“Cukuplah Bagiku Allah ….”

Pertama kali mendengar bait itu adalah kumandang suara alm. Bangun Sugito (Gito Rollies) dalam kompilasi sebuah album Opick, dan membuat merinding karena dinyanyikan oleh seseorang yang telah pasrah dan berusaha dekat dengan-Nya saat kanker menggerogoti tubuhnya.

Cukuplah bagiku Allah! Sebuah frase kalimat yang sederhana, namun mengandung makna dalam yang tidak mudah kita jalankan. Hanya sebuah penggalan ayat juga dalam Al-Qur’an QS. Ali Imran 173: “hasbunallah wa ni’mal wakil”, namun memuat perasaan tunduk dan takjub pada kekuasaan Allah semata.

Penyerahan diri kepada Allah, dan menggantungkan diri pada kekuasaanNya agar selamat, dan berjalan di jalan agama dengan kepala tegak selalu menjadi bagian persoalan umat sejak dulu – bahkan di jaman Rasulullah sendiri. Banyak nama kaum munafik yang mengaku Islam tetapi selalu berpaling dari Allah ketika terancam bahaya. Kaum munafik selalu menjadi musuh dalam selimut, dan duri dalam daging pergerakan Islam sepanjang sejarah. Di masa sekarang, ada sekurangnya dua hal lagi fenomena yang muncul berkenaan dengan penolakan ketundukan total pada Allah Azza wa jalla.

Pertama, pelunturan akidah karena kurangnya pemahaman akan Islam. Islam hanya ditempatkan dijalur sempit tempat sholat, masjid, dan pesantren. Di luar itu, urusan dunia tidak menjadi bagian dari Islam. Islam hanya sebuah identitas di KTP, tapi tidak pernah dalam hati. Dunia yang materialistis ini seolah tidak pernah berakhir, dan segala hal diukur dengan uang. Uang menjadi tuhan baru, kiblat bagi pemuja keduniawian. Seolah-olah, dengan uang semua hal bisa dilakukan, termasuk memperpanjang umur dan melindungi diri dari bencana.

Kedua, proses sinkretisme yang membentuk konsep Islam yang berbaur dengan keyakinan animisme lokal. Tuhan bukan lagi dzat yang Maha Tinggi, tetapi salah satu saja dari semua dzat yang berkuasa di alam. Bahkan, seringkali dzat Allah dinomor duakan, karena tidak menunjukkan kesaktian seperti dzat yang menghuni sebuah pohon keramat. Muncullah berbagai praktik perdukunan yang sebenarnya hanyalah permainan sihir yang mengelabui penglihatan mata normal. Sejak masa pra-Islam, sihir selalu menjadi bagian dari budaya manusia, sehingga secara khusus Al-Qur’an melarangnya bagi umat Islam. Pada dasarnya manusia itu takut akan kematian, sehingga mudah sekali dipermainkan oleh berbagai hal yang mengancam jiwa atau bakal menyelamatkan nyawa.

Hasbunnalah wa ni’mal wakil, adalah totalitas keyakinan pada kekuasaan Allah, karena hanya Allah lah yang menguasai alam dan membentuk keteraturan tiada tara. Dia yang menciptakan ketiga mahluk utama: manusia, malaikat, dan jin, sehingga tiada kekuatan dari ketiganya yang bisa mendekati, apalagi menyamai. Syahdan, ketika Nabi Ibrahim as dilempar ke dalam kobaran api, ia mengucapkan, “Hasbunallah wa ni’mal wakil”, maka Allah pun menjadikan api yang panas itu dingin seketika. Dan Ibrahim pun tidak terbakar.

QS. Ali Imran 173-174 menyebutkan:”Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar dari) Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS Ali Imran: 173-174)

Bila ada Allah yang Maha Perkasa, mengapa pula manusia harus bergantung kepada mahluk lain? Tidak ada kesemuan dalam janji Allah, karena semua dalam kuasaNya. Semua akan nyata pada saatnya, sekalipun mungkin tidak sama persis seperti yang kita inginkan. Di sisi lain, murka Allah juga nyata, dan tidak ada sepotong kekuatanpun yang mampu menghalanginya. Syukur bila Allah hanya menegur, bukan mengazab, sebab azab Allah sungguh pedih. Selalu lah berharap Allah akan menurunkan cobaan saja kepada kita, karena cobaan Allah sebatas kemampuan kita saja. Tiap cobaan akan menghapuskan sekeping dosa kita, dan semua cobaan bertujuan memperkuat akidah kita.

Cukuplah bagiku Allah, pernyataan sederhana yang tidak berat tapi bisa menjadi berat bila kita tidak mengimaninya. Bila sebagai muslim kita mengucapkan syahadatain, seharusnya kita yakin bahwa memang cukuplah Allah yang menjadi pelindung kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: