Pribadi Zuhud

Pernah saya tanyakan kepada seorang ustadz yang bagus bacaan Al-Qur’an-nya tentang zuhud, tetapi beliau tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Beliau cukup hapal dengan kandungan Al-Qur’an, namun tidak dengan kandungan berbagai hadits. Saya lantas berpikir, jangan-jangan pemahaman tentang zuhud memang tidak bisa ditemukan dalam Al-Qur’an.

Banyak sekali orang (termasuk saya) yang memahami kehidupan zuhud identik dengan perilaku sufi, atau penderitaan dunia. Jadi, tidak mungkin orang yang berkecukupan bisa membentuk pribadi yang zuhud. Hingga suatu saat, pakar ekonomi Islam Muhammad Syafi’i Antonio menjelaskan bahwa zuhud tidak tergantung pada banyak sedikitnya harta, karena zuhud berkenaan dengan hati. Ilustrasinya dengan dua perbandingan seperti ini: Pertama, seorang direktur sebuah bank segera menutup apapun di mejanya begitu mendengar suara adzan, lalu ke musholla kantor dan shalat berjama’ah dengan karyawan lainnya. Kedua, seorang penjual cabe dan bumbu dapur di pasar sedang berjualan saat terdengar adzan, tapi ia mencoba menyelesaikan dulu urusan dengan pelanggan sebelum memutuskan untuk sholat. Sayangnya, karena pembeli terus berdatangan, ia baru bisa sholat menjelang waktu berikutnya. Menurut Syafi’i Antonio, perilaku zuhud justru ditunjukkan oleh sang direktur bank.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah mengatakan: “Zuhud adalah mencintai sesuatu yang dicintai Allah dan membenci sesuatu yang dibenci Allah, meninggalkan harta yang halal sebagaimana meninggalkan harta yang haram, sebab yang halalnya pasti dihisab sedangkan yang haramnya pasti akan membuahkan siksa; menyayangi sesama orang Islam sebagaimana menyayangi diri sendiri; memelihara diri dari ucapan yang tidak bermanfaat sebagaimana memelihara diri dari ucapan yang haram; memelihara diri dari banyak makan sebagaimana memelihara diri dari makan bangkai yang amat busuk; memelihara diri dari aneka macam kesenangan dunia dan perhiasannya sebagaimana memelihara diri dari panasnya api; dan tidak panjang angan-angan, inilah arti zuhud yang sebenarnya” (HR Dailami).

Jadi, elemen zuhud antara lain:

  1. Harta yang halal; jangan terlalu sayang padanya karena ini akan dihisab sebagaimana kepastian siksa atas harta yang haram.
  2. Kasih sayang pada sesama muslim; semua muslim bersaudara dan seorang msulim bagaikan anggota tubuh bagi muslim yang lain.
  3. Ucapan yang bermanfaat; menjaga lidah akan menyelamatkan ukhuwah, menjaga silaturahim, dan kasih sayang terhadap sesama muslim.
  4. Makanan; karakter kita terbentuk dari apa yang kita dan bagaimana kita makan. Rasulullah telah berpesan untuk tidak rakus, serta menjaga kehalalan apa yang kita makan.
  5. Berbagai kesenangan dunia; dunia ini penuh dengan kesenangan lahir dan perhiasan yang indah, namun ingatlah bahwa semuanya dekat dengan api neraka. Jangan terjebak.
  6. Angan-angan yang realistis; setiap manusia punya keterbatasan, dan kita harus paham tentang hal itu. Lebih baik kita mensyukuri apa yang telah kita miliki, daripada terus mencari apa yang belum tentu bisa kita raih.

Di tempat lain, Rasulullah mengeaskan bahwa: “Zuhud terhadap dunia itu bukanlah mengharamkan yang halal, juga bukan menyia-nyiakan harta, tetapi zuhud itu adalah engkau tidak menggantungkan diri pada sesuatu yang ada pada dirimu, tetapi lebih percaya pada sesuatu yang ada di tangan Allah. Juga lebih banyak mengharapkan pahala sewaktu menerima musibah dan engkau lebih senang menerima musibah sekalipun musibah itu menimpa selama hidupmu (sebab pahalanya besar)” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Abu Dzar).

Jelas bahwa Rasulullah tidak mengendaki orang Islam yang zuhud itu miskin. Apa yang halal tidaklah menjadi haram, dan harta yang kita miliki harus diputar. Namun demikian, jangan terlalu sayang dan bergantung pada apapun yang kita miliki, karena kehendak Allah jauh lebih perkasa. Seperti halnya pergiliran hidup, nasib manusia bisa berkebalikan hanya dalam hitungan detik, sehingga kita harus mengimani ketentuan Rukun Iman ke-6 bahwa takdir dan nasib kita ada di tangan Allah.

Yahya bin Muadz berkata, “Seseorang tidak akan bisa mencapai tingkat zuhud yang sempurna kecuali ia telah memiliki tiga faktor dasar, yaitu:

∞ beramal semata-mata karena Allah

∞ berkata tanpa ada kecenderungan rakus terhadap harta keduniaan, dan

∞ mulia tanpa memiliki keduniaan”

Zuhud merupakan kebalikan dari hubbud dunya (cinta dunia). Seorang yang hubbud dunya biasanya memiliki 3 ciri penting:

∞ perasaan sengsara dan menderita yang tiada habisnya

∞ rakus yang tidak pernah berhenti

∞ angan-angan yang muluk

Semoga kita selalu menjadi orang yang zuhud. Amin.

One Response to “Pribadi Zuhud”

  1. tannzilul furqon Says:

    amin, termakasih atas penjelasannya yang juga menjadi jawaban dari ketidak pahaman saya terhadap zuhud,salam kenal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: