Harry Potter dan Sihir (1)

Expecto Patronum!

Seberkas cahaya putih meluncur dari tongkat sihir Harry Potter, menjelma menjadi wujud siluet rusa jantan besar yang putih cemerlang, dan melindunginya dari serangan para dementor. Itulah mantera patronus yang luar biasa.

expecto patronum!

Kira-kira demikian deskripsi dalam novel Harry Potter tentang salah satu mantera di dalamnya. Harry Potter telah menjadi fenomena dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Dari sekedar sebuah novel, yang awalnya ditolak penerbit tetapi kemudiaan booming menjadi best seller, nama ini menjelma menjadi bahan baku industri hiburan yang menjamin kelarisan. Bisa dibayangkan kaya rayanya JK Rowling sang pengarang dan pemilik hak cipta tokoh rekaan ini.

Pada bulan Juli ini, sekuel terakhir film Harry Potter dari novel terakhirnya telah ditayangkan di berbagai negara di dunia, kecuali Indonesia (karena masalah perijinan). Khalayak penggemar Harry Potter telah menantikannya, dan dunia seperti tersihir oleh bocah ahli sihir ini.

Sejak pemutaran perdana di Indonesia, animo penggemar Harry Potter sangat luar biasa, bahkan dalam sebuah gedung cineplex film ini bisa ditayangkan lebih dari sebuah studio … dan semuanya penuh hingga pertunjukan terakhir. Untuk bisa memperoleh tempat duduk yang enak, jangan sampai telat mengantre …. Semua orang ingin melihat akhir kisah yang melegenda ini, dan bagaimana Harry Potter yang masih hijau akan mengalahkan musuh bebuyutannya yang berjuluk pangeran kegelapan: Lord Voldemort.

Wajar bila banyak yang bertanya dengan penasaran, apa sih yang menarik dari Harry Potter ini?

Saat novel pertamanya keluar sekitar tahun 1997, dunia heboh. Bahkan langsung jadi demam di banyak negara termasuk Indonesia. Saya tidak tertarik, karena pikir saya itu hanya novel yang bercerita tentang anak-anak … apa sih menariknya? Soal sihirnya … ah, itu paling hanya tempelan saja. Tidak akan jauh bedanya dengan kisah anak-anak detektif, bocah petualang, dan semacamnya seperti kisah rekaan Enyd Blyton (Lima Sekawan, Sapta Siaga) atau Alfred Hitchcock (Trio detektif).

Kehebohan yang sama terjadi saat film novel pertama ini diangkat ke layar lebar. Saya juga tidak serta merta menengoknya, karena pemikiran yang sama. Namun demikian, saat sebuah tv kabel menayangkannya, saya menontonnya juga (karena tidak film lain yang bagus). Satu hal yang langsung saya sadari, bahwa teknologi film sudah sedemikian maju sehingga film di eran millennium jauh lebih maju dalam special effect daripada dekade sebelunya. Dan … memang inilah salah satu kekuatan film Harry Potter. Hagrid yang setengah raksasa, kaum goblin penjaga bank, anjing kepala tiga, centaur, semuanya bisa disajikan secara apik. Belum lagi trik loncatan bunga api dari tongkat sihir, terbang dengan sapu, serta perubahan bentuk yang alami. Film ini langsung merebut hati saya.

Ada sebuah pesan moral yang tersampaikan pada film itu, bahwa karakter Harry Potter berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia memang tidak sepintar Hermione dalam pelajaran sihir, bahkan cenderung naif dan minder. Akan tetapi, selain punya bakat bocah ini sangat tulus dan setia kawan. Ia berani menempuh bahaya apapun untuk menolong teman, dan menjunjung kebenaran. Sihir yang diangkat dalam film ini … seperti dugaan saya – hanya menjadi latar belakang kisah, tetapi dibentuk secara solid.

JK Rowling, wanita pengarangnya yang asli Inggris, tampaknya besar dalam lingkungan yang mempercayai sesuatu yang gaib (agak beda dengan orang Barat pada umumnya), hendak mengatakan bahwa sihir adalah milik orang-orang yang punya bakat (berbakat besar maupun kecil). Orang awam, yang tidak bisa sihir dan tidak mengenal sihir, disebut dengan muggle. Kaum sihir punya komunitas, bahkan komunitas ini sangat besar, sehingga harus diatur oleh kementrian sihir. Komunitas ini berdampingan dengan orang awam, tetapi kegiatan mereka tersembunyi, terselubung, atau tersamar. Kaum sihir sengaja menyembunyikan jati diri mereka, dan tinggal tersamar melalui trik sihir.

Bakat sihir, menurut Rowling, bisa diwarisi dari kedua orang tua, salah satu dari orang tua, atau mungkin dari leluhurnya (karena kedua orang tuanya adalah muggle). Salah satu aspek terpenting dalam sihir adalah tongkat sihir, dan tidak sembarang orang bisa membuatnya (mungkin di sini dibuat hanya oleh empu). Tongkat sihir punya kekuatan gaib karena di intinya terdapat elemen dari mahluk-mahluk mitos, misalnya bulu burung phoenix (seperti tongkat sihir Harry Potter dan Voldemort), surai unicorn, otot jantung naga, dsb. Penyihir tidak bisa memilih tongkat, tapi tongkat sihir lah yang memilih orang yang memegangnya. Karena itu, agaknya seorang tanpa bakat tidak akan bisa mengeluarkan kekuatan sebuah tongkat sihir.

Dalam kisah JK Rowling ini, sihir punya sekolah formal, layaknya sekolah kejuruan pada umumnya. Sihir tidak didapatkan dengan bertapa dan menyepi, tetapi mengolah bakat yang sudah ada di dalam diri para murid. Semua mantera dan keahlian sihir dipelajari, dicermati, dihayati, dieksperimen-kan, dan akhirnya dikembangkan sendiri. Mereka yang mampu mengembangkan sihir mereka akan sukses sebagai penyihir. Di Inggris, sekolah sihirnya bernama Hogwarts, dengan kepala sekolah dan guru-guru yang bergelar profesor – dan mengajar sesuai dengan keahliannya masing-masing. Ada yang mengajar ramuan, ilmu tumbuhan (herbology), transfigurasi (perubahan bentuk), pertahanan terhadap ilmu hitam, ramalan, dsb. Akan tetapi, ada juga sport yang menjadi andalan, layaknya sepakbola yang dinamakan quidditch, degan aspek sihir berupa penggunaan sapu terbang. Bangunan sekolah yang luas mirip kastil abad pertengahan juga menjadi asrama bagi siswa-siswa sihir hingga lulus di tahun ke-tujuh.

Novel JK Rowling ini menurut saya unik, karena mampu membangun suasana hati dan sikap pembacanya. Tidak banyak novelis seperti ini, dan JK Rowling ternyata punya bakat yang kuat. Novel dan film Harry Potter di awal-awal terasa ceria, ada sifat anak-anak yang usil, nakal, lucu, tapi tetap serius. Seiring dengan bertambah dewasanya sang protagonis, novel berikutnya terasa lebih berat (dan halaman buku juga lebih tebal). Ada nuansa kelam yang menyelimuti jalannya cerita, banyak kepahitan, kematian, apalagi para penyihir hitam yang tergabung dalam dead eaters (pelahap maut) semakin kuat. Terlebih lagi setelah sang pemimpin Lord Voldemort bangkit dari kondisi hampir matinya. Bahkan penyihir terhebat seperti Profesor Dumbledore sang kepala sekolah Hogwarts harus berupaya keras mecari tahu kelemahan pangeran kegelapan itu, untuk melindungi Harry Potter dan dunia sihir agar tetap bersih.

Sekolah sihir Hogwarts, dan sekolah-sekolah sihir lain di Eropa sebenarnya hanya mengajarkan sihir yang baik, bahkan hanya mantra-mantra ringan yang diajarkan di tingkat dasar. Akan tetapi, tetap saja ada sisi kelam dari dunia sihir ini yang rahasianya berhasil diungkap oleh Voldemort muda dan menjadikannya master dalam sihir hitam – padahal dia dulunya adalah siswa Hogwarts semasa muda. Sihir hitam (the dark arts) dipelajarinya sendiri, dan sihir paling hitam adalah horcrux, yakni membelah jiwa dan memasukkannya ke dalam sebuah benda. Tujuannya adalah kehidupan yang abadi. Sebab, bila sebuah jiwa mati masih ada jiwa lain yang siap dibangkitkan. Untuk bisa membelah jiwa dan menyimpannya dalam horcrux, ada satu syarat yang mengerikan … pelakunya harus membunuh seseorang. Karena tidak bisa mati inilah Voldemort sangat ditakuti.

Harry Potter dan teman-teman setianya

Inti dari kisah perjalanan hidup Harry Potter adalah pertarungan kelompok putih dan kelompok hitam, kebaikan lawan angkara murka. Beberapa pesan moral yang dimuatnya antara lain:

  • Asal-usul mungkin penting tetapi jauh lebih penting lagi adalah kesungguhan diri sendiri dalam membentuk kepribadian. Siapa kita, tidak tergantung orang tua kita …. tetapi cara kita mengisi kehidupan ini.
  • Harry Potter berbakat dalam ilmu hitam (dark arts), tetapi ia memilih untuk tidak menggunakannya. Untuk bisa melafalkan mantera sihir hitam, pelakunya harus punya keyakinan bulat untuk mencelakai orang lain.
  • Semakin tinggi kemampuan Harry Potter kian jauh dia dari pamrih pribadi, dan semua kesengsaraan ditanggungnya untuk mengalahkan bencana semua penyihir: Voldemort.
  • Orang yang terbaik bukan yang paling pintar, tapi orang yang paling care pada orang lain. Itulah yang menjadikan Harry Potter dibenci lawannya dan dicintai teman-temannya.

Di akhir film Deathly Hallows (part 2), Harry Potter yang memegang tongkat sihir terkuat The Elder Wand menjelaskan bahwa tongkat itu tidak bisa ditaklukkan oleh Voldemort yang mengambilnya dari peti mati Dumbledore, karena tongkat itu sudah memilih tuan – yakni Harry Potter. Dengan tongkat itu, sebenarnya Harry Potter bisa menjadi penyihir terkuat. Akan tetapi, secara mengejutkan, Harry mematahkan The Elder Wand tersebut dan membuangnya ke ngarai. Tidak ada lagi orang yang bisa memanfaatkannya.

Kesimpulannya hanya satu, Harry Potter tidak mau menjadi penyihir terkuat, karena itu tidak pernah menjadi impiannya dan bukan kepribadiannya.

Kisah Harry Potter ini memang lebih dari sekedar cerita sihir.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: