Archive for the Kisah Category

MEMBERIKAN LEBIH, MEMBERI DENGAN HATI

Posted in Kisah, Psikologi, Sharing with tags on November 15, 2009 by hzulkarnain

Beberapa waktu lalu, di sebuah milis saya menemukan sebuah kutipan kisah inspiratif yang menyentuh. Saya sebut menyentuh, karena pergerakan ini diawali oleh seseorang yang memiliki kecacatan, namun telah berhasil mengubah konsep berpikir banyak orang.

Ken Blanchard, penulis buku terkenal “One Minute Manager”, pada suatu saat membagikan sebuah kisah tentang apa yang dapat terjadi ketika para karyawan di sebuah perusahaan meniru gaya kepemimpinan yang melayani, tak peduli posisi karyawan tersebut di dalam hierarki organisasi.

Seorang konsultan bisnis sedang melatih lebih dari 3.000 karyawan di sebuah grup supermarket di wilayah Barat Tengah Amerika Serikat, agar mereka bekerja dengan tujuan untuk menciptakan kenangan bagi para pelanggan mereka.

Johnny, 19 tahun, adalah seorang petugas di bagian pembungkusan barang belanja yang memiliki penyakit down syndrome. Tanggapannya yang pertama terhadap nasihat konsultan itu adalah, “Saya ini hanya seorang petugas di bagian pembungkus”. Walaupun demikian, ketika ia pulang ke rumahnya ia membagikan perkataan konsultan itu dengan ibunya. Mereka mulai merenungkan apa yang dikatakan konsultan itu tentang bagaimana menciptakan kenangan indah bagi para pelanggan. Johnny mempunyai kebiasaan mengumpulkan kisah-kisah penuh inspirasi yang ia sering baca. Ia memutuskan bahwa ia akan mulai mencetak perkataan-perkataan inspirasional itu dan menaruh kertas inspiratif itu di kantong belanjaan pelanggannya.

Ketika para pelanggan datang melewati jalur pembayaran dan Johnny membungkus barang belanjaan mereka, tak lupa Johnny menaruh kertas inspiratif itu di kantong belanjaan mereka, sambil berkata, “Saya sudah menaruh beberapa kisah inspiratif di dalam kantong ini dengan harapan hal itu dapat menambah semangat anda hari ini. Terima kasih karena anda belanja di sini.”

Setelah berlangsung beberapa minggu, sesuatu yang luar biasa mulai terjadi. Pada suatu hari manajer toko memperhatikan bahwa semua pelanggan mengantri di satu kasir saja, sedangkan kasir lainnya kosong. Ia mulai panik, mengira bahwa mesin-mesin kasir lain sedang rusak. Setelah diselidiki ternyata bukan itu masalahnya. Sesungguhnya, para pelanggan ingin melewati konter Johnny agar mendapatkan kisah inspiratif untuk hari itu.

Seorang wanita mendatangi manajer toko itu dan berkata, “Biasanya saya belanja ke sini seminggu sekali, tetapi sekarang saya datang setiap hari.”

Teladan Johnny menyebar ke departemen lain di supermarket itu. Bagian penjualan bunga membagikan sekuntum bunga kepada setiap pembeli bunga. Bagian penjualan daging menempelkan stiker Snoopy dengan ucapan tertentu yang menarik pada setiap pembelian daging. Tindakan dari seorang petugas pembungkus belanjaan telah mengubah suasana di supermarket itu.

Bagi Johnny, pekerjaannya adalah kehidupannya, karena memang tidak semua pekerjaan bisa ditangani oleh seseorang yang memiliki keterbelakangan mental. Dengan membawa hati ke dalam pekerjaan, semuanya seakan-akan menjadi hidup. Mungkin Johnny tidak pernah berpikir dampak besar yang ditimbulkan hal kecil yang dilakukannya, namun pelanggan bisa merasakan bahwa dirinya diistimewakan.

melayani...memberikan hatiSaya pernah membaca kisah hidup Bob Sadino, yang sejak kecil telah bekerja mengirimkan belanjaan yang dipesan oleh orang-orang Belanda di sekitar wilayah tempatnya tinggal. Sekalipun saat itu konsep marketing belum dikenal seperti sekarang, Bob kecil telah terlatih memberikan kejutan manis di setiap kantong kirimannya – yaitu sekuntum bunga anggrek. Tampaknya sepele, tetapi hal itu membuatnya diingat.

Pada dasarnya, tiap manusia suka diberi secara cuma-cuma, apalagi bila pemberian tersebut berguna sekalipun tidak mahal. Yang diberikan Johnny kepada pembeli supermarket tempatnya bekerja tidak mahal, bahkan bisa diabaikan. Akan tetapi, tampaknya penerima “hadiah” Johnny memilih untuk tidak mengabaikannya karena Johnny memberinya pengantar – sekalipun sangat sederhana. Pengantar ini sebenarnya sekedar mengingatkan bahwa di dalam kemasan yang dibawa pulang pelanggan ada lembaran inspirasi cuma-cuma pemberian dirinya.

Memberikan hati ke dalam pekerjaan bukanlah pekerjaan yang mudah, karena kebanyakan orang yang terjebak dalam rutinitas membuat bekerja adalah bagian dari irama kehidupan, bukan kecintaan akan kehidupan lagi. Oleh karena itu, justru yang lebih sering kita jumpai di pusat perbelanjaan adalah pelayan yang kehilangan passion dalam melayani. Pekerjaan mereka bisa jadi cermat dan efisien, namun tidak lebih seperti robot tanpa jiwa. Saya pernah melihat sebuah toko sepatu yang tidak pernah sepi, berhadapan dengan sebuah toko sepatu yang sepi. Kuncinya bukan pada harga sepatu atau item yang tersedia, namun lebih pada cara pelayanan yang lebih personal.

Memberikan barang ekstra kepada pelanggan hanyalah salah satu cara untuk mengistimewakan mereka. Cara lain untuk menunjukkan bekerjanya hati adalah kualitas pekerjaan yang terbaik. Bagi karyawan, adalah bekerja dengan error minimal, lebih efisien, sadar akan pentingnya menata budget, atau apapun juga yang ujungnya adalah membuat gembira pimpinan. Bagi pekerja profesional, misalnya hairdresser atau sekedar tukang cukur, kualitas pelayanan adalah kunci kesuksesan.

Salah seorang teman saya pernah menceritakan pengalamannya bekerja di sebuah waralaba laundry, dan hal itu membuatnya sangat tidak enak. Suatu saat, mereka menerima sebuah jas untuk dry-cleaning. Ketika akan diambil si-empunya beberapa hari kemudian, teman saya itu mendapati kain keras di leher jas sudah tidak bisa tegak lagi. Manajemen berkeras untuk merahasiakannya. Teman saya itu juga cukup yakin bahwa pemilik jas baru akan menyadarinya beberapa hari lagi ketika akan dipakai, sebab fokusnya pasti pada noda yang minta dihilangkan. Namun demikian, teman saya tersebut sangat tidak suka dengan cara kucing-kucingan seperti itu.

Seringkali, yang diharapkan orang bukan uang atau ganti rugi, tetapi kejujuran. Kalau kita tahu pembantu rumah tangga yang mencuci seragam kita berbuat kesalahan dengan mencampur baju seragam putih dengan cucian lain yang berwarna sehingga luntur, tidak mungkin kita meminta dia menggantinya. Sekalipun marah, kemarahan itu tidak akan lama bila dia jujur da menyesalinya. Sudah pasti akan berbeda rasanya bila pembantu tersebut mengelak, menyangkal, dan merasa tidak bersalah.

Ketika memberikan hati ke dalam pekerjaan, sebenarnya orang telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang prima dan siap menjadi teladan bagi orang lain. Dedikasi adalah kata lain dari kecintaan pada pekerjaan, dan komitmen adalah bagian dari ikatan batin dengan pekerjaan. Tanpa dedikasi dan komitmen pada pekerjaan, hilanglah sebuah kata yang lebih sakral lagi: integritas. Bila ketiga hal tersebut sudah tidak ada, jangan heran bila muncul penjahat di tempat kerja: pemalas, tukang mangkir, bahkan koruptor.

Semoga Allah Swt senantiasa membimbing jalan kita. Amin.

Ketika Cinta Bertasbih: Tutur Panjang Film Manis dengan Kebingungan

Posted in Kisah on September 24, 2009 by hzulkarnain

kcb2_wallpaper1Setelah Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih adalah novel kedua Habiburrahman El-Shirazy yang diangkat ke layar kaca dan sukses. Mungkin karena justru pangsa pasar ini lebih ditujukan kepada pemeluk Islam, orang Islam yang mencapai lebih dari 80% penduduk negeri jadi tertarik untuk menyaksikannya. Atau bagi mereka yang telah membaca novel Kang Abik sebelumnya, mereka ingin melihat visualisasi cerita novel tersebut. Genre yang diangkat memang tidak terlalu umum, yaitu kultur Islam dalam komunikasi antara laki-laki dan perempuan, atau dalam kelompok masyarakat yang lebih besar. Ya, karena Islam tidak sekedar agama formal, melainkan juga merupakan nilai dan filosofi kehidupan sosial yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadist, Islam memiliki kultur yang relatif universal maupun yang terpengaruh dengan kondisi kultur lokal.

Film KCB terbagi dalam dua episode, yang secara umum terbagi dalam dua lokasi cerita. KCB 1 didominasi pemandangan kota Alexandria Mesir, sementara KCB 2 banyak sekali mengetengahkan gambar desa dan sub-urban di wilayah Kartasura – Jawa Tengah. Berbeda dengan AAC yang melakukan pengambilan gambar di India (tetapi diset serupa Mesir), KCB memang mengambil lokasi di Mesir. Bisa jadi, karena AAC sukses mengangkat budaya Mesir, pemerintah mendukung dibuatnya KCB.

Protagonis utama film ini adalah seorang mahasiswa telat lulus bernama Abdullah Khariul Azzam,  yang masuk ke Universitas Al-Azhar sejak 9 tahun yang lalu namun, cerdas dan cemerlang di awal kuliah namun terseok-seok di tahun-tahun lanjutan karena harus bekerja sambilan agar terus sekolah. Dinamika kehidupan mahasiswa cukup bagus disajikan dalam episode 1. Sosok Azzam yang sederhana dan ulet, pemberani dan berjiwa kepemimpinan, memberika tauladan kepada rekan mahasiswa yang lebih junior, cukup bagus dimainkan oleh M. Cholidi Asadil Alam. Menurut penilaian saya, peran Azzam dimainkan dengan proporsional – walaupun kadangkala masih terlihat akting yang bisa lebih ditingkatkan.

Azzam pada akhirnya dipasangkan dengan Anna Althafunissa, yang sejak di Kairo sudah dipertemukan dengan Azzam, namun kisah berliku baru mempertemukan mereka sekali lagi di kartasura (ternyata mereka satu kota). Anna Althafunissa terlihat dimainkan dengan sangat santun, bahkan teramat santun, sehingga sekilas terlihat seperti porselin yang mudah pecah. Sekalipun demikian, hampir semua orang suka dan bersimpati pada karakternya di film ini – mungkin missi membawa citra muslimah ideal sukses di sini. Karena too white inilah karakter Anna tidak terlalu menarik untuk dibahas.

Alice Norin yang berperan sebagai Eliana Pramesthi Alam, putri duta besar Indonesia untuk Mesir, cukup mencolok dan mencuri perhatian dengan kecantikannya. Elliana, dimainkan secara cukup naturaloleh Alice Norin, khususnya saat menunjukkan citra perempuan modern yang biasa berpikir liberal. Namun demikian, di mata saya sosok ini  seharusnya bisa ditampilkan lebih cerdas dibandingkan lebih glamor. Sebagai seorang yang aktif, cerdas, dominan, putri Dubes yang juga aktivis dan artis sinetron, dalam film ini Elliana lebih cenderung muncul sebagai selebritis dibandingkan pekerja yang sibuk.

Saya harus mengangkat jempol untuk casting Ninik L. Karim sebagai ibunda Azzam, Deddy Mizwar sebagai Kyai Luthfi, dan Meyda Sefira sebagai ayatul Husna (adik Azzam). Harus saya katakan, ketiga orang dan karakter inilah yang membuat benar merah cerita dalam KCB 2 bisa terjalin manis dan mengalir. Tak diragukan lagi, Dedy dan Ninik punya karakter yang kuat dan sanggup menghidupkan tokoh yang dimainkan. Bila dalam KCB 1 sosok Kyai Luthfi hanya muncul sesekali, dalam KCB 2 kharisma sang Kyai muncul mempesona. Begitu juga peran Bu Malikatun yang dimainkan Ninik L Karim, begitu kuatnya mewarnai sequel ini. Yang mengejutkan justru kemampuan Meyda Sefira beradu akting dengan Ninik L Karim saat terjadi dialog rutin di rumah, jauh melampaui kemampuan akting artis-artis sinetron yang reguler muncul di televisi.

Saya juga memberikan poin plus pada Dude Herlino, Asmirandah dan Gito Gilas yang memainkan peran kecil namun cukup memberikan keindahan warna film ini secara keseluruhan. Mereka cukup layak menjadi bintang sinetron papan atas negeri ini.

Ada sebuah karakter yang menurut saya tidak dimainkan dengan optimal, yaitu figur Furqon. Sosok ini seharusnya menjadi salah satu sentral dalam cerita film ini tetapi secara umum gagal menarik perhatian. Kalah cemerlang dibandingkan figur Eliana yang dimainkan dengan bagus oleh Alice Norin. Andi Arsyil Rahman punya ketampanan yang khas, tetapi mungkin kurang pas memainkan Furqon. Ada kharisma yang hilang dari karakter anak seorang kaya raya, biasa berkehidupan borjuis, intelek, dan dominan. Saya malah berpikir, bagaimana sekiranya posisi Andi Arsyil Rahman dan Dude Herlino dipertukarkan?

Kesan tentang film KCB:

1. Secara umum, saya katakan KCB adalah film yang manis, banyak letupan yang memancing emosi penonton, alur cerita yang cukup menarik, sehingga sekalipun mungkin berbeda dengan isi novel penonton tidak terlalu berkeberatan. Bahkan teman saya berkomentar, perlu bawa banyak tisu untuk air mata. Banyak pelajaran tentang kultur Islam yang bisa dipetik melalui film ini. Recommended untuk kaum muslim.

2.  Pemakaian jilbab kok tidak natural? Pemirsa akan lebih banyak menyaksikannya dalam KCB 2. Saya tidak tahu harus berkomentar bagaimana, karena memang cukup membingungkan. Jamaknya, perempuan Islam tidak mengenakan jilbab di dalam rumah yang hanya berisi perempuan, bahkan bila ada laki-laki yang merupakan saudara kandung. Di manapun, istri yang sudah tinggal berduaan dengan suami di dalam kamar tidak akan mengenakan pakaian penutup yang berat dan lengkap. Masalahnya adalah rumah dan kamar tersebut adalah set pengambilan film, dan saudara atau suami tersebut hanyalah peran yang dimainkan.

3. Sponsor untuk kerudung ditampilkan dengan cukup demonstratif. Kerudung Anna Althafunnisa adalah Pasmira, sedangkan yang lainnya adalah Rabbani. Logo keduanya selalu tampak, bahkan agak mencolok.

4. Sepanjang ingatan saya, ada dua momen saat gambar di layar seperti kehilangan fokus. Dalam KCB 1, hal itu terjadi saat ada adegan lansekap pantai alexandria di sebelah kiri dan kamar hotel di sebelah kanan. Dalam KCB 2, terjadi saat rombongan Furqan datang untuk melaksanakan pernikahan di pesantren.

Di luar semua kekurang telitian atau kebingungan tadi, Indonesia perlu lebih banyak membuat film-film lain dengan genre kultur Islam seperti ini. Edukasi tentang Islam yang paling bagus adalah melalui visual, apalagi bila dengan contoh yang membumi.

Penipuan via Telepon

Posted in Kisah, Sharing on January 9, 2009 by hzulkarnain

 

phone_hookoffKemarin, seorang kolega saya hampir saja terkena penipuan menggunakan jaringan telepon dengan modus yang sebenarnya sudah pernah kita dengar sebelumnya. Kejadian tersebut saya sharingkan di sini untuk menjadi pengingat dan pelajaran.

Sekitar jam 10.00 pagi tanggal 8 Januari 2009 kemarin, teman saya yang bermeja di dekat saya mengeluhkan panggilan terus menerus yang mencoba mengontaknya. Panggilan tersebut dikatakan dari seseorang yang bernama Iptu Gunawan Santoso dari bagian narkoba Polres Pasuruan. Pengontak tersebut mengatakan bahwa nomor telepon teman saya tersebut sudah dipergunakan oleh sindikat Narkoba (tapi jangan khawatir anda tidak terlibat – katanya) dan sekarang ini sedang dalam pelacakan. Untuk keperluan itu, Iptu Gunawan Santoso (yang juga memberikan sebuah nomor fix-line) meminta teman saya mematikan HP-nya selama 2 jam.

Teman saya tidak menghiraukan permintaan tersebut, bahkan ia mencoba mencari tahu nama Gunawan Santoso di Polres Pasuruan, yang hasilnya adalah nihil. Bahkan penerima telepon yang ada di Polres tersebut mengatakan bahwa nomor yang diberikan itu adalah nomor di wilayah Paiton – Probolinggo. (Note: sekalipun bekerja di PLTU Paiton, teman saya itu sebenarnya berasal dari Pasuruan, dan ber-KTP Pasuruan).

Karena teman saya tidak mematikan HP-nya, Iptu gadungan tersebut mencoba mengontak lagi, tapi teman saya tidak menghiraukannya. Ia hanya me-reject tiap panggilan yang masuk. Akan tetapi, ternyata panggilan-panggilan demi panggilan terus bergelombang masuk. Teman saya mencatat, ada 2 nomor yang tidak dikenalnya berusaha mengontaknya terus menerus. Nomor dari Iptu gadungan tadi berusaha sebanyak 35 nomor, sementara nomor kedua 17 kali.

Ketika hal bombardir panggilan itu dikeluhkan kepada saya, apalagi saat ia menyebutkan “HP dimatikan selama 2 jam”, saya langsung teringat modus penipuan serupa yang mengena pada diri tetangga saya. Saya langsung menyarankan teman saya mengontak istrinya di Pasuruan, karena pengalaman penipuan tersebut. Dalam pikiran saya, gelombang panggilan tersebut bisa jadi adalah upaya memblokir HP korban yang tidak dimatikan – sehingga efeknya hampir sama dengan mematikan HP, yaitu tidak bisa dihubungi.

Nomor HP istrinya mailbox, pertanda dimatikan. Telepon rumahnya di Pasuruan tidak merespon. Tidak ada nada panggil. Demikian juga dengan semua HP yang ada di rumah. Ia terus mencoba mengontak nomor rumah. Tapi terus gagal. Teman saya mulai panik.

Akhirnya ia memutuskan mencoba nomor mertuanya (yang juga di sekitar Pasuruan). Mertuanya rupanya kaget menerima telepon teman saya itu, dengan pertanyaan: Lho, nak, katanya kecelakaan? Terihat eskalasi emosinya, yang sebelumnya hampir tidak pernah terlihat. Mertuanya tersebut menerima telepon dari seseorang yang mengabarkan bahwa menantunya itu mengalami kecelakaan di Paiton.

Jadi benar yang saya khawatirkan. Ini modus yang sama dengan yang terjadi pada tetangga saya. HP korban dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak bisa dihubungi, dan pada saat terbatas itu istri atau keluarga korban dikabari bahwa korban mengalami kecelakaan – parah – dan butuh dana cepat untuk beli obat.

Setelah mengontak mertua, ia mencoba mengontak Ibunya yang ada di sekitar Probolinggo. Ternyata sang Ibu tidak tahu kabar tersebut. Saat masih mengontak Ibuya, teman saya minta tolong saya mencoba mengontak rumahnya. Agak sulit, pada awalnya tidak diangkat, tapi akhirnya istri teman saya itu mengangkat. Setelah selesai bicara dengan istrinya, teman saya kemudian bercerita:

Sekitar 1 jam sebelumnya, istrinya dikontak oleh seseorang berpangkat Inspektur (lupa namanya) dari Polres Probolinggo yang menyebutkan bahwa suaminya kecelakaan di perempatan Paiton (bersama 3 orang lainnya), karena ditabrak truk tangki Pertamina. Sekarang, teman saya itu sedang menjalani persiapan operasi, dan sang Inspektur gadungan mengatakan bahwa di sampingnya ada dokter yang akan menangani operasi. Untuk kelancaran pembelian obat, dokter itu minta dikirimkan dana 25 juta dalam tempo 20 menit.

Untuk menunjang kelancaran operasi, istri teman saya itu diminta untuk mematikan semua piranti elektronik, termasuk HP, karena gelombang elektromagnetik bisa mengacaukan peralatan operasi.

Istri teman saya itu mulai percaya (karena tidak ada orang di rumah sehingga tidak ada teman untuk saling bertimbang rasa). Ia pun melengkapi formulir transfer bank yang memang dimiliki di rumah. Tapi … siapa yang akan ke bank?

Tidak lama kemudian ada 2 orang teman guru yang datang ke rumah, mengantarkan daftar nilai yang perlu diotorisasi oleh istri teman saya itu. Istri teman saya itu pun minta bantuan untuk melakukan transfer bank (dengan formulir yang sudah lengkap), dalam kepanikan yang tinggi.

Namun demikian, teman guru tersebut mencoba tidak gegabah. Melalui telepon rumah, ia hubungi telepon kantor di Paiton, panggilan diterima oleh seorang laki-laki (padahal resepsionis di kantor adalah perempuan) yang menyebutkan bahwa teman saya itu sedang keluar bersama 3 orang (dinas luar). Nomor telepon teman saya sudah pasti tidak bisa dikontak (karena sedang digelontor panggilan). Polres Probolinggo (selain bagian SIM) tidak bisa dihubungi. Bahkan ketika mencoba ke nomor telepon Ibu teman saya, yang menerima adalah laki-laki tidak dikenal.

Meskipun berangkat ke bank, teman guru tadi sangat ragu-ragu. Ia punya pengalaman, kerabat yang mengalami kejadian serupa dan berujung pada penipuan. Di bank, sekuriti bank juga menyarankan untuk menunggu sedikit lama, karena salah seorang karyawan bank juga menjadi korban penipuan bermodus telepon kecelakaan. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak jadi melakukan transfer bank, dan kembali ke rumah teman saya. Tidak lama kemudian, telepon saya (yang akhirnya berhasil masuk – setelah sekian lama seolah-olah tidak ada yang mengangkat) berbunyi.

Duduk persoalan jadi jelas, dan episode upaya penipuan telah gagal.

Teman saya tersebut kemudian mencoba mengontak nomor telepon yang diberikan kepadanya. Mesin penjawab Telkom mengatakan: nomor ini tidak bisa dihubungi atas permintaan pemilik.

Sedikit siang, ternyata ada kondisi di kantor yang terkait dengan kisah teman saya tadi. Sekitar jam 9 pagi, ada telepon dari seseorang yang mengaku dari Telkom Probolinggo bernama Ir. Antonius Nugraha, menanyakan berapa line yang ada di kantor. Karena resepsionis tidak tahu, ia re-direct ke bagian IT. Ternyata, orang Telkom gadungan itu meminta telepon kantor dimatikan selama 1 jam, sebab nomor telepon kantor telah dipergunakan beberapa perusahaan di Probolinggo sebagai pengalihan tagihan yang mencapai 700 juta.

Caranya bagaimana? Katanya, cabut saja kabelnya.Tentu saja hal ini mustahil dilakukan karena bagaimana mungkin kantor harus idle dari komunikasi? Gertakan balik teman saya membuat “orang Telkom” tadi menutup sambungan. Kepala bagian IT langsung menduga akan ada karyawan yang akan menjadi korban penipuan.

Ada beberapa hal yang saya catat dari kejadian ini, sekaligus menyimpulkan bahwa sekalipun modus ini tidak baru tetapi jauh lebih canggih.

1.      Bila orang tidak mau mematikan telepon, alternatifnya dibombardir dengan panggilan yang tidak terputus. Sepertinya sindikat tersebut bisa memprogram panggilan secara auto, agar tiap kali putus (karena tidak diangkat atau di-reject) langsung mencoba kontak lagi.

2.      Semua hal yang terhubung dengan telepon rumah korban di-jammed, dan otomatis ter-divert ke nomor lain.

3.      Pelaku tidak bertindak sendiri, melainkan bermain secara team yang terdiri dari sekurangnya 4 orang yang berbeda. Dari pengalaman sebelumnya, salah seorang akan mahir berbicara seperti polisi dan seorang lagi mampu memberikan penjelesan layaknya dokter. Salah seorang lagi sudah pasti punya keahlian dalam bidang telekomunikasi – fix-line phone maupun seluler.

4.      Orang yang dikabarkan kecelakaan dan penyedia dana sudah pasti terpisah secara geografis, dan entah bagaimana sindikat tahu cukup banyak tentang kondisi orang yang dikabarkan kecelakaan. Semua jalur yang memungkin untuk menghubungi orang yang dikabarkan kecelakaan tertutup melalui koordinasi dan mekanisme yang rapih.

5.      Waktu 30 menit hingga 1 jam sejak kabar kecelakaan diluncurkan adalah waktu krusial Sepertinya mereka akan me-release fix-line yang “dikerjain” setelah 1 jam-an.

 

Telepon fix-line atau telepon rumah merupakan sarana inti pergerakan penipuan ini, sehingga yang utama “dikerjain” adalah telepon rumah korban. Rupanya ini sudah jadi concern Telkom juga. Kebocoran semacam ini mungkin terjadi karena selama ini yang mengerjakan jaringan (instalasi, maintenance) adalah pihak ketiga (outsourcing). Di sinilah Telkom tidak bisa memantau orang per orang individu yang bekerja pada perusahaan outsourcing tersebut.

Knowledge adalah power, dan menyalahgunakan power yang dimiliki ternyata bukan semata dominasi orang di jajaran elite. Karena power memang bisa sangat memabukkan.