4 Tanda Muslim Yang Jahil

Suatu ketika anak saya bertanya, mengapa dia tidak punya nama keluarga, sementara beberapa temannya yang sama-sama orang Jawa punya. Saya, yang orang Jawa, tidak punya nama keluarga, sementara istri saya, yang orang Gorontalo, punya nama keluarga. Mengapa ada perbedaan itu?

Memang begitulah adat kesukuan di Indonesia. Orang Jawa pada umumnya tidak menggunakan nama keluarga, kecuali beberapa keluarga ningrat yang berusaha melestarikan nama tersebut. Beberapa suku di Indonesia juga tidak menggunakan nama keluarga, seperti Bali, beberapa kelompok suku di Sumatera, Sulawesi Selatan, Kalimantan, hingga Papua.

Kan asyik punya nama keluarga, jadi kita tahu siapa saja keluarga kita dan dari mana pertalian keluarga itu berasal. Kalau tidak ada nama keluarga, kita jadi bingung apa pertalian keluarga dengan seseorang tersebut. Demikian anak saya menyoal lebih lanjut, maklum dia sudah memasuki ABG dan begitu banyak hal yang mulai menarik perhatiannya.

Apapun suku kita, itu tidak bisa berubah sebagai kondisi yang “given”, dan kita harus menghabiskan seluruh hidup kita dalam naungan asal-usul tersebut. Di sisi lain, saya cukup bersyukur dilahirkan dari sebuah suku yang tidak menggunakan nama keluarga sebagai bagian dari nama, karena hal itu memaksa saya tidak bergantung pada nama keluarga untuk menjadi diri sendiri.

Saya pernah membaca sebuah hadits Rasulullah Saw yang berbunyi: “Empat perkara pada umatku dari perkara jahiliyah yang mereka tidak meninggalkannya, yaitu: membanggakan derajat keturunan, mencela keturunan, meminta hujan dengan binatang, dan meratapi mayat” (HR. Muslim). 

Membanggakan Keturunan:

Seringkali kita jumpai orang yang menyandang nama keturunannya dengan bangga, bahkan terlalu bangga. Ada juga yang tidak menyandang nama keluarga, hanya memakai bin nama bapaknya, tetapi punya kebanggaan yang serupa. Bangga pada asal-usul sah saja, namun terlalu bangga bisa menimbulkan permasalahan yang tidak perlu.

Rasulullah menekankan untuk tidak membanggakan derajat keturunan karena takaran kemuliaan manusia di mata Allah bukanlah karena dia anak siapa, tetapi siapa dia sebenarnya dan bagaimana tingkat ketakwaannya.

QS Al Hujuraat 13 berbunyi: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, dikisahkan bagaimana Rasulullah marah besar pada seorang sahabat yang memintakan keringanan hukuman atas seorang perempuan Mekkah yang kedapatan mencuri, hanya karena perempuan itu dari kalangan bangsawan (dan dikisahkan sudah beberapa kali lolos hukuman potong tangan karena status tersebut). Dari situlah kemudian muncul kata-kata Rasulullah yang populer: Seandainya anakku, Fatimah mencuri, akan aku potong tangannya. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak mendewakan asal-usul dan keturunan, dan tidak ada kaitan antara asal-usul keturunan dengan ketakwaan atau kesesatan seseorang.

Kalau kita kaji, sebenarnya sisitem politik monarkhi yang berkembang di Timur Tengah juga tidak diajarkan oleh Islam. Rasulullah tidak mewariskan posisi Khalifah kepada keturunannya, sehingga para sahabat secara demokratis memilih sahabat yang paling dipercaya. Oleh karena itu, sungguh mengherankan bila kekalifahan diidentikkan dengan kesultanan atau kerajaan, yang berarti mengagungkan keturunan.


Mencela Keturunan

Karena ukuran kemuliaan adalah ketakwaan, hendaknya manusia tidak mengaitkan cela orang tua pada anak-anak mereka begitu saja. Hanya karena izin Allah semata manusia lahir dan mencari penghidupan di muka bumi, sehingga tidak ada hak manusia menghakimi seseorang hanya karena dia lahir tanpa ayah, atau dari rahim seorang pelacur.

Pada jaman sebelum Islam hingga Rasulullah datang membawa Islam meluruskan segala aturan yang berlaku, begitu banyak perang antar suku karena soal pelecehan keturunan ini. Di masa sekarang, keturunan dianggap mewakili citra sebuah keluarga. Kesalahan yang dilakukan oleh orang tua menjadi stigma bagi anak-anak mereka. Apakah salah? Menurut saya manusiawi sekali.

Bayangkan anak atau keluarga kita punya pacar, kebetulan yang serius 2 orang. Keduanya sarjana, tapi yang seorang anak guru SMP, yang seorang lagi anak yang besar di panti asuhan dan tidak jelas keberadaan orang tuanya. Mana yang kita ijinkan serius dengan anak kita?

Sekalipun Islam menegaskan bahwa agama adalah faktor pertama dalam memperoleh jodoh, dan kemuliaan manusia diukur dari ketakwaannya kepada Allah Swt, pada kenyataannya masih jauh lebih banyak yang menempatkan parameter dunia di atas segala hal rohaniah tersebut. Orang Jawa punya jargon bibit, bobot, bebet sebagai kesatuan timbangan.

Bibit adalah darimana seseorang berasal, anak siapa, dari suku mana. Anak orang Batak sudah pasti keras dan (konon) boleh angkat kaki di depan mertua, kalau bapaknya kawin dua anaknya juga akan kawin dua, dan seterusnya. Bobot adalah timbangan personal orang tersebut, sarjana atau bukan, pintar atau tidak, priyayi atau bukan. Bebet adalah harta benda yang dimiliki. Orang Jawa suka calon menantunya +3, bolehlah kalau kurang satu asalkan bukan soal bibit.

Anak maling tidak otomatis menjadi maling, demikian juga anak pelacur. Mereka terbiasa melihat kehidupan maling dan pelacuran, dan mungkin jadi lebih permisif pada perilaku negatif tersebut karena dibesarkan di lingkungan itu. Seorang tumbuh menjadi maling atau pelacur karena pilihan hidup, bukan karena keturunan!

Meminta Hujan Dengan Binatang

Hujan adalah rahmat Allah yang dinantikan setiap kehidupan, apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah dengan debit curah hujan yang rendah. Di seluruh permukaan bumi, ‘kapan’ dan ‘bagaimana’ hujan turun tidak pernah sama, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Furqaan 50: Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran ; maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari .

Apakah manusia selalu bersyukur dengan turunnya hujan? Tidak. Manusia diciptakan dan di-nash-kan sebagai manusia yang mengeluh bila merasa sengsara. Alih-alih mencoba memikirkan penciptaan di langit dan di bumi, manusia lebih suka meratapi dan mencela rahmat Allah tersebut. Kalau sudah waktunya hujan turun dan belum ada tanda-tanda akan turun hujan, manusia mengeluh. Bila hujan turun terus menerus di kala seharusnya sudah reda, manusia mengeluh.

Rasulullah mengajarkan kita umat Islam untuk memohon turunnya rizki berupa hujan dengan cara sholat istisqo’, tanpa perantaraan apapun. Allah menyuruh kita meminta langsung kepadaNya, dan menjauhi cara-cara syirik. QS Huud berbunyi: Dan : “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”

Apa yang dilakukan oleh orang-orang di sini dalam menghadapi kemarau panjang? Alih-alih melakukan tuntunan sholat minta hujan, di desa-desa justru dilakukan upacara bersih desa dengan mengorbankan sapi atau kerbau, atau mengadakan acara ritual minta hujan seperti “ujungan” (saling mencambuk hingga berdarah, namun karena ada kekuatan jin mereka tidak merasakan sakit).

Seolah-olah, mereka merasa nyaman dengan acara persembahan tersebut, dan hujan akan turun bila “Sang Penguasa” gembira dengan persembahan mereka. Sang Penguasa, dalam pengertian mereka, bisa jadi bukan Allah Swt, tetapi sebuah dzat yang dianggap perkasa dan bisa setiap saat mengancam jiwa mereka bila tidak merasa senang.

Meratapi Mayat

Kesedihan selalu menjadi bagian dari kematian salah seorang anggota keluarga, apalagi bila kematian tersebut mendadak. Sekalipun demikian, Islam melarang umatnya untuk meratapi jenazah seolah-olah tidak mengikhlaskan datangnya takdir Allah. Fenomena meratap, meraung, bahkan hingga pingsan ini masih sering kita jumpai, sekalipun orang yang pingsan tersebut paham soal agama.

Sedih atas kematian seseorang memang boleh saja, tapi kesedihan yang berlebihan sampai meratap dengan memukul-mukul badan, kepala, muka, menarik-narik rambut dan mengucapkan kata-kata yang menggambarkan tidak adanya rasa yakin atau percaya kepada Allah Swt merupakan sesuatu yang tidak bisa dibenarkan, karena itu, dala, kitab hadits Riyadush Shalihin, Rasulullah Saw menganggap orang seperti itu sebagai orang yang bukan umatnya, beliau bersabda yang artinya: “Bukan dari golonganku orang yang memukul-mukul pipi, merobek saku dan menjerit dengan suara kaum jahiliyah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada beberapa suku di Indonesia, meratapi jenazah adalah kultur untuk menunjukkan kesedihan yang mendalam. Bagi yang bukan menjadi bagian dari kultur, meratapi orang yang meninggal sebenarnya meragukan kasih sayang Allah. Allah telah menetapkan hidup dan mati manusia, dan semua sisi kehidupan adalah ujian, agar manusia lebih bertakwa dan menjadi orang yang lebih baik.

Orang yang menangisi orang yang meninggal secara berlebihan sebenarnya takut akan datangnya hari esok tanpa orang yang telah pergi tersebut, karena takut tidak bisa memperoleh rizki dari Allah. Padahal rizki dari Allah dipastikan dari jalan-jalan yang tidak terduga.

Agar jauh dari tindakan jahiliyah, kita harus mengenalnya, sebagaimana pesan Umar Bin kaththab: ‘Kalau engkau hendak menghindari jahiliyah, kenalilah jahiliyah itu’. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: