Memahami Cobaan dan Ujian

 

 

mensyukuri hidup

mensyukuri hidup

Dalam sebuah episode sinetron Para Pencari Tuhan jilid 2 besutan Dedy Mizwar, ada sebuah percakapan antara Asrul dan Mira istrinya yang menark untuk dicermati lebih lanjut.

Dikisahkan Asrul memperoleh pekerjaan dari Azam namun ia kebingungan harus mencari pakaian layak di mana. Ia berkeluh kesah pada istrinya yang ekstra penyabar dengan logat Medannya.

Kira-kira begini dialognya:

Asrul: ”Kemarin awak tak punya pekerjaan, sekarang Azam ngasih pekerjaan awak tak punya baju yang layak untuk kerja. Cobaan macam apa lagi ini, Dik?”

Mira: “ Terserah Abang mau menganggap ini cobaan atau ujian. Kalau Abang hanya menganggap ini cobaan, maka Abang hanya akan menahan diri. Tapi kalau Abang menganggap ini ujian, maka Abang akan mencoba menjadi lebih baik.”

Asrul terdiam, namun apa yang disampaikan istrinya telah menggerakkan sesuatu dalam hatinya. Dalam kesabarannya, istrinya hendak berpesan, kalau Asrul sekedar mengganggap kesulitan kecil ini cobaan, maka Asrul tidak perlu berbuat apa-apa. Ia bisa pergi kerja dengan pakaian apa adanya yang dipunyainya saat itu. Sebaliknya, kalau Asrul menganggapnya sebagai ujian, ia akan berusaha memperoleh pakaian yang layak untuk pergi kerja.

Sungguh tipis perbedaan antara cobaan dengann ujian. Sepertinya, kita sendirilah manusia ini yang harus memaknai, sebagai apakah kesulitan yang kita hadapi ini: cobaan atau ujian. Tidak ada yang memaksa kita untuk menaikkan status cobaan menjadi ujian.

 

Ada cobaan yang memang nyata-nyata sekedar cobaan. Seperti dalam Al-Baqarah 155: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Suatu kondisi deprivasi menimbulkan kecemasan dan was-was, takut tidak makan, takut mati, takut miskin, dsb. Dalam kondisi ini manusia diminta untuk menahan diri, agar tidak terjatuh dalam penyakit hati seperti was-was dan kebakhilan.

Sebagian cobaan tidak terlalu nyata karena berupa kesenangan, seperti harta dan anak-anak yang kita sayangi (Al Anfaal 28 dan At Thaghabuun 15). Kesenangan harus disikapi dengan benar agar manusia tidak terjatuh dalam ketakaburan. Kesenangan tersebut tidak akan abadi, sebagaimana difirmankan dalam Al Anbiyaa’ 111: Dan aku tiada mengetahui, boleh jadi hal itu  cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu.

 

Ujung sebuah cobaan adalah nilai spiritual yang lebih baik, yakni kesabaran. Sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah hadist bahwa Allah mengangkat derajat orang yang sabar dalam 3 perkara: sabar dalam musibah, sabar saat beribadah, dan sabar dari tindakan maksiat. Dalam musibah ada derita, dalam menjalankan ibadah ada kejenuhan, dan dorongan untuk berbuat maksiat dikarenakan kesenangan ragawi yang dijanjikan. Allah menyediakan pahala bagi mereka yang bisa secara konsisten mempertahankan kesabaran.

Cobaan bisa dianggap sebagai ujian bilamana manusia menginginkan dirinya menjadi insan yang secara spiritual mendekati janji Allah. Semua yang ada di dunia ini adalah permainan, kecuali manusia membentuk keinginan yang lebih tinggi. QS Al Hadiid 20 menyebutkan: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat  ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Al Qoshosh 60 menggaris bawahi janji Allah tentang kebaikan di akhirat kelak: Dan apa saja  yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah keni’matan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?

Sebenarnya, tidak pernah akan jelas kapan seorang manusia selesai menjalankan ujian, karena meningkatkan performa spiritualitas bukanlah jalan yang berujung. Namun demikian, kita sebagai awam bisa menilai orang-orang yang mampu mengenali ujian yang dihadapinya dan berusaha menyelesaikan ujian tersebut: yakni keimanan dan ketakwaan yang bertambah-tambah dalam kemiskinan maupun kekayaan duniawinya. Bila orang miskin beramal saleh dengan kesabarannya, orang kaya beramal saleh dengan kedermawanannya.

Spiritualitas yang tinggi dalam mengharapkan ridha Allah dan mendekatkan diri kepada janji Allah tentang nikmat akhirat disebut dengan zuhud. Syekh Junaid berkata, “Yang disebut zuhud adalah hati selalu merasa ridha sekalipun usahanya gagal”. Orang yang zuhud tentu tidak akan bangga dengan keduniaan yang dimilikinya, juga tidak akan meratapi apa yang luput darinya.

Sekarang, semuanya memang kembali kepada manusia, bagaimana memperlakukan segenggam atau segudang harta yang dititipkan padanya di dunia. Cara ia menilai apa yang dimilikinya secara temporer itu akan membentuk konsep berpikir tentang cobaan dan ujian. Kalau ia menganggapnya sebagai cobaan, itu adalah hal yang bagus, karena membuatnya bersabar dan pahala di sisi Allah. Kalau ia menganggap semuanya adalah ujian, itu lebih baik, karena ia bisa menjadi orang yang zuhud dan ada janji kenikmatan di akhirat.

Yang paling mulia di sisi Allah kemudian adalah kita, manusia yang bermanfaat bagi diri kita, manusia lain, dan kehidupan secara makro. Baik dengan harta yang banyak maupun sedikit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: