Anak Kita

Pernah anda perhatikan anak-anak di sekitar kita, termasuk anak-anak kita sendiri? Pernah anda simak perbedaan respon mereka atas tugas-tugas yang diberikan, dibandingkan dengan anak-anak di Jepang, misalnya.

Berbeda, itu pasti. Tapi bagaimana perbedaan mereka?

Tanyakan kepada anak-anak Indonesia, termasuk anak atau keponakan anda … kalau besok sudah dewasa mau jadi apa? Jawaban klasik yang disampaikan oleh mereka antara lain: dokter, insinyur, ABRI, polisi, pramugari, perawat, atau guru. Lihat hasil gambar anak-anak kita pada saat lomba menggambar, bentuk apa yang mayoritas muncul? Pemandangan gunung dan sawah. Sehingga, kita akan takjub sekali ketika hasil gambar seorang anak bukan objek tersebut.

Mengapa bisa terjadi pola berpikir sedemikian uniform?

Semua orang tahu bahwa anak adalah masa depan kita, dan semua orang menyadari bahwa mereka adalah penerus nama dan keluarga kita. Akan tetapi tidak semua orang tua menganggap serius anak-anak mereka. Tidak menganggap serius tidak identik dengan pengabaian, melainkan juga termasuk mereka yang mencoba “memasukkan” diri mereka ke dalam perkembangan jiwa anak.

streetwise of gun

streetwise of gun

Anak bagaikan tanaman di hamparan lembah subur. Dibiarkan begitu saja pun mereka akan tumbuh besar, tapi mungkin akan tumbuh liar (tanpa pola yang jelas) dan mereka menjelma menjadi sesuatu di luar yang dikehendaki orang tua. Karena role model dan reference group mereka adalah lingkungan, mereka akan mengadopsi situasi lingkungan (dengan kecenderungan mengabaikan nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua). Tidak mengherankan bila orang yang dibesarkan di lingkungan buruh tani sulit melihat kehidupan di luar pekerjaan buruh tani di sawah. Anak-anak perkampungan kumuh cenderung tumbuh seperti orang-orang di sekitar mereka, sebagian tanpa pendidikan, sebagian tanpa pengembangan akhlak, yang lain belajar kriminal sejak dini. Anak-anak yang besar di barak tentara, di lingkungan pesantren, di kompleks perumahan, akan bergerak tumbuh sebagaimana lingkungan membesarkan mereka. Ini contoh ketidak seriusan dalam perkembangan anak, sehingga anak tumbuh dan berkembang tanpa pola yang jelas.

Tanaman bonsai sebenarnya adalah tumbuhan biasa yang direkayasa, sehingga kerdil tapi indah, bentuknya artistik seperti yang diinginkan perekayasanya, dan harganya bisa selangit. Imajinasi dan kreasi sang seniman bonsai dicetakkan habis-habisan pada sebuah beringin putih yang dipilihnya, sehingga pada suatu saat beringin putih itu tumbuh meliuk-liuk indah. Beringin putih itu masih menunjukkan ciri pohon beringin putih, seperti tekstur kulit pohon dan bentuk daunnya, namun pola pertumbuhannya sama sekali berbeda. Berapa sering kita dapati seorang anak tumbuh dan berkembang tidak menjadi dirinya sendiri? Seiring dengan meningkatnya tingkat persaingan dalam kehidupan, besarnya hasrat dan harapan agar anak menjadi orang yang sukses, serta serangkum cita-cita terpendam orang tua, anak tumbuh dengan asupan gizi yang lebih dari cukup serta berkembang dalam belenggu. Begitu anak bisa bersuara dan suka menyanyi, tiba-tiba orang tua memasukkannya dalam sekolah vokal. Karena sang ayah suka piano, anak diikutkan kursus piano. Saking takutnya sang anak tertinggal dari teman-temannya, begitu mengenal angka si anak tersebut dimasukkan “Kumon”. Anak tidak pernah ditanya apa maunya, orang tua berdalih itu semua demi masa depan anak. Ini ketidak seriusan yang bersembunyi di balik alasan-alasan tertentu.

Orang tua lebih bangga kepada anak-anak ketika mereka bisa menyanyikan lagu Peter Pan dengan lidah cadel mereka, atau memainkan msuki klasik Mozart dengan tertatih-tatih, daripada saat mereka berhasil merekayasa mobil-mobilan dari kulit jeruk sendiri. Ketika seorang guru lukis membiarkan anak berkreasi, dan si anak bebas memainkan warna dan cat, orang tua menganggap si anak tidak belajar apapun. Mereka lebih suka bila anak mereka belajar menggambar figur binatang atau orang.

Dunia berubah, berkembang, dan membentuk jaman baru. Di masa depan, ribuan kemungkinan menanti si anak ketika dewasa nanti. Bila orang tua tidak serius dengan perkembangan anak-anak, mereka akan terjebak dalam ketidak mampuan menghadapi masa depan. Anak-anak buruh tani tanpa cita-cita atau yang terlahir di bawah kolong jembatan tanpa visi masa depan hanya mengandalkan naluri survival saja kelak agar tetap bertahan hidup. Anak-anak yang dicetak oleh orang tuanya agar menjadi seperti yang mereka inginkan, mungkin punya peluang lebih baik dalam menyongsong masa depan, sekalipun mereka tidak pernah merasakan makna kebahagiaan dalam kehidupan. Bakat mereka, visi pribadi mereka, dorongan emosi mereka yang sejati, semua teredam oleh pagar yang diciptakan oleh orang tua.

Uniformitas anak-anak kita disebabkan oleh kurangnya peranan orang tua dalam membuka wawasan berpikir anak, karena orang tua juga sekedar meneruskan apa yang mereka ketahui dari orang tua mereka dahulu. Seorang anak Jepang ditanya tentang cita-cita di masa depan, mereka akan menjawab beragam; ada mau jadi kamerawan, wartawan, anggota PMK, nelayan, bahkan pedagang sayur. Mereka serius dengan jawaban mereka, karena mereka melihat role-model atau reference group yang benar-benar nyata dan sukses.

Memang, konsep kita sekarang yang kita dapatkan dari orang tua kita, tidak terlepas dari kultur kolonial yang seharusnya kita kikis. Di masa kolonial yang terbawa hingga sekarang, orang pribumi yang kelasnya diakui oleh Belanda adalah ambtenaar (pegawai negeri). Ini priyayi baru, dan hingga sekarang pun di banyak daerah masih menjadi idaman kaum muda. Berapa banyak pelamar pegawai negeri tiap tahunnya, bisa disimak di berbagai media massa. Di bawahnya, ada kelompok profesional, seperti dokter, pengacara, dan insinyur. Bisa dilihat sekarang dampaknya pada kaum muda kan? Kelas terakhir yang berpeluang menjadi paling kaya tetapi paling kurang diminati adalah pedagang (pelaku perniagaan). Coba tanya pada anak-anak kita, siapa yang mau jadi pedagang – berapa orang yang mengacungkan tangan?

Dalam pandangan saya, tugas utama dalam mengembangkan anak bukan sebagai seperti gembala yang membiarkan saja kambingnya berkeliaran tak menentu, atau seniman bonsai yang mengetatkan kawat di sekujur tubuh pohon, tetapi teman bicara anak yang selalu memelihara emosi dan potensi anak optimal, dan memungkinkan mereka fleksibel menyongsong masa depan.

Apa perbedaan anak sekarang dengan anak-anak di jaman kita atau orang tua kita dahulu? Anak sekarang jauh lebih pandai dan lebih besar, kritis, dan mampu melakukan hal-hal di luar dugaan kita di usianya. Kalau di masa kita kecil umur 10 tahun masih suka mengejar layang-layang putus dan mandi di sungai, anak sekarang sudah berprestasi tinggi atau sudah kenal dengan narkoba. Seolah-olah mereka tumbuh dewasa lebih dini. Seolah-olah alam membentuk mereka lebih siap menghadapi tantangan global daripada kita dahulu.

Yang paling sederhana, daripada banyak berteori, saya mengacu saja pada paparan AA Gym tentang anak. Suatu saat AA Gym berkata bahwa, bekerja itu tidak hanya berdakwah ke berbagai daerah. Ia juga punya pekerjaan penting di rumah, yaitu bermain-main dengan anak-anak. Lho?

AA Gym tahu pentingnya menganggap serius anak, dan menganggap waktu yang dilewatkan bersama anak-anak bukan lah membuang-buang waktu. Itu juga bekerja. Anak-anak harus paham bahwa orang tua mereka selalu ada, dan bila ada masalah orang tua adalah referensi yang dapat dipercaya. Jangan menimbulkan kesan jauh, sehingga bila bermasalah anak-anak justru mencari jawaban pada orang lain yang belum tentu benar. Sama dengan orang dewasa, anak-anak ingin “di-orang-kan”.

Bersikap serius pada anak akan menyiapkan mereka menghadapi beragam tantangan di masa depan. Anak-anak selalu punya seribu pertanyaan di kepala mereka, dan orang tua harus lebih bijak dalam menjawab tiap tanya yang terlontar. Jadi orang tua memang tidak mudah, namun yakinlah anak-anak juga sedang mengalami masa sulit yang membutuhkan bimbingan di setiap saat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: