Terapi Salat Tahajud – Rangkuman (3)

Rangkuman ke-3 dari buku Terapi salat tahajud (DR. Moh. Sholeh)

PSIKONEUROIMUNOLOGI SALAT TAHAJUD

Setan mengikat kuduk seseorang

dengan tiga ikatan ketika ia tidur.

Lalu, setan memukul tiap ikatan

pada kuduk orang yang sedang tidur

sambil berkata: ‘Tidurlah, kamu mempunyai malam cukup panjang’.

Bila seseorang yang tidur itu bangun

dan berzikir kepada Allah Swt, lepaslah satu ikatan.

Lalu, jika ia pergi wudhu, terurailah satu ikatan lagi,

dan manakala ia salat, lepaslah ikatan terakhir

sehingga ia menjadi bersemangat dalam beribadah,

terlepas dari segala ikatan kesempitan jiwa dan terlindungi dari rasa malas

– HR Bukhari –

ANALISIS MAKNA TOTALITAS ISLAM

Makna totalitas Islam berkaitan dengan konsep islam, iman, dan ihsan.

Islam

Islam berasal dari kata dalam bahasa Arab aslama, yuslimun, islaman, yang mempunyai beberapa arti, yaitu: melepaskan diri dari penyakit lahir dan batin, kedamaian dan keamanan, ketaatan dan kepatuhan.

Secara etimologis, terminologi islam bermakna: keselamatan, perdamaian, dan penyerahan diri kepada Tuhan. Al-Qur’an sendiri menyebut kata Islam sebanyak 8 kali, yaitu dalam: QS Al-Maidah ayat 3, QS Al-An’am ayat 125, QS Az-Zumar ayat 22, QS Ash-Shaf ayat 7, QS Al-Hujurat ayat 17, dan QS At-Taubah ayat 74.

Sedangkan kata Islam dalam konteks agama, disebutkan dalam QS Al-Maidah ayat 3: … pada hari ini, telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu …

QS Ali-Imran ayat 19: Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam

Islam bukan sekedar sebagai agama, sebagai konsep religion di Barat yang semata hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Islam adalah sistem yang bersifat universal, meliputi seluruh realita kehidupan, mulai dari keyakinan, akidah, dan ibadah yang benar, bahkan hingga tata aturan kehidupan bernegara. Di dalamnya termuat pemerintahan dan rakyat, jihad (perjuangan), seruan dakwah, militer, dan pemikiran strategi.

Pemikir lain mendefinisikan Islam dengan “penyerahan diri kepada Tuhan”. Kata “penyerahan diri” harus digaris bawahi, bukan “ketundukan”. Yang tersirat, penyerahan diri lebih bersifat aktif, penuh inisiatif dari seorang manusia sebagai hamba. Jadi seorang muslim adalah hamba yang menyerahkan dirinya kepada Allah Swt tanpa paksaan. Penyerahan diri juga sudah memuat ketundukan, sementara konsep “ketundukan” sendiri bisa juga menggambarkan tunduk secara lahiriah namun ada di dalam hari terbersit pengingkaran.

Dalam spektrum pengertian Islam yang luas tersebut, apa sebenarnya kewajiban manusia? Apa yang bisa diambil? Bagaimana perjalanan taqarrub dilakukan?

Salah satu kewajiban pertama seorang mukallaf (baliq dan berakal) adalah menerima ajaran Islam dan mengimaninya. Setelah menerimanya, ia wajib melaksanakan kewajiban ibadah fardhu maupun sunnah (di antaranya salat sunat tahajud), serta menjauhi apa diharamkan (bahkan yang dimakruhkan). Selanjutnya melakukan ibadah salat, zakat, puasa, dan haji. Berzikir dan mencari maisyah (penghidupan) yang halal.

Inilah semua garis besar penyerahan diri secara total dan alamiah.

Rasulullah Muhammad Saw bersabda,”Islam adalah engkau bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah Swt dan bahwasanya Nabi Muhammad itu utusan Allah Swt, engkau melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa bulan Ramadan, dan melakukan haji jika berkuasa, (HR Muslim).”

Iman

Kata iman berasal dari bahasa Arab amana – yu’minu – imanan. Kata ini memiliki banyak arti, antara lain: percaya, setia, aman, melindungi, dan menempatkan sesuatu pada tenpat yang aman. Pengertian lainnya adalah, “pecaya dengan sungguh-sungguh”.

Harus dibedakan antara kepercayaan dan keyakinan. Kepercayaan diartikan sikap menerima dengan budi, sedangkan keyakinan diterima dengan akal. Catatan: akal berasal dari kata aql yang berarti keseimbangan pemikiran budi, rasio, dan rasa hati atau pemikiran objektif dan subjektif.

Iman harus berdiri di atas keyakinan yang kuat, memiliki ketetapan, tidak berputar-putar, tidka berubah-ubah – baik dalam pikiran maupun hati. Singkatnya, iman akan menjadikan keadaan yang menenteramkan hati, sama sekali tidak ada keraguan dalam segala tindakan.

Secara teknis, iman bertaut dengan akidah. Tauhid (konsep Allah Swt Sang Mahaasal, Mahaawal, asal dari segalanya) adalah inti dari rukun iman, yang merupakan prima causa seluruh atau rukun keyakinan Islam. Iman akan malaikat, kitab, rasul, kiamat, qadha dan qadhar hanyalah akibat logis saja. Artinya, karena adanya iman kepada Allah Swt, secara logis timbullah keyakinan kepada malaikat, rasul, kitab, hari kiamat, dan takdir baik – buruk.

Secara bahasa, kata iman ternyata tidak bisa dipadankan melalui bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris ada kata faith dan belief yang sering dipakai menterjemahkan iman. Belief adalah menerima pernyataan secara intelektual, tanpa meniscayakan adanya perbuatan yang menyertainya. Kata faith lebih sering digunakan sebagai pengganti kata iman, namun berbeda dengan konsep iman, faith tidak meniscayakan adanya ilmu yang mendahului. Iman adalah sesuatu yang didahului oleh ilmu, yaitu pembuktian atas apa yang diketahui dan dikenali.

Para ulama sendiri masih banyak berbeda soal pendefinisian makna iman. Perbedaan ini timbul karena Al-Qur’an dan Hadist tidak memberikan rumusan baku, hanya ada ciri-ciri saja bagaimana orang yang beriman itu:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebutkan nama Allah Swt gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan Tuhanlah mereka bertakwa (QS Al-Anfal: 2).”

“Sungguh beruntunglah orang-prang beriman yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (oerbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-prang yang melampaui batas. Dan mereka yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara salatnya (QS Al-Mu’minun: 1-9)”.

Sementara Rasulullah juga bersabda: “Iman itu percaya kepada Allah Sqt, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, Hari Kiamat, ketentuan baik dan buruk adalah keputusan Allah Swt (HR Muslim).

Keimanan itu mempunyai cabang-cabang lebih dari enam puluh atau tujuh puluh, yang terutama ucapan La-Ilaha Ilallah, dan serendah-rendahnya menyingkirkan gangguan dari jalan, sifat malu itu juga cabang dari keimanan, (HR Muslim)”.

Para fuqaha seperti Imam Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal mengikuti pendapat kelompok sufi yang mengatakan bahwa iman adaalh pengakuan dalam lisan, pembenaran dalam hati, dan amalan perbuatan. Sementara Imam Abu Hanifah, Husain bin Fadl Al-Balkhi sepakat dengan kelompok yang menyebutkan bahwa iman adalah pengakuan lisan dan pembenaran dalam hati.

Jadi secara umum bisa disimpulkan bahwa ciri iman adalah: berpegang teguh pada tauhid, mata berpaling dari hal-hal yang haram, telinga mendengarkan firman Allah Swt, perut suci dari makanan yang haram, dan lidah mengucapkan kejujuran.

Dengan demikian, pemahaman hadist yang menyebutkan bahwa “iman seseorang bisa bertambah atau berkurang” bukan terletak pada substansi iman tetapi cabang iman yang berupa amal ibadah – manifestasi (perwujudan) keimanan itu sendiri.

Ihsan

Kata ihsan berasal dari kata ahsana-yuhsinu-ihsanan yang memiliki arti: berbuat baik. Sebuah hadist menjelaskan makna ihsan sbb: Malaikat Jibril bertanya: “Apa ihsan itu?” nabi Saw menjawab: “Ihsan itu apabila kamu menyembah, beribadah kepada Allah Swt, seakan-akan engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu. (HRMuslim).

Ihsan dapat digambarkan sebagai suasana hati dan perilaku seseorang untuk senantiasa merasa dekat dengan Allah sehingga tindakannya sesuai dengan aturan dan hukum-Nya. Secara definitif, ihsan adalah penghambaan diri kepada Allah Swt dalam suasana ruhaniah yang sangat mendalam. Dalam pengertian yang luas, ihsan menyimpan sifat utama takwa, tawakkal, dan syukur.

Takwa adalah fase kematangan yang sempurna, hasil interaksi antara Islam, iman, dan ihsan. Takwa adalah ilmu, amal, naluri, hati, dan etika. Takwa merupakan kondisi ketika antara kalbu, pikiran, dan anggota tubuh berinteraksi secara harmonis.

Dalam takwa terkandung makna melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya, pengendalian emosi dan penguasaan atas kecenderungan hawa nafsu negatif. Ketakwaan menjadi tenaga pengarah manusia kepada perilaku yang baik dan terpuji serta menjadi penangkal atas perilaku buruk, menyimpang dan tercela. Takwa yang paling tinggi menunjukkan kepribadian yang utuh dan integral. Jalan untuk mencapai derajat takwa adalah mujahadah, perjalanan batin, dengan memperbanyak ibadah sunah seperti salat tahajud.

Janji Allah di dalam Al-Qur’an kepada orang yang bertakwa:

  • dimuliakan oleh Allah (QS Al-Hujurat 13)
  • dimudahkan jalan keluar urusannya (QS Ath-Thalaq 2)
  • diberikan kemudahan (QS Ath-Thalaq 4)
  • penduduk negeri yang bertakwa akan dilimpahi berkah dari langit dan bumi, bila mendustakan akan disiksa (QS Al-A’raf 96)

Tawakal secara harifiah berarti pengakuan ketidak mampuan seseorang dan penyandaran dirinya kepada pihak lain selain dirinya. Dari bahasa Arab, at-tawak-kul berasal dari kata wakkala yang bermakna menyerahkan, memercayakan, atau mewakilkan urusan kepada orang lain.

Secara terminologi, tawakal berarti menyerahkan atau memercayakan seluruh masalah kepada Sang Penguasa dan bersandar kepada kemampuan-Nya untuk menyelesaikan masalahnya. Definisi lainnya, tawakal bermakna menyerahkan segala perkaram ikhtiar, dan usaha yang dilakukan kepada Allah Swt serta berserah diri sepenuhnya kepada-Nya untuk mendapatkan manfaat atau menolak yang mudarat.

Orang yang tawakal tidak akan berkeluh kesah atau gelisah. Ia akan berada dalam ketenangan, ketenteraman, dan kegembiraan. Jika memperoleh nikmat dan karunia dari Allah Swt ia akan bersyukur, namun jika menghadapi cobaan ia akan bersabar. Semua keputusan, bahkan dirinya sendiri, diserahkan kepada Allah Swt setelah usaha dan ikhtiar dilakukan.

Al-Ghazali membagi tingkatan tawakal menjadi tiga, yakni:

  • Tawakal itu sendiri, yakni hati senantiasa merasa tenang dan tenteram terhadap apa yang dijanjikan Allah Swt.
  • Taslim, yaitu menyerahkan urusan hamba kepada Allah Swt karena ia mengetahui segala sesuatu mengenai diri dan keadaannya.
  • Taswid, yaitu rela menerima segala ketentuan Allah Swt bagaimanapun bentuk dan keadaannya.

Hikmah yang diperoleh dari tawakal adalah rasa percaya diri, keberanian dalam menghadapi persoalan, memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa, dekat dengan Allah Swt, kecukupan rezeki, selalu berbakti dna taat kepada Allah Swt, dan senantiasa bersyukur kepadaNya.

Tentang syukur, Quraish Shihab menyebutkan cara bersyukur kepada Allah:

  1. Bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan meyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Allah Swt dan tak ada seorang pun selain Allah Swt yang dapat memberikan nikmat.
  2. Bersyukur dengan lidah, yaotu mengucapkan secara jelas ungkapan Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt.
  3. Bersyukur dengan amal dan perbuatan, yaitu mengamalkan anggota tubuh untuk hal baik dan memanfaatkan nikmat itu sesuai dengan ajaran agama.

Syukur kepada Allah bisa dilakukan dengan sujud syukur, setelah mendapatkan nikmat atau lolos dari musibah, dan dilakukan di luar salat. Allah menjanjikan dalam QS Ibrahim 7 penambahan nikmat bagi orang yang bersukur, dan akan menurunkan azab bila nikmat-Nya diingkari.

(to be continued)

One Response to “Terapi Salat Tahajud – Rangkuman (3)”

  1. Terimakasih ringkasan lanjutan nya, masih ada lagi lanjutannya kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: