Pilkada Jawa Timur

Jawa Timur

Jawa Timur

Tanggal 23 Juli 2008 kemarin, Jawa Timur baru saja menyelenggarakan Pilkada langsung yang pertama. Propinsi dengan jumlah penduduk dan kepadatan yang tinggi ini (termasuk yang tertinggi di Indonesia) menyambutnya dengan antusiasme yang lebih kurang sama dengan Jawa Barat dan Jawa Tengah yang sudah mendahului. Tingkat golput mencapai sekitar 40%.

Dari ke-5 calon Gubernur dan Wakil Gubernur, ada yang sudah start jauh hari sebelumnya dengan cara penempelan foto Cagub di beberapa jalan protokol di Surabaya, atau mengiklankan diri di televisi lokal. Kedua Cagub tersebut adalah Pakde Karwo (Sukarwo) dan Pak Cip (Sucipto). Ada yang menempelkan wajah di baliho sejak lama, tapi tidak kunjung mengiklankan diri, yaitu Achmady yang saat itu sedang menjabat sebagai Bupati Mojokerto. Pak Naryo (Sunaryo) cukup percaya diri orang Jawa Timur mengenalnya, karena beliau adalah dalang kontemporer yang (menurut saya) hampir sekelas dengan dalang yang lebih masyhur semacam Ki Anom Suroto atau Ki Manteb, jadi tidak merasa penting amat beriklan. Sebelumnya ada seorang calon gubernur dari militer, Joko Subroto yang didukung PKS, yang juga memasang wajah pada beberapa baliho raksasa, tapi tidak bisa meneruskan langkah sebagaimana beberapa calon independen lain.

Fenomena kejutan adalah munculnya Khofifah Indar Parawansa. Alumni Unair yang pernah menjabat sebagai menteri ini muncul baru sekitar April, dan dengan cepat merebut simpati jutaan rakyat Jawa Timur. Basisnya sendiri cukup kuat, yaitu Muslimat NU. Jujur, saat pertama kali muncul, saya tidak yakin dengan kemampuan beliau memenangkan pertempuran dengan kandidat gubernur yang berasal dari partai besar semacam Pak Cip dan Pak Naryo.

Ketika para Cagub menentukan wakil gubernur, jelas terbacalah peta pertempuran yang sebenarnya. Suara kaum Nahdliyin diperebutkan. Bagaimana tidak, 4 dari 5 pasangan membawa kader NU yang dikenal luas.

Calon Nomor 1(Ka-Ji): Khofifah yang berasal dari NU adalah calon gubernur termuda (1965) di kompetisi kali ini, sengaja menggandeng Mujiono yang terakhir menjabat sebagai Kasdam V Brawijaya. Khofifah adalah organisatoris ulung, besar di lingkungan NU sejak kuliah, dan terkenal cerdas. Paduan NU dan militer dianggap sebagai potensi yang kuat.

Calon Nomor 2 (SR): Sucipto yang merupakan tokoh pengusaha kawakan Jawa Timur dan senior di PDI Perjuangan adalah pemegang restu sang Ketua Umum, didamping Ridwan Hisjam yang juga pengusaha serta pernah menjabat sebagai ketua DPD Golkar Jatim. Bila suara PDI-P Jatim solid, kombinasi keduanya akan hot, karena PDI-P punya basis kuat di propinsi ini – khususnya Jawa bagian Selatan.

Calon Nomor 3(Sa-lam): Sunaryo adalah incumbent Wakil Gubernur, dan Ketua DPD Golkar Jawa Timur, sementara sang Cawagub adalah Ketua DPW NU Jawa Timur. Cagub adalah birokrat tulen dan besar sebagai pejabat di lingkungan pemerintahan. Sang Cawagub (Ali Maschan Musa) adalah cendekiawan NU dan pernah menjabat lektor kepala filsafat – sosiolinguistik IAIN Sunan Ampel Surabaya. Wow, sungguh kekuatan yang harus diperhitungkan dan di atas kertas adalah kandidat terkuat.

Calon Nomor 4 (Achsan): Achmady juga kader NU namun berskala lokal, terkahir menjabat sebagai Bupati Mojokerto, sehingga kurang populer di Jawa Timur. Calon wakil yang digandengan dari militer, Suhartono, yang seusia dan seangkatan dengan calon wakil Mujiono (Khofifah).

Calon Nomor 5(Kar-sa): Sukarwo adalah birokrat di lingkungan perekonomian daerah, dan terakhir menjabat sebagai Sekretaris Daerah Jawa Timur. Yang digandengnya adalah tokoh muda NU yang kharismatis, pernah menjabat sebagai menteri juga di pemerintahan SBY, dan dikenal di kalangangan muda NU (Anshor).

Semua sumber daya dikerahkan, dana dan tenaga, dan moments of truth tergelar beberapa jam setelah pencoblosan.

Calon nomor 1 dan 5 segera memimpin perolehan suara. Dalam perhitungan quick count dari beberapa lembaga terlihat jelas bahwa tidak ada mencapai threshold 32.5%, dan keduanya hanya berselisih 1 – 2 % saja. Karsa berjaya dengan suara sekitar 26%, sementara Ka-ji dengan sekitar 25% suara.

Calon nomor 2 keteter di urutan 3 dengan raihan sekitar 21% suara; dan nomor 3 tak bisa mengangkat suara lebih tinggi dari urutan ke-4 dengan suara sekitar 18%.

Calon nomor 4 yang didukung partai peraih suara terbanyak di Pemilu yang lalu harus tersungkur di posisi ke-5 dengan perolehan suara tidak mencapai 10%.

Putaran kedua akan digelar beberapa bulan lagi, untuk calon nomor 1 dan 5.

Sebenarnya jawa Timur telah memiliki infrastruktur yang baik, perekonomian yang cukup kuat, dan memiliki sumber daya yang istimewa. Siapapun yang menjadi gubernur, pada dasarnya tidak banyak berpengaruh, namun tentu saja selaku orang Jawa Timur saya berharap orang terbaik akan muncul memimpin wilayah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: