Frustrasi

Saya yakin banyak yang mengenal istilah ini, dan kira-kira memahami makna yang terkandung di dalamnya. Ada banyak contoh klasik mengenai frustrasi ini, namun demikian saya punya sebuah contoh yang cukup ekstrim terjadi ketika masih SMA. Saya lupa nama teman itu, yang pasti dia di kelas IPA3 (tetangga sebelah karena saya di IPA4), dan saat itu kami sudah di kelas 3.

Konon, teman saya itu punya gadis yang dia taksir sepenuh hati (tapi tidak di SMA tempat kami bersekolah). Sejauh yang saya kenal, teman satu ini selalu ceria, banyak tertawa, sekalipun guyonnya sendiri sering garing. Karena dikenal sebagai anak ekstrovert, dia bahkan pernah jadi komandan peleton (40 orang) sewaktu di Surabaya ada kewajiban baris-berbaris untuk anak selevel SMA. Hingga suatu saat, dia absen sakit cukup lama, dan kabar yang terdengar dia hampir mati menenggak segelas Baygon di depan rumah gadis yang dia taksir. Haaa?

Rupanya cewek yang dia taksir itu tidak membalas perasaannya, sementara teman saya itu sudah punya cita-cita yang terlalu tinggi dengan gadis tsb. Entah apa yang memicunya, dia nekat membawa sebotol Baygon dan gelas ke depan rumah si cewek dan akhirnya mencoba bunuh diri di depan rumahnya. Seketika respekku pada dia ambruk, tetapi menyisakan pertanyaan mengapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi.

Itulah ilustrasi kasus frustrasi yang dalam. Frustrasi hampir dipastikan bisa dialami siapapun, dan sudah dipastikan terjadi pada semua orang dalam suatu masa hidup mereka. Seorang anak yang mengidamkan sebuah jam tangan ketika di-khitan, ternyata hanya memperoleh dua lembar sarung – saat itulah frustrasi terjadi. Seorang gadis yang mengidolakan Demian sang Ilusionis, mengharapkan sang idola menjadi orang yang super hebat, mendadak kecewa ketika Demian dikabarkan akan menikah dengan Yulia Rahman (host dan presenter acara TV) yang telah berstatus janda dengan 1 anak – saat itu rasa frustrasi menyergap. Seorang peserta ujian PNS yang telah membayar sekian juta pada seorang oknum calo, ternyata tetap tidak menemukan namanya di pengumuman – dia pun jatuh dalam kondisi frustrasi.

Frustrasi adalah sebuah benturan kenyataan yang terjadi ketika harapan, angan-angan, cita-cita tidak selaras dengan realita. Semakin lebar penyimpangan itu terjadi, lebih dalam pula dampak frustrasi yang ditimbulkan. Mungkin efek yang teringan adalah ngambek, gondok, atau marah. Biarkan satu jam hingga sehari, pikiran normal akan mengembalikan realitas ke dalam kehidupannya. Yang bermasalah bila penyimpangan tersebut sedemikian jauh, harapan terlalu melambung, sementara orang tsb tidak siap untuk gagal, akibatnya ketika benar-benar gagal ia tidak bisa segera menemukan pijakan realitas. Bahkan ada orang yang hingga memunculkan mekanisme pertahanan ego yang lebih menjauhkan dirinya dengan kenyataan hidup.

Mekanisme pertahanan ego adalah sebuah sistem ego yang memindahkan kekecewaan pada objek lain. Jadi ketika gagal ujian PNS, alih-alih mengoreksi diri, orang menyalahkan calo yang tidak becus. Alih-alih belajar lebih keras, calon mahasiswa PTN justru sibuk menyalahkan Ibunya yang terlambat bangun hingga ia juga tidak sempat belajar pagi menjelang ujian. Penghuni rumah di tempat padat sibuk mengutuk pemerintah yang lamban memadamkan api yang membakar rumah, padahal mereka sendiri juga salah.

Frustrasi akan selesai dan sembuh bila pijakan realitas sudah didapatkan, baik datang dengan sendirinya maupun dengan bantuan konseling. Mekanisme pertahanan ego memblokir masuknya realitas ke dalam pikiran dan akal sehat, dan hal itu membuat proses recovery lebih lama. Bila sudah masuk dalam fase penyembuhan, orang cenderung menjadi lebih baik dan bisa terbuka dengan berbagai masukan.

Sebagai orang tua, teman, atau kerabat, kita justru perlu mewaspadai fase munculnya frustrasi dan ketika benturan terjadi. Kita perlu menyimak segala perubahan yang terjadi pada anak, teman, dan kerabat, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan ketika benturan frustrasi terjadi. Khususnya waspadai pada gejala depresi yang bisa berujung pada bunuh diri (silakan disimak pada topik depresi dan bunuh diri).

One Response to “Frustrasi”

  1. tulisan Bapak mengingatkan diri untuk introspeksi…apakah sekarang sedang frustasi apa tidak..??? wah …kacau deh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: