Depresi dan Bunuh diri

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, waktu mengambil mata kuliah praktik psikologi klinis, aku harus menyertai salah seorang psikiater yang memeriksa pasien rawat jalan. Sekedar informasi, aku harus membuat dua laporan klinis: satu dari pasien rawat jalan (poli jiwa) dan satu dari rawat inap (ruang perawatan psikiatri). Beruntung aku dapat menyertai seorang psikiater wanita senior yang mudah diajak bicara bernama Dr. Marlina (yang beberapa tahun kemudian menjadi dekan di almamater psikologiku). Bersama aku ada beberapa mahasiswa kedokteran dan dokter muda. Jujur, aku jadi agak minder.

Aku lupa detailnya, yang jelas kemudian kami para mahasiswa masuk ke ruang konseling tempat dokter Marlina. Di sana ada seorang perempuan tengah baya dengan tubuh hampir setegap dokter Marlina tapi tidak setinggi beliau. Perempuan itu tidak keberatan kami ada di sana sebagai observer. Sekilas, aku tidak melihat keanehan fisik pada pasien itu, bahkan menurut aku dia lebih asertif daripada kebanyakan perempuan.

Perempuan itu mengeluhkan adanya gangguan ringan seperti sulit tidur, kehilangan gairah bekerja, malas berinteraksi sosial (saya lupa apakah dia menyebutkan gangguan psikosomatis atau tidak – sakit perut atau sakit kepala misalnya). Perempuan itu dulunya adalah seorang perawat di Puskesmas, suaminya adalah seorang camat, sehingga kehidupan sosialnya cukup aktif. Anaknya perempuan semua, dua orang dan keduanya sudah beranjak remaja. Sepuluh menit pertama konsultasi sangat membosankan, karena aku tidak paham mau dibawa kemana konsultasi ini.

Seingatku, dokter Marlina bertanya lebih detail tentang suaminya, ketika tiba-tiba tangis perempuan itu meledak. Benar-benar meledak! Tidak ada tanda-tanda dia akan menangis sebelumnya. Seperti sebuah bendungan yang padat dan mampat, lalu ada orang yang mencangkul dinding bendungan di titik yang tepat. Byorrr!

Perlahan kuikuti ceritanya, kira-kira sebagai berikut:

Dulu perkawinan mereka bahagia hingga punya dua anak. Sebagai istri Camat tentunya dia juga sibuk sekali, tetapi tetap bisa membagi waktu dengan keluarga. Setelah jalan beberapa tahun pernikahan, baru ia tahu suaminya menyukai perempuan lain. Terakhir, ia mendengar suaminya sudah kawin lagi. Ia tidak bisa berkeluh kesah kemanapun karena sejak awal kedua orang tuanya tidak setujua ia menikah dengan suaminya yang sekarang itu, karena ayah dari suaminya kawin dua. Keyakinan orang Jawa, bila bapaknya kawin dua maka anaknya juga akan kawin dua. Hal itu tidak digubrisnya.

Tekanan batin, rasa malu, dan ketakutan akan terhadap orang tuanya membuat ia enggan menghadapi dunia. Kalau sudah terjaga dari tidur, susah meneruskan tidurnya; ingin menghindari orang lain, dan tidur untuk melupakan masalah; menarik diri dari aktivitas sosial, dan yang parah ia pernah mencoba bunuh diri dua kali, tetapi selalu gagal karena ingat anak-anaknya yang akan sebatangkara bila ia mati. Apa yang harus dilakukannya, itu pertanyaan yang diajukan kepada dokter Marlina.

Ternyata dokter Marlina tidak banyak memberikan nasihat. Inti pesannya hanya dua:

  1. Terima keadaan ini sebagai kenyataan, dan tidak perlu terlalu memikirkan suaminya lagi.
  2. INGAT kedua anak yang mulai remaja, berusaha tetap hidup demi keduanya.

Setelah memberikan resep serta tugas yang perlu dilakukan selama semingggu, dokter Marlina meminta pasien itu kembali minggu depan. Aku tidak tahu bagaimana kelanjutannya.

Setelah pasien tsb berlalu, dokter Marlina ganti bertanya pada kami (observer) gangguan yang diidap oleh pasein tersebut. Kupikir aku jadi orang yang tolol, ternyata tidak. Kebanyakan dari anak kedokteran menjawab stress, tapi dokter Marlina menggeleng.

Dokter Marlina dengan mantap menjawab: depresi.

Untuk memastikan jawabannya, dokter Marlina mengambil kuesioner inventory Beck. Bila skor lebih dari 6, berarti orang tersebut sedang mengalami depresi. Ternyata, setelah dilacak dengan inventory Beck, skor pasien tadi adalah 8 – tergolong depresi berat. Apa yang memasukkannya ke dalam kategori depresi berat? Usaha bunuh diri!

Secara klasik, bunuh diri memang merupakan gejala depresi yang paling nyata. Sebelum bunuh diri yang sebenarnya, biasanya pelaku akan melakukan beberapa kali percobaan – atau disebut usaha bunuh diri. Mungkin saja usaha itu langsung berhasil, kalau tidak ada yang mengetahui dan mencegahnya, sebab di level ini biasanya pelaku masih ragu-ragu. Masih ada rasa takut akan kematian, dan membayangkan nasib orang-orang yang akan ditinggalkannya. Ketika niat sudah bulat, depresi sudah tidak tertanggungkan lagi, biasanya pelaku bunuh diri akan meninggalkan sepucuk catatan kematian.

Masalahnya, dalam era informasi ini, bunuh diri juga dilakukan anak-anak atau orang yang mencoba meniru modus pelaku bunuh diri orang lain. Bunuh diri bukan murni disebabkan depresi.

Kita perlu memahami kondisi psikologis orang-orang yang ada di sekitar kita. Waspada terhadap gejala depresi, yakni:

Sulit tidur atau terlalu suka tidur

Malas, tidak bergairah, kehilangan motivasi

Menarik diri dari aktivitas sosial, murung, dan menjadi penyendiri

Dalam perkataan, muncul gagasan untuk mati

Mencoba bunuh diri

One Response to “Depresi dan Bunuh diri”

  1. Desi Yanti Says:

    Bapak, solusinya apa klo mempunyai gejala-gejala di atas…???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: