Kang Suto

Catatan: Kisah di bawah kudapatkan dari sebuah milis, karena menarik aku posting-kan di sini sebagai cermin.

Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah  lama  ia ingin shalat. Tapi shalat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun  menemui  pak  ustad  untuk  minta  bimbingan, setapak demi setapak.

Ustad  Betawi  itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih  bersemangat  belajar.  Katanya, “Menuntut  ilmu  wajib  hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat  amal  kita  Cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

Setelah pendahuluan yang bertele-tele,  ngaji  pun  dimulai. Alip,  ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak  bakal  ia  bisa menirukan  pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

“Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit.

“Ngain,” kata Kang Suto.

“Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad.

Itulah hari  pertama  dan  terakhir  pertemuan  mereka  yang runyem  itu.  Tapi  Kang  Suto  tak putus asa. Dia cari guru ngaji  lain.  Nah,  ketemu  anak  PGA.  Langsung  Kang  Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

“Al-kham-du …,” tuntun guru barunya.

“Al-kam-ndu  …,”  Kang  Suto  menirukan.  Gurunya  bilang,”Salah.”

“Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.

“Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia  merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan.

Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa  karena  mengubah arti Quran.

Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan saya.

“Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa  menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima  tidaknya,  urusan Tuhan.  Lagi  pula  bukan  bunyi  yang  penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk  neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.”

Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya  ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur  Tuhan.  “Biarkan, Musa.   Yang   penting   ketulusan   hati,  bukan  kefasihan lidahnya.”

“Sira guru nyong,” (kau guruku) katanya, gembira.

Sering kami lalu bicara agama  dengan  sudut  pandang  Jawa. Kami  menggunakan  sikap  semeleh,  berserah,  pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia  zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

Suatu malam, ketika sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi.  Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

“Ya  Tuhan,  adakah  gunanya  doa  hamba yang tak fasih ini. Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya  luas  tanpa  batas

Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi subhanallah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: