Terapi Salat Tahajud – Rangkuman (2)

dzikir

Rangkuman ke-2 dari Buku Terapi Salat Tahajud (Dr. Moh. Sholeh)

DR. Moh. Sholeh yang tidak memiliki dasar pendidikan kedokteran cukup rinci dalam mengupas anatomi sistem kekebalan tubuh imunologik. Saya tidak bisa merangkum bab yang menjabarkan anatomi tersebut di sini karena terlalu teknis dan tidak semua orang memahaminya.

Hormon Kortisol dan Sistem Imun

Hormon kortisol yang dianggap penting dalam meningkatkan sistem ketahanan tubuh imunologik diproduksi oleh kelenjar adrenal, tepatnya oleh dua lapisan korteks bagian dalamnya (fasikulata dan retikularis). Pola sekresi kortisol mengeluarkan implus yang bersifat ritme / irama sirkadian, sehingga sekresi tersebut bersifat episodik. Sekresi kortisol secara umum akan tampak rendah pada dini – pagi hari (jam tidur) dan meningkat ke puncak pada pertengahan hari, untuk kemudian turun kembali pada jam-jam tidur. Ini berlaku bagi orang-orang yang normal. Bila seseorang memiliki kelaianan tertentu, semisal gagal ginjal kronik, sekresi kortisol tidak lagi terikat pada irama sirkadian.

Beberapa peran Kortisol antara lain:

  1. Berperan dalam metabolisme karbohidrat, yang penting untuk menahan glukosa dalam hati dan darah. Dalam kondisi berpuasa, kortisol bisa mempertahankan glukosa dalam darah. Kekurangan kortisol yang parah menyebabkan hipoglikemia (yang ditandai dengan gemetar, keringat dingin, piloereksi, hipotermia (suhu tubuh di bawah normal), dan sakit kepala): sementara kelebihan kortisol yang berkepanjangan bisa menyebabkan hiperglikemia, kelemahan dan atropi otot serta kenaikan berat badan dengan distribusi lemak yang abnormal.
  2. Berperan dalam kontrol curah jantung dan tonus pembuluh darah kapiler. Di sinilah kortisol berfungsi mempertahankan integritas dan sifat responsif pembuluh darah dan volume cairan tubuh. Kekurangan kortisol menyebabkan berkurangnya tekanan darah yang berakibat shock, sementara peningkatan kortisol bisa memicu hipertensi.
  3. Peningkatan kortisol dalam kadar yang tidak berlebihan baik untuk menurunkan peradangan (anti-inflamasi). Akan tetapi, peningkatan yang terjadi dalam jangka panjang justru menurunkan sistem imunologik yang mengakibatkan orang mudah mendapat infeksi.
  4. Pengaruh terhadap perilaku dan emosi. Kelebihan kortisol pada awalnya berbentuk euforia, tetapi dalam jangka panjang menyebabkan gangguan psikologis seperti: emosi yang labil, mudah tersinggung, kondisi depresi, gangguan memori dan konsentrasi. Selain itu, kelebihan kortisol bisa juga manifes dalam bentuk peningkatan nafsu makan, penurunan libido, dan insomnia. Kekurangan kortisol, sebagaimana yang terjadi pada penderita addison, menunjukkan gejala apatis, negatififistik, dan depresi.

Stres, Mekanisme Coping, dan Ketahanan Imunologik

Gejala dan realitas stres dapat digunakan dalam, dan berhubungan dengan, bidang yang sangat luas yakni biologi, ilmu kedokteran, psikologi, bahkan ilmu sosial. Karena itu, stres dapat dikonseptualisasikan dari berbagai titik pandang. Berkenaan dengan penelitian tentang salat tahajud ini, stres ditinjau dari konteks lingkungan, yaitu sebagai stimulus atau variabel bebas penelitian.

Dalam konsep ini, segala sesuatu yang menimbulkan stres disebut dengan stressor, dan dalam diri manusia terbentuklah reaksi atas stress tersebut yang bisa berupa respon psikologis, fisiologis, maupun perilaku. Dalam sebuah jurnal endokrinologi, seorang pakar bernama Selye menyebutkan fase mekanisme terjadinya stress, yaitu:

1. Fase peringatan (alarm stage). Pada fase ini, sistem syaraf pusat dibangkitkan dan pertahanan tubuh dimobilisasi. Stres terjadi ketika individu terus menerus mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan: menghadapi sumber stressor secara terbuka atau menghindari dan beradaptasi dengan sumber tersebut.

2. Fase perlawanan atau adaptasi (the stage of resistance or adaptation). Pada tahap ini individu menentukan apakah ia harus melakukan perlawanan terhadap stressor atau mencari jalan untuk berkompromi. Hormon kortisol dan adrenal mulai bekerja pada tahap ini.

3. Tahap keletihan (stage of exhaustion). Bila stres terjadi berkelanjutan atau adaptasi tidak berhasil, individu akan mengalami gangguan homeostasis, atau kondisi yang tidak seimbang. Tanda akhir keletihan adalah gangguan respons umum, hingga yang lebih serius seperti gagal jantung, gagal ginjal, bahkan kematian.

Sebuah pandangan lain menyebutkan bahwa stres bersifat subjektif. Dalam sebuah jurnal psikologi medis, Ostell menyebutkan bahwa:”Secara transaksional, stres dipandang sebagai keadaan yang timbul pada saat individu berhubungan dengan situasi dalam cara tertentu. Sebenarnya, situasi itu sendiri tidak terganggu, hanya saja cara individu menilai dan bereaksi pada situasi itulah yang mengganggu.” Misalnya luka bakar yang mengakibatkan cedera dan bekas luka. Bagi individu yang satu hal itu menjadi stressor yang kuat, sementara individu yang lain tidak menganggapnya sebagai masalah. Stres tidak menyebabkan respons stres apabila faktor psikologis diminimalkan.

Dalam kaitan dengan penanganan dan pengendaliannya, stres adalah sebuah elemen dalam sistem interdependen yang ditentukan oleh sifatnya, intensitas dan lamanya stressor, serta aspek persepsi, penilaian, dan efektivitas coping yang dimiliki oleh individu. Coping adalah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima. Apabila mekanisme coping ini berhasil, seseorang akan dapat beradaptasi terhadap perubahan atau beban tersebut.

Seorang ahli medis bernama ZJ Lipowski dalam penelitiannya memberikan definisi mekanisme coping: all cognitive and motor activities which a sick person employs to preserve his bodily and psychic integrity, to recover reversibly, impaired function and compensate to limit for any irreversible impairment. (Secara bebas bisa diterjemahkan: semua aktivitas kognitif dan motorik yang dilakukan oleh seseorang yang sakit untuk mempertahankan integritas tubuh dan psikisnya, memulihkan fungsi yang rusak, dan membatasi adanya kerusakan yang tidak bisa dipulihkan).

Mekanisme coping terbentuk melalui proses belajar dan mengingat, yang dimulai sejak awal timbulnya stressor dan saat mulai disadari dampak stressor tersebut. Kemampuan belajar ini tergantung pada kondisi eksternal dan internal, sehingga yang berperan bukan hanya bagaimana lingkungan membentuk stressor tetapi juga kondisi temperamen individu, persepsi, serta kognisi terhadap stressor tersebut.

Efektivitas coping memiliki kedudukan sangat penting dalam ketahanan tubuh dan daya penolakan tubuh terhadap gangguan maupun serangan penyakit (fisik maupun psikis). Jadi, ketika terdapat stressor yang lebih berat (dan bukan yang biasa diadaptasi), individu secara otomatis melakukan mekanisme coping, yang sekaligus memicu perubahan neurohormonal. Kondisi neurohormonal yang terbentuk akhirnya menyebabkan individu mengembangkan dua hal baru: perubahan perilaku dan perubahan jaringan organ.

Lipowski membagi coping menjadi: coping style dan coping strategy. Coping style adalah mekanisme adaptasi individu yang meliputi aspek psikologis, kognitif, dan persepsi. Coping strategy merupakan coping yang dilakukan secara sadar dan terarah dalam mengatasi rasa sakit atau menghadapi stressor. Apabila coping dilakukan secara efektif, stressor tidak lagi menimbulkan tekanan secara psikis, penyakit, atau rasa sakit, melainkan berubah menjadi stimulan yang memacu prestasi serta kondisi fisik dan mental yang baik.

Sistem Ketahanan Tubuh Imunologik

Sistem ketahanan tubuh adalah semua mekanisme yang digunakan tubuh untuk menjaga keutuhan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan oleh berbagai keadaan yang ada di dalam lingkungan hidupnya. Sistem ini berasal dari sel darah putih yang mengalami perkembangan dalam sumsum tulang kelenjar timus. Bila ada ada benda yang dianggap asing (non-self) masuk ke dalam tubuh barulah sel darah putih ini bereaksi.

Sistem ketahanan tubuh dapat dibedakan menjadi:

  • Respon ketahanan tubuh non-spesifik. Dikatakan non-spesifik karena dalam mekanisme tidak memerlukan pengenalan pada pengenalan spesifik benda asing. Contohnya adalah keradangan (inflamasi), yang mengindikasikan adanya suatu masalah dalam tubuh kita tapi tidak spesifik.
  • Respon ketahanan tubuh spesifik. Disebut dengan spesifik karena terkait dengan kemampuan mengenali atau memaparkan benda asing yang masuk ke tubuh. Gejala masuknya badan asing akan spesifik sesuai dengan benda yang masuk.

Respon ketahanan tubuh ini memiliki 3 fungsi, yakni:

1. fungsi ketahanan (defense).

Fungsi ini berguna untuk melawan segala aktivitas benda asing dengan kemampuan tubuh serta menyebarkan ketahanan tubuh ke seluruh jaringan

2. fungsi keseimbangan (homeostasis)

Fungsi ini memelihara keseimbangan (homeostasis) hubungan timbal balik antara sistem ketahanan tubuh dan sistem syaraf atau sistem organ lainnya.

3. fungsi pemantauan (surveillance)

Sesuai dengan namanya, fungsi ini memantau dan mengenali jenis-jenis sel abnormal yang secara tetap timbul dalam diri individu, baik yang spontan maupun yang disebabkan oleh pengaruh virus atau zat kimia.

(to be continued)

One Response to “Terapi Salat Tahajud – Rangkuman (2)”

  1. Thanks ringkasan nya, saya sdh baca buku ini tapi karena saya baca yg versi bhs melayunya, jadi rada bingung mahaminnya, mana sambungannya…terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: