Strategi Nanny 911

 

 

 

Nanny Yvonne, Nanny Deb, Nanny Stella

Nanny Yvonne, Nanny Deb, Nanny Stella

Sekali lagi saya ingin mencatat kondisi yang menarik dari acara reality show Nanny 911 yang istimewa ini, karena sarat dengan pelajaran. Mungkin budaya di sini dengan Amerika berbeda, namun manusia selalu memiliki berbagai kesamaan sehingga banyak hal yang bisa kita adopsi untuk mendidikan anak-anak kita.

Dari berbagai episode Nanny 911 tampak jelas adanya pembagian wilayah keahlian para Nanny di Nanny Central. Setelah menyaksikan cuplikan adegan dari keluarga yang memanggil bantuan ke Nanny Central, diskusi singkat di antara mereka menjelaskan pembagian keahlian tersebut. Pemberi komentar pertama hampir dipastikan adalah Nanny Deb, yang tampaknya figur senior di sana. Setelah semuanya berkomentar, keputusan pun diambil oleh Nanny Lilian selaku pimpinan Nanny Central

Apa yang didiskusikan secara singkat tadi?

Di awal, kita melihat kesamaan gejala dari kasus yang dihadapi para orang tua: perilaku liar yang tidak terkendali, emosi yang meledak (temper tantrum), dan kekacauan di dalam rumah.

Sudah pasti, team Nanny 911 telah memasang berbagai kamera tersembunyi di berbagai sudut rumah yang diperlukan, agar cuplikan perilaku dan komentar anak, perilaku dan komentar orang tua, serta semua hal yang terkait bisa memberikan cerita yang cukup komprehensif.

Saya perhatikan, pada dasarnya masalah dalam rumah tangga yang bisa menyebabkan salahnya pengasuhan pada anak disebabkan oleh 3 hal penting:

  1. Pola pikir orang tua yang keliru, menyebabkan pola pengasuhan yang keliru. Misalnya, orang tua merasa bahwa anak-anak tidak bisa berpikir sendiri, oleh karena itu pendidikan di rumah harus bergaya militer. Orang tua merasa tidak berdaya menghadapi ulah kenakalan anak-anaknya karena merasa mereka terlalu rapuh untuk memperoleh disiplin.
  2. Hilangnya respek di dalam rumah, akibat perilaku orang tua yang tidak terstruktur dengan baik, sehingga lambat laun membentuk perilaku anak yang tidak saling respek. Berteriak di dalam rumah, tidak mau berbagi, saling memaki atau mengejek, hingga emosi anak yang tidak terkendali karena tidak mau tidur atau makan.
  3. Tanpa sadar, kebiasaan orang tua yang tidak terorganisir membentuk perilaku anak yang juga tidak terorganisir. Pada umumnya, tidak adanya organisasi di dalam rumah ini ditandai dengan kondisi rumah yang tidak terorganisir, tidak sedap dipandang, bahkan mungkin berbau tidak sedap pula.

 

Dari semua Nanny yang tergabung dalam Nanny Central, Nanny Deb lah y ang paling berpengalaman dan ahli dalam menangani pola pikir orang tua yang keliru. Tugas ini tergolong paling berat karena mau tak mau harus melakukan konfrontasi langsung maupun tak langsung dengan orang tua, dan meluruskan cara berpikir mereka. Langkah meluruskan pola pikir ini berat karena seringkali menyangkut past experience orang tua, dan mereka sudah terbiasa berpikir dengan cara seperti itu. Tanpa ini, orang tua tidak akan pernah bisa melihat akar permasalahan yang dihadapi anak-anak mereka. Bila sudah tidak bisa melihatnya, bagaimana mereka akan bersikap kooperatif dan menjadi katalisator perubahan pada diri anak-anak mereka.

Dalam sebuah episode dikisahkan orang tua yang merasa kewalahan menghadapi anak-anak yang sepertinya susah diatur. Sebelumnya, ayah yang bekerja di rumah sementara ibu bekerja di luar. Tetapi setelah anak-anak (1 anak adopsi berumur 5 – 6 tahun dan anak kembar berumur 3 tahunan) agak besar, peran dibalik dan Ibu harus tinggal di rumah.

Sang Ibu merasa tidak mampu seperti sang ayah, yang sama sekali tidak mengeluh dan menuntaskan semua pekerjaan dengan baik. Sang Ibu hampir menyerah, dan memanggil suaminya pulang untuk menangani rumah.

Masalah ini diselesaikan Nanny Deb dengan konsep: Lakukan yang terbaik, dan yakinkan diri bahwa menangani anak-anak bukan beban segunung di atas pundak. Tidak perlu mengimitasi 100% cara sang ayah menangani anak, kendalikan dengan cara benar yang dikuasai. Jadi yang jadi masalah di sini adalah kurangnya kepercayaan diri, dan tidak terbiasanya Ibu menangani anak, kemudian sebelum melakukan tugas sudah lebih dahulu tidak pe-de.

Pengasuh kedua, yakni Nanny Stella, sangat tegas dalam pendisiplinan anak dan memiliki begitu banyak cara untuk membuat mereka menjadi tertib. Pengasuh ini tidak sebagus Nanny Deb dalam mengkonfrontir orang tua, namun lebih kaya dalam ragam stimulus-response serta reward-punishment pada anak. Kunci utama yang diajarkannya pada orang tua adalah: respek dan konsisten. Sekalipun pada anak, orang tua harus bersikap hormat (respek), sebab penghormatan akan membentuk perilaku yang sama dari lawan bicara.

Saya ingat pada sebuah film klasik Amerika yang dibintangi Sidney Poitier berjudul to Sir With Love. Bahkan film ini dibuat kelanjutannya, dan ada beberapa versi yang mirip dengan film tersebut. Inti dari film ini adalah mencari respek dari orang lain dengan terlebih dahulu berperilaku respektif. Sang guru yang negro, diperankan oleh Sidney Potier, selalu berpenampilan necis, dengan jas dan dasi, setiap kali mengajar. Ia tidak pernah memanggil nama depan muridnya, misalnya John atau Mary, melainkan selalu dengan sebutan santun Mr. Baxter atau Miss Davis. Suasananya memang formal, namun hal itu menggugah semua siswa di dalam kelas untuk saling formal dan respek.

Apa ada gunanya? Seluruh siswa diajak bereksperimen di luar gedung sekolah. Seorang siswa kulit putih dan seorang lagi yang berkulit hitam diminta menyapa seorang perempuan tengah baya untuk mencari arah.

Sang siswa kulit putih dengan gaya khas anak muda yang “urakan” mendekati dan mencoba bertanya, namun ditanggapi secara negatif. Perempuan tengah baya itu bahkan menyingkir dan mengancam akan melaporkan hal ini pada polisi.

Sang siswa kulit hitam berbuat sebaliknya. Dia menyapa:

Excuse me Maam, saya Trent dari SMA X. Saya ingin ke gedung opera, bisakah Ibu tunjukkan arah menuju ke sana?”

Siapapun akan menurunkan tingkat kecurigaan pada kata-kata respektif sekalipun diucapkan oleh kaum minoritas dan dikenal biasa dengan kekerasan. Respek akan selalu berbuah respek, cepat atau lambat.

Bandingkan dua perintah ini:

“Andi, ambilkan piring di dapur, taruh di meja ya. Awas jangan jatuh!”

“Andi Mama minta tolong diambilkan piring di dapur, hati-hati ya berat. Terima kasih, darling!”

Nanny ketiga yang bernama Yvonne jarang sekali diturunkan, karena dia secara terbatas hanya memiliki kekuatan dalam mengelola skedul kegiatan keluarga. Sang Nanny diturunkan tatkala masalah yang terjadi diidentifikasi sebagai dis-organisasi keluarga.

Sebuah episode yang menugasi Nanny Yvonne menggambarkan keluarga yang tidak memiliki organisasi jelas, dan membiarkan apa saja keluar masuk rumah. Di dalam rumah ada piaraan berkeliaran, termasuk babi, bahkan sebuah ruangan disediakan untuk sang babi. Karena dianggap kandang babi, tentu saja ruang kosong itu penuh dengan potongan koran. Makan malam tidak di meja, bahkan anak-anak dibiarkan makan dari piring kucing. Lebih dari itu, anak-anak dibiarkan bermain dengan air toilet, menjilati buku yang telah direndam air toilet, dan makan makanan kucing / babi.

Sang Ibu tahu bahwa ia mengasuh anak seperti kebun binatang, namun baru sadar bahwa binatang piaraan bisa berbahaya bagi anak-anaknya ketika sang babi yang dibiarkan berkeliaran di rumah hampir menyerang anak.

Dengan strategi seperti itu, Nanny Central hampir selalu bisa menyelesaikan waktu 1 minggu penugasan dengan baik. Dikatakan hampir karena ada yang bisa selesai dalam waktu 1 minggu, ada yang baru mulai menunjukkan hasil setelah 1 minggu, namun ada yang gagal. Gagal? Bagaimana bisa?

Dalam sebuah episode, diindikasikan bahwa masalah yang terjadi adalah masalah respek dan cara mendidik anak yang kurang efektif. Oleh karena itu, Nanny Central menugasi Nanny Stella. Sang ayah adalah sipir penjara, sementara istrinya adalah ibu rumah tangga biasa, dan mereka menikah dengan posisi sang istri sudah punya 3 anak.

Dalam perjalan kasus, barulah Nanny Stella mendapati kenyataan bahwa masalah yang terbesar ternyata bukan pada anak dan efektivitas pendidikan di rumah. Anak-anak tidak pernah bisa respek pada orang lain, dan pendidikan di rumah menjadi tidak efektif karena pla pikir sang Ibu yang keliru. Sang ayah sudah berusaha keras mengarahkan anak-anaknya dengan benar, dan cukup bisa menunjukkan hasil, namun sang Ibu tidak pernah mendukung.

Ketika sang ayah berusaha mendisplinkan anak, sang Ibu mementahkan upaya sang ayah. Akan tetapi sang Ibu tidak pernah bisa mendisiplinkan anak karena anak tidak pernah respek padanya. Kebiasaannya sehari-hari, bila tidak mengantarkan anaknya keluar adalah duduk di sofa dan ngemil, sehingga badannya membengkak. Ia jadi malas bergerak, dan hanya berteriak-teriak dari sofa untuk menenangkan anak-anaknya. Kalaupun keluar dari sofa, ia menggunakan tenaganya yang besar untuk mengendalikan anak.

Selain itu, si Ibu terbiasa untuk menutup-nutupi kekurangannya dengan berbohong. Ia akan dengan tegas mengatakan bahwa anak-anaknya tidak bermasalah, baik, dan manis. Selain itu, ia sama sekali tidak mau melihat masalah dalam dirinya, dan menganggap dirinya adalah ibu yang baik. Bila sudah seperti itu, bagaimana mungkin ia bisa menerima saran dari orang lain? Pada akhirnya, Nanny Stella berinisiatif “meninggalkan” sang Ibu dalam mendisiplinkan anak, dan membuat sang aya lebih dominan dalam skema tersebut.

Seharusnya, yang lebih cocok diturunkan di sana adalah Nanny Deb. Sekalipun tidak ada jaminan akan berhasil juga, Nanny Deb jauh lebih arif dalam memilih kata untuk mengkonfrontir kata-kata pembelaan diri sang Ibu yang tidak bisa melakukan refleksi diri.

Sekali lagi, Nanny 911 sungguh tontonan yang menuntun. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: