Belajar dari Nanny 911

Nanny Deb yang bijak  

Salah satu acara impor di televisi (Metro TV) yang paling saya gemari adalah Nanny 911. Sekelompok Nanny (pengasuh anak) berpengalaman yang dikoordinasi oleh seorang Nanny asal Inggris mantan pengasuh keluarga kerajaan, memberikan bantuan kepada keluarga di Amerika yang membutuhkan. Dari 3 atau 4 orang Nanny yang tergabung dalam Nanny Central, dalam tiap episode dipilih seorang yang memiliki kemampuan dan karakter yang bisa menyelesaikan dalam rumah klien. Sesuai dengan profesi Nanny, kasus pada reality show ini difokuskan pada permasalahan di seputar anak-anak, umumnya agresivitas anak-anak yang berlebihan dan sulit dikendalikan.

Selama seminggu, Nanny yang terpilih bertugas di tempat tinggal klien. Biasanya, ia akan menggunakan hari pertama (dan kadangkala hingga hari kedua) untuk observasi. Ia akan mencatat semua kebiasaaan dan kejadian sehari-hari yang terjadi di rumah, baik ketika figur ayah sedang berada di rumah maupun tidak. Barulah pada hari kedua atau ketiga sang Nanny mengumpulkan semua anggota rumah sebagai kick-off meeting dimulainya treatment keluarga.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga dari acara made in Amerika ini adalah penyelesaian masalah dengan komunikasi, sama sekali tanpa kekerasan fisik. Sekalipun si anak mulai memukul orang tua, tidak dibenarkan tindakan balasan berupa kekerasan fisik. Cara dan pola komunikasi yang benar akan membentuk hubungan yang lebih baik. Dalam budaya Amerika, kekerasan kepada anak bisa jadi masalah hukum dan Nanny memperkenalkan cara pengendalian anak dengan sistem dan komunikasi yang terarah.

Akar masalah yang hampir selalu menjadi landasan lepasnya pengendalian orang tua kepada anak-anak adalah lepasnya tali komunikasi. Bukan masalah orang tua tersebut pendiam atau talkative, melainkan cara penyampaian gagasan kepada anak dan menerima gagasan yang ada di kepala anak.

Agresivitas anak di rumah, kepada barang maupun manusia, pada dasarnya adalah ekses dari terjadinya hambatan komunikasi. Ketika anak tidak memahami kehendak orang tua, dan segala yang dikerjakannya keliru, kemudian memperoleh hukuman, anak mungkin diam ketika pertama kali memperoleh hukuman. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, ketika anak tidak bisa melihat lagi perbedaan sikap orang tua terhadap perilaku yang benar dan salah yang mereka kerja, mereka akan melakukan yang menurut mereka paling mudah dan enak dilakukan.

Di sisi orang tua, perilaku anak yang agresif pada awalnya dianggap sebagai kelucuan belaka, sebagai bentuk protes hukuman yang mereka terima. Seiring dengan berjalannya waktu, tiba-tiba saja agresivitas anak sudah berada di luar kendali mereka. Orang tua semakin tidak memahami anak-anak mereka, sebagaimana anak-anak yang skeptis pada orang tua.

Nanny yang diutus oleh Nanny Central punya tugas untuk menyambung tali komunikasi yang putus, mengembalikan jalur komunikasi tersebut pada tempat yang semestinya, dan meletakkan dasar pendidikan anak yang benar.

Beberapa hal yang saya catat dari proses ini adalah:

1. Anak-anak bisa berpikir, jadi jangan menganggap mereka bodoh. Ajak mereka berbicara secara terbuka, dan sampaikan pesan dengan sederhana.

  • Kesalahan yang sering terjadi: orang tua memperlakukan anak seperti manusia yang tidak bisa berpikir dan tanpa emosi. Anak dianggap hanya boleh menerima putusan orang tua tanpa boleh berkeberatan. Dengan sikap seperti ini, anak akan cenderung menjadi pelengkap dalam sebuah keluarga, bukan asset masa depan yang menjadi generasi lanjutan keluarga tersebut.

2. Terapkan reward – punishment pada tempatnya, agar anak tahu benar apa yang benar dan salah, apa yang menjadi harapan orang tua dan yang tidak mereka kehendaki.

  • Kadangkala orang tua tidak konsisten dalam reward – punishment, sehingga anak jadi rancu. Delayed reward dan punishment (khususnya punishment) juga membuat anak sulit menghubungkan hukuman yang diterima dengan perilaku yang salah. Orang tua harus punya ketegasan dalam memberikan reward bila anak melakukan tindakan baik (apapun bentuk reward tsb) dan hukuman ketika anak berlaku keliru (sesegera mungkin).

3. Immediate action. Tindakan yang segera adalah kunci dalam menangani masalah di rumah. Seorang Ibu harus memiliki otoritas dalam mengambil keputusan di rumah, khususnya saat sang ayah tidak ada. Ayah harus memberikan ruang bagi Ibu untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai pemegang kendali agar berbagai masalah kecil tidak perlu menunggu dirinya pulang. Bila ayah sedang berada di rumah, baik ayah maupun ibu  harus sepakat untuk saling menghormati keputusan yang lain. Kesenjangan dalam “komando” akan membuka celah lepasnya kendali orang tua terhadap anak.

  • Dalam sebuah episode ditampakkan Ayah yang tanpa sadar meremehkan sang Ibu, dan perlahan menurunkan wibawa sang Ibu di mata anak. Bila ada Ayah, anak-anak mudah menjadi anak manis, tetapi sangat liar ketika Ayah tidak ada. Sang Ibu menjadi segan mengambil sikap dan tindakan karena sang Ayah bisa menganulir apapun yang dilakukan sang Ibu saat ia pulang kerja sore harinya. Anak-anak melihat dan memanfaatkan celah ini untuk keuntungan mereka.

4. Be fair.  Fair (adil) dalam bersikap dan memperlakukan anak, baik salah seorang dari anak atau antara seorang anak dengan anak yang lain.

  • Ini yang seringkali sulit. Tanpa sadar orang tua melakukan keberpihakan pada salah seorang anak, atau tidak pernah meminta maaf bila salah sementara menuntut anak bila mereka keliru, tidak pernah mengucapkan kata ‘tolong’ sementara mererka menuntut hal serupa pada anak. Orang tua selalu dituntut memberikan contoh dengan perbuatan mereka.

5. Berkomunikasi secara verbal maupun emosional. Kadangkala, anak membutuhkan ucapan dan kata-kata, namun ada kalanya mereka lebih mementingkan keberadaan dan kedekatan sosok orang tua sekalipun tidak ada kata-kata.

  • Dalam sebuah episode, ada seorang anak yang emosinya tidak terkendali karena sang Ibu tanpa sadar bertindak pilih kasih dan lebih sering memenangkan sang adik. Emosinya menjadi lebih stabil dan lebih terkendali ketika sang Ibu memutuskan untuk menghabiskan waktu beberapa jam sepanjang sore berdua dengan dia sendiri di taman. Hanya terjadi pembicaraan biasa, tapi si anak benar-benar merasakan dirinya menjadi bagian dari sang Ibu. Dampaknya, emosinya terkendali dan ia jadi lebih toleran kepada sang adik.

Ada sebuah konsep penting yang perlu saya garis bawahi di sini, bahwa apa yang dialami dan rasakan oleh anak ketika mereka masih kecil akan menjadi kerangka acuan mereka ketika dewasa kelak. Bila di masa anak-anak mereka memperoleh pengalaman batin yang positif, kelak mereka akan berusaha menciptakan hal yang sama pada keluarga yang mereka bentuk sendiri. 

Tugas Nanny dari Nanny Central selesai ketika keluarga tersebut mampu menempatkan diri dalam peran masing-masing dan menjalankan peran tersebut secara bertanggung jawab. Orang tua harus saling terbuka dan membantu dalam membimbing anak-anak, memegang kendali atas apapun yang terjadi di rumah, dan tidak membiarkan anak tumbuh tanpa kendali tersebut. Anak-anak harus menemukan rumah sebagai “sarang” yang nyaman, belajar ketrampilan sosial dengan benar, agar kelak bisa menjadi manusia yang mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: