Hamba yang Bersyukur

sabar dalam ketaatan

sabar dalam ketaatan

Sebuah riwayat mengisahkan bagaimana Rasulullah Saw sholat malam sambil kerapkali menangis hingga jengotnya basah. Tak jarang beliau juga sholat hingga kaki beliau bengkak karena sholat terlalu lama. Hal itu membuat keheranan Bilal, sehingga menanyakan hal ini kepada Rasul. Jawaban Rasulullah Saw sederhana, semua ini terjadi karena beliau merasa belum menjadi hamba yang bersyukur.

Rasulullah menyebutkan dalam salah satu hadistnya bahwa Allah akan mengangkat derajat manusia bila mau melakukan 3 hal: bersyukur, ikhlas, dan bersabar. Kata syukur sudah sering kita dengar, dan mudah diucapkan. Begitu banyak firman Allah yang menyebutkan soal syukur ini, dan kebanyakan berupa pernyataan: termasuk orang yang bersukur, supaya kamu bersyukur, menjadi orang yang bersyukur, bagi orang-orang yang bersukur, dan sebagainya. Sayangnya, justru Al-Qur’an sendiri yang kemudian menyatakan bahwa akan banyak di antara kita bukan bagian orang yang bersyukur.

QS. Al-A’raaf 10: Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.

QS. Al-MukmiDan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur .

QS. Yunus 60: Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat ? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri.

QS. Al-A’raaf 17: kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur .

Di dunia yang fana ini, hamparan rahmat dan rizki disemaikan Allah semata-mata untuk kemaslahatan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah memerintahkan kita sholat, dan usai melakukannya kita diperintahkan pula untuk bertebaran di muka bumi mencari penghidupan dan rahmat-Nya. Manusia berkecenderungan untuk gembira mencari penghidupan yang banyak memberikan hasil, seperti perniagaan dan kerja lain yang membuahkan penghasilan besar. Bekerja menjadi bagian dari 24 jam kehidupan, bahkan tak jarang menyita waktu pada paruh terbesar waktu harian itu. Bila sudah seperti itu, kadang waktu berlalu cepat hingga lepaslah Dzhuhur dan Ashar. Dalam kelelahan, lepaslah pula Maghrib dan mungkin Subuh.

Kalau untuk perintah yang wajib saja sering lalai, bagaimana pula manusia mampu menunjukkan syukurnya kepada Allah?

Ada sebuah kalimat Allah yang sering dikaligrafikan, dan satu copy-nya yang cukup indah tergantung di dinding rumah saya, yaitu QS. Ibrahim 7: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah kepadamu, dan jika kamu mengingkari , maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”

Allah menghormati orang yang bersyukur dengan membahasakan “Kami”, dan wujud rahmat Allah adalah barokah rizki yang selalu menaungi manusia. Sebaliknya, Allah membahasakan “Aku” pada orang yang tidak bersyukur, disertai ancaman datangnya azab.

Kalau saja manusia mau merenungi makna ayat yang dalam ini, betapa takut seharusnya mereka untuk mengingkari rahmat Allah. Ketika Allah “memalingkan wajah” dari manusia, betapa sengsara mereka dalam mencari penghidupan. Kesengsaraan akan bertambah-tambah tatkala Allah menurunkan teguran dan ujian-Nya, yang sekalipun kita mampu menanggungnya tetap saja terasa berat dan pedih. Bagaimana lagi bila Allah murka dan menurunkan azab-Nya?

Apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan rasa syukur kepada Allah yang Maha Agung dan Penguasa sekalian alam? Sementara tak ada kekayaan yang bisa menyamai dan kemegahan yang setara dengan-Nya?

Pertama, tak berlebihan kiranya bila kita prioritaskan untuk menjalankan kewajiban agama dan beribadah menyembah Allah Swt, dan hanya kepada Allah Ta’ala semata, dengan ikhlas. Dalam Al-Qur’an saja, ada lebih dari 80 ayat yang menyebutkan kata menyembah bahkan mungkin bisa lebih bila ditambahkan dengan pengembangan kata tersebut. Semuanya mengingatkan keharusan untuk menyembah Allah yang Esa dan ancaman bila menyekutukan-Nya. Tentu saja bukan semata ritual, namun memang diniatkan secara ikhlas untuk mendekatkan diri.

Ikhlas mengandung pengertian mensucikan atau memurnikan, yang bermakna penghambaan kepada Allah Swt belandaskan niat suci untuk mencari ridhanya. Selama ada embel-embel lain di sana, keikhlasan manusia dipertanyakan.

Kedua, melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan Allah. Sebuah hadist menyebutkan bahwa: Segala hal di muka bumi ini halal terkecuali apa yang diharamkan oleh Allah. Segala ibadah tidak ada yang perlu dilakukan kecuali yang diperintahkan oleh Allah.

Allah telah menetapkan apa yang haram, dan jangan sekali-kali mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah. QS. Al-Maa’idah 87: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Ada 3 hal yang termaktub di sini: halal-haram, baik (thoyyib), dan tidak melampaui batas. Allah telah eksplisit menyebutkan darah, bangkai, daging babi, dan semua binatang yang disembelih tanpa menyebut asma Allah, sementara Rasulullah telah menambahkan beberapa kategori agar manusia menjadi jelas. Namun demikian, sekalipun suatu makanan sifat dasarnya halal tapi tidak baik (thoyyib), sifatnya berubah menjadi haram. Demikian pula dengan tindakan yang melampaui batas, misalnya terus makan sekalipun telah kekenyangan hingga muntah.

Rasulullah juga mengingatkan tentang ibadah dan ritual yang mengada-ada, dan tidak ada dasarnya dalam pendekatan diri kepada Allah. Islam selalu penuh dengan kesederhanaan, dan tidak akan membenani umat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semua ritual dan ibadah yang secara objektif kita rasakan berat, tetapi seolah sudah menjadi budaya, perlu kita perhatikan dengan jelas. Tidak ada salahnya berkonsultasi dengan ulama dan pemuka agama yang memiliki ilmu agama yang baik agar tidak salah langkah sekaligus menghapus keragu-raguan.

Termasuk pula dalam kategori ini adalah menjalankan perintah untuk menyantuni yatim piatu, memberi makan fakir miskin, melakukan jihad fi sabilillah seperti mencari rizki yang halal untuk keluarga, dan banyak hal lainnya.

Keharaman juga bukan sekedar makanan, karena tindakan yang merugikan orang lain juga termasuk di dalamnya. Menipu, memanipulasi, korupsi, merampok, riba, termasuk di dalamnya. Allah berfirman dalam QS. An-Nisaa 29: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.

Ketiga, yang seringkali sulit dilakukan adalah bersabar. Bersabar, menurut Rasulullah, memuat 3 dimensi, yaitu: bersabar ketika menghadapi musibah (fa shobrun alal musibah), bersabar dalam ketaatan kepada Allah (fa shobrun alaththa’ah), dan bersabar dari melakukan perbuatan maksiat (fa shobrun anil ma’siyah).

Kita selalu dipenuhi dengan rahmat dan karunia Allah, dan seolah-olah tidak ridha bila Allah (selaku pemilik) mengambilnya lagi. Tak jarang kita melihat orang sebelumnya kelihatan saleh kemudian menggugat Allah ketika anaknya meninggal, suaminya berselingkuh, kedudukannya di masyarakat terancam, diturunkan kecacatan pada dirinya, dsb. Satu yang diambil kembali, seperti meniadakan semua karunia rahmat. Protes dan gugatan jauh lebih keras disuarakan daripada perasaan syukur atas 999 rahmat yang tersisa.

Sabar juga berarti tawakal, menunggu keputusan Allah setelah semua kewajiban dan sunah kita laksanakan, dan tetap meyakini bahwa Allah akan memilihkan yang terbaik bagi kita. Yang terbaik bagi kita bisa jadi yang kita senangi, itu biasa, dan kita perlu bersabar dengan keputusan itu.

Kita sebagai manusia normal acapkali mengingkari nurani kita yang melarang kita melakukan perbuatan yang kurang pada tempatnya. Karena kita suka perbuatan duniawi itu! Kita menisbikan kemungkinan Allah tidak ridha. Kalau ini seringkali terjadi, nurani kita teringkari berulang kali karena bertentangan dengan rasa suka kita pada sebuah hal duniawi, nurani akan menutup diri, qolbu akan mengeras, dan kita akan sulit mendengarkan saran dari orang lain, pada suatu saat nanti. Allah pasti akan memberikan penilaian atas kesabaran kita untuk terus melangkah di jalur yang diridhai-Nya.

Pada intinya, mensyukuri rahmat Allah adalah hidup dengan jalan yang ditentukan oleh Islam, dengan ikhlas dan sabar, semata-mata untuk memperoleh ridha Allah. Dulu, KH Zainuddin MZ pernah memberikan tausiyah tentang ridha ini. Karena parameter ridha Allah ini kadangkala tidak sekedar yang terlihat mata dzahir, dan ada hal-hal yang tersembunyi dan serta butuh penalaran, kita manusia ini diminta untuk selalu bertanya pada diri sendiri sebelum melakukan sebuah perbuatan:”Allah ridha apa tidak?”

Semoga kita selalu menjadi manusia yang bersyukur, dan hanya mengharpakan ridha Allah Swt agar selamat dalam menjalankan amanah kehidupan ini. Amin.

2 Responses to “Hamba yang Bersyukur”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: