Langit Kita

Alam ini penuh dengan ilusi dan fatamorgana, ia seringkali hanya menampilkan wajah yang kita inginkan, sisi yang ingin kita lihat bukan yang harus kita amati. Ilusi akan memberikan seribu cerita pada seribu orang yang melihatnya, seperti pantulan fatamorgana yang menjanjikan telaga jernih bagi musafir di padang pasir. Sekali manusia terjebak dan suka berada di dalamnya, ia hanya akan melihat sisi kehidupan dunia yang palsu, bukan yang menjanjikan kehidupan sejati.

Kita harus mau melihat sisi kehidupan ini sebagai bagian dari sebuah skema besar yang mungkin tidak berkesudahan hingga akhir jaman kelak. Dalam skema hidup itu, misalnya kita umpamakan sebuah diagram Venn, kita menjadi pusat semesta pembicaraan, dan keluasan jangkauan kita adalah lingkaran seluas jangkauan jari-jari yang mampu kita rentangkan. Itulah kita dan hidup kita, tidak bisa lebih luas lagi sekeras apapun kita berusaha merentangkan jari-jari lebih jauh.

Mungkin para motivator akan mengatakan, kita bisa menjadi apapun yang kita mau, keluar dari comfort zone untuk menjelajah berbagai kemungkinan baru. Jangan terburu-buru berhenti di sebuah tempat sebelum semua upayamu dikerahkan, karena masih ada perjalanan yang harus diselesaikan. Mungkin perhentian sementara cukup sah, tapi jangan terlalu lama karena sebuah perhentian yang terlalu lama akan membentuk comfort zone yang baru.

Sebagian bisa saya terima. Ada sebuah kisah Cina klasik yang pernah saya baca di dalam komik Kungfu Boy, tentang dua ekor belalang yang kira-kira seumur. Yang seekor hidup di sebuah lapangan luas, sementara yang seekor lagi dimasukkan ke dalam sebuah kotak kecil. Setelah seminggu keduanya diadu kecepatan. Belalang yang hidup di lapangan terus melompat-lompat setinggi yang ia mampu, sementara yang hidup dalam kotak tidak bisa melompat tinggi – hanya kira-kira setinggi kotak. Apa yang sebenarnya terjadi?

Kondisi ini berkaitan dengan persepsi. Belalang pertama tidak pernah merasakan manipulasi persepsi, sehingga baginya tidak ada masalah mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya. Apa yang ditampilkan, itulah dia yang sebenarnya. Belalang kedua telah mengalami manipulasi, setelah beberapa saat di dalam kotak ia mengalami negative reinforcement saat terbentur-bentur ketika hendak melompat tinggi. Akhirnya, ia menyesuaikan diri dan menerima kenyataan bahwa dirinya memang tidak boleh melompat tinggi. Sekalipun kotak sudah tidak ada lagi di sana, persepsi tersebut tidak mudah dihilangkan.

Dalam kehidupan yang nyata, lebih banyak manusia yang bernasib seperti belalang kedua, termanipulasi sehingga membentuk persepsi yang tidak nyata. Atap mereka adalah langit, memandang kemampuan diri sejauh apa yang dipersepsikan orang lain, bukan yang bisa diimpikan sendiri. Hanya mereka yang bisa menemukan langit sejati lah yang pada akhirnya mampu mengembangkan diri sejauh kapasitas optimal.

INGAT! Tiap manusia memiliki kemampuan optimal yang berbeda, yang tidak mustahil untuk dicapai. Optimal belum maksimal, namun realistis. Maksimal berarti menghilangkan hal hakiki sebagai manusia. Seorang peloncat jauh setelah berlatih keras bisa mencapai jarak 8 meter. Kalaupun dipaksakan ia bisa mencapai 8.2 meter. Inilah nilai optimal. Tapi ketika dalam kondisi darurat, terdesak, ternyata ia bisa meloncat sejauh 12 meter. Inilah nilai maksimal. Be optimum, it makes you feel good.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: