Musafir Qolbu

Pada dasarnya, kita ini adalah mahluk berakal yang berjalan dalam dimensi-dimensi. Manusia dengan segala kelengkapannya adalah salah satu komponen alam yang memastikan alam bergerak, berubah, dan berkembang. Sebagai orang, kita ini adalah musafir … orang yang berjalan menuju sebuah tempat. Sebenarnya Allah menyediakan dan menjanjikan tempat yang mulia, namun tidak banyak orang yang berhasil mencapainya. Justru kebanyakan dari kita (bahkan mungkin termasuk saya sendiri) akan terpuruk ke tempat yang buruk.

Janji Allah adalah surga, ancaman Allah adalah neraka. Bila kita adalah orang Islam, surga adalah keniscayaan, namun apa yang kita lakukan di muka bumi bakal menentukan berapa lama kita perlu mencuci segala debu dosa sebelum layak menggapai nur jannah. Langkah kita sebagai musafir, insan yang mengarungi berbagai waktu, tempat, dan pengalaman, menjadi sahabat kita di padang mahsyar kelak. Kita semua adalah musafir yang harus berjuang, karena dalam perjalanan semua hal bisa terjadi, banyak rintangan dan godaan yang bakal menghadang.

Manusia adalah penciptaan Allah yang terbaik, dan dimuliakan olehNya sejak terciptanya Adam a.s. Allah Yang Maha Suci telah menetapkan nash-Nya: manusia adalah mahluk yang bertugas menjadi khalifah di bumi, bukan malaikat dan jin yang usianya lebih tua. Kenapa? Jangan tanya, karena itu adalah urusan Allah semata. Yang perlu kita ketahui hanyalah: Allah tidak akan menciptakan apapun secara sia-sia. Yang baik menurut manusia belum tentu tidak memuat ujian; sementara yang pahit bukan mustahil menyimpan hikmah tiada tara. Manusia hanya perlu bersabar dan belajar. Khalifah di muka bumi adalah menjadi pemimpin bagi mahluk lainnya, dan segala mahluk hidup yang berjalan dan melata harus tunduk takut padanya. Itulah kenyataan yang terjadi, binatang besar-kecil, pepohonan raksasa dan perdu, mineral di permukaan dan perut bumi, semuanya bersujud pada manusia – menyerahkan yang terbaik dari diri mereka untuk kesejahteraan manusia.

Sebenarnya sudah siapkah manusia menjadi khalifah di muka bumi?

Sebagai khalifah manusia adalah penguasa, namun harus kita sadari bahwa kekuasaan khalifah bukan tidak terbatas, sekalipun mereka ingin seperti itu, sebab Allah juga telah menetapkan hukum alam yang tidak memungkinkan seorang penguasa menjadi adikuasa. Selalu ada sebuah lubang yang memungkinkan dirinya menjadi lemah dan tidak berkuasa lagi. Lubang itu tidak akan jauh dari tiga hal ini:

  • Bila dia terlalu gila dengan harta, maka isi dunia akan seperti air laut – semakin diminum akan membuat kehausan yang lebih menyengsarakan. Tidak ada yang bisa memuaskan dirinya selain harta yang lebih banyak, sekalipun ketika mati tidak ada sekeping harta dunia yang akan dibawanya ke alam baka.
  • Kalau tahta yang membuat matanya berbinar, puncak dunia yang akan membuatnya tersenyum. Saat sebuah jabatan diraih, tiba-tiba derajat itu berubah menjadi hanya sekeping titian tangga. Kalaupun jabatan tertinggi sudah diraih, masih ada tahta lain yang ingin diraihnya bila bisa.
  • Banyak perhiasan dunia yang indah namun yang terindah adalah wanita, dan Allah meninggikan kaum wanita yang mampu menjaga kehormatannya. Wanita seyiogyanya menjadi perhiasan bagi para suami dan para pelindungnya saja. Sayangnya, sebagian kaum wanita rela menjadi perhiasan bagi sembarang laki-laki, dan menjadi candu yang memabukkan bagi penikmat hasrat duniawi.

Manusia yang bisa mengemban amanah sebagai khalifah adalah mereka yang tidak silau oleh harta dan tahta dunia, serta godaan wanita; adalah mereka yang memasukkan harta, tahta, dan wanita sebagai bagian kehidupan wajar, dalam proporsi secukupnya, karena semuanya hanya titipan dan perhiasan yang bersifat fana.

Namun demikian, segala yang dimiliki dan menjadi amalan di muka bumi selaku khalifah tidak akan dibawanya ke liang kubur, menghadap Sang Khalik, kecuali kebaikan dari 3 hal yang direncanakan dan dilakukan di dunia.

  • Mengamalkan harta dunia, amal jariyah yang memungkin tiap jengkal amal menjadi amalan lain secara estafet, sehingga sebutir amalan akan berbuah puluhan amal lain di ujung sana. Amalan yang membuat orang lain menjadi lebih baik, lebih pandai, serta lebih bersyukur kepada Allah Swt.
  • Mengamalkan ilmu, membentuk kader dan generasi baru yang berguna, agar kebijakan kita tidak mati oleh umur bahkan kian semerbak seiring banyaknya orang yang melakukan ilmu yang kita miliki. Tiap ilmu yang terwariskan dengan baik akan memperoleh nilai di akhirat.
  • Membentuk karakter anak-anak, agar mereka tahu berterima kasih, mewarisi semua keluhuran budi kita, mengubur apa yang tidak baik, sehingga di masa depan anak-anak kita akan selalu mengingat dan mendoakan kita di alam barzah. Dengungan doa nak-anak yang saleh adalah bekal tiada putus di sana.

Hasbunallah wa ni’mal wakil wa ni’mal maula wa ni’man nashir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: