Archive for Mercusuar Pikir

TIDAK MAU MENGALAH

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on November 3, 2009 by hzulkarnain

Seorang anak lelaki disuruh ayahnya pergi ke kota untuk membeli tepung roti. Anak lelaki itu segera berangkat berjalan kaki. Jarak antara desa tempat tinggalnya dan kota cukup jauh juga. Di perjalanan ia harus melewati sebuah jembatan kecil.

Kini ia tiba di ujung jembatan kecil itu. Di seberang jalan ia melihat seorang anak lelaki lain yang berjalan ke arahnya. Mereka berdua sama-sama berjalan di jalur yang sama. Hingga tepat di tengah-tengah jembatan itu mereka saling berhadap-hadapan. Keduanya berhenti dan berpandangan. Anak lelaki itu berpikir, “Wah, kurang ajar sekali anak ini. Dia tidak mau mengalah dan memberikan jalan padaku.”

Di saat yang sama, anak lelaki lain itu berpikiran hal yang sama, “Seharusnya dia yang mengalah dan memberikan jalan padaku.”

Lama keduanya saling berdiri di tengah jembatan tanpa ada satu pun yang mau mengalah dan memberikan jalan. Keduanya sama-sama berpikir bahwa “Aku harus berteguh hati dan kuat pendirian.” Keduanya saling berpandangan tanpa ada satupun yang berbicara atau bergerak.

Siang pun tiba. Di rumah, ayah dari anak lelaki yang hendak pergi ke kota itu mulai cemas memikirkan mengapa anaknya belum juga kembali. Sang ayah lalu bergegas menyusul anaknya ke kota. Hingga akhirnya ia sampai di jembatan dan melihat ke dua anak lelaki itu saling berdiam dan berhadap-hadapan.

Sang ayah berteriak pada anak lelakinya, “Wahai anakku, mengapa engkau berdiri di situ?”

Anak lelakinya menjawab, “Anak lelaki ini menghalangi jalanku. Ia sama sekali tidak mau mengalah. Bagaimana aku bisa berjalan jika ia menutup jalanku?”

Sang ayah mulai kesal. Ia lalu berkata pada anaknya, “Sudahlah anakku, sebaiknya kau minggir dan segera pergi ke kota untuk membeli tepung. Biar ayahmu ini yang berdiri di sini menggantikanmu dan tidak memberikan jalan pada anak lelaki yang tidak tahu diri ini!”

(Kisah di atas saya temukan dari kiriman email sebuah milis yang saya ikuti, dan disebutkan asalnya adalah sebuah Chinese Wisdom)

Sekilas, kisah di atas seperti sebuah kelakar, namun bila kita amati lebih jauh betapa banyak kemiripan dengan pengalaman yang kita alami sehari-hari.

Secara harafiah, kita sering terbentur pada kondisi tanpa pilihan kecuali berhenti atau bahkan harus mundur, khususnya bila berkendara dengan roda 4 memasuki sebuah jalan kecil. Betapa sering kita harus memiringkan tubuh saat berpapasan dengan orang-orang di pasar atau di tempat umum karena lebar jalan yang tidak memungkinkan.

Akan akankah orang akan bertoleransi seperti memundurkan atau menepikan mobil, atau memiringkan badan, bila merasa kuat dan yakin akan menang? Belum tentu.

Kalau kita sempat memperhatikan bus atau truk di jalan raya, bagaimana sopirnya biasa berperilaku? Sudah bukan rahasia lagi bahwa, bus atau truk terbiasa “memakan” jalur berlawanan karena yakin sekali mobil lain yang lebih kecil akan menepi. Seorang preman yang berbadan besar tidak akan menepi bila berpapasan dengan orang lain, karena ia meyakini lebih berkuasa dan tidak perlu mengalah, bahkan orang lain lah yang harus mengalah.

Mengalah bukan berarti kalah, dan kalah bukan berarti mengalah. Orang yang mengalah memiliki tujuan, sementara orang yang kalah adalah akibat fatal dari sebuah benturan yang tidak dimenangkan. Persamaannya, keduanya belum tentu gagal.

Mengalah bukan sifat alami manusia, karena ia tumbuh dari sebuah konsep yang bernama toleransi. Karena memiliki dan mengembangkan akal budi, manusia bisa mengalah sekalipun lebih kuat dan bisa menang. Binatang mengalah bukan karena toleransi tetapi karena yakin tidak akan menang bila melawan. Kalau badannya sama kuat mungkin binatang itu akan melawan. Negara demokrasi terbangun karena unsur toleransi dan mengalah untuk mencapai tujuan politik para pelakunya. Di kalangan politisi, mengalah untuk menang sudah menjadi bagian dari napas kehidupan sehari-hari.

Kita pernah mendengar konsep win-win solution, yang lebih kurang bermakna penyelesaian menang-menang. Apakah berarti sama-sama menang? Kenyataannya tidak demikian. Orang bisa menganggap dirinya menang bila mencapai tujuan, sekalipun tidak bisa mendominasi. Karena saling merelakan sebagian dari dominasi tersebut, kemudian orang bisa memperoleh hal yang diinginkannya. Jadi, di sebuah sisi kemenangan dalam win-win solution adalah aspek kalah atau mengalah.

Karena bukan sifat manusiawi, mengalah butuh latihan. Anak kecil yang sedang bermain bersama teman-temannya, pada awalnya tidak mengenal istilah mengalah. Kemauannya adalah dominan dan mendominasi. Mainannya tidak boleh dipinjam temannya tapi kalau pinjam harus diberi. Anak yang berusia lebih tua (sekalipun hanya beberapa bulan) dengan mudah akan mendominasi teman yang lebih muda. Di titik awal sosialisasi dengan teman-temannya inilah seharusnya anak dilatih untuk bertoleransi dan mengalah.

Tidak mengalah adalah membatu, seperti tembok. Karena tidak fleksibel, cara untuk melaluinya adalah dengan merobohkan atau melobanginya. Orang dengan pribadi yang seperti itu hanya mengundang orang untuk memusuhi, atau membuat orang berbalik karena tidak suka berhubungan.

Apakah dengan demikian banyak mengalah adalah hal yang utama? Tidak juga. Bagaimana pun, orang  menyukai karakter yang teguh hati. Keteguhan hati juga hal yang layak dipelajari dan diperjuangkan, karena hanya orang dengan keteguhan hatilah yang akan mampu mencapai tujuan. Kadangkala orang sukar membedakan sifat teguh hati dan keras kepala, karena di dalamnya sama-sama memuat unsur keinginan untuk unggul, tidak kalah, dan bertahan. Mungkin bedanya adalah dalam hal menyikapi tujuan yang sesungguhnya.

Bagi orang yang teguh hati, tujuan adalah fokus yang harus diraih – dengan cara terbaik yang bisa dipikirkannya. Kalau pun harus mengalahkan orang lain, mengesampingkan toleransi, dan tidak mau mengalah, itu semata-mata karena memang harus demikian bila ingin berhasil.

Bagi orang yang keras kepala, cara menjadi fokus di atas tujuan. Dominan, unggul, tidak kalah, adalah tujuan. Untuk apa? Tidak jelas. Karena tidak tahu alasan melakukannya, jelas orang tersebut akan mudah kehilangan arah, bahkan tidak akan pernah tahu bagaimana dia akan menyusahkan orang lain.

Betapa banyak orang yang telah kehilangan arah, tidak paham dengan tujuan hidupnya, tetapi bersikap dan berperilaku orang yang punya tujuan. Salah satu indikasinya adalah maraknya artis karbitan, politisi belum matang, jurnalis asal jadi, semuanya dikarenakan peluang dan kesempatan menjadi “orang” terbuka.

Di layar kaca, digambarkan betapa glamornya kehidupan seorang pesinetron atau penyanyi yang sudah jadi. Tetapi, orang tidak tahu betapa melelahkannya dan terkungkungnya kehidupan pribadi mereka, hanya agar memuaskan khalayak penggemar. Kejar tayang, shooting hingga dini hari, skedul roadshow, dsb. Mereka yang tidak pernah membayangkan sulitnya kehidupan seorang artis, mungkin akan mengalami depresi dan memudar dengan cepat bila tak sanggup menahan tekanan seperti itu.

Satu dasawarsa ini adalah era kebangkitan kaum politisi. Bahkan dalam pemilu legislatif yang terakhir, begitu banyak kaum muda yang ingin masuk ke gedung dewan sekalipun rentang mereka masuk ke kancah politik mungkin baru seumur jagung. Kalau kita tengok beberapa surat kabar yang mengetengahkan berita tentang anggota dewan yang harus berurusan dengan polisi, bahkan sudah masuk penjara, sebenarnya kita harus maklum bahwa godaan uang yang tidak halal menjadi bagian dari keseharian anggota dewan. Hanya mereka yang cukup matang lah yang mampu menahan godaan sesaat ilusi kenikmatan uang.

Intinya, tanpa tujuan, hidup yang kita jalani hanyalah keindahan kembangan saja. Seorang perempuan yang ingin bekerja, hanya karena sayang dengan ijazah S-1 nya, seharusnya berpikir ulang. Impian menjadi pegawai negeri adalah ilusi, karena di sana akan ada harapan pensiun sementara pekerjaan hariannya tidak memeras keringat. Padahal, ulama yang menyitir hadits menjelaskan bahwa, dari 10 jalan rizki 9 di antaranya adalah perniagaan. Bila Rasulullah sudah menyatakan demikian, itulah yang seharusnya menjadi buah pikiran kita.

Bukan pegawai kantoran yang mudah menunaikan rukun Islam ke-5 yakni berhaji, melainkan mereka yang kehidupannya justru dalam perniagaan. Seorang pegawai tidak akan kaya, kecuali dia mau bekerja sampingan dengan berniaga.

Semoga kita senantiasa menjadi hamba Tuhan yang berpikir dengan hati dan menimbang dengan nurani. Dengan demikian, kita tidak sekedar ikut-ikutan melainkan dengan mantap mengikuti tujuan yang kita tetapkan sendiri.

Milestone bagi Bangsa

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on October 28, 2009 by hzulkarnain

Catatan Akhir Oktober 2009

Setelah bulan lalu umat Islam menandai kalender dengan tanggal merah Idul Fitri, pada akhir September bangsa ini menerima pertanda merah dari alam dengan guncangan lebih dari 7 skala Richter – tepatnya di sekitar kota Padang. Akibatnya, sepanjang awal Oktober ini bangsa Indonesia disibukkan oleh penyaluran bantuan moril, materiil, langsung maupun tidak.

Seperti sebuah ledakan di dalam (implosion) yang dahsyat, gempa tektonik Sumatera Barat tersebut merontokkan berbagai bangunan besar dan kecil tanpa ampun, dan karena terjadi pada jam-jam sibuk, semua orang yang sedang beraktivitas di dalam gedung langsung terjebak di dalamnya. Sebagian bisa diselamatkan, tetapi masih tidak terhitung yang hilang dan mungkin tidak pernah diketemukan lagi di bawah puing-ping.

Sedikit ke luar kota Padang, sebuah desa kelihatan mengenaskan – dan mengerikan – karena nyaris tergusur bukit yang longsor. Penduduk desa yang tersisa seperti berada dalam mimpi buruk, karena mungkin hampir semua kerabatnya mati seketika dan dirinya sebatang kara dalam sekejap. Di luar radius terdekat dari Padang, guncangan seperti tidak terlalu memberikan dampak yang terlalu signifikan. Bukit Tinggi, Tebing Tinggi, dan daerah lain yang cukup jauh dari Padang tidak menerima dampak yang terlalu signifikan.

Solidaritas rakyat Indonesia diuji lagi, dan tampaknya dorongan untuk bersedekah kepada saudara sebangsa yang sedang kesusahan masih sangat menonjol. Penggalangan oleh stasiun televisi (on air maupun off air), media massa cetak, radio, dan berbagai lembaga kemanusiaan lain secara berjamaan berhasil mengumpulkan ratusan milyar rupiah untuk menolong korban gempa Sumbar tersebut.

Catatan lain di bulan ini adalah pelantikan Presiden terpilih 2009 – 2014 Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Boediono, serta pemilihan anggota kabinet pemerintahan. Seperti diduga banyak pengamat politik, partai yang mendukung SBY dalam Pemilu Presiden memperoleh jatah menteri di pos-pos yang diduga maupun tidak. Kaum teknokrat yang handal masih dipertahankan, termasuk ekonom kelas dunia Mari Elka Pangestu dan pemikir ekonomi yang tidak membosankan dilihat Sri Mulyani. Muh. Nuh, mantan Menkominfo yang pernah menjabat sebagai Rektor ITS Surabaya, dan dalam kinerjanya sebagai menteri membuat kementrian yang dipimpinnya tidak lagi dipandang sebelah mata, digeser menempati posisi yang lebih prestisius: Menteri Pendidikan Nasional.

Yang menarik adalah lengsernya Siti Fadillah Supari dari jabatan Menteri Kesehatan, sekalipun sebelumnya banyak yang meyakini dia akan dipertahankan SBY – karena kinerja positifnya dan kemampuannya berdiri dengan lantang membela hak-hak negara dunia ketiga atas virus yang diambil dari negara-negara ini. Ia berseteru dengan NAMRU dari AS yang diketahuinya sudah tidak mempunyai izin beroperasi di Indonesia. Menjadi jauh lebih menarik ketika ternyata SBY justru mengangkat Endang Rahayu Sedyaningsih yang pernah diangkat dan dimutasikan dari jabatan peneliti utama di Depkes, dan dikenal dekat dengan NAMRU.

Tak ubahnya seperti berita gosip ala selebritis, kondisi ini terus menerus menjadi bahan berita media televisi dalam negeri. Baik mantan Menkes maupun pejabat baru sama-sama diwawancarai untuk menemukan titik temu, namun lagi-lagi keesokan harinya muncul berita serupa yang bermuatan sama sekali sama. Bahkan lebih keji, kemudian disebutkan bahwa Menkes kita ini dulu pernah menyelundupkan virus ke luar negeri. Benar-benar sebuah pelintiran, benar-benar penguasaan power atas kata yang abusive.

Belum lagi bergerak, sebuah isu baru menerpa dari kalangan kabinet, yakni pemikiran (atau permintaan – kurang jelas) bahwa gaji para menteri yang akan bekerja ini dinaikkan. Kontan berbagai komentar bermunculan dari petinggi partai yang berkiprah di DPR, dan tentu saja mayoritas menilai bahwa para menteri itu keterlaluan dan tidak sensitif. Padahal, kalau dipikir lebih jauh, para menteri tersebut jumlahnya hanya sekitar 30 – 40 orang, membantu Presiden mengurusi 200 jutaan penduduk Indonesia. Rasanya siapapun mereka, dengan kesibukan 24 jam seperti itu, cukup pantas menerima penghargaan gaji yang besar. Kita harus ingat, bahwa sekarang bukan jaman Orde Baru yang penuh dengan kebocoran. Para Menteri harus bergaji tinggi agar mereka kecukupan dan tidak berpikir aneh-aneh tentang jabatan mereka. Presiden sudah berjanji dan sudah memulai langkah pemberantasan korupsi, karenanya tidak layak bila kita meragukan komitmen figur yang telah kita pilih untuk memimpin bangsa ini selama 5 tahun ke depan.

Di akhir Oktober, bertepatan dengan dua pekan pertama bulan Dzulqo’dah, jamaah calon haji Indonesia mulai memadati asrama haji untuk secara bertahap diberangkatkan ke tanah suci Mekkah. Isu pemondokan dan transportasi masih mengemuka, namun menteri agama yang baru dan segenap jajaran yang megurusi haji telah berjanji untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada kafilah yang sampai di sana. Memang mungkin tidak mudah, tetapi semua selalu ada waktu dan caranya. Kita yang belum berkesempatan untuk pergi menunaikan rukun Islam yang ke-lima itu hanya bisa berharap semoga mereka pulang kembali ke tanah air sebagai haji-haji yang mabrur. Amin.

Sebuah catatan penting juga adalah kian senyapnya gaung peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang jatuh pula di bulan ini. Pertanyaan yang kemudian lazim terlontar adalah, apakah gerakan yang menjadi cikal bakal kebangkitan pemuda Indonesia ini akan semakin kehilangan makna?

Beberapa hari yang lalu, masih di seputar saat pelantikan anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, KNPI Maluku menggagas unjuk rasa yang berakhir ricuh karena secara kesukuan mereka merasa dianak tirikan. Pelopor unjuk rasa mengatakan, propinsi lain bisa menempatkan 2 hingga 3 menteri di kabinet, tetapi mengapa tidak ada satupun putra Maluku yang diangkat jadi menteri. Saya yakin, kecemburuan tersebut dipicu naiknya beberapa nama yang berasal dari Sulawesi ke jajara menteri.

Nasionalisme adalah harga mati untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa, karenanya layaklah bila semangat tersebut senantiasa dikobarkan. Mungkin Kementrian Pemuda dan Olahraga perlu menjadi katalisator dan fasilitator bangkitnya semangat nasionalisme ala awal abad XX silam tersebut. Semoga kesempitan dalam berpikir tidak menghambat bara nasionalisme di hati kita.

Orang yang Cerdas, Orang yang Mengingat Mati

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on October 5, 2009 by hzulkarnain

Pada hari Jumat minggu lalu, saya membaca sebuah pikiran yang menarik dalam buletin Jumat Al-Qalam. Judulnya pun cukup menggelitik: Mengingat Negeri Akhirat.

Di sekitar 1 Syawal tahun ini, begitu banyak kejadian yang mencoba menggugah kesadaran kita akan kematian, yang merupakan sebuah keniscayaan. Pada minggu terakhir ramadhan, seorang teman yang sedang beristirahat di klinik perusahaan karena sejak pagi merasa tak enak badan, tiba-tiba meninggal saat dalam kondisi berpuasa. Di media massa, elektronik dan cetak, diberitakan berbagai tragedi kecelakaan yang menghapuskan ratusan nyawa dalam ribuan kejadian kecelakaan – hanya sekitar 1 Syawal saja. Yang paling baru, pagi ini ada kabar seorang karyawan perusahaan sebelah meninggal di tempat kejadian akibat kecelakaan lalin. Konon, melibatkan sebuah truk. Suami korban tidak banyak menderita luka fisik, tetapi korban yang di boncengan justru fatal. Kejadian inilah yang menggugah saya menuliskan pikiran saya terkait dengan isi buletin Jumat minggu lalu tersebut.

qanaah - ikhlas menjalani hidup dengan takwa

qanaah - ikhlas menjalani hidup dengan takwa

Setiap kematian selalu meninggalkan duka, khususnya bagi yang ditinggalkan. Tangisan yang mengiringi kepergian sang mayit ke alam barzah, sejatinya adalah tangisan untuk diri sendiri. Sang mayit sudah putus hubungan dengan dunia, namun kepergiannya membuat orang-orang yang ditinggalkan harus mencari penyesuaian diri – dan kadangkala hal itu sungguh sulit. Istri yang ditinggalkan suami, anak yang ditinggalkan ayah, anak yang ditinggalkan ibu, kematian anak laki-laki sulung tulang punggung keluarga, dsb. Bandingkan dengan orang yang tidak punya ikatan emosional dengan si mayit – berduka mungkin tetapi meratapi tidak.

Kematian adalah kepastian, hanya waktunya yang tidak pernah pasti pada tiap-tiap orang. Tugas manusia, khususnya mereka yang berkeluarga, adalah mempersiapkan mental dan materi bagi mereka yang ditinggalkan serta mempersiapkan bekal spiritual untuk dijadikan teman perjalanan ke alam barzah. Memang Allah Maha Kuasa dalam merawat tiap manusia sepeninggal tulang punggung keluarga, namun membentuk masa depan anak, serta mempersiapkan mereka untuk menjadi orang yang lebih baik. Kepahitan yang dirasakan atas sebuah kematian merupakan hal yang wajar, namun Islam juga melarang orang untuk meratap. Ratapan yang berlebihan seperti hendak menunjukkan bahwa kita – yang manusia serba tak sempurna ini – tak rela pada garis ketentuan Allah, dan tidak meyakini bahwa Allah sanggup memelihara kita …

Dalam hadist Ibnu Majah, dikisahkan oleh Ibnu Umar ra, ketika sedang duduk bersama Rasulullah Saw ada seorang Ashar yang bertanya pada beliau:

-         Wahai Rasulullah, mukmin yang seperti apakah yang paling utama?

-         Yang paling baik akhlaknya.

-         Mukmin seperti apakah yang paling cerdas?

-         Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, merekalah ornag-orang yang cerdas.

Para ulama berkata: Sabda rasulullah Saw yang berbunyi “Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)” merupakan kalimat ringkas yang menggabungkan peringatan dan nasihat. Maka, orang-orang yang teringat kematian dengan sebenarnya pasti akan mengurangi nikmatnya keindahan dunia yang dia rasakan, dan menghalanginya untuk berangan-angan yang tak berujung, serta membuat dia bersikap zuhud terhadap kenikmatan dunia yang semu.

Barang siapa yang suka mengingat hal kematian, akan diberikan kemuliaan dengan 3 perkara: segera bertobat, hati yang bersifat qonaah, dan rajin dalam beribadah. Sebaliknya, mereka yang melupakan datangnya kematian, akan disiksa dengan 3 perkara: menunda-nunda tobat, tidak ridha dengan menahan diri, dan malas dalam beribadah.

Urusan manusia di dunia selesai ketika ajal menjemputnya. Semua hal yang belum dilaksanakan di dunia tidak bisa lagi diulang. Begitu juga semua keburukan yang telah dilakukannya. Hanya ada 3 hal yang akan membantunya nanti di alam barzah yakni: amal jariyah, ilmu yang manfaat, dan doa anak yang soleh. Sekurangnya, inilah yang perlu dipersiapkan manusia sebelum mereka mati. Sayangnya, ketiga hal inipun tidak mudah diraih, tanpa kesadaran penuh bahwa ketiganya teramat penting sebagai bekal spiritual ke alam selanjutnya.

Betapa banyak dari kita yang enggan memakmurkan masjid, dan tidak suka menanamkan sedekah yang terus menerus dimanfaatkan orang untuk beribadah. Ilmu yang dimiliki justru dipergunakan untuk mengeruk keuntungan, tanpa memperdulikan halal-haram. Akhirnya, Allah menguji dengan pasangan yang mandul, bermasalah dengan kandungan, dan sulit memperoleh anak. Akan tetapi, hal itu tidak menggerakkannya untuk menyantuni anak-anak yatim.

Mengingat hal kematian adalah bersegera memohon ampunan, merapatkan jarak antara sholat dengan memperbanyak sholat sunah. Lapang dan ridha adalah dua kata untuk menggambarkan hati orang yang qonaah, menyerahkan semua urusan sulit pada Allah setelah mengupayakan solusi, dan berprasangka baik kepada Allah dengan ketawakalan sepenuhnya. Esensi bersyukur adalah banyak-banyak melaksanakan perintah dan menjauhi segala yang dilarang oleh agama, dan agar yakin pokok panduan dalam hidup hanyalah firman Allah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasulnya (hadist).

Tidak ada manusia yang sempurna, dan dilahirkan dalam kesempurnaan. Seorang yang maksum seperti Rasulullah pun selalu belajar dan memperbaiki diri, apalagi kita yang hanya manusia biasa – tempat khilaf dan keliru. Artinya, bila sekarang kita keliru, itu manusiawi – tetapi sudah pada tempatnya lah kita mencoba terus memperbaikinya dan selalu menjadi lebih baik. Nikmat dunia ini sungguh menghanyutkan, dan manusia sungguh cepat terbuai di dalamnya, meskipun sebenarnya semuanya semu. Yang kita lihat gemerlapan di dunia ini, tidak akan ada nilainya kelak di padang mahsyar … karena kita kembali menjadi tanah tidak membawa apapun selain amal perbuatan dan ketakwaan yang kita benihkan di dunia.

Mari kita bertanya pada diri sendiri, termasuk dalam golongan manakah kita? Orang yang diberi kemuliaan dengan 3 perkara: ingin segera bertobat, hati yang qona’ah (menerima apa yang dimiliki dengan ikhlas), dan tekun beribadah – atau sebaliknya, ingin bertobat tetapi tidak merasa perlu sekarang (menunda-nunda), ingin mereguk nikmat dunia terus menerus, dan tidak merasa perlu bersujud kepada Allah Swt?

Dunia adalah ladang menanam benih. Marilah kita menanam benih yang benar dengan cara yang benar, agar kelak yang kita tuai adalah kebaikan dan kemuliaan. Amin.