3 Martir (?)

 

jihad

atas nama Islam

 

Berbagai media massa tulis dan elektronik sempat terfokus pada issue eksekusi mati trio bom bali di LP Nusakambangan. Berbagai pro dan kontra telah merebak pada hari-hari menjelang hari H eksekusi tersebut. Yang lebih membuat perasaan sebagian umat Islam terhanyut pada issue itu adalah beberapa media massa elektronik yang seolah berlomba tidak ingin kehilangan moment penting. Minggu, 9 November 2008, eksekusi dilakukan setelah sehari sebelumnya batal karena hujan. Usai sudah episode kehidupan tiga manusia yang berstigma teroris (di satu sisi) dan syuhada jihad (di sisi lain).

Sebelum tertangkapnya Amrozy, yang disusul kedua orang lainnya, tidak ada yang secara khusus mengenal nama-nama: Amrozy, Mukhlas, dan Imam Samudera. Mereka mungkin hanya dikenal sebagai salah satu santri dan ustadz di antara ribuan bahkan jutaan yang berada di pesisir Utara Jawa. Pola pikir mereka lah yang membawa mereka pada suatu tindakan penting yang mengubah sejarah dan citra Islam bangsa ini.

Seikhlas apapun, kehilangan sanak kerabat selalu mendatangkan kepiluan. Itulah yang tertangkap pada raut muka, sikap, bahasa tubuh, hingga perilaku sanak kerabat ketiga orang tersebut. Kepiluan mereka antara lain dilampiaskan dengan memaklumkan ketiganya sebagai syuhada’ yang tentunya (dalam anggapan mereka) dijanjikan surga di kehidupan yang mendatang. Bagi kalangan tertentu, ketiganya adalah martir.

Dalam sebuah wawancara dengan sebuah televisi swasta, Mukhlas menegaskan bahwa sekalipun ia ikhlas menghadapi kematian ia tidak ridha dihukum mati. Bila pemerintah memutuskan hukuman mati atas dirinya, berarti pemerintah boleh dibunuh! Lama saya renungkan maksud ucapan orang ini, dan sampai sekarang saya tidak begitu memahaminya – kecuali saya memakai sepatunya.

Ekstrimitas pandangan dan pemikiran, inilah yang membuat Islam seolah-olah tempat yang tidak nyaman, dan bagi orang di luar Islam membentuk image yang tidak menyenangkan. Surga dan neraka, dua ujung yang menjadi penentu akhir kehidupan kelak. Jihad yang dimaknai sebagai hidup mulia atau mati syahid. Kedua konsep ini, yang nyata disebutkan dalam Al-Qur’an, menggiring sebagian kaum Islam hidup dalam kondisi yang eksklusif. Mereka berpikir orang di luar Islam adalah kafir yang jahiliyah, dan darah mereka halal karena dianggap musuh Islam. Bahkan dengan sesama Islam yang tidak segolongan pun mereka tidak segan mengkafirkan. Kuantitas mereka tidak sebesar orang Islam yang lebih moderat, namun mereka telah memberikan sebuah rona di wajah kaum Islam secara keseluruhan.

Meledakkan bom di sebuah lokasi umum yang cukup padat, dengan alasan “sumber kemaksiatan” atau “tidak Islami” menurut saya, bagaimanapun, adalah tindakan biadab yang jauh dari nilai-nilai Islam. Rasulullah SAW, sejauh yang saya baca dari tarikh beliau, tidak pernah membahayakan nyawa orang-orang yang tidak menjadi angkatan perang lawan, sekalipun kafir. Hanya orang-orang kafir yang berusaha menumpas Islam saja yang beliau perangi. Bahkan ketika terjadi sebuah perang di dekat Thaif, setelah tentara Islam menguasai Mekkah, pasukan Rasulullah dari Mekkah terdiri dari kaum Islam Muhajirin dan Anshar, serta kaum musyrik Mekkah yang juga meminjamkan persenjataan serta baju besi kepada Rasulullah. Bisa kita timbang, setelah Rasulullah menaklukkan Mekkah tanpa pertumpahan darah, tidak ada pemaksaan dalam beragama dan orang-orang kafir tetap ditoleransi selama tidak menentang dan mengkhianati kaum Islam.

Apa hanya karena orang Bali mayoritas bukan orang Islam dan Paddy’s Cafe dikunjungi mayoritas orang Australia, sehingga Amrozy cs boleh menganggap darah mereka halal?

Saya tidak berhak memastikan bahwa ketiga orang tersebut adalah pelaku bom bali yang mengerikan itu, dan saya hanya berasumsi merekalah yang melakukan sesuai dengan hasil persidangan yang memvonis hukuman mati. Namun demikian, bila memang benar mereka yang merencanakan dan memicu bom terkutuk itu, saya berhak mengatakan, ketiganya layak dihukum mati, karena telah menghilangkan nyawa orang lain secara berencana. Dalih apapun yang mereka jadikan pijakan, tindakan mereka adalah kebiadaban. Kalau keluarga mereka pilu melihat darah yang menetes akibat eksekusi ketiga orang tersebut, bagaimana pula perasaan 200 orang lebih yang mati dan cedera bahkan cacat tetap hingga tidak bisa mencari penghidupan dengan layak akibat ulah mereka?

Hidup mulia atau mati syahid menurut saya tidak identik dengan darah dan air mata. Bila kita berpegang pada firman Allah dan hadits Rasulullah, seharusnya kita memahami bahwa kemuliaan adalah bila kita bisa khusnul khotimah seraya menjunjung nama agama – bukan mencampakkannya ke selokan. Orang yang mulia adalah yang paling takwa, bukan yang rajin menghabisi nyawa orang lain (kecuali mereka beranggapan membunuh adalah salah satu jalan takwa). Sejak kecil, saya diajari bahwa jihad tidak selalu kekerasan dan pedang! Berjalan ke tempat kerja mencari penghidupan, belajar ilmu, melahirkan anak, dan semua perbuatan baik demi keluarga dan agama adalah jihad. Bila kita mati di sana, kita boleh berbangga diri. 

Saya bermimpi, suatu saat orang Islam khususnya di Indonesia bisa menunjukkan kapasitas dan kualitas sebagai pemikir yang sejati. Islam tidak lagi diidentikkan dengan pedang (sebagaimana dipelintir oleh sebagian kaum Nasrani), namun identik dengan karya besar kemanusiaan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat, para Imam, hingga ilmuwan hebat seperti Ibnu Sina. Sebenarnya Indonesia memiliki beberapa pemikir hebat baik yang masih hidup maupun telah wafat, dan semuanya membawa nama terang bagi kaum Muslim. HAMKA, M. Natsir, KH Agus Salim, Quraish Shihab, Jalaluddin Rahmat, hingga pakar ekonomi Islam M. Syafii Antonio. 

Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, mengapa tidak kita coba dudukkan bangsa ini di tempat yang layak sebagai mercusuar bagi bangsa lain, agar melihat kemegahan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Atas nama Islam, saya menuliskan catatan ini dengan keprihatinan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: