Archive for Mercusuar Kata

Mari Berpuasa ….

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on August 23, 2009 by hzulkarnain

Tanggal 22 Agustus 2009, secara serentak kaum Muslim negeri ini seharusnya mulai berpuasa, seiring dengan masuknya bulan Ramadhan. Memang ada beberapa anomali yang tidak terhindarkan, misalnya beberapa aliran yang berpayungkan Islam ternyata memilih untuk berbeda. Katakanlah tharikat naqsabandiyah di Sumatera Barat yang berlandaskan ajaran sufisme, ternyata memulai dua hari lebih awal. Anomali lain adalah kelompok orang Islam (paling tidak KTP-nya berbunyi seperti itu) yang menganggap bulan Ramadhan sama dengan bulan lain, tidak lebih – bedanya hanyalah mereka jadi tidak bebas untuk makan di siang hari.

Adanya orang yang tidak berpuasa karena tidak menganggap penting berpuasa di bulan Ramadhan dari masa ke masa ini seolah-olah sudah menjadi garis kodrat manusia, sehingga firman Allah dalam Al-Baqarah 183 pun menyebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Yang diseru adalah “yaa ayyuhalladzina aamanu” bukan “yaa ayyuhannas” – hai orang yang beriman bukan hai manusia. Berpuasa adalah jalan orang yang beriman dan diserukan hanya kepada orang yang beriman, agar semakin mereka mendalami makna puasa, kian besarlah takwa dalam diri mereka.

Secara nyata, memang tidak semua orang suka (bahkan yang beragama Islam) dengan datangnya bulan puasa, karena berarti mereka harus berhenti melakukan berbagai hal yang secara nafsu mereka sukai: makan minum di siang hari dengan bebas, aktivitas syahwat yang menyimpang, dan suasana yang mendadak religius mau tak mau membuat kekangan, setidaknya perasaan yang tidak enak.

Kalau kita simak di layar televisi, menjelang bulan suci ini para Satpol Pamong Praja berkeliaran di tempat-tempat yang ditengarai menjadi basis kemaksiatan dan menertibkan mereka. Para PSK mau tak mau harus ikut berpuasa, karena lokasi mereka dipantau ketat. Tak kalah seru, Ormas yang mengatas namakan Islam seperti FPI juga merazia beberapa tempat yang dianggap sumber maksiat. Pokoknya, aparat pemerintah daerah dan ormas seperti berlomba menegakkan kedisiplinan dalam beribadah.

Puasa sebenarnya bukan monopoli orang Islam, karena sebelum Islam pun berpuasa sudah di-syariah-kan melalui Rasul sebelum Muhammad SAW. Puasa Dawud dan puasa di hari Asyura adalah contohnya. Sebelum di tetapkan hukumnya sebagai sunnah oleh Rasulullah SAW, orang-orang yang hidup di jaman Rasulullah (bahkan Rasulullah sendiri) juga berpuasa di hari Asyura. Pada intinya, dengan kenyataan bahwa puasa adalah tuntutanan agama sejak jaman dahulu, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya. Apalagi puasa di bulan Ramadhan sudah jelas dituliskan dalam Al Qur’an.

Teristimewa di Jawa, datangnya bulan puasa ini juga dimaknai dengan beberapa ritual dan adat yang tidak jelas asal-usulnya. Pertama, sebelum masuk Ramadhan berbagai makam tiba-tiba penuh dengan kerabat ahli kubur untuk “nyekar” (mungkin sekali di beberapa tempat lain juga demikian). Kemudian ada saling antar makanan antara tetangga, khususnya memberi antaran pada orang-orang tua atau yang dituakan. Setelah masuk bulan puasa, pikiran sudah meloncat jauh ke akhir bulan, saat Idul Fitri – karena di Jawa Idul Fitri identik dengan mudik dan perayaan keluarga besar. Beberapa orang yang menjelang bulan puasa belum “nyekar” juga menyempatkan diri untuk berziarah kubur.

Mudik yang masif sekarang sudah menjadi tradisi, adat kontemporer, baik bagi Muslim maupun non-Muslim, bagi Muslim yang khusyuk berpuasa maupun sama sekali tidak melaksanakannya. Tahun ini, dengan meningkatnya teknologi pemesanan tiket kereta, bahkan tiket bisnis dan eksekutif hingga hari H-5 sudah habis terjual ketika bulan puasa belum tiba.

Dengan masuknya bulan puasa, kita kemudian disuguhi acara televisi yang bernuansa ramadhan, dan pada jam sahur semua televisi swasta berlomba-lomba menyajikan konsep acara yang hampir sama dengan tahun lalu: humor dan kuis. Yang sedikit berbeda adalah sinetron Para Pencari Tuhan yang masuk tahun ketiga di SCTV, dan kelanjutan Tafsir Al-Misbah di Metro. Jadi, sambil bersantap sahur,  pemirsa bisa menentukan selera mereka.

Di atas segala apapun, ramadhan adalah biang segala bulan, bulan yang utama karena Allah sendiri yang memerintahkan puasa ini, bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk Allah sendiri. Allah juga yang akan membalas sendiri ketakwaan manusia dengan takaran yang dikehendakiNya. Berpuasa bisa dengan alasan apapun, termasuk semua khasiat dan manfaat yang dijelaskan oleh Rasulullah, tetapi boleh juga hanya mendasarkan diri pada prinsip tersebut di atas: puasa kita ini hanya untuk Allah. Semakin ikhlas kita melaksanakannya, semakin ringan rasanya. Mereka yang berpuasa dengan pamrih karena manusia lain, akan merasakan beratnya puasa ini.

Semoga Allah senantiasa menjaga puasa kita yang dilakukan hanya untuk mencari ridlo Allah semata, dari semua gangguan dan godaan duniawi maupun syetan yang terkutuk.

SELAMAT MELAKSANAKAN IBADAH PUASA.

May Day

Posted in Sharing with tags , on May 4, 2009 by hzulkarnain

Catatan tentang Perburuhan Indonesia- 1 Mei 2009

Sebelum orde baru, dalam pengaruh politik komunisme yang kuat, buruh dan tani adalah posisi rakyat kebanyakan yang mempunyai kekuatan bila dipersatukan. Indonesia pernah dipengaruhi komunisme ala Uni Soviet (tahun 50-an) dan RRT (tahun 60-an). Mungkin karena kondisi di Tiongkok saat itu lebih mendekati kultur demografi Indonesia, komunisme ala RRT lebih diterima. Tiongkok bukan cuma punya buruh pabrik, tetapi juga petani yang jumlahnya ratusan juta orang. Menjelang keruntuhan komunisme di Indonesia, bahkan sudah muncul gagasan unutk mempersenjatai Angkatan ke-5, Buruh dan Tani. Pada masa itu, kaum komunis benar-benar ingin mengendalikan militer, dan menyingkirkan kaum agama dan nasionalis.

Pada era orde baru, yang menggantikan orde sebelumnya yang dekat dengan komunisme, buruh lebih dikendalikan, tidak boleh lagi menyebut diri dengan “buruh” tetapi “pekerja”, dan diwadahi dalam sebuah wadah tunggal yang bernama SPSI. Kontrol militer cukup ketat pada pergerakan buruh ini, apalagi ada undang-undang tentang subversi yang tidak mensyaratkan pemeriksaan normal seperti halnya tindakan kriminal lainnya, sehingga dalam menyuarakan ketidak puasan buruh tidak berani berbuat lebih besar daripada sekedar memberikan usulan kepada Manajemen.

Dinamika perburuhan seperti sebuah panggung Srimulat yang besar, penuh lelucon, improvisasi, kebebasan memainkan properti panggung, namun batas-batas permainan sudah diketahui benar oleh sang sutradara. Presiden bisa tidur nyenyak tanpa perlu memikirkan unjuk rasa buruh. Bila terjadi sedikit kondisi di luar plot yang tersedia, ada pelakon yang terlalu antusias berimprovisasi, sedikit treatment diberikan. Yang bisa bermain cantik dan punya jaringan, mungkin bisa selamat dan punya usaha sendiri dengan fasilitas pemerintah. Sebaliknya, yang tidak mampu berpikir panjang, sulit berimprovisasi dengan cantik, apalagi tidak punya jaringan, bisa saja hilang dari muka bumi begitu saja.

Kaum tani punya masa bulan madu tersendiri selama orde baru, karena sang Presiden yang dikenal sebagai petani ketika masih muda, memberikan perhatian yang besar. Bukan sekedar jargon, Presiden Indonesia kala itu memang menguasai situasi peranian nyata di tanah air. Pembinaan pertanian luar biasa bagus, dan TVRI sebagai badan milik pemerintah sangat membantu suksesnya pertanian di berbagai daerah. Karena itulah, kaum tani di Indonesia tidak merasa perlu melakukan unjuk rasa pada pemerintah.

 

Semangat!

Semangat!

Peristilahan buruh muncul lagi setelah orde baru tumbang, tatkala euforia kebebasan mengemuka. Gerakan-gerakan yang mengatas namakan buruh turut muncul, hingga yang berbentuk partai politik. Mungkin hal tersebut bisa sedikit dimaklumi, karena pada tahun 2000 muncul sebuah Keputusan Menteri yang pro-buruh dan memperoleh tentangan keras dari pihak pengusaha. Pengusaha menuding, Kepmen 150/2000 tersebut membuat investor asing enggan masuk ke Indonesia. Poin paling pentingnya adalah adanya keharusan bagi pengusaha untuk menghitung uang jasa bagi mereka yang mengundurkan diri baik-baik. Setelah 3 tahun bertarung, Megawati yang saat itu menjabat sebagai presiden menanda tangani UU ketenagakerjaan yang lebih balance, tetapi ditentang oleh buruh. Selain karena tidak lebih baik daripada kepmen yang digusur, juga disebabkan dilegalkannya praktik outsourcing (alih daya) di perusahaan.

 

Sejak bergulirnya reformasi, tanggal 1 Mei yang diperingati sebagai hari buruh sedunia atau May Day selalu diperingati oleh sementara aktivis perburuhan. Setiap kali peringatan May Day digelar, agenda tentangan terhadap outsourcing dan tenaga kontrak (perjanjian kerja waktu tertentu) selalu disuarakan, karena praktik ini dianggap sebagai biang keladi pemiskinan buruh di Indonesia.

Entah karena tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, para aktivis perburuhan tersebut seolah-olah ingin memutar roda jaman kembali ke romantisme masa lalu, ketika raksasa konglomerasi besar berkuasa. Pertamina, PLN, Astra, dan berbagai nama besar lokal pernah berkibar di muka bumi Indonesia sebagai kekuatan ekonomi yang mengagumkan. Waktu bergerak, jaman berubah, dan kondisi pasca orde baru yang datang seiring dengan globalisasi mau tidak mau memaksa Indonesia berada di persimpangan jalan. Tekanan internal dan eksternal menyebabkan pemimpin bangsa menetapkan masuknya Indonesia ke ajang pasar bebas.

Wacana pertama dalam era pasar bebas ini adalah outsourcing. Agar efisien dan lebih lincah dalam menarik laba, perusahaan harus ramping sekaligus ahli dalam core business-nya. Urusan lain yang tidak langsung terkait diserahkan pada perusahaan lain yang ahli di bidang tersebut: kebersihan kantor, ekspedisi surat, sekuriti, customer service, transportasi, dsb. Sebuah perusahaan industri petrokimia, mungkin hanya perlu fokus pada pembuatan bahan kimia, sementara urusan yang tidak langsung terkait dengan produksi, engineering, dan perawatan di serahkan pada perusahaan pengelola sekuriti, armada transportasi, kebersihan, dsb. Memang benar bahwa, tenaga yang diserap langsung oleh perusahaan petrokimia tersebut lebih sedikit, karena hanya mereka yang punya keahlian khusus yang dibutuhkan industri tersebut. Di sisi lain, munculnya berbagai perusahaan kecil yang menerima porsi kerja di luar bisnis utama membuka peluang kerja yang lebih luas pada lebih banyak buruh dengan ketrampilan minimum – yang pada kenyataannya adalah mayoritas di Indonesia ini.

Secara umum, outsourcing yang dikenal di Indonesia terbagi atas dua kelompok:

  1. pemborongan pekerjaan
  2. suplai tenaga kerja ke perusahaan lain

Dalam pemborongan, perusahaan alih daya dan pemberi kerja menanda tangani sebuah nilai kontrak, yang dibayarkan pada saat pekerjaan berakhir, tanpa perlu melihat lagi bagaimana nilai tersebut dibagikan di antara pelaksana borongan.

Dalam suplai tenaga kerja, perusahaan alih daya mengirimkan orang dengan kualifikasi yang dibutuhkan pemberi kerja dengan standar gaji yang disepakati. Perusahaan alih daya menerima management fee untuk mengelola tenaga kerja kontrak seperti ini.

Berusaha membalikkan waktu, dengan protes dan usul supaya outsourcing dan kontrak kerja sementra dihapus dari praktik industri di Indonesia – sejujurnya – tidak produktif. Kita harus bercermin, seberapa kuat sebenarnya posisi tawar kita pada pasar tenaga kerja global. Seberapa bagus Bahasa Inggris kita untuk bersaing dengan tenaga kerja dari negara tetangga yang menggunakannya sebagai bahasa kedua (second language) dan bukan bahasa asing (foreign language), seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina. Kalaupun kita punya kemampuan teknis di atas orang-orang dari negara-negara tetangga tersebut, tetap saja mereka yang menjadi pilihan utama employer asing karena lebih kecil kemungkinan mis-komunikasi.

Salah seorang expatriate asing – berkebangsaan Kanada – pernah menilai, bahasa Inggris orang Indonesia bagus. Daya serap kita pada bahasa Inggris cukup kuat, dan logat kita jauh lebih mudah dipahami daripada, misalnya, orang Afrika. Tanpa perlu belajar formal, orang-orang Indonesia bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Tentu saja, jangan dibandingkan dengan orang Malaysia atau Singapura (apalagi India) yang bisa berbicara dengan fasihnya. Sayangnya, pendidikan formal di Indonesia belum lagi mengarah pada kompetensi bahasa asing di sekolah-sekolah. Akibatnya, sangat sedikit lulusan sekolah – bahkan perguruan tinggi – yang tidak bisa berbahasa Inggris dengan cukup baik.

Daripada menuntut sesuatu yang tidak mungkin terjadi – kecuali pemerintah bisa dikuasai orang-orang sosialis – bukankah lebih produktif bila kita mau melirik ke negara-negara Asia yang berpenduduk besar lainnya seperti India dan RRC. India dipercaya oleh raksasa industri di Amerika Serikat meng-outsourcing sebagian bisnis mereka. RRC menggerakkan industri outsourcing hingga ke tingkat home industry untuk menyokong industri besar mereka – seperti misalnya pembuatan gasket atau mur-baut untuk komponen industri otomotif. Jadi, bila dijalankan dengan benar, didukung oleh sistem yang benar, outsourcing bukanlah momok PHK yang menakutkan – justru sebaliknya, adalah peluang usaha yang luar biasa besarnya.

Yang kita perlukan sekarang adalah, menurut saya, adalah pemimpin bangsa yang tanggap dan mampu memikirkan kerangka masa depan industri Indonesia yang bersahabat dengan nasib buruh. Indonesia harus punya grand strategy agar bisa survive dalam persaingan usaha global. Bila Singapura adalah negara perdagangan, Thailand menjadi pusat perakitan otomotif, Malaysia dengan elektronik dan teknologi IT, Vietnam sebagai pusat industri berat, akan dibawa kemana Indonesia ini?

TUTWURI HANDAYANI

Posted in Biografi, Sharing with tags , on May 3, 2009 by hzulkarnain

Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani ….

Sebuah slogan dan motto yang telah menginspirasi gerakan pendidikan Indonesia, digagas oleh seorang ningrat dari Yogyakarta, yang seolah menanggalkan semua privilege sebagai bangsawan untuk mengabdikan kehidupannya bagi bangsa ini. Kalau nama RM Suwardi Suryaningrat tidak banyak dikenal, Ki Hajar Dewantara pasti lebih familiar di telinga orang Indonesia. Sebagai pengajar, beliau bertindak sebagaimana motto di atas: Di depan memberikan teladan, di tengah membangun motivasi, di belakang memberikan dukungan dengan segala upaya.

Beliau adalah seorang patriot sejak muda, dengan gaya perjuangannya sendiri. Tidak kenal menyerah, pemberani, dengan daya inisiatif yang mengagumkan. Tulisannya dalam koran De Expres tahun 1913 berjudul Als ik eens Nederlander was (Seandainya aku seorang Belanda) membuatnya diasingkan bersama pemilik koran tersebut yang juga sahabatnya Ernest Douwes Dekker dan sahabatnya yang lain Tjipto Mangoenkoesoemo. Tulisan yang membuat gerah kaum Belanda saat itu adalah (dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia): “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”.

Dalam pengasingan di Belanda inilah Suwardi Suryaningrat muda memperoleh gagasan untuk memajukan pendidikan di Indonesia, saat bergabung dengan para pelajar Indonesia di sana. Pemikiran-pemikiran pendidikan Barat serta pergerakan pendidikan India yang digerakkan oleh keluarga Tagore menginspirasinya dengan kuat. Setelah 5 – 6 tahun dalam pengasingan, Suwardi Suryaningrat kembali ke Indonesia dan mulai merintis pergerakan pendidikan dengan cara menjadi guru di sekolah binaan saudaranya. Pada tahun 1922, berbekal pengalaman mengajar, berdirilah Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Nama Ki Hajar Dewantara baru digunakannya saat berusia 40 tahun, tanpa embel-embel gelar kebangsawanan.

Nama Ki Hajar Dewantara, tak pelak lagi, menginspirasi pergerakan pendidikan di Indonesia. Sebagai menteri pengajaran, pendidikan, dan kebudayaan yang pertama. Beliau dikukuhkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia beberapa bulan setelah wafat tahun 1959.

Tahun ini, setelah sekitar 50 tahun sang pahlawan pendidikan pergi, bangsa ini masih terus bergulat untuk mencari model dan sistem pendidikan yang paling tepat. Tak dapat disangsikan, pendidikan selalu menempati urutan ke sekian dalam prioritas kepentingan nasional, sehingga bentuk dan mutu pendidikan di Indonesia tidak pernah jelas. Bahkan di era orde baru, dengan teganya penguasa menanamkan serangkaian kronologi sejarah yang bisa menyesatkan kaum muda, hanya demi pengkultusan individu penguasa.

 

salah satu model kelas

salah satu model kelas

Satu hal yang perlu kita syukuri adalah besarnya upaya pemerataan pendidikan dasar bagi generasi baru bangsa. Sejak masa orde baru, kita pernah mengenal istilah SD Inpres untuk menyebut sekolah-sekolah baru di wilayah pinggiran yang merupakan rintisan baru. Dewasa ini, pasca orde baru, jargon wajib belajar lebih didorong dengan peningkatan anggaran pendidikan. Hal yang seharusnya sudah dilakukan sejak dulu, karena bangsa ini bisa besar karena generasi muda yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.

 

Setelah keruntuhan orde baru, pendidikan di Indonesia tidak memiliki kiblat tertentu, karena memang pasar bebas juga telah merambah ke ranah pendidikan. Tidak ada lagi kewajiban penyeragaman, buku teks yang dipergunakan, hingga kurikulum. Memang, sekolah-sekolah negeri sudah pasti tidak terlalu jauh beranjak dari pakem pendidikan yang sudah dikonsepkan sejak awal. Sebaliknya, sekolah swasta terus melakukan revisi dan peningkatan agar tidak selalu berada di belakang institusi pendidikan yang didanai pemerintah. Pendidikan yang dikelola swasta menggeliat, karena tidak mau selalu dianggap “cadangan” bagi siswa yang tidak lulus tes sekolah negeri.

Dampaknya, di berbagai kota besar di Indonesia pendidikan semakin kompetitif, namun tentu saja bila mau biaya yang lebih ringan pilihan jatuh pada sekolah negeri. Di sisi lain, kesenjangan masih terjadi di tempat-tempat yang jauh dari kota-kota besar, karena kurangnya tenaga pendidik. Pendidikan masih dianggap sebelah mata, selain karena dianggap membebani juga tidak memberikan manfaat langsung. Sebagian masyarakat masih belum mampu menimbang pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Kisah novel Andrea Hirata bukan isapan jempol, sebab memang ada daerah yang sama sekali tidak memiliki guru, dan satu-satunya guru hanyalah lulusan sekolah dasar.

Peningkatan standar mutu pendidikan yang dicanangkan oleh menteri pendidikan memang sudah seharusnya dilakukan, agar pendidikan di Indonesia memiliki bobot yang standar. Bila tidak demikian, tidak akan ada penyetaraan pendidikan tinggi di negeri ini. Masalahnya, sistem pendidikan di Indonesia tampaknya belum sepenuhnya “kompatibel” dengan pencanangan standar nilai yang semakin lama semakin tinggi tersebut. Akibatnya, berbagai kecurangan masih terjadi dalam proses Ujian Nasional dengan tujuan kelulusan siswa.

Mahalnya biaya pendidikan di Indonesia semakin terasa, terlebih lagi pendidikan tingginya. Hal ini dikarenakan perguruan tinggi tidak lagi menerima subsidi dari pemerintah, dan harus mencari sumber dana sendiri – baik dari sumbangan pendidikan maupun dari kerjasama dengan perguruan tinggi di luar negeri. Tidak heran, banyak lulusan SMA yang langsung mencari bea siswa di luar negeri, dengan asumsi biaya sekolah bisa ditekan bila bersekolah di luar negeri (karena biaya pokok sudah ditanggung sponsor).

India sudah menemukan jati diri sistem pendidikannya lebih lama, dan di Asia negeri berpenduduk terpadat kedua di dunia itu sudah dipandang sebagai penantang bagi pasar tenaga kerja di Amerika dan Eropa. Banyak sekali pakar dan penulis buku manajemen dan teknik yang berasal dari negeri anak benua itu. Kemampuan mereka bahkan telah diapresiasi dengan sangat baik, sehingga raksasa IT seperti Microsoft meng-outsource-kan sebagian tugas pengembangan software pada anak-anak bangsa tersebut. Sebuah prestasi yang tentu saja sangat membanggakan.

Ironisnya, pendidikan di India termasuk yang paling murah di dunia. Dalam sebuah feature yang pernah di muat harian Jawa Pos sekian tahun lalu, disebutkan bahwa perguruan tinggi di India tidaklah glamor. Jangan tanya ruang ber-AC, perabotan modern, atau kelas asri yang enak dipandang mata. Semuanya efisien, seperti kelas-kelas di perguruan tinggi negeri di Indonesia sekian tahun silam. Akan tetapi, semua profesor dan doktor yang bertugas mengajar tidak pernah mewakilkannya pada asisten dosen. Bayangkan kondisi tersebut disertai dengan adanya buku-buku original dan murah terbitan Tata-McGraw-Hill, yang selalu update.

Saya selalu bermimpi, kita bisa mengembangkan sebuah sistem pendidikan yang efisien, komprehensif, dan yang paling penting mampu menghasilkan lulusan yang “terpakai” oleh dunia yang membutuhkannya: industri, profesi, sastra dan jurnalistik, dsb. Bekerja punya makna yang lebih luas daripada status pegawai negeri, pegawai swasta, buruh, dsb. Bekerja adalah mencari penghidupan dengan halal, dan sukses adalah hasil kerja keras karena memanfaatkan berbagai peluang usaha. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits: pintu rizki itu ada sepuluh, sementara sembilan di antaranya melalui perniagaan.

Semoga, kita sedang mengarah pada bentuk dan sistem pendidikan yang benar, yang terbaik untuk bangsa ini. Mungkin tidak seperti di Amerika atau Jepang, tidak persis seperti India, karena mungkin kita justru bisa menemukan jati diri kita sendiri.

Bangsaku, selamat merayakan Hari Pendidikan Nasional. Semoga semangat Bapak Pendidikan selalu menjadi ruh kemajuan pendidikan bangsa ini. Amin.