Archive for Mercusuar Insan

ANAKKU PENCURI?

Posted in Psikologi, Sharing with tags , on November 8, 2009 by hzulkarnain

Sepekan atau dua pekan berselang, seorang teman lama curhat tentang anaknya yang belum lama masuk SMP. Dia punya feeling yang tidak enak tentang anak tengahnya ini, yang kebetulan juga satu-satunya yang laki-laki. Dari ketiga anaknya, hanya anak kedua inilah yang belum dapat dipahaminya dengan sepenuhnya.

Teman saya itu (sebut saya Marta) bersama-sama dengan suaminya membuka dan mengelola apotek yang cukup sukses di sebuah kota di Jawa Timur. Ia bercerita, setiap hari selalu ada setoran berbilang puluhan juta di rumahnya yang akan disetorkan ke bank esok harinya. Uang tersebut tidak di simpan rapih di tempat terkunci, tetapi yang tahu perihal penyimpanannya hanya dirinya, suami, dan anak-anaknya. Seringkali, hitungan awalnya dengan saat hitungan petugas bank berselisih 2 hingga 4 lembar dalam satu ikatan uang. Pada awalnya ia hanya berpikir, mungkin dirinya yang salah hitung. Tentu saja, ia jadi malu bila ternyata bendelan uang yang disetorkannya tidak sejumlah yang dituliskan di slip setoran.

Ketika anak laki-lakinya itu dikhitan, plus saat Lebaran kemarin, sebagaimana lazimnya banyak angpao yang masuk ke sakunya. Semua angpao tersebut diserahkan kepada mamanya untuk disimpan. Jadi, Marta tahu persis berapa jumlah uang anaknya. Ia mengakui anaknya cenderung boros, misalnya beberapa kali mentraktir kakak dan adiknya es krim atau makanan lainnya. Ia juga suka komik dan mainan yang cukup punya harga (mobil-mobilan Hot Wheels misalnya).

Suatu pagi, Marta bersih-bersih kamar anaknya – kali  ini lebih dalam. Ketika membuka loker si anak, di sana didapatinya komik-komik serial yang mencapai puluhan jumlahnya, dan mainan yang tidak murah. Mobil-mobilan Hot Wheels, mobil Tamiya, dan jenis lainnya ada di sana. Ia menaksir nilainya pasti lebih dari 500 ribu rupiah. Dan yang lebih pasti,  sebagian besar bukan ia yang membelikannya.

Perlahan ia kumpulkan ingatan, dan dengan bantuan informasi dari anak-anaknya yang lain, Marta baru menyadari bahwa anaknya sering pulang membawa mainan atau komik baru. Bukan hanya sering, tapi hampir setiap hari.

Marta segera dilanda kebingungan, karena ia tidak ingin suaminya tahu persoalan ini. Adat suaminya yang keras dan keteguhan pada aturan agama membuatnya bisa memprediksi apa yang terjadi bila ia tahu anaknya telah menjelma menjadi pencuri kecil. Di sisi lain, ia tidak tahu harus berbuat apa…..

Puncaknya, siang itu saat anaknya pulang sekolah, ia mendapati uang sebesar 350 ribu berada di dalam tasnya.

 

Tinjauan

child_stealing-cropMencuri – atau mengambil barang orang lain secara diam-diam (sekalipun itu adalah milik orang tuanya sendiri) – bukanlah perilaku natural seorang anak. Apalagi orang tua sudah melambari ajaran agama dan norma yang membedakan perilaku yang benar dan keliru. Dorongan untuk melakukan tindakan tersebut seringkali bukan murni didasari atas keinginan menguasai milik orang lain, melainkan hal lain yang tidak terkait langsung dengan esensi mencuri.

Misalnya, seorang anak yang mendapati teman-temannya memiliki mainan yang mahal dan bergengsi, akan berkecenderungan untuk memiliki hal serupa. Kalau akses untuk mendapatkannya dengan cara normal tidak ada, ia akan mencoba cara apapun. Tujuan akhir dari memiliki benda tersebut bukan sekedar kepuasan, melainkan juga pada harga diri di mata teman-teman yang lain.

Oleh karena itulah, saran saya pada Marta adalah mengenali teman-teman anaknya. Langsung maupun tidak, lingkungan pergaulan mempengaruhi cara anak berpikir, bersikap, dan berperilaku. Orang tua memang selalu menjadi tempat anak kembali bila dalam masalah atau kesulitan, namun teman-temannya menjadi acuannya dalam berperilaku. Kalaupun orang tua pernah membentuk karakter anak, perannya akan tergeser oleh penerimaan teman sebaya.

Teman sebagai kelompok referensi ini bisa bersifat langsung maupun tidak. Berpengaruh langsung apabila anak menjadi anggota kelompok, tidak langsung bila anak hanya sebatas simpatisan. Sekalipun tidak langsung, menjadi sama atau setara dengan orang di dalam kelompok acuan adalah keinginan seorang anak. Standar perilaku yang ditetapkan kelompok tersebut menjadi acuan bagi anak-anak lain yang ingin dianggap seperti mereka. Misalnya, kalau ingin dianggap cool harus ikut trend permainan elektronik yang canggih, harus punya pakaian dengan model yang trendy, harus bisa mengikuti arus pembicaraan soal tokoh kartun Ben10, dsb.

Saat anak menjadikan kelompok acuan sebagai referensi perilaku, sebenarnya tidak ada kaitan secara langsung dengan munculnya perilaku pencuri. Sebuah tindakan kriminal seperti itu terjadi bila ada kesempatan dan ada kemauan untuk melakukannya. Naasnya, karena sangat percaya pada anak-anaknya, Marta selama ini tidak pernah menyimpan uangnya dengan baik. Oleh karena itu, saya menyarankan padanya untuk membeli sebuah petty cash box sebagai media penyimpanan sementara.

Berangkat dari pengalaman pribadi dan pengamatan pada remaja pada umumnya, saya menyarankan Marta untuk mengajak bicara anaknya empat mata dari hati ke hati. Tanpa kehadiran orang lain, termasuk kakak dan adiknya. Dengan melakukan pendekatan personal, yang ditekan adalah hasrat untuk mencuri, sekalipun banyak kesempatan yang terjadi. Dalam kaidah transactional analysis, saat melakukan pendekatan personal orang tua diharapkan turun dari level parent ke level adult, sementara si anak naik dari level child ke level adult. Dengan demikian, pembicaraan menjadi setara.

Saya wanti-wantikan kepada Marta untuk menekan egonya sebagai orang tua, karena bila anak merasa tidak nyaman dengan perlakuan orang tua yang mengedepankan ego orang tua, saya khawatir anak akan menjadi defensif bahkan menutup diri. Sama dengan kita – orang dewasa yang melakukan kesalahan – bila dihadapi boss secara bossy (boss bermain di level ego orang tua dan kita diperlakukan sebagai ego anak) kita akan defensif dan mengelak. Beda dengan boss yang memperlakukan kita sebaga kolega yang keliru.

Saya pribadi selalu mencoba memperlakukan kenakalan atau ketidak patuhan anak sebagai kekeliruan, bukan kesalahan. Mungkin bagi orang lain keduanya punya makna yang sama, tetapi bagi saya tidak. Keliru adalah ketidak mampuan memahami norma kebenaran yang ditetapkan orang tua, sementara salah menunjukkan kegagalan mematuhi hal yang benar.  Karena itu, konsep keliru selalu saya terapkan pada individu yang sedang belajar, sementara salah terjadi pada individu yang gagal menempuh sebuah norma yang sudah disepakati bersama.

Untunglah, teman saya Marta sudah terbiasa berbicara dari hati ke hati kepada semua anaknya, memberikan wejangan setelah sholat Maghrib. Alhamdulillah, dia mencerna pesan saya dan berhasil mengajak anaknya bicara terbuka. Anaknya mengakui semua kekeliruannya, dan meminta maaf kepada ibunya.

Belakangan, Marta menceritakan bahwa anaknya mengeluh kepalanya pusing namun ia tidak mendeteksi adanya infeksi atau demam. Sebenarnya hal tersebut adalah gejala psikosomatis yang wajar pada individu yang mengalami stress karena kehilangan sesuatu yang disukainya.

 

Kesimpulan

Analogi mendidik anak adalah bagaikan memegang seekor burung di tangan. Kalau terlalu keras dia akan mati, kalau terlalu longgar dia akan lepas. Lebih pelik lagi, karena manusia memiliki akal budi, ia bisa membantah, berkilah, menipu, berpura-pura, dan mempermainkan emosi orang tuanya.

Orang tua yang menganggap anaknya adalah anak-anak, sekalipun si anak sudah di sekitar usia akil baligh, sebenarnya telah membuat kekeliruan. Sudah saatnya orang tua berhenti bicara – barang sebentar – dan mulai mendengarkan. Bukan sekedar mendengar (hear) tetapi mendengarkan (listen) – yang bermakna mendengar secara aktif. Bila orang tua tidak juga mau berhenti bicara, dan cenderung menguliahi anaknya, mereka akan semakin kehilangan pegangan pada si anak.

Secara umum, orang tua cenderung marah bila anaknya yang masih SMP pacaran. Si anak akan di sidang dan kata-kata klasik akan keluar: “Kamu tidak boleh pacaran, masih kecil, belum waktunya.” Padahal dulu, si orang tua ini waktu SMP juga curi-curi kesempatan untuk pacaran.

Menyukai lawan jenis adalah hormonal, dan wajar terjadi pada anak yang mulai akil baligh. Seringkali yang dimaksudkan dengan pacaran hanyalah menyukai saja, makan bakso bersama, duduk-duduk dan curhat-curhatan. Tidak lebih. Namun demikian, bila kondisi ini lebih intens, orang tua harus curiga bahwa ada saluran komunikasi yang terhambat di rumah. Akibatnya, anak mencoba mencari penyaluran di luar – di antaranya dengan berpacaran.

Membina generasi baru adalah tugas orang tua, dan anak yang sholeh dan mendoakan orang tua akan menjadi bekal di akhirat. Karena itulah, kita sebagai orang tua harus dengan cermat mengingat konsep ini.

Sang Menteri…

Posted in Sharing with tags on October 24, 2009 by hzulkarnain

Garuda1Seminggu terakhir ini – sejak hari Sabtu minggu lalu – adalah hari-hari yang melelahkan secara mental bagi beberapa politisi, teknokrat, dan team sukses SBY yang diproyeksikan sebagai menteri dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu II. Sedikit berbeda dengan era Orde Baru, calon menteri yang dipanggil dan diwawancarai oleh SBY dan Boediono ternyata tidak selalu dipastikan menjadi menteri.

Seperti biasa, kalau ada perhelatan seperti ini para komentator politik jadi laris di media massa elektronik maupun cetak. Bukan sekedar berkomentar, bahkan ada yang dengan nyinyir mencela pemilihan orang yang mereka anggap tidak kompeten di bidang yang akan ditempati para menteri baru tersebut. Mungkin benar bahwa posting menteri yang berasal dari partai politik koalisi Partai Demokrat memang cukup kental bernuansa politis dibandingkan pertimbangan profesional, akan tetapi pada kenyataannya Presiden juga tidak gegabah menempatkan personalia menteri yang akan membantunya.

Beberapa profesional tetap dipertahankan di posisinya semula, beberapa yang lain digeser ke kantor yang berbeda, pos “aman” diserahkan ke menteri dengan kapabilitas yang belum teruji, “ikan besar” di-posting ke posisi yang prestisius, dan seterusnya. Seperti itulah Presiden mengotak-atik sususan nama yang masuk ke kantongnya untuk menjadi barisan lengkap yang baik. Sebelum tanggal 22 malam yang menjadi hari penentuan, banyak spekulasi yang berterbangan di layar kaca, namun pada akhirnya cukup tepat. Pembaca dan pemirsa media massa mau tak mau megikuti perkembangan dari Cikeas.

Beberapa profesional senior tetap menempati posnya masing-masing, seperti Djoko Kirmato, Sri Mulyani, dan Mari Elka Pangestu. Yang hanya bergeser ke kantor lain, bisa disebutkan Hatta Radjasa, Fredi Numberi, Muhammad Nuh, dan Purnomo Yusgiantoro. Tokoh penting yang masuk dalam susunan baru di posisi cukup penting seperti Agung Laksono. Petinggi partai yang diberi posisi “aman” bisa disebutkan seperti Muhaimin Iskandar sebagai Menakertrans, dan Tifatul Sembiring sebagai Menkominfo. Profesional yang baru dimasukkan ke dalam jajaran kabinet juga ada, sebut saja Marty Natalegawa yang selama ini dikenal sebagai Dubes Indonesia untuk PBB. Sebuah nama yang sudah diumumkan menjadi calon menteri, tetapi kemudian ternyata tidak lulus fit & proper test adalah Nila Juwita A Moeloek, dokter spesialis mata yang digadang sebagai Menteri Kesehatan.

Sejumlah pengamat langsung bereaksi. Beberapa masih akan menunggu kelanjutan kinerja menteri yang ditunjuk Presiden, sementara yang lain langsung mengeluarkan nada minor atas beberapa nama. Yang paling eksplosif tampaknya adalah mantan Menkes Siti Fadillah Supari, yang ternyata tidak jadi digantikan oleh Nina Moeloek, karena penggantinya adalah orang yang pernah “dikotakkan”-nya sehubungan dengan kasus virus H5N1. Kabarnya, Endang Rahayu Sedyaningsih pernah membawa sampel flu burung ke Hanoi tanpa sepengetahuan Menkes, dan itu ditengarai berkaitan dengan keterlibatnnya pada NAMRU (Naval Medical Research Unit) milik Amerika. Jadi, pengangkatan Endang sebagai Menkes dianggap sementara pengamat sarat bermuatan kepentingan dengan AS.

Bagi saya, yang lebih menarik adalah ekspresi orang-orang yang akhir diumumkan menjadi menteri. Kebanyakan akan segera mengucapkan hamdalah, mengangkat tangan, dan menerima salam dari rekan dan kerabat yang “kebetulan” nonton bareng pengumuman di rumah mereka … dengan wajah sumringah. Bahkan Patrialis Akbar yang diangkat menjadi Menteri Hukum dan HAM langsung sujud syukur mengekspresikan kegembiraannya.

Yang berbeda adalah Tifatul Sembiring yang diangkat sebagai Menkominfo menggantian Muhammad Nuh (yang sekarang menjabat sebagai Mendiknas). Begitu diumumkan, yang dilakukannya hanya berdiri, mengangkat kedua tangan, dan berucap: Inalillahi wa ina illaihi rooji’uun…. Saya menarik napas terharu melihat keikhlasan Pak Tifatul dalam menerima amanah.

Sebuah jabatan adalah percayaan dan amanat, bukan hadiah. Bila hadiah adalah hak mutlak si penerima begitu berpindah tangan, sementara amanat harus dijalankan dengan baik atau akan diambil kembali oleh si pemberi. Orang akan memperlakukan sesuatu yang disebut dengan hadiah dan amanah secara berbeda.

Saya hanya berharap, sekalipun para menteri tersebut berucap hamdalah, namun di hati mereka tetap menganggapnya amanah, karena tujuan akhir sebuah amanah adalah kemaslahatan bagi umat manusia.

Selamat bekerja Bapak dan Ibu Menteri Kabinet SBY, semoga kalian amanah dan Allah senantiasa memberikan panduan bagi kebaikan manusia Indonesia. Amin.

Kado Istimewa dari POLRI

Posted in Sharing with tags , on September 19, 2009 by hzulkarnain

Catatan akhir Ramadhan 1430H

Subuh tanggal 17 September 2009, Densus Polri 88 melancarkan penggerebekan dan penyerangan ke sebuah rumah di Solo, Jawa Tengah. Konon, tanpa disangka-sangka, buronan teroris nomor wahid sedang berada di sana. Noordin M Top yang licin seperti belut berada di rumah yang menjadi target operasi. Tekanan serangan dari pasukan polisi memaksa jatuhnya korban jiwa di pihak target, termasuk sang buronan … NMT. Sudah jelas bahwa kepolisian kita sudah bekerja tak kenal lelah menelusuri jejak NMT, termasuk membongkar permainan psikologis yang selalu dimainkan para teroris tersebut. Semua kemungkinan diperiksa, karena di antara kemungkinan yang menyesatkan selalu ada petunjuk yang benar.

Ibarat “sepandai-pandainya tupai melompat, dia akan jatuh juga”, NMT yang perfeksionis dalam membuat perencanaan akhirnya memainkan desperate moves yang menggiringnya ke arah kematian. Bagaimanapun Polri yang punya banyak personil dan resource memiliki peluang yang lebih besar untuk menang dalam permainan strategis ini, terlebih lagi kepolisian sudah mulai mampu membuat profiling sang teroris. Kepolisian telah memainkan buah-buah caturnya dengan efektif.

Kita ingat bahwa, setelah berhenti beberapa tahun, ledakan bom di dua hotel internasional di Jakarta itulah (JW Marriot dan Ritz-Carlton) yang memicu gerakan lebih intensif pihak kepolisian. Rupanya, kepolisian menangkap banyak petunjuk dari aksi terakhir yang bisa dikembangkan menjadi petunjuk, khususnya identitas kedua pelaku dan orang dalam yang membantu terjadinya aksi tersebut.

Sebuah aksi teroris yang sedemikian rapih tidak mungkin dilakukan dengan tergesa-gesa, sudah pasti ada perencanaan yang matang dengan pembiayaan yang serius. Dari sana, kepolisian merangkai alur pengeboman yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Pertama adalah pelaku. Sudah pasti gerombolan NMT tidak akan mengorbankan diri mereka sendiri bila hendak melakukan bom bunuh diri, sehingga mereka harus merekrut orang lain. Bom bunuh diri jauh lebih efektif daripada bom mobil, yang juga masih dipakai sebagai alternatif. Dengan terungkapnya identitas kedua pelaku bom bunuh diri Marriot-2, kepolisian jadi tahu bahwa kelompok NMT merekrut remaja atau pemuda tertentu, yang mudah dicuci otaknya, untuk menjadi “pengantin”. Media cetak dan elektronik dipergunakan sebagai alat untuk menyebarkan informasi ini, termasuk nama rekruter yang berkeliaran di masyarakat. Maskarakat menjadi paham dan jauh lebih waspada.

Kedua, rekruter. Pengungkapan pengeboman Marriot-2 dan pemberitaan media massa memaksa kelompok NMT harus menangguhkan rekrutmen pengantin seperti dulu, karena mendadak masyarakat menjadi berprasangka pada orang-orang tertentu.

Ketiga markas sementara, yang dipergunakan untuk mengumpulkan bahan peledak dan perakitan bom. Ini adalah titik penting dalam penyusunan rencana. Terbongkarnya markas sementara di Bekasi membuka mata masyarakat untuk waspada pada kemungkinan pemanfaatan rumah kosong menjadi tempat perakitan bom. Kecurigaan warga pada orang baru yang tidak bisa menunjukkan identitas dengan jelas meningkat, sehingga tidak mudah lagi bagi kelompok NMT mengembangkan gerakan.

Keempat orang-orang kunci dan penghubung aktivitas. Sudah pasti, mereka ini adalah inner circle kelompok NMT. Beberapa orang yang sudah dikenal oleh polisi terus mendapatkan pengawasan. Orang-orang kunci ini memiliki akses pada sejumlah tempat tinggal yang diduga menjadi safe house NMT. Sebelum Temanggung dan Bekasi, Cilacap sudah dilumpuhkan.

Kelima, penyandang dana. Tanpa dana yang kuat, tidak mungkin pembelian setengah ton bahan peledak, mobil pengangkut, dan rumah kontrakan bisa didanai. Kelompok NMT sudah pasti bukan kumpulan orang-orang miskin, mereka militan tetapi tidak miskin. Uang yang mereka terima utamanya dipergunakan untuk aksi terorisme, bukan kepentingan pribadi. Kepolisian sudah pasti memeras otak untuk mencari tahu penyandang dana atau orang yang menyalurkan dana yang dikucurkan pada mereka.

Pergerakan intensif kepolisian membuat ruang gerak NMT semakin lama semakin sempit. Dengan lumpuhnya Bekasi, Temanggung, dan Cilacap, pilihan NMT semakin sedikit. Detik.com menyebutkan, NMT sudah semakin desperate, hingga dia melanggar aturannya sendiri, berkumpul dengan anggota yang menjadi target operasi polisi. Dengan tewasnya Ibrahim dan ditangkapnya beberapa orang lain, NMT mau tak mau harus kembali berhubungan dengan bekas pesakitan macam Urwah.

Kalau dulu pada jaman perjuangan Diponegoro, Jenderal De Kock menggunakan strategi benteng untuk menjepit pergerakan gerilya Pangeran Diponegoro. Semua daerah yang sudah dikuasai segera dibangun benteng dan dijaga ketat, karena tentara kolonial sendiri tidak tahu persisnya keberadaan Diponegoro. Dengan siasat ini, satu persatu orang kepercayaan sang pangeran tertangkap, hingga akhirnya memaksa sang pangeran keluar sarang untuk maju ke perundingan.

Sekarang, siasat yang secara konsep mirip dijalankan oleh Polri. Pergerakan NMT terjepit dengan pengerahan resource yang banyak, langsung maupun tidak langsung. Yang langsung sudah pasti adalah pengerahan reserse ke sendi-sendi kemasyarakatan. Yang tidak langsung adalah membangun awareness masyarakat terhadap keberadaan kelompok NMT. Akibatnya, NMT tidak merasa bebas berkeliaran di kota besar. Sekalipun ada 17 titik yang pernah dilacak sebagai markas, tetapi NMT berakhir di Jebres, Solo.

Tanggal 17 September 2009 adalah titik akhir gerakan sang gembong, namun Polri sendiri juga masih yakin bahwa perjuangan mereka tidak akan selesai sampai di sini. Kematian NMT tidak otomatis mematikan gerakan, karena akar gerakan tersebut masih ada. Kalau sekarang kita semua bisa lega, itu masih untuk sementara. Polri tidak akan berhenti mencari tahu pemain baru yang akan muncul untuk menggantikan NMT sebagai leader.

Semoga Allah Swt senantiasa melindungi kita, semoga moment Ramadhan ini adalah saat yang tepat untuk memperbaiki diri dan membangun masa depan bangsa yang lebih baik.

SELAMAT IDUL FITRI 1430 H

Taqabbalallahu mina wa minkum taqabbal ya karim