Tujuan Hidup

ini hidupku ....

ini hidupku ....

Alkisah ada seorang pengusaha kaya yang sedang berlibur ke pantai. Etos kerjanya tinggi, dan ia orang yang sukses, sehingga ketika melihat ada seorang nelayan setenagh baya yang sedang bersantai sambil tiduran ia merasa terganggu. Didekatinya nelayan itu, dan terjadilah percakapan di bawah:

“Bapak nelayan di sini kan? Kok tidak melaut?”

“Memang saya nelayan di sini, dan sekarang sedang beristirahat karena semalam telah melaut.”

“Kalau bapak menunda istirahat dan bekerja lebih keras, maka bapak akan memperoleh uang lebih banyak”

“Lalu?”

”Bila terus begitu bapak akan bisa membeli perahu lagi.”

“Lalu?”

“Dengan dua perahu yang aktif, akan lebih cepat bagi bapak untuk mengumpulkan keuntungan lebih besar.”

“Lalu?”

“Ya, bapak akan bisa menambah perahu lagi, satu atau dua lagi. Bapak akan punya tiga atau empat perahu dalam waktu beberapa tahun lagi.”

“Lalu?”

”Tentu saja bapak bisa menyewakan perahu-perahu bapak, dan bapak tidak perlu bekerja keras lagi seperti sebelumnya.”

“Lalu?”

“Bapak bisa hidup tenang dan bersantai.”

“Bapak kira, apa yang saya lakukan sekarang?”

Seringkali terjadi kita mencoba membandingkan diri kita dengan orang lain, mencocokkan pola yang sesuai dengan diri kita dengan gaya hidup orang lain. Yang lebih parah, kita terjebak melakukan judgement atas diri orang lain berdasarkan apa yang ada pada diri kita sendiri. Pengusaha sukses dalam ilustrasi di atas memandang etos kerja dan keberhasilan dari kacamatanya sendiri, dan menurutnya pola pikir sang nelayan jauh dari ideal. Orang harus bekerja untuk mencapai keberhasilan dan kebahagiaan. Baginya, tidak bekerja keras adalah dosa dan kekeliruan yang harus dilawan.

Apa versi sang nelayan? Orang mengisi hidup tentunya dengan sebuah tujuan, dan tiap orang tidak memiliki tujuan yang sama. Manusia adalah unik, karenanya tidak ada yang bisa memaksakan sebuah pikiran ke dalam pikiran orang lain secara sukarela. Tujuan yang hendak dicapai oleh sang pengusaha adalah juga tujuan yang ingin diperoleh sang nelayan, namun sang nelayan memiliki versi sendiri dalam mencapainya.

Saya ingat sebuah episode sinetron lepas yang dibintangi Mat Solar. Mat Solar berperan sebagai seorang penjual makanan keliling (sepertinya ketoprak) yang baik budi. Ia bercita-cita naik haji, dan berhaji bersama Ibunya yang sudah tua. Semua orang mendoakannya, termasuk orang yang merenovasi gerobaknya, dengan menambahkan huruh H di depan namanya. Katanya, itu adalah doanya.

Karakter yang dimainkan Mat Solar akhirnya memutuskan untuk menabung di sebuah tabungan haji. Tak dinyana, baru beberapa kali menabung ternyata dalam undian ia memenangkan sebuah mobil mewah berharga ratusan juta rupiah. Hadiah itu tidak diambilnya, namun ia lebih suka menguangkannya saja, karena ada cita-cita yang ingin dilaksanakannya. Yang menarik adalah diskusi yang terjadi kemudian:

“Saya tidak butuh mobil itu Pak, karena tidak cocok buat saya.”

“Tapi kan bapak bisa kemana-mana dengan mudah dan nyaman.”

“Tiap orang punya “totol” Pak. Mungkin bapak memang punya “totol” sebagai orang besar sehingga cocok pakai mobil mewah. Lha saya, “totol” ya segini-gini aja, tukang ketoprak. Cita-cita saya adalah pergi haji bersama emak saya, bukan punya mobil mewah.”

Garis nasib manusia sudah ditulis, dan keluasan rizki yang datang juga sudah ditetapkan oleh Allah Swt. Sekeras apapun yang kita lakukan, ada batas-batas yang sulit kita tembus. Dalam sholat Dhuha, kita diajarkan untuk meminta barokah atas rizki Allah. Barokah atas rizki lah yang sebenarnya membuat dada kita lebih lapang.

Di sekeliling kita sering melihat sebuah keluarga sederhana bisa hidup tenang dengan penghasilan sang bapak yang hanya tukang parkir. Tapi kita tengok teman kita, yang selalu gelisah kekurangan dana di akhir bulan, sekalipun gajinya 4 – 5 kali gaji tukang parkir tadi. Bagaimana itu bisa terjadi?

Kembali pada kisah sang nelayan dan pengusaha, itulah gambaran kita sehari-hari. Sang pengusaha yakin bahwa passive income akan memberikan ketenangan, dan untuk memperolehnya harus dicapai dengan kerja keras di awal. Bila uang sudah mengalir sendiri, kita tidak perlu bekerja keras dan bisa tenang menikmati masa istirahat.

Menurut sang nelayan, kehalalan rizki yang dicarinya semalam telah memberinya kelapangan dada dan ia merasa berkecukupan. Baginya yang sudah mulai tua, sepiring nasi sudah cukup mengenyangkan, dan anak-anaknya juga sudah bisa turun melaut. Lantas apa lagi yang perlu dicarinya dalam hidup?

Bagaimana kisah ini direnungkan dan menjadi cermin, kembali pada anda sekalian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: