Pelajaran dari Jibril

 

manusia seperti buih di laut bila tiada panduan

manusia seperti buih di laut bila tiada panduan

Dari: Hadits Bukhari –Muslim

Pada suatu hari, Rasulullah Saw muncul di antara kaum muslimin.

Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai Rasulullah, apakah iman itu? Rasulullah Saw menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kita-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kepada hari berbangkit.

Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Rasulullah Saw menjawab: Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan shalat fardhu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadhan.

Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? Rasulullah Saw menjawab: Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu.

Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? Rasulullah menjawab: Orang yang ditanya masalah ini tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya. Tetapi aku akan ceritakan tanda-tandanya; apabila budak perempuan melahirkan tuannya, maka itulah salah satu tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila ada penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah.

Kemudian Rasulullah Saw membaca firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat;  dan  Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.  Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui  apa  yang  akan  diusahakannya  besok  . Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan  mati.  Sesungguhnya  Allah  Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Luqman 34).

Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah Saw bersabda: Panggilah ia kembali! Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah Saw bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah dengan agama.

 

Rasulullah Saw membawa risalah yang meluruskan pandangan manusia terhadap apa yang haq dan bathil, agar manusia senantiasa berada di jalan kebenaran. Islam adalah ajaran yang sederhana dan membumi, menyederhanakan kepelikan berpikir ala jahiliyah tentang penyembahan kepada Tuhan pencipta alam semesta. Bahkan dalam Islam, seberapa khusyuk penyembahan kepada Allah dikembalikan kepada manusia sendiri.

Dalam hadits di atas, Rasulullah menyedehanakan definisi iman dengan indahnya. Sesungguhnya, manusia akan selamat bila mengimani segala hal yang gaib. Allah, malaikat, nabi dan rasul, esensi ajaran kitab, takdir, dan kiamat adalah segala hal yang gaib, dan kaum muslim wajib mengimaninya. Iman jauh berada di lubuk qolbu individu, sehingga keimanan erat kaitannya dengan hal-hal yang dipikir dan dirasakan oleh qolbu.

Sesungguhnya, dari masa ke masa, selalu ada manusia yang lisannya menyatakan keimanan, namun hatinya ingkar. Ketika dunia dan isi materinya menempati posisi lebih tinggi daripada prioritas Allah, itulah saat kekufuran terjadi. Ketakutan akan hilangnya duniawi menyebabkan manusia lantas meminta perlindungan kepada dzat selain Allah SWT. Melupakan esensi takdir, menisbikan kekuasaan Allah, dan sebaliknya mendudukkan kekuatan primbon, fengshui, atau keris pusaka di atas segalanya.

Islam adalah perilaku dan pelaksanaan kewajiban. Didahului dengan tahlil sebagai fundamental perilaku, Islam memerintahkan manusia untuk rukuk dan sujud 5 kali sehari semalam, puasa, zakat, dan pergi haji (bagi yang mampu). Dalam dunia yang modern dan serba instan ini, saat kecepatan seolah meninggalkan sisi religi manusia, betapa banyak pula manusia yang memisahkan Islam dari perilaku sehari-hari. Sholat ditinggalkan di rumah, atau hanya dilakukan seminggu sekali bahkan setahun sekali, puasa dengan enteng dibatalkan, dan zakat atau haji yang dilakukan demi status semata.

Esensi ihsan adalah komunikasi yang intens dengan dzat Allah, dan kesungguhan dalam beribadah semata untuk ketundukan dan ridha-Nya. Allah memang Maha Agung dan Pengampun, sehingga manusia senantiasa bisa mengharapkan ampunan dan pintu surga – selama kita kaum Muslim tidak mengingkari kalimat tauhid. Orang yang mencapai nilai ihsan adalah segelintir orang yang mampu bersujud dengan isak tangis karena takut pada hilangnya ridha Allah – dan itu tidak banyak yang mampu.

Semoga, pelajaran dari Jibril melalui risalah Rasulullah Saw senantiasa menjadi pedoman bagi saya, dan semua yang membaca catatan ini. Amin.

 

 

2 Responses to “Pelajaran dari Jibril”

  1. Minggu lalu seorang kawan membawakan saya buku sbg buah tangan, “parasit aqidah”, setelah saya baca semakin yakin saya bahwa Allah lah sesembahan milyaran manusia sepanjang masa, baik dengan sebutan nama Tu,Thian,Tuh,Toh,Tie,Yang,To,Ahura,Toaroa,Teuh,Nebu Ila,Tuhan. Kebesarannya telah diakui sejak penciptaan manusia ribuan bahkan ratusan ribu tahun yang lalu, subhanallah. Bagi saya ini membuktikan bahwa ruh Allah yang ditiupkan dalam jasad manusia memang akan selalu mencari keberadaan sumber sejatinya yaitu sumber segala sumber, zat yang Maha Kekal yang akan selalu eksis sepanjang masa bahkan sampai satuan masa berakhir Allah akan selalu ada, tidak berawal dan tidak berujung, AllhuAkbar.

  2. enak yah, blognya ruameeeee!
    beda banget sama blogku. sepi…
    hikz… 1000x

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: