Catatan Lebaran 1429 H: Mudik dan Maut

 

 

courtesy kabarindonesia.com

courtesy kabarindonesia.com

 

 

Taqabalallahu mina wa minkum, taqabbal yaa karim

 

Hari ini, lebih dari 10 hari setelah masuknya 1 syawal, euforia mudik berangsur menghilang dan denyut kehidupan menjadi normal kembali … bagi sebagian orang! “Kloter” terakhir massa yang kembali ke kota besar seperti Jakarta dan Surabaya tampak pada hari Sabtu dan Minggu kemarin, menuntaskan libur panjang lebaran dan menyongsong hari baru Senin ini.

Di seluruh dunia, tidak ada pergerakan manusia sebesar dan seheboh mudik lebaran di Indonesia. Jutaan manusia bergerak dalam jarak ratusan kilometer, mayoritas dengan sarana transportasi darat. Kota-kota besar ditinggalkan menuju berbagai kota kecil di Jawa Timur dan Jawa Tengah (termasuk Yogyakarta). Yang berduit, tiket pesawat yang cukup menggila tidak jadi masalah demi mudik sekali setahun. Alternatifnya kereta api dan bus antar kota. Kapal penyeberangan antar pulau dari Sumatera, dan Kalimantan menuju pelabuhan di Jawa sesak. Dermaga ferry di Bakauheni Lampung, Kamal Madura, dan Gilimanuk Bali penuh dengan antrean mereka yang mau menyeberang ke Jawa. Pendek kata, inilah fenomena yang langka dan ganjil di dunia. Setiap tahun pemerintah menyiapkan cadangan kereta penumpang jarak sedang dan jauh, khusus kelas ekonomi, maskapai penerbangan menyiapkan cadangan pesawat di jalur-jalur gemuk, bus-bus antar kota dan propinsi menambah armadanya, hingga penyiapan kapal angkutan macam ro-ro untuk mengantisipasi ledakan pemudik.

Mudik bukan sekedar pulang kampung, bahkan telah meronai segenap sendi kehidupan dan perekonomian masyarakat di Jawa khususnya. Hari kerja menjadi sedemikian lentur, seolah ikut memaafkan kekhilafan pekerja yang cenderung lalai masuk kerja seusai lebaran. Bisnis umumnya turut menunggu massa yang libur, kecuali bisnis musiman menjelang lebaran. Cuti yang ditahan-tahan mendadak diberondongkan di musim ini. Bahkan kaum non-muslim banyak sekali ditemui di kota-kota tujuan wisata memenuhi hotel-hotel dan penginapan karena pembatu mereka mudik. Secara umum, bisalah kita membayangkan bagaimana dampak mudik ini.

Fenomena mudik mengalami beberapa perubahan sejak tiga – empat tahun terakhir, tampaknya sejak meroketnya harga BBM dan sepeda motor mengambil alih dominasi transportasi karena jenis alat transportasi ini memang diasosiasikan dengan hemat BBM. Pemudik kemudian memanfaatkan kendaraan beroda dua itu untuk mengangkut mereka dan keluarga kecil mereka pulang kampung. Berita yang dilansir Kompas beberapa minggu lalu menyebutkan bahwa angka pesimis pemudik bermotor tahun ini berkisar 2,4 juta motor, sementara perkiraan lain malah dikisaran 2,8 juta. Kalau sebuah sepeda motor dinaiki 3 orang saja, berarti angka tadi harus dikalikan 3 juga.

Mudik dengan motor sebenarnya bukan baru sekarang, bahkan sejak dulu mudik bermotor sudah terjadi sejak dulu, khususnya bila kota tujuan mudik tidak terlalu jauh. Memang tidak jauh ini bisa diinterpretasikan secara beragam, namun umumnya jarak hingga 200 kilometer masih dianggap bisa ditempuh dengan motor. Kalau belakangan menjadi bahan sorotan karena jumlahnya yang berlimpah, jutaan, dan bergerak bersama-sama, sehingga memenuhi jalanan antar kota.

Konsekuensi utama pergerakan massa yang bersamaan adalah gesekan, dan di jalan raya mengakibatkan kecelakaan lalu-lintas. Bisa dibayangkan bagaimana akibatnya sebuah sepeda motor yang seharusnya maksimum dibebani dua orang harus dijejali dengan dua orang dewasa dan dua orang anak yang diselipkan, serta tas besar yang ditempatkan sedemikian rupa, harus mempertahankan keseimbangan di jalan yang bergelombang, atau bersentuhan dengan kendaraan lain. Jalan raya menjadi sumber terror baru yang lebih dahsyat daripada kecelakaan moda angkutan lainnya.

Dalam sebuah iklan layanan masyarakat disebutkan bahwa, korban kecelakaan lalu lintas lebih tinggi daripada korban perang. Mungkin korban perang atau terorisme tampak mengerikan karena berjumlah cukup besar dalam sekali waktu, sementara korban kecelakaan lalu-lintas terjadi berkala, dengan korban yang hanya beberapa orang dalam satu kejadian.Bila ditotal, barulah tampak berapa banyak korban kecelakaan jalan raya khususnya di jalur pantura Jawa. Sebuah laporan menyebutkan bahwa korban jiwa dalam kecelakaan lalu lintas dalam kurun waktu satu bulan terakhir mencapai 1:10. Artinya, dalam 10 kejadian terdapat 1 korban jiwa. Angka yang fantastis! Dalam kepadatannya, Jepang mencatat angka 1: 100.

Bayangkan para korban kecelakaan lalu-lintas yang seharusnya bergembira di kampung halaman, ternyata sampai di tujuan dalam peti-peti jenazah. Idul Fitri yang sebenarnya saat melepas kangen dengan sanak kerabat, berubah menjadi pelepasan jenazah sanak kerabat ke peristirahatan terakhir. Betapa pilu perasaan kerabat yang harus memastikan identitas jenazah di rumah sakit. Semua jerih payah yang dikumpulkan setahun terakhir, semua rencana masa depan yang ingin dibangun dengan istri, suami, anak, mendadak lenyap akibat teror di jalanan.

Bagi sebagian orang, lebaran telah berakhir dan denyut kehidupan kembali normal seperti biasa. Bagi sebagian yang lain, hari-hari ke depan tidak pernah lagi sama seperti sebelumnya. Kehilangan figur suami, istri, atau anak membuat mereka harus membangun hidup yang berbeda.

Memang Allah saja yang memegang rahasia rejeki, jodoh, dan maut, namun Islam menegaskan agar manusia jangan berbuat yang menyebabkan mati. Allah tidak akan ridha perbuatan manusia yang sia-sia, apalagi menempatkan kehidupan mereka dalam resiko tinggi, kecuali untuk jalan jihad fisabilillah.

Tidak ada yang lebih indah daripada pertemuan dengan keluarga dan melepaskan kerinduan. Sungguh indah bila pertemuan itu tidak diwarnai isak tangis pilu karena tubuh kaku jenazah keluarga yang seyogyanya pulang kampung. Mungkin, ada baiknya kita mulai memikirkan cara pulang kampung yang lebih aman, dengan tidak meninggalkan keikhlasan makna idul fitri.

Bukankah sebenarnya lebih penting kita memaknai idul fitri itu sendiri daripada menyibukkan diri dengan pulang kampung dengan cara yang bersiko tinggi?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: