Archive for the Tausiyah Category

Istri dalam Bahtera Rumah Tangga

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags on October 17, 2009 by hzulkarnain

Peran dan fungsi laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga berubah dan bergerak dari masa ke masa, maupun dari sebuah kelompok budaya ke kelompok budaya yang lain. Masyarakat Minangkabau, Jawa, Bali, Papua, Eropa, masing-masing punya nilai dan karakter kultur yang beragam. Di beberapa tempat perempuan memiliki tempat yang setara dengan kaum laki-laki dalam mencari nafkah. Di tempat yang lain, kaum perempuan memiliki kuasa atas jalur kekerabatan, dan di beberapa tempat yang belum berkembang, perempuan adalah follower tanpa suara.

Apapun modifikasinya, sebenarnya Allah Swt telah menurunkan penetapan yang disebutkan dalam QS. An-Nisaa 34.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka  atas sebahagian yang lain , dan karena mereka  telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

mengarungi bahtera dengan senyum dan ikhlas...

mengarungi bahtera dengan senyum dan ikhlas...

Allah menetapkan laki-laki sebagai pemimpin bagi kaum perempuan, karena memberikan kelebihan pada mereka. Akan tetapi, dengan sunatullah tersebut bukan berarti sang pemimpin boleh bertindak sekehendak hati. Kedua belah pihak harus saling menjaga dan memelihara karena suami adalah pakaian dari istrinya, demikian pula istri adalah pakaian bagi suaminya. Karena merupakan pakaian, sudah selayaknya keduanya saling bertugas untuk menjaga kehormatan pihak yang lain.

Sekalipun rasanya terlalu menyudutkan, kaum perempuan sudah seyogyanya mengikhlaskan sunatullah ini dalam menjalankan kehidupan, karena justru dengan melakukannya surga akan dijanjikan bagi mereka. Keharmonisan rumah tangga, dan terbentuknya generasi muda Islam justru berada di tangan kaum perempuan sebagai Ibu. Mungkin kaum laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga, tetapi sebenarnya kaum perempuanlah yang menjaga keutuhan keluarga, dan terbinanya anak-anak menjadi orang shalih dan shalihah.

Dalam sebuah tuntunan, beberapa hal yang harus diperhatikan bila perempuan berkeinginan menjadi istri yang terbaik dalam rangka membentuk baity jannaty:

  1. Taat kepada suami selama bukan untuk kemaksiatan. Termasuk di antaranya menolak tidur dengan suami bila hal itu merupakan kesalahan besar yang harus dihindarkan
  2. Istri yang ideal menurut Islam harus mampu memadukan 3 hal:
    1. Membahagiakan suami bila suami melihatnya
    2. Menaatinya bila suami menyuruh,
    3. Tidak menentang keinginan suami
  3. Izin suami harus didapatkan bila seorang istri berniat:
    1. untuk berpuasa sunnah
    2. untuk bepergian
  4. Mendahulukan hak suami atas orang tuanya sendiri, dan Allah akan megampuni dosa-dosa istri tersebut. Termasuk pula meminta ridho suami, karena ridho suami menjanjikan surga bagi istri
  5. Menjaga kehormatan dan harta suami
    1. Tidak mencemarkan dan memburuk-burukkan suami saat tidak sedang bersama suami
    2. Tidak menerima tamu tanpa suami, atau bercengkerama dengan laki-laki lain tanpa mengindahkan keberatan suami
    3. Menjaga harta suami dengan amanah, tidak meminjamkan milik suami, bahkan hanya menyedekahkan harta  dengan seizin suami
    4. Hanya menjawab seperlunya bila orang bertanya tentang suami
    5. Tidak bercerita tentang masalah seksual atau masalah di antara suami-istri kepada orang lain
  6. Menjaga keharmonisan
    1. Berhati-hati dengan pembelanjaan dan keuangan keluarga, dan tidak meminta tambahan bila tidak perlu sekali
    2. Terbuka, mengakui bantuan kepada orang lain
    3. Berhati-hati saat menyampaikan masalah, namun harus tetap mendiskusikannya di saat yang tepat
    4. Memelihara rumah dan menjaga isinya
    5. Berbicara penuh perhatian pada suami, dan menghindarkan adu argumentasi
    6. Menunjukkan kasih sayang pada suami secara terbuka di rumah, dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya
  7. Menjaga silaturahmi dengan kerabat suami

Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah tidak meminta cerai tanpa alasan yang kuat, dan bila suami meninggal harus berkabung selama 4 bulan 10 hari.

Sekalipun Islam menempatkan laki-laki sebagai pemimpin bagi istrinya, tidak berarti tugasnya menjadi lebih ringan. Tidak berarti pula tugas istri yang dominan berada di rumah juga lebih ringan. Ringan atau beratnya tugas masing-masing pihak dalam menjalankan sunatullah harus dilaksanakan dengan baik dan benar, maka akan terasa lebih ringan. Bila salah satu sudah menyalahi tugasnya, maka tugas pihak lain akan menjadi lebih berat.

Tugas suami adalah menjadi tulang punggung keluarga dan mencari nafkah. Ia harus menghabiskan kehidupan di luar rumah untuk mengais rizki Allah, sehingga larut malam baru bisa kembali ke rumah untuk beristirahat. Ia mengemban amanah untuk mencari penghidupan bagi keluarganya. Sayangnya, tidak semua orang punya semangat yang besar untuk menjadi teladan keluarga, sehingga rizki Allah justru menjauh. Bukannya mencari nafkah, malah berjudi. Bukannya bekerja keras, malah “kloyongan” tak menentu. Bila sudah demikian, istri yang seharusnya menunjang tugas suami dalam membina rumah tangga harus ikut mengorbankan waktu untuk mencari nafkah.

Sama halnya bila seorang istri tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik sebagai istri di rumah, misalnya karena sibuk dengan kariernya di luar rumah. Dampaknya adalah anak-anak yang tidak terurus dengan benar. Kalau sudah demikian, suami harus ikut memikirkan perkembangan anak dengan serius, bahkan mungkin terjun langsung . di era modern ini, semakin jamak dijumpai suami yang justru melakukan tugas istri karena ketidak adaan istri di waktu dan tempat yang dibutuhkan. Di kalangan selebritis juga semakin jamak dijumpai istri yang menggugat cerai pada suami, dengan alasan yang kadangkala tidak masuk akal. Bukan sekedar meminta cerai, tetapi juga bicara lantang di media massa. Nauzubillahi mindzalik…..

Bila sudah bicara tentang sunatullah, tidak ada menang maupun kalah. Yang adalah fungsi dan tugas yang harus dijalankan, agar keluarga bisa memperoleh kebarokahan. Ujungnya adalah rumah yang seperti surga … baity jannaty … insyaallah.

Kecintaan dan Keyakinan

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags on September 14, 2009 by hzulkarnain

Sebuah cinta yang dilandasi dengan keyakinan yang mendalam, bisa mengubah pandangan orang sedemikian rupa, sehingga bertolak belakang dengan pandangan sebelumnya. Kisah yang paling populer dan diceritakan dari generasi ke generasi di jaman Rasulullah SAW adalah Umar Bin Khaththab ra, yang masuk ke dalam pelukan Islam secara dramatis dan menjadi pembela Islam yang segarang ketika dia memusuhi Islam.

Ada seorang lagi sahabat yang punya pandangan dan kehidupan yang sangat berbeda ketika belum memeluk Islam dan setelah masuk Islam, yaitu Mush’ab bin Umair. Sebelum Islam, Mush’ab adalah pemuda flamboyan, tampan dan kaya, dan dengan jubahnya yang harum selalu menarik hati laki-laki dan perempuan Mekkah di masa itu. Kehidupannya selalu berkecukupan bahkan berlebih karena memang ia adalah putra sebuah keluarga bangsawan Quraisy.

Kebanyakan orang tidak memahami alasan Mush’ab memeluk Islam, namun yang jelas hidayah Allah bisa datang pada orang dan saat yang tak terduga. Mush’ab langsung di-Islamken sendiri oleh Rasulullah, sehingga kegembiraannya bergejolak harus ditenangkan oleh sentuhan tangan Rasululah SAW di dadanya. Kegundahan Mush’ab hanya satu, yaitu kekhawatirannya pada sang Ibu yang juga sangat dikasihi dan dihormatinya.

Akhirnya memang sang Ibu mengetahui perihal ke-Islaman Mush’ab – anak yang dikasihinya. Kemarahannya memuncak, demikian juga segenap kaum bangsawan Quraisy. Siksaan fisik dan mental diterimanya dengan lapang dada. Pada puncaknya, ia harus meninggalkan keluarga dan sanak kerabat bangsawannya, namun Mush’ab lagi-lagi mampu menerimanya. Ia tidak lagi berjubah dan berpakaian indah, keindahan pakainnya dulu tergantikan oleh sebuah jubah usang yang bertambal-tamal. Mush’ab membuang semua keindahan dan kenikmatan duniawi yang semu, namun diliputi kebodohan, untuk masuk ke dunia terang Islam sekalipun harus penuh dengan kesederhanaan.

Ketika sebagian umat Muslim harus mengungsi ke Habsyi, Mush’ab adalah salah seorang relawan yang pergi meninggalkan tanah air. Kelompok yang pergi ke Habsyi ini punya tujuan sampingan untuk menyebarkan Islam kepada raja dan penduduk negeri itu. Beberapa orang meninggal saat berada di Habsyi maupun dalam perjalanan pergi dan pulang melalui laut yang penuh kesulitan.

Kecintaan Mush’ab pada Islam dan Rasulullah SAW dibuktikannya terakhir kali dengan perang Uhud yang merupakan tragedi bagi kaum Muslimin. Ketidak disiplinan tentara Islam hanpir membawa petaka, sehingga Rasulullah tersudut dan harus bertahan dari gempuran tentara kafir yang menang personil dan persenjataan. Mush’ab adalah salah satu yang gugur karena melindungi Rasulullah.

Banyak kisah yang bercerita tentang mu’alaf yang selalu berada di garda depan perjuangan Islam, karena mereka pernah berada di sebuah tempat yang gelap dan penuh kebodohan. Ketika merasakan cerahnya Islam, mereka tak ragu-ragu lagi membela Islam dalam pemikiran dan perbuatan. Sebut saja Muh. Syafii Antonio, Anton Medan, dan Irene Suhandono, tiga di antara banyak pemuka Islam yang pernah beragama lain.

kemanapun wajah kuhadapkan adalah bumi Allah

kemanapun wajah kuhadapkan adalah bumi Allah

Di sisi lain, betapa tidak sedikit juga orang yang sejak lahir mengaku beragama Islam, namun perilaku serta pemikirannya justru kontra produktif dengan kultur Islam. Sebut saja para teroris yang mengaku memperjuangkan Islam namun tidak keberatan dengan tumpahnya darah sesama umat Islam.

Islam mengajarkan kita meyakini segala hal yang gaib, dalam pengertian memang tidak pernah terlihat wujudnya, maupun yang tidak pernah dilihat manusia kebanyakan. Itulah rukun iman yang enam. Percaya dan meyakini Allah, malaikat, Nabi dan Rasul, kitab-kitab yang diturunkan, takdir, dan hari akhir. Semuanya agar manusia lebih bertakwa.

Dalam sebuah hadist diriwayatkan, Rasulullah pernah berkata tentang orang-orang luar biasa yang dicintainya. Bukan mereka yang hidup di jaman beliau dan bisa bertemu dengan beliau, dan bukan alim ulama besar yang dekat dengan beliau. Orang-orang luar biasa itu adalah kebanyakan manusia di muka bumi ini, yang mencintai Rasulullah sekalipun tidak pernah bertemu dengan beliau. Kecintaan secara gaib, hanya karena meyakini bahwa tanpa beliau kita masih berada di alam kegelapan, dan hanya karena beliau saja kita terus bisa menikmati kerinduan pada Allah Ta’ala. Sekalipun berjarak ratusan bahkan ribuan tahun dari Rasulullah, orang-orang luar biasa itu berdzikir dan membaca Al-Qur’an seperti diajarkan beliau, menyayangi yatim piatu dan santun pada orang tua seperti beliau, dan memakmurkan masjid seperti tatkala beliau ada.

Kecintaan dan keyakinan membentuk karakter, dan bila sumbernya adalah firman Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW tentu saja jadinya luar biasa baik. Pribadi yang dihasilkan adalah bentuk indah sebagai manusia. Apapun yang menjadi jalan kehidupannya, ia akan mengabdikannya pada jalan yang di-ridhoi oleh Allah SWT. Kalau dia orang yang kaya, kekayaannya akan berguna bagi orang lain. Kalau dia penguasa, maka dirinya adalah payung besar yang mengayomi dan meneduhkan. Kalau jalan hidupnya sebagai cendekia dan pendidik, ia menjadi jalan terang bagi orang-orang yang bodoh dan mencari ilmu. Kalau dia pedagang, dia menjadi pengingat adanya kejujuran dalam semua transaksi. Kalau dia adalah seorang dhuafa, miskin, tak berharta, dia mengajarkan pada orang lain tentang kesabaran dan keikhlasan.

Dengan kecintaan dan keikhlasan, marilah kita mencari bentuk terbaik dari diri kita sendiri, untuk kemudian kita abdikan untuk agama dan kemanusiaan. Marilah berbagi dan mengabdi untuk kemanusiaan secara universal, untuk kemajuan dan kemakmuran umat Islam pada khususnya.

Penyenang Hati

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags on September 9, 2009 by hzulkarnain

Bila membaca status teman-teman di Facebook, khususnya yang bergender wanita, tampak sekali kegairahan, kegembiraan, atau kesedihan mereka bila berbicara tentang anak. Naluri alamiah sebagai Ibu mendorong mereka untuk menunjukkan sikap dan kecintaan mereka itu. Bila anak mereka berprestasi, betapa bangganya mereka bercerita di FB. Sebaliknya, kalau anak sedang sakit, muncul pula gambaran kesedihan pada tiap komentarnya.

Apakah laki-laki tidak seperti itu? Sebenarnya sama saja, hanya saja kaum lelaki ini tidak pandai mengutarakan emosinya secara terbuka. Yang namanya kebanggaan pada anak, sama saja. Demikian pula dengan kesedihan. Bila bangga pada anaknya, seorang ayah mungkin tidak memuji, namun memberikan hadiah jam tangan atau tas baru. Bila sedih saat anaknya sakit, ia tidak mengeluh namun ikut berjaga karena sulit tidur.

penyenang hati

penyenang hati

Dalam Islam, anak dan istri termasuk dalam cobaan namun juga penyenang hati (qurota a’yun). Pada bagian akhir surat Al-Furqan, orang yang menjalankan takwa dengan anak-istri mereka yang juga saleh, akan menerima derajat yang lebih tinggi. Allah mentitipkan istri dan anak, dan menjadikan seorang laki-laki imam dalam keluarga, semata-mata bertujuan untuk lebih meundukkan kepala dalam sujud dan kesyukuran. Allah telah melarang manusia untuk membunuh anak-anak mereka karena takut akan kemiskinan, karena Allah menjanjikan rizki bagi orang tua dan anak-anak tersebut.

Bila kita sempat melihat beberapa catatan kriminal di televisi dan media cetak, betapa miris hati saat melihat atau membaca pembunuhan anak-anak – dengan penganiayaan – oleh orang tuanya sendiri. Sang anak mati di rumah kos-an, dan ditemukan oleh tetangganya, sementara si orang tua sudah kabur entah kemana. Lain lagi cerita tentang seorang ibu yang tega membunuh kedua anaknya dengan racun dan kemudian bunuh diri, karena takut akan masa depan anak-anaknya. Ada juga kasus pembunuhan yang dilatar belakangi ketidak sengajaan, kelainan jiwa, dan sebagainya.

Belakangan juga marak kasus perceraian di kalangan selebritis, entah yang sedang direncanakan (digugat) maupun yang sudah terjadi. Penyebab yang paling umum adalah issue perselingkuhan, baik yang dilakukan oleh si laki-laki maupun si perempuan. Seorang penyanyi yang baru menikah seumur jagung harus menggugat cerai suaminya yang membuatnya bonyok, saat dipergoki sedang bersama perempuan lain. Cerita lain lagi, seorang aktor sinetron menggugat cerai istrinya karena tempat kerjanya dekat dengan maksiat (loh? Memang dulu nggak tahu?). Yang paling mutakhir adalah kabar perceraian penyanyi KD, entah karena sebab apa …..

Sungguh ironis, orang-orang yang seharusnya menjadi penyenang hati mengapa akhirnya menjadi musuh atau korban? Ketika menyakiti istri, tanpa sadar anak menjadi korban. Ketika menganiaya anak, sebenarnya istri justru menjadi musuh baru. Tugas laki-laki adalah menjadi imam, dan bila ia bisa menjadi imam sebuah rumah tangga yang bertakwa, derajatnya akan diangkat oleh Allah Swt.

Akan tetapi, banyak sekali laki-laki yang tidak sadar akan tugasnya sebagai imam dalam rumah tangga, yang merasa tidak berdaya pada istri yang bertingkah berlebihan hanya karena punya pendapatan lebih besar, pada anak-anak yang menunjukkan penyimpangan dengan mendekati kemaksiatan yang nyata. Bukan hanya mereka yang tidak mengenal jalan agama, bahkan anak ulama pun banyak yang salah jalan. Seolah-olah anak-anak itu telah lepas dari tali kendali yang sejak kecil ditanamkan.

Dunia memang tidak sempurna, penuh dengan warna yang seringkali membuat kira merasa miris. Satu hal yang jelas, Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berputus asa pada rahmat Allah. Apalagi Allah juga berjanji akan menaikkan derajat orang-orang yang sebar, karena Allah beserta orang-orang yang sabar. Sabar dalam menjalankan ibadah kepada Allah, sabar dalam menjalankan ketetapan-ketetapan Allah (menjalankan perintah dan menjauhi larangan), dan sabar saat menerima cobaan dari Allah.

Anak dan istri adalah penyenang hati, tetapi bila sebagai imam seorang suami tidak bisa mengarahkan mereka, maka mereka bisa menjadi cobaan. Hanya dengan jalan agama, pengajaran Al-Qur’an beserta penerapan isinya, yang membuat rumah menjadi surga. Semoga kita menjadi orang yang bersabar dan bertakwa.