Maturity

 

4personalities

kepemimpinan dan teamwork

Beberapa hari yang lalu, saya sempat diskusi dengan pimpinan departemen operasional berkenaan dengan promosi jabatan seorang staff di departemen tersebut. Pada intinya, beliau meminta saya berpendapat tentang calon yang akan dipromosikan tersebut, karena tugas saya antara lain adalah mengikuti perkembangan karyawan, termasuk karakter mereka.

Saya katakan,”Kalau saja calon ini punya kematangan kepribadian seperti sekarang, saya yakin dia sudah pantas menjadi supervisor sejak proses promosi sebelumnya.”

Pada sebuah level, kapasitas teknik seseorang bisa berimbang, dan penentuan karier berikutnya justru terletak pada kualitas non-teknis. Seorang CEO tidak harus menguasai semua bidang yang ada di organisasi yang di pimpinnya, namun ia harus bisa menguasai semua pimpinan departemen yang notabene ahli-ahli di bidangnya. Bila kapasitas teknis yang menjadi pijakan utama penentuan karier, sebuah skema jenjang karier tidak akan bergerak kemana-mana karena teknikalitas selalu berubah, bergerak, menjadi lebih kompleks.

Pimpinan departemen tersebut – seorang expatriate – lantas bercerita tentang sebuah point penting di masa lalunya. Dia masuk induk perusahaan tahun 1994 sebagai engineer, setelah sebelumnya bekerja di perusahaan lain (sebut X) sebagai engineer. Bersamaan dengan dia, rekan seniornya di X juga masuk sebagai engineer, dulu dia adalah asisten manajer dan usianya lebih tua. Selama beberapa tahun bekerja di perusahaan yang sekarang, kemampuan teknis expat yang bicara dengan saya itu meningkat lebih pesat daripada eks seniornya di X.

Empat – lima tahun kemudian, ada posisi lowong di level deputy manager dan keduanya dikandidatkan untuk promosi. Secara teknis, expat yang bicara dengan saya tersebut yakin lebih unggul, demikian juga para koleganya. Tetapi hasil akhir berkata lain, ia kalah karena kondisi yang diyakininya karena faktor non-teknis: maturity. Sebagai orang muda, umurnya belum lagi 35 saat itu dibandingkan dengan umur kandidat lain yang 5 tahun lebih tua, ia selalu berpikir progresif dan terlalu berani mengambil keputusan. Teman-temannya mendesaknya mempertanyakan keputusan manajemen tersebut pada BOD, namun ditolaknya karena ia tidak mau ramai.

Beberapa tahun kemudian, saat ia ditempatkan di Indonesia dan umurnya telah mencapau middle–age, ia bisa berpikir dengan lebih jernih: Di posisi manajemen sekarang, rasanya ia juga akan ngeri bila ada kandidat deputy manager yang terlalu berani mengambil keputusan, sementara nature bisnis tidak menghendaki hal tersebut. Ada kontrol diri yang menurutnya tidak sebaik sekarang. Di sisi lain, ia bersyukur saat itu ia memilih untuk “tidak mau rame”, dan menggantungkan ketidak puasan begitu saja. Kalau saja ia menuruti nasihat teman-temannya untuk memprotes BOD, mungkin karirnya sudah tamat saat itu juga, dan tidak ada peluang baginya dikirinkan overseas (yang bisa menjadi tiket promosi di induk perusahaan).

Apa kaitan antara kematangan kepribadian dengan promosi ke level posisi manajerial?

Secara unik manusia memiliki kecerdasan yang beragam, demikian pula karakternya. Sebenarnya tidak jelas kaitan antara usia dengan kematangan kepribadian, karena pada kenyataannya ada orang-orang yang tidak pernah matang sekalipun telah melewati usia tengah baya. Sebaliknya ada orang yang menunjukkan kematangan kepribadian, karakter yang terbentuk, di saat usia yang masih muda. Kematangan dibentuk oleh kemampuan serap seseorang pada segala pengalaman yang dimiliki, dan menjadikan tiap keping pengaalaman menjadi bagian dari karakternya.

Kepemimpinan, secara ilmu, bisa dipelajari. Tetapi, orang yang paham teori tentang kepemimpinan tidak otomatis jadi pemimpin yang baik. Ilmu agama bisa dipelajari, dan Al-Qur’an bisa dihafalkan, tetapi cukup banyak ustadz yang tersesat dan orang yang paham Al-Qur’an secara teori justru menjadikannya alat klenik.

Artinya, menjalani hidup berbekal ilmu jauh lebih utama daripada menimba ilmu sepanjang hidup tanpa pernah mencoba mengamalkannya dalam pengalaman hidup.

Pantaslah orang Amerika pada awalnya tidak percaya pada kemampuan Obama, karena ia adalah orang muda yang dianggap belum banyak pengalaman. Kandidat lain adalah seorang politisi kawakan, yang telah malang melintang di dunia politik bahkan sejak Obama masih kuliah. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya?

Dari beberapa debat yang ditampilkan, kelihatan jelas bagaimana seorang Obama yang dibesarkan secara multi rasial telah memilih yang terbaik dari dirinya dan segunung pengalamannya sebagai bekal menuju Gedung Putih. Sekalipun McCain jelas lebih banyak memiliki pengalaman hidup, ia tidak mampu memilah point terbaik sebagai senjata melawan “anak kemarin sore” yang brilian itu. Obama tidak pernah memandang negatif kehidupan, dan melihat kegagalan bukan kesalahan ras atau alasan tidak jelas lainnya. Ia tegas mengatakan, dalam video biografinya di acara Metro Files, kalau ia tidak bisa jadi Presiden pasti karena ia tidak mampu meyakinkan rakyat Amerika, atau rakyat Amerika tidak memahami apa yang dipikirkannya … bukan karena sebab lain.

Kematangan kepribadian bisa diibaratkan seperti penyaring atau filter yang memperhalus pengalaman hidup, menyingkirkan residu yang tidak bermanfaat, seraya mengelola sari kehidupan yang berguna untuk langkah kehidupan mendatang.

Bagaimana mengenali kematangan kepribadian?

Tidak ada yang mudah dalam mengenali kepribadian individu, kecuali kita cukup mengenal orang tersebut atau pernah bertemu dengannya sebelumnya. Artinya, untuk memahami kematangan kepribadian seseorang kita memerlukan:

  • Parameter kematangan kepribadian
  • Perbandingan dengan yang tidak memiliki kematangan.

Mungkin kita pernah mendengar orang menilai seseorang: sekarang dia telah banyak berubah, sesuatu yang menggembirakan. Maknanya, telah ada perkembangan kepribadian pada diri orang tersebut, yaitu pencapaian kematangan di level tertentu.

Seorang anak dikatakan telah semakin dewasa bila terlihat kematangan dalam membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu, yang membuatnya lebih bisa dipercaya.

Seorang karyawan yang telah bekerja di bagian produksi selama 10 tahun, telah banyak mengenal seluk beluk pekerjaannya, dan “dituakan” oleh operator lainnya, dianggap telah layak sebagai pengawas, dan karenanya dipromosikan sebagai supervisor.

Dua orang bersuadara, bersekolah di tempat yang sama, bekerja di tempat yang sama, belum tentu memiliki tingkat kematangan kepribadian yang sama. Itulah keunikan manusia, dan menjadikan manusia sebagai individu yang unik. Keunikan manusia menunjukkan bahwa manusia memang mahluk Allah yang paling sempurna.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: