Kecerdasan Majemuk

Saat mendengar kata kecerdasan atau intelegensi, apa yang terpikir dalam benak anda?

Saya hampir yakin, banyak di antara kita yang cenderung menyetarakan kecerdasan dengan matematika, fisika, dan ilmu sains lainnya. Bila anak kita punya nilai bagus pada pelajaran matematika atau fisika, betapa bangganya orang tua. Kalau perlu, anak dikursuskan secara khusus cara berhitung dan matematika yang berbiaya mahal. Beda dengan bila anak berkemampuan tinggi di dalam olah bahasa, apalagi Bahasa Indonesia, rasanya masih ada yang kurang. Ini sungguh menggelitik, pekerjaan setelah selesai sekolah tidak hanya yang berkenaan dengan bidang sains dan matematika.

Asumsi saya, hal ini berkenaan dengan konsep konservatif peninggalan kolonial yang mendorong anak untuk menekuni profesi dokter atau insinyur. Orang tua lebih bangga bila anaknya menyandang gelar tersebut bila dibandingkan dengan profesi lain, misalnya kamerawan atau jurnalis. istilah orang Jawa, dokter dan insinyur “luwih mriyayeni” (lebih berkelas). Tentu saja hal ini tidak bisa dipertahankan.

Pele

Pele

Sekarang ini pun, kita mengenal beberapa nama yang sangat dikenal meskipun tidak berkaitan dengan sains dan matematika, misalnya pelukis ekspresionis Affandy, fotografer Darwis Triadi, petinju legendaris Muhammad Ali dan Mike Tyson, striker Brazil Pele, dsb.

Beberapa tahun yang lalu, saya memperoleh pencerahan saat membaca resume buku Frames of Mind:The Theory of Multiple Intelligences karya Howard Gardner. Dengan menantang segala teori lain yang sudah menjadi karya klasik, bahkan sudah menjadi bagian dari perkembangan ilmu psikologi di berbagai negara, Garner yakin bahwa kecerdasan bukan tunggal. Dengan mencontohkan seorang autistic savant, ia menegaskan bahwa seorang dengan cacat di sebagian otak ternyata bisa memiliki kemampuan lain yang menonjol karena perkembangan di tempat lain sangat menonjol.

Mungkin seseorang tidak punya kelebihan khusus di bidang angka, namun bisa jadi dia jenius dalam bidang olah raga atau bahasa. Oleh karena itu, dengan mengacu pada teori Gardner, kita perlu lebih jeli melihat potensi yang sebenarnya dimiliki oleh anak-anak kita. Kita harus berpikir lebih jauh dan maju, dan buang jauh kerangka konservatif yang membelenggu pola pikir kita.

Kembali pada teori Gardner, Kecerdasan Majemuk atau Multiple Intelligences secara garis besar meliputi:

1. Bodily-Khinestetic (Kinetik Tubuh)

Ini adalah tipe kecerdasan yang lebih berfokus pada penyerapan aktivitas fisik daripada mendengar atau membaca. Intinya adalah pergerakan tubuh, olah fisik, dan pemanfaatan anggota tubuh. Mereka memahami segala sesuatu melalui gerakan fisik, bukan dengan mendengar atau membaca. Contoh paling konkret adalah atlit, misalnya pemain bola top dunia, ahli bela diri, koreografer tari, tentara, dsb.

2. Interpersonal

Bila pernah membaca kecerdasan emosional karya Goleman, kiranya model kecerdasan ini berkorelasi dengan kecerdasan interpersonal. Menempatkan diri di antara orang lain, tidak mengenal lelah bekerja dalam sebuah organisasi, bertatap muka untuk berdiskusi dan berdebat, bukanlah sesuatu yang mudah. Diplomat, politisi, public relation officer, manajer, adalah contoh orang dengan kecerdasan interpersonal.

3. Verbal – Linguistic

Bila sesekali pernah melihat filam serial Criminal Minds (mungkin bagi yang langganan teve kabel), ada karakter yang punya keahlian tinggi dalam membaca (kalau tidak salah bernama DR. Reid). Selain punya fotografik memory, ia bisa membaca dengan sangat cepat (seperti scanning), serta memadukan setiap keping ingatan menjadi sebuah konstruksi peristiwa.

Dalam kehidupan nyata, kita bisa kagum dengan kemampuan seorang lawyer membolak-balik kata, pujangga dalam mengolah kalimat menjadi roman panjang, Oprah Winfrey yang bertanya secara cerdas, maupun pencipta naskah iklan yang membuat jargon khas sebuah produk. Jurnalis dan guru juga membutuhkan jenis kecerdasan ini.

4. Logical – Mathematical

Jenis kecerdasan ini tidak perlu diulas panjang lebar, karena merupakan favorit kebanyakan masyarakat kita. Kecerdasan ini tentunya sangat dibutuhkan oleh negara yang sedang berkembang, karena kemajuan teknologi dan penguasan berbagai hal teknis baru didasari oleh kecerdasan dalam logika dan matematika. Kemajuan teknologi informasi juga bergantung pada kecerdasan ini, sebab bahasa pemrograman lekat kaitannya dengan logika berpikir.

5. Naturalistic

Kecerdasan ini terkait dengan sensitivitas orang terhadap alam. Ada sebagian orang yang punya kecenderungan lebih untuk bergaul dengan alam, dan mampu bereaksi baik terhadap lingkungan. Bila menanam sesuatu, secara naluri ia bisa merasakan kebutuhan tanaman sehingga mempersiapkan tanah dengan benar. Ahli botani dan binatang yang bersedia hidup terpencil di hutan untuk penelitian, konservasionis, ahli taman, ahli bonsai, adalah contoh orang yang berkecerdasan naturalistik.

6. Intrapersonal

Kita menjumpai orang yang berkemampuan tinggi dalam introspeksi dan melakukan refleksi diri, dan segala kejadian yang dialami bisa dituangkan dalam wacana yang bisa dipahaminya sendiri maupun orang lain. Biasanya, orang seperti ini cenderung introvert dan penyendiri dalam bekerja, berkonsentrasi penuh agar bisa membentuk wacana berpikir. Filsuf, psikolog, pemikir dan cendekiawan agama, penulis, adalah contoh dari profesi yang berkenaan dengan kecerdasan intrapersonal.

7. Spatial (Ruang Bidang)

Kecerdasan ini terkait dengan kemampuan melakukan visual ruang bidang, mampu mengenal arah dengan cepat, mungkin disertai pula dengan koordinasi mata-tangan yang baik, sebagaimana orang dengan kecerdasan kinestetik tubuh. Arsitek adalah profesi yang membutuhkan kecerdasan ini, dan tampaknya pembalap F1 atau GP 500 juga membutuhkannya. Bisa dibayangkan bagaimana orang harus melakukan beberapa hal bersamaan: kecepatan ekstra tinggi, koordinasi mata dan tangan agar kendaraan melaju terarah, mapping sirkuit di luar kepala, mendengar dan mencerna instruksi dari headset, dan mengeksekusi tindakan dengan benar.

8. Musikal

Musik adalah bahasa universal, dan sekalipun jenius dalam musik tidak banyak pada dasarnya cukup banyak orang yang bisa mengubah kejadian bisa menjadi musik. Kecerdasan ini terkait dengan irama, musik, dan pendengaran. Sensitivitasnya lebih tinggi daripada orang kebanyakan dalam menerima dan mencerna suara, irama, nada dan musik. Secara natural mereka bisa menentukan pitch suara yang baik di telinga orang lain. Pemusik, penyanyi, penggubah lagu, DJ, adalah sebagian dari profesi dengan kecerdasan ini.

Ada beberapa kecerdasan yang muncul belakangan, namun agaknya Gardner belum secara pasti menentukan tempatnya, misalnya kecerdasan moral.

asah bakat

asah bakat

Ada beberapa kritik yang cukup keras terhadap konsep dan teori Gardner ini, namun tidak dibahas disini karena memerlukan pengkajian yang mendalam. Pada intinya, sebagaimana pada teori lain, tidak mungkin sebuah teori bisa memuaskan berbagai kalangan. Mungkin Gardner benar dalam sebuah sisi, tetapi ia lupa ada sisi lain yang juga telah diteliti dan kebetulan hasilnya tidak bisa dijelaskan melalui teori Gardner.

Kembali pada kita sendiri, dengan memahami temuan Gardner ini jelas bahwa anak kita harus dianggap sebagai individu yang unik karena memiliki hal yang mungkin tidak kita cermati sebelumnya. Saya yakin hal ini akan sesuai dengan analogi equalizer dalam sound system. Bila kita ingin anak kita baik dalam semua jenis kecerdasan, anak kita akan menjadi “jack of All Trade” – bisa ini dan itu tapi tidak benar-benar ahli dalam 1 – 2 bidang. Bila kita ingin mendengarkan musik jazz, secara otomatis bagian treble akan tinggi sementara bass akan turun. Kalau default musik rock akan sebaliknya.

Manusia memiliki sisi dominan di salah satu hemisfer otak, entah kanan atau kiri. Bila dominasi terletak di otak kanan, sisi kreatifnya akan lebih menonjol dan lebih mudah baginya membentuk kata-kata serta berkontemplasi. Ada 1 atau 2 hal yang akan menonjol pada dirinya. Sebaliknya, bila dominasi di otak kiri, mungkin dia akan cocok untuk pekerjaan yang membutuhkan keteraturan, ketelitian, dengan pola pikir yang lebih sistematis.

Dunia masih memiliki banyak kemungkinan di masa depan, dan anak kita membutuhkan dorongan dari orang tuanya agar bisa berkembang sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: