Skeptis

Paman saya yang hanya tamatan SMP, sekarang berjualan makanan di kaki lima, memberikan pandangannya tentang kehidupan pada suatu sore di ruang tamu. Agak sulit mengatakan ia berhasil, namun usahanya sudah berjalan puluhan tahun dan telah memberikan gelar sarjana pada kedua anaknya, sementara anak bungsunya sedang kuliah. Wajahnya lelah dan dengan kemejanya yang berwarna pudar ia tidak ubahnya seperti kebanyakan pedagang makanan. Yang membedakan hanya matanya yang santun dan senyumnya yang tulus. Kalimat yang diucapkan sederhana, tidak memberikan motivasi, dan tidak hendak menggurui. Ia hanya hendak mengingatkan bahwa hidup itu tidak mudah, sehingga tidak ada tempat bagi orang yang berpangku tangan apalagi yang berputus asa. Sekalipun segenap ucapannya membumi, mudah dipahami, ada dorongan untuk bertanya, apakah saran itu bisa untuk saya?

Ketika seorang Gede Prama atau Anand Khrisna bicara di televisi, betapa banyak orang yang mencoba meresapi, sementara yang dikisahkan atau disampaikan mungkin tak jauh beda dengan muatan ceramah agama yang sering disampaikan di layar kaca juga. Akan tetapi berapa banyak orang yang tertarik untuk mengikuti dan mendalami kuliah Subuh atau majelis pengajian? Skeptismenya, ceramah agama di televisi membosankan, berat, dan kuno.

Sudah jamak dalam kehidupan bahwa kulit seringkali dinilai lebih tinggi daripada isi. Kemasan menjadi penentu harga barang. Menjual barang sebenarnya hanyalah memutuskan sampul terbaik dari dua benda yang serupa. Sekalipun ada ujar-ujar yang mengatakan: jangan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya, jelas bahwa sampul yang indah lebih menarik minat. Itu pula yang terjadi pada kemasan acara di televisi. Orang-orang yang sukses secara finansial berbicara dengan gaya bahasa yang meyakinkan, setelan jas mahal dan sepatu mengkilat, wajah bersih terawat khas metroseksual; semuanya ditonjolkan untuk menumbuhkan rasa percaya pada diri pemirsa.

Ketika para motivator tersebut menerbitkan buku pengalaman hidup mereka, mendadak muncul best-seller baru. Buku-buku Anthony Robbins, Robert Kiyosaki, hingga Tung Desem Waringin dipajang di bagian depan toko buku besar, setidaknya menempati rak khusus agar mudah dijangkau. Judul yang menarik (bahkan bombastis) dengan cetakan sampul mewah. Testimoni serangkaian nama di bagian belakang buku yang meyakinkan. Perputaran buku-buku itu menjadi sangat cepat, dan orang seperti latah ingin membeli karena kemasan promosi yang bagus.

Bandingkan dengan buku lain, sama-sama buku alih bahasa, tulisan pakar dari Timur Tengah, dengan judul seperti Kewirausahaan Nabi Muhammad, SAW. Cetakan standar, kemasan standar, sampul dengan kaligrafi di bagian depan, dan di tempatkan bersama buku-buku keagamaan yang lain – bukan buku ekonomi atau manajemen. Termasuk saya sendiri, sebagian besar orang masih mengernyitkan kening ketika membaca nama penulis yang berbau Arab, apalagi disebutkan bahwa sang penulis adalah lulusan sebuah universitas di Jordania – bukan Inggris atau Amerika (minimal Prancis). Seolah-olah kredibilitas buku tersebut langsung merosot.

Skeptisme menurut makna pada dasarnya adalah sikap keragu-raguan. Sikap dan pikiran ini tidaklah salah, karena berangkat dari sikap inilah dunia bisa berkembang. Sayangnya, pikiran manusia tidaklah sesederhana itu. Skeptisme sudah dan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan kita, dikarenakan keterbatasan otak kita dalam memproses informasi yang masuk. Secara otomatis, berdasarkan preferensi yang sudah kita tanamkan sebelumnya, otak akan memilah informasi yang perlu segera diproses, diproses pada prioritas berikutnya, hingga tidak merasa perlu untuk segera diproses. Sesuatu yang secara sadar kita pentingkan, misalnya karena tuntutan di tempat kerja, akan diproses terlebih dahulu. Selanjutnya, bagian informasi yang tanpa sadar kita pentingkan, terus begitu hingga bagian yang tidak terlalu penting.

Titik nol sikap skeptis adalah keragu-raguan bahkan ketidak percayaan, dan untuk berubah menjadi percaya perlu upaya. Masalahnya tidak semua orang mampu bersikap open-minded, yang memungkinkan masuknya gagasan baru. Skeptisme seperti memblokir pikiran dari gagasan yang lebih segar, dengan cara mengotakkan kapasitas otak berdasarkan suka-tidak suka. Bahkan kadangkala kredibilitas seorang pakar ditentukan pula skeptis tidaknya kita pada mereka.

Skeptisme bersifat lebih negatif ketika bercampur dengan prejudice (prasangka negatif). Di titik ini, objektivitas berpikir manusia surut dan lebih mengedepankan emosi. Ketika skeptis, seorang yang prejudice biasa langsung membuat kesimpulan, alih-alih memproses informasi dengan lebih cermat. Saat menghadapi soal-soal matematika saya langsung skeptis: soal ini sulit, saya tidak akan sanggup menyelesaikannya. Selanjutnya, otak seperti diperintahkan untuk membeku dan sulit berpikir. Saat menghadapi Paman yang lulusan SMP, dan kita skeptis dengan kata-katanya, niscaya tidak akan ada sepenggal ucapan pun yang yang akan kita percayai. Dalam prejudice kita, bagaimana mungkin seorang lulusan lebih tahu daripada seorang sarjana, apalagi S-2.

Islam memerintahkan kita untuk melihat isi atau kandungan ucapan, bukan siapa yang mengatakannya. Sekalipun dari seorang pengemis dan fakir miskin, kebenaran tetap kebenaran. Sebuah buku tidak akan berubah isinya sekalipun sampulnya terobek bahkan hilang. Masalahnya adalah seberapa siap kita menanggalkan sikap skeptis dan membuka diri pada wacana dan pemikiran baru. Cara terbaik memulainya adalah dengan mengurangi kecenderung berprasangka – khususnya prasangka buruk. Prasangka buruk tidak akan memberikan keuntungan apapun selain skeptisme di ujungnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: