Ketika ABG Mulai Mengenal Sex

 

 

Mendorong aktivitas fisik yang terarah

Mendorong aktivitas fisik yang terarah

Kemarin, seorang teman lama mengirimkan SMS untuk curhat tentang perilaku anak ke-2 nya yang sekarang sedang duduk di kelas 6 SD, berumur sekitar 12 tahunan. Suatu hari, teman saya itu memergoki anaknya sedang menggesek-gesekkan kemaluannya ke guling. Spontan ia berteriak memarahi anaknya itu. Setelahnya, teman itu merasa bersalah, sekaligus bingung tidak tahu harus melakukan apa pada anaknya itu. Ia merasa helpless karena sama sekali tidak paham dengan kondisi itu. Pertanyaannya sederhana, kapan sih biasanya anak laki-laki itu mimpi basah dan bagaimana menyikapi perilaku yang mengarah ke arah aktivitas seksual itu?

Sebagai orang tua, apapun latar belakang pendidikan kita, haruslah kita pahami bahwa cepat atau lambat anak kita akan tumbuh dewasa. Mereka tidak selamanya menjadi figur lucu yang enak diajak bermain, dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan naif yang menggemaskan. Pada saatnya, mereka akan matang secara fisik, mental, termasuk seksual. Di saat itulah tugas kita sebagai orang tua akan berakhir. Tapi itu masih nanti.

Sekarang, teman saya itu menghadapi masalah dengan anaknya yang menunjukkan perkembangan hormonal di usianya yang 12 tahun. Ia bukan lagi anak-anak, tapi juga belum dewasa. Kita menyebutnya remaja. Bila sebelumnya kita selaku orang tua bertanggung jawab menanamkan kebiasaan positif pada anak, berusaha agar anak menjadi figur yang industrious (rajin, cekatan, serba bisa, pintar), di fase perkembangan ini orang tua punya beban membentuk karakter anak yang matang.

Menurut fase perkembangan Erik Erikson, fase remaja adalah saat kritis pencarian identitas. Mereka belum lagi dewasa, dan semua orang dewasa sepakat mereka belum dewasa, namun remaja mendefinisikan diri sebagai bukan anak-anak. Usia 11 – 12 tahun hingga 20-an adalah masa penentuan bagaimana mereka akan dianggap. Secara naluriah, manusia ingin dianggap lebih baik, dan hal itu berarti meninggalkan kesan anak-anak dan menjelmakan diri menjadi sosok yang lebih dewasa. Kematangan hormonal mereka turut memperkuat kecenderungan tersebut. Setelah mengalami menstruasi bagi anak perempuan dan mimpi basah bagi anak laki-laki, tubuh remaja akan mengalami perubahan saat munculnya tanda seks sekunder. Bagi anak perempuan  hal itu berarti tubuh yang terbentuk, payudara membesar, bagi anak laki-laki porsi tubuh yang lebih atletis, perubahan suara, dan bagi kedua jenis kelamin timbulnya bulu di ketiak dan kemaluan.

Mendidik anak yang berangkat remaja bisa diibaratkan seperti memegang seekor burung  di tangan. Bila terlalu longgar dia akan terbang, namun bila sebaliknya dia akan mati. Banyak sekali contoh nyata yang menunjukkan perilaku remaja yang menyimpang karena orang tua yang terlalu longgar dalam mengendalikan mereka, atau justru terlalu ketat. Kita harus ingat bahwa pada umumnya manusia tidak menyukai kekangan dan keterbatasan, sebab hal itu dianggap sebagai kondisi yang tidak mengenakkan dan harus dihindari. Oleh karena itu, justru kekangan yang terlalu kuat berpotensi besar menimbulkan ekses yang tidak dikehendaki, perilaku liar yang tersembunyi (karena di permukaan remaja takut pada orang tua) atau benar-benar kehilangan kemauan untuk membentuk karakternya sendiri. Kebebasan yang berlebihan identik dengan tidak adanya aturan, sehingga remaja akan berkembang sesuai dengan arah yang digariskan lingkungan – bukan yang ditetapkan orang tua.

Masa remaja adalah saat kelompok teman sebaya memegang peranan lebih besar daripada orang tua dan guru. Seperti kita ketahui, saat kanak-kanak kiblat aturan adalah orang tua. Saat memasuki dunia sekolah, aturan berkiblat pada guru. Pada masa remaja ini, aturan orang tua dan guru yang menjauhkan anak dari kelompok teman sebaya tidak akan mendapatkan tempat yang layak di kepala para remaja ini. Namun demikian, orang tua tetap berkewajiban untuk mengawasi dan memilihkan lingkungan teman sebaya yang paling cocok untuk anak-anak mereka.

Saya ingat, ketika masih berusia 13 – 14 tahun dan duduk di bangku SMP, ada dua orang teman seangkatan (salah seorang di antaranya sekelas) yang tidak mau bergaul dengan teman-teman yang lain. Kemanapun mereka selalu berdua. Salah seorang di antaranya adalah anak kepala desa di pinggiran kota tempat tinggal saya dan konon tergolong kaya. Akhirnya saya mengetahui bahwa salah seorang di antara kedua teman saya itu kedapatan mengidap gonorrhoea. Dari teman-teman yang mengetahui situasinya, ternyata mereka berdua beberapa kali menggunakan uang saku yang berlebihan untuk “bermain-main” di kompleks pelacuran. Itu terjadi ketika kami duduk di kelas 3 SMP sekitar di usia 15 tahun.

Ketika di perguruan tinggi, saya sempat berdiskusi dengan beberapa teman yang berasal dari sekolah lain. Dia berasal dari sebuah sekolah menengah Katholik terkemuka di Surabaya. Menurut teman saya itu, yang pada akhirnya sukses masuk PTN adalah mereka yang senang kumpul-kumpul, gak mikir pacaran, dan tidak tergolong kutu buku. Dengan banyak kumpul, mereka justru saling bertukar ilmu dan akhirnya hampir semua bisa masuk ke PTN. Lha, apa ada model lain? Ada, dan itu justru mereka yang kutu buku dan kesana kemari hanya dengan pacarnya saja (yang kebetulan sekelas). Kok bisa? Ya, karena kebiasaan belajar bareng hanya berdua akhirnya si cewek kedapatan hamil dan harus drop out sekolah! Haa???

Kondisi hormonal pada diri remaja yang bergejolak memang tidak bisa dihindarkan, namun harus dikendalikan. Dorongan pada lawan jenis, dorongan untuk beraktivitas seksual, dorongan mengeksplorasi tubuh hingga mengkonsumsi rokok, bahkan drugs, atau bertattoo, semuanya mencirikan bagaimana perkembangan jiwa remaja masih di tahap yag labil. Bila orang tua tidak bisa memfungsikan diri sebagai advisor atau figur yang sejuk bagi anak, sudah barang tentu anak mencari pelarian kepada figur lain. Tidak ada yang sederhana apalagi mudah saat menghadapi remaja, namun orang tua tetap berkewajiban menjadi figur pengayoman mereka. Sekalipun seorang remaja berusaha menetapkan dirinya sebagai orang yang dewasa, pada kenyataannya mereka tetap memiliki sebagian jiwa anak-anak. Suatu saat, dikehendaki maupun tidak, mereka butuh tempat untuk menumpahkan keluh kesah mereka, lari dari kelompok, dan kembali pada orang tua. Pada saat inilah orang tua harus siap menjadi pelabuhan yang nyaman.

Jadi, orang tua perlu waspada pada perkembangan anak remaja dalam 3 hal:

  1. kondisi hormonal mereka, yang memicu bangkitnya dorongan seksualitas.
  2. teman-teman sebaya yang mempengaruhi orientasi sosial dan pola pikir mereka.
  3. perubahan dan perkembangan kepribadian yang mengarah pada pembentukan identitas diri.

 

Untuk itu, orang tua agaknya perlu memikirkan upaya agar ketiga hal ini tumbuh berkembang normal dan membentuk karakter yang mapan. Ketiganya tidak bisa dihambat, karena semuanya merupakan fungsi alamiah. Yang penting dipantau agar tidak berlebihan atau terlalu sedikit, sebab seperti hukum alam lainnya apa yang terlalu (baik banyak maupun sedikit) bukan hal yang positif.

Yang harus diingat oleh orang tua adalah bahwa seorang anak, bagaimanapun, menjadikan orang tua sebagai figur panutan. Bila menghendaki anak yang berkepribadian matang, orang tua harus memberikan contoh yang benar. Jangan sampai anak menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga, lahir maupun batin. Anak perlu lebih banyak menanamkan nilai agama dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Bila memungkinkan, dorong anak untuk lebih aktif secara fisik. Dengan menghabiskan energi mereka untuk sport maupun aktivitas fisik lain (organisasi, pramuka, drumband, hobby outdoor, dsb), fokus mereka tidak lagi terfokus pada perubahan hormonal mereka. Waktu untuk berfantasi lebih sedikit karena mereka sudah capek dengan aktivitas tadi.

Buka saluran komunikasi yang positif, dan jangan ragu untuk sesekali masuk ke kamar anak (meskipun sekedar nimbrung). Jangan biarkan anak mengunci pintu kamar terlalu lama, namun biarkan dia punya rahasia pribadi dalam agenda atau diary-nya. Jangan ungkit-ungkit diary tersebut sekalipun kita sudah membacanya, namun bila kita temukan sesuatu yang berbahaya segera counter dengan cara yang bijak.

Kita perlu mengingat bagaimana emosi kita saat kita masih remaja. Mereka adalah cerminan kita di masa lalu, dan orang tua kita adalah kita sekarang. Be wise, be careful!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: