipar: Di sekolah.

Saya: Bareng-bareng atau sendiri-sendiri?

Adik Ipar: Nggak tahu, wong yang ngadakan sekolah. Ya itu, hasilnya IQ-nya 106 terus ada keterangan overprotektif.

 

Saya mengeluh dalam hati. Di masa sekarang ini, ketika bisnis pendidikan semakin berkembang, masih banyak pula psikolog yang tidak mempergunakan kode etik dengan benar. Di sisi lain, pihak sekolah rasanya juga terlalu ambisius melakukan pengukuran psikologi (psikotes) pada anak-anak pra sekolah secara sembrono. Tentu saja, keuntungan materi adalah hal yang diburu.

Melakukan pengukuran pada anak-anak tidak pernah mudah, dan selama aktivitas saya di bidang ini (sebelum saya memutuskan untuk sepenuhnya mengurus SDM di perusahaan), mengukur kecerdasan anak-anak adalah hal terakhir yang mungkin saya lakukan. Bukannya tidak bisa, tetapi tidak biasa dan banyak trik yang perlu dikuasai agar anak-anak mau bekerja sama.

Kalau tes kecerdasan pada anak-anak dilakukan secara klasikal (bersama-sama dalam ruang kelas), saya hampir yakin hasilnya tidak akan optimal, kecuali psikolognya sudah mengeleminasi semua faktor yang menyebabkan pengukuran tidak efektif. Hal ini saya ragukan, karena sejauh yang saya tahu, budaya ilmiah seperti ini belum banyak dibangun oleh komunitas praktisi psikologi (mungkin kecuali yang di kampus).

Tes kecerdasan dan bakat untuk anak biasanya berupa paket battery, dan diterapkan secara individual. Petikan alat tes tersebut bisa saja diterapkan secara klasikal, namun sekali lagi perlu penyesuaian dan pengkajian secara ilmiah (termasuk statistika penghitungan normanya).

Yang mengganggu saya adalah penggunaan angka sebagai parameter IQ untuk laporan pada orang tua anak-anak pra-sekolah tersebut. Ketika dalam buku laporan disebutkan bahwa IQ seorang anak adalah 106, tanpa ada penjelasan lebih jauh, apa yang dipahami oleh orang tua? Apa arti 106, bisa sampai kemana anak dengan IQ seperti itu? 

Pada dasarnya, level IQ adalah range atau menyerupai kontinum – bukan sesuatu yang diskrit. Oleh karena itu, konsultan biasa menuliskan dalam laporan: kecerdasan si X beroperasi di level menengah atas. Jadi, bila sekarang seseorang di-tes IQ ternyata berskor 106 (anggap saja semua prasyarat dan kondisi orang yang bersangkutan baik, dan psikolog yang melakukannya juga dengan cermat), kalau suatu saat di tes lagi kecerdasannya mungkin tidak tepat di 106 tetapi tidak akan lebih dari 110 atau kurang dari 100. Nah, orang tua murid sekolah seharusnya diberikan pengertian mengenai hal ini.

Bayangkan sikap orang tua yang tidak memahami kondisi ini, ketika melihat skor IQ anaknya yang 106 dibandingkan dengan skor anak lain yang tidak pintar-pintar amat namun skornya adalah 109. Keduanya beroperasi di level yang sama, sehingga boleh dikatakan tidak berbeda.

Yang menjadi masalah di Indonesia adalah taraf pemahaman pengguna jasa pengukuran psikologi, karena memang edukasi yang kurang memadai, sementara pihak konsultan juga merasa tidak perlu memberikan edukasi. Satu di antaranya, karena menganggap orang awam tidak perlu paham terlalu banyak seluk beluk psikologi. Atau mereka juga tidak paham, karena tidak memiliki kapabilitas pengetahuan sebagaimana yang dituntut.

Yang lebih menyedihkan adalah perangkat pengukuran kepribadian yang seringkali dipaksakan untuk anak-anak. Katakan tes DAM (draw a man) dan HTP (house-tree-person) agar anak tidak perlu membaca dan menulis, tapi hanya menggambar. Pada dasarnya tes grafis tersebut untuk menilik adakah kecenderungan klinis subjek, namun sekarang kegunaannya sudah banyak bergeser untuk kepentingan yang lebih luas. Itulah sebabnya, hasil laporan yang didasarkan pada tes grafis juga cenderung klinis: kurang percaya diri, agresif, menarik diri, hingga yang saya singgung di atas; overprotektif.

Adik ipar saya jadi kebingungan, karena anak yang disebut overprotektif tadi besar bersama nenek dan tantenya, sementara orang tuanya bekerja sampai sore. Bahkan menurut saya perlakuan semua orang justru cenderung serba boleh. Dia sangat disayang karena masih cucu catu-satunya, tapi sejauh yang saya tahu memang tidak pernah mengalami kungkungan proteksi yang berlebihan.

Saya yakin, apa yang dialami oleh adik ipar saya tersebut bukan satu-satunya. Masih sangat banyak kasus orang tua yang bangga ketika tahu anaknya “di-psikotes” tapi sama sekali tidak paham apa sebenarnya yang terjadi. Bagi pembaca blog saya, ingin saya membagikan beberapa tips sebagai berikut:

  1. Tiap pengukuran psikologis seharusnya menempatkan anak sebagai subjek. Artinya, tes tersebut bukan menempatkan profit sebagai subjek, sementara anak hanya objek penderita yang menjadi sarana. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menanyakan:
    • Bagaimana tes dilakukan. Bila diadakan secara klasikal (bareng-bareng dalam satu kelas), tanyakan bagaimana kontrol pada anak yang mungkin sedang tidak siap (bad mood, tidak serius, dsb). Tesnya meliputi apa saja, berapa lama dilakukan (1 jam sudah terlalu lama bagi anak pra-sekolah).
    • Apakah akan diadakan sesi tanya jawab dengan psikolog, karena ini penting untuk mengupas semua ketidak mengertian.
  2. Apapun hasil psikotes yang telah diadakan, jangan ragu atau sungkan untuk berkonsultasi dengan psikolog yang melakukan tes. Sekalipun sekolah telah menyediakan sesi tanya jawab sekitar hasil psikotes, luangkan waktu untuk memuaskan segala ketidak mengertian pada sang konsultan secara pribadi. Umumnya, untuk 1 – 2 sesi tanya jawab tambahan saja (asal yang berkaitan dengan tes yang dilakukan) psikolog akan menyediakan waktu – sekalipun tidak full 1 jam.
  3. Jangan pernah menganggap hasil psikotes sebagai harga mati! Pertama, kemungkinan error bisa terjadi, sehingga hasil tes tidak benar-benar mencerminkan diri sang anak. Kedua, anak-anak yang masih berusia sekolah dasar, apalagi pra-sekolah, masih sangat labil dan mudah sekali dibentuk. Dengan pola pengasuhan dan bimbingan yang tepat, hasil psikotes kemarin mungkin tidak akan ada maknanya 2 – 3 tahun lagi. Anggap saja hasil psikotes tersebut sebagai parameter dimensi kecerdasan dan kepribadian anak, tapi tidak perlu dianut 100%.
  4. Selama anak-anak kita bertumbung kembang normal, tidak perlu terobsesi melakukan pengukuran psikologis pada diri mereka, kecuali sebatas menilik minat dan bakat mereka saja. Tiap anak selalu punya gugus bakat yang belum tampak, sehingga bila memang belum tampak bisa saja dimintakan bantuan pada ahlinya. Itupun harus pada psikolog yang biasa menangani anak-anak dan memiliki battery khusus pengukuran tersebut.
  5. Terakhir, dunia praktik psikologi (sebagaimana kedokteran) memiliki kode etik, sehingga penting bagi klien untuk sedikit tahu dan jangan pernah ragu mempertanyakan pada psikolog anda bila menangkap indikasi malpraktik.

 

 

One Response to “Psikotes”

  1. andriani Says:

    dlm wkt dekat ini 2 anak sy TK A dan B akan tes psikotes di sekolahnya. ini yg pertama untuk mereka dan kami ortunya.awalnya sy senang karena mau tau jg IQ anak.obrol punya obrol dgn ibu yg kmren anaknya ikut tes psikotes wkt di TK A hsilnya kurang memuaskan..suami pun kecewa berat dan menyalahkan sang ibu serta memarahi dan menghukum anak (dilarang nonton TV dan main game)..seram jg ya.. akhirnya setelah sy baca penjelasan ini sy bisa agak tenang apapun hasilnya nanti mereka tetap anak2 yg hebat bg kami ortunya…dan sy mesti berusaha agar mereka nyaman dan gembira pergi ke sekolah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: