Archive for October, 2009

Milestone bagi Bangsa

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on October 28, 2009 by hzulkarnain

Catatan Akhir Oktober 2009

Setelah bulan lalu umat Islam menandai kalender dengan tanggal merah Idul Fitri, pada akhir September bangsa ini menerima pertanda merah dari alam dengan guncangan lebih dari 7 skala Richter – tepatnya di sekitar kota Padang. Akibatnya, sepanjang awal Oktober ini bangsa Indonesia disibukkan oleh penyaluran bantuan moril, materiil, langsung maupun tidak.

Seperti sebuah ledakan di dalam (implosion) yang dahsyat, gempa tektonik Sumatera Barat tersebut merontokkan berbagai bangunan besar dan kecil tanpa ampun, dan karena terjadi pada jam-jam sibuk, semua orang yang sedang beraktivitas di dalam gedung langsung terjebak di dalamnya. Sebagian bisa diselamatkan, tetapi masih tidak terhitung yang hilang dan mungkin tidak pernah diketemukan lagi di bawah puing-ping.

Sedikit ke luar kota Padang, sebuah desa kelihatan mengenaskan – dan mengerikan – karena nyaris tergusur bukit yang longsor. Penduduk desa yang tersisa seperti berada dalam mimpi buruk, karena mungkin hampir semua kerabatnya mati seketika dan dirinya sebatang kara dalam sekejap. Di luar radius terdekat dari Padang, guncangan seperti tidak terlalu memberikan dampak yang terlalu signifikan. Bukit Tinggi, Tebing Tinggi, dan daerah lain yang cukup jauh dari Padang tidak menerima dampak yang terlalu signifikan.

Solidaritas rakyat Indonesia diuji lagi, dan tampaknya dorongan untuk bersedekah kepada saudara sebangsa yang sedang kesusahan masih sangat menonjol. Penggalangan oleh stasiun televisi (on air maupun off air), media massa cetak, radio, dan berbagai lembaga kemanusiaan lain secara berjamaan berhasil mengumpulkan ratusan milyar rupiah untuk menolong korban gempa Sumbar tersebut.

Catatan lain di bulan ini adalah pelantikan Presiden terpilih 2009 – 2014 Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Boediono, serta pemilihan anggota kabinet pemerintahan. Seperti diduga banyak pengamat politik, partai yang mendukung SBY dalam Pemilu Presiden memperoleh jatah menteri di pos-pos yang diduga maupun tidak. Kaum teknokrat yang handal masih dipertahankan, termasuk ekonom kelas dunia Mari Elka Pangestu dan pemikir ekonomi yang tidak membosankan dilihat Sri Mulyani. Muh. Nuh, mantan Menkominfo yang pernah menjabat sebagai Rektor ITS Surabaya, dan dalam kinerjanya sebagai menteri membuat kementrian yang dipimpinnya tidak lagi dipandang sebelah mata, digeser menempati posisi yang lebih prestisius: Menteri Pendidikan Nasional.

Yang menarik adalah lengsernya Siti Fadillah Supari dari jabatan Menteri Kesehatan, sekalipun sebelumnya banyak yang meyakini dia akan dipertahankan SBY – karena kinerja positifnya dan kemampuannya berdiri dengan lantang membela hak-hak negara dunia ketiga atas virus yang diambil dari negara-negara ini. Ia berseteru dengan NAMRU dari AS yang diketahuinya sudah tidak mempunyai izin beroperasi di Indonesia. Menjadi jauh lebih menarik ketika ternyata SBY justru mengangkat Endang Rahayu Sedyaningsih yang pernah diangkat dan dimutasikan dari jabatan peneliti utama di Depkes, dan dikenal dekat dengan NAMRU.

Tak ubahnya seperti berita gosip ala selebritis, kondisi ini terus menerus menjadi bahan berita media televisi dalam negeri. Baik mantan Menkes maupun pejabat baru sama-sama diwawancarai untuk menemukan titik temu, namun lagi-lagi keesokan harinya muncul berita serupa yang bermuatan sama sekali sama. Bahkan lebih keji, kemudian disebutkan bahwa Menkes kita ini dulu pernah menyelundupkan virus ke luar negeri. Benar-benar sebuah pelintiran, benar-benar penguasaan power atas kata yang abusive.

Belum lagi bergerak, sebuah isu baru menerpa dari kalangan kabinet, yakni pemikiran (atau permintaan – kurang jelas) bahwa gaji para menteri yang akan bekerja ini dinaikkan. Kontan berbagai komentar bermunculan dari petinggi partai yang berkiprah di DPR, dan tentu saja mayoritas menilai bahwa para menteri itu keterlaluan dan tidak sensitif. Padahal, kalau dipikir lebih jauh, para menteri tersebut jumlahnya hanya sekitar 30 – 40 orang, membantu Presiden mengurusi 200 jutaan penduduk Indonesia. Rasanya siapapun mereka, dengan kesibukan 24 jam seperti itu, cukup pantas menerima penghargaan gaji yang besar. Kita harus ingat, bahwa sekarang bukan jaman Orde Baru yang penuh dengan kebocoran. Para Menteri harus bergaji tinggi agar mereka kecukupan dan tidak berpikir aneh-aneh tentang jabatan mereka. Presiden sudah berjanji dan sudah memulai langkah pemberantasan korupsi, karenanya tidak layak bila kita meragukan komitmen figur yang telah kita pilih untuk memimpin bangsa ini selama 5 tahun ke depan.

Di akhir Oktober, bertepatan dengan dua pekan pertama bulan Dzulqo’dah, jamaah calon haji Indonesia mulai memadati asrama haji untuk secara bertahap diberangkatkan ke tanah suci Mekkah. Isu pemondokan dan transportasi masih mengemuka, namun menteri agama yang baru dan segenap jajaran yang megurusi haji telah berjanji untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada kafilah yang sampai di sana. Memang mungkin tidak mudah, tetapi semua selalu ada waktu dan caranya. Kita yang belum berkesempatan untuk pergi menunaikan rukun Islam yang ke-lima itu hanya bisa berharap semoga mereka pulang kembali ke tanah air sebagai haji-haji yang mabrur. Amin.

Sebuah catatan penting juga adalah kian senyapnya gaung peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang jatuh pula di bulan ini. Pertanyaan yang kemudian lazim terlontar adalah, apakah gerakan yang menjadi cikal bakal kebangkitan pemuda Indonesia ini akan semakin kehilangan makna?

Beberapa hari yang lalu, masih di seputar saat pelantikan anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, KNPI Maluku menggagas unjuk rasa yang berakhir ricuh karena secara kesukuan mereka merasa dianak tirikan. Pelopor unjuk rasa mengatakan, propinsi lain bisa menempatkan 2 hingga 3 menteri di kabinet, tetapi mengapa tidak ada satupun putra Maluku yang diangkat jadi menteri. Saya yakin, kecemburuan tersebut dipicu naiknya beberapa nama yang berasal dari Sulawesi ke jajara menteri.

Nasionalisme adalah harga mati untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa, karenanya layaklah bila semangat tersebut senantiasa dikobarkan. Mungkin Kementrian Pemuda dan Olahraga perlu menjadi katalisator dan fasilitator bangkitnya semangat nasionalisme ala awal abad XX silam tersebut. Semoga kesempitan dalam berpikir tidak menghambat bara nasionalisme di hati kita.

Sang Menteri…

Posted in Sharing with tags on October 24, 2009 by hzulkarnain

Garuda1Seminggu terakhir ini – sejak hari Sabtu minggu lalu – adalah hari-hari yang melelahkan secara mental bagi beberapa politisi, teknokrat, dan team sukses SBY yang diproyeksikan sebagai menteri dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu II. Sedikit berbeda dengan era Orde Baru, calon menteri yang dipanggil dan diwawancarai oleh SBY dan Boediono ternyata tidak selalu dipastikan menjadi menteri.

Seperti biasa, kalau ada perhelatan seperti ini para komentator politik jadi laris di media massa elektronik maupun cetak. Bukan sekedar berkomentar, bahkan ada yang dengan nyinyir mencela pemilihan orang yang mereka anggap tidak kompeten di bidang yang akan ditempati para menteri baru tersebut. Mungkin benar bahwa posting menteri yang berasal dari partai politik koalisi Partai Demokrat memang cukup kental bernuansa politis dibandingkan pertimbangan profesional, akan tetapi pada kenyataannya Presiden juga tidak gegabah menempatkan personalia menteri yang akan membantunya.

Beberapa profesional tetap dipertahankan di posisinya semula, beberapa yang lain digeser ke kantor yang berbeda, pos “aman” diserahkan ke menteri dengan kapabilitas yang belum teruji, “ikan besar” di-posting ke posisi yang prestisius, dan seterusnya. Seperti itulah Presiden mengotak-atik sususan nama yang masuk ke kantongnya untuk menjadi barisan lengkap yang baik. Sebelum tanggal 22 malam yang menjadi hari penentuan, banyak spekulasi yang berterbangan di layar kaca, namun pada akhirnya cukup tepat. Pembaca dan pemirsa media massa mau tak mau megikuti perkembangan dari Cikeas.

Beberapa profesional senior tetap menempati posnya masing-masing, seperti Djoko Kirmato, Sri Mulyani, dan Mari Elka Pangestu. Yang hanya bergeser ke kantor lain, bisa disebutkan Hatta Radjasa, Fredi Numberi, Muhammad Nuh, dan Purnomo Yusgiantoro. Tokoh penting yang masuk dalam susunan baru di posisi cukup penting seperti Agung Laksono. Petinggi partai yang diberi posisi “aman” bisa disebutkan seperti Muhaimin Iskandar sebagai Menakertrans, dan Tifatul Sembiring sebagai Menkominfo. Profesional yang baru dimasukkan ke dalam jajaran kabinet juga ada, sebut saja Marty Natalegawa yang selama ini dikenal sebagai Dubes Indonesia untuk PBB. Sebuah nama yang sudah diumumkan menjadi calon menteri, tetapi kemudian ternyata tidak lulus fit & proper test adalah Nila Juwita A Moeloek, dokter spesialis mata yang digadang sebagai Menteri Kesehatan.

Sejumlah pengamat langsung bereaksi. Beberapa masih akan menunggu kelanjutan kinerja menteri yang ditunjuk Presiden, sementara yang lain langsung mengeluarkan nada minor atas beberapa nama. Yang paling eksplosif tampaknya adalah mantan Menkes Siti Fadillah Supari, yang ternyata tidak jadi digantikan oleh Nina Moeloek, karena penggantinya adalah orang yang pernah “dikotakkan”-nya sehubungan dengan kasus virus H5N1. Kabarnya, Endang Rahayu Sedyaningsih pernah membawa sampel flu burung ke Hanoi tanpa sepengetahuan Menkes, dan itu ditengarai berkaitan dengan keterlibatnnya pada NAMRU (Naval Medical Research Unit) milik Amerika. Jadi, pengangkatan Endang sebagai Menkes dianggap sementara pengamat sarat bermuatan kepentingan dengan AS.

Bagi saya, yang lebih menarik adalah ekspresi orang-orang yang akhir diumumkan menjadi menteri. Kebanyakan akan segera mengucapkan hamdalah, mengangkat tangan, dan menerima salam dari rekan dan kerabat yang “kebetulan” nonton bareng pengumuman di rumah mereka … dengan wajah sumringah. Bahkan Patrialis Akbar yang diangkat menjadi Menteri Hukum dan HAM langsung sujud syukur mengekspresikan kegembiraannya.

Yang berbeda adalah Tifatul Sembiring yang diangkat sebagai Menkominfo menggantian Muhammad Nuh (yang sekarang menjabat sebagai Mendiknas). Begitu diumumkan, yang dilakukannya hanya berdiri, mengangkat kedua tangan, dan berucap: Inalillahi wa ina illaihi rooji’uun…. Saya menarik napas terharu melihat keikhlasan Pak Tifatul dalam menerima amanah.

Sebuah jabatan adalah percayaan dan amanat, bukan hadiah. Bila hadiah adalah hak mutlak si penerima begitu berpindah tangan, sementara amanat harus dijalankan dengan baik atau akan diambil kembali oleh si pemberi. Orang akan memperlakukan sesuatu yang disebut dengan hadiah dan amanah secara berbeda.

Saya hanya berharap, sekalipun para menteri tersebut berucap hamdalah, namun di hati mereka tetap menganggapnya amanah, karena tujuan akhir sebuah amanah adalah kemaslahatan bagi umat manusia.

Selamat bekerja Bapak dan Ibu Menteri Kabinet SBY, semoga kalian amanah dan Allah senantiasa memberikan panduan bagi kebaikan manusia Indonesia. Amin.

Istri dalam Bahtera Rumah Tangga

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags on October 17, 2009 by hzulkarnain

Peran dan fungsi laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga berubah dan bergerak dari masa ke masa, maupun dari sebuah kelompok budaya ke kelompok budaya yang lain. Masyarakat Minangkabau, Jawa, Bali, Papua, Eropa, masing-masing punya nilai dan karakter kultur yang beragam. Di beberapa tempat perempuan memiliki tempat yang setara dengan kaum laki-laki dalam mencari nafkah. Di tempat yang lain, kaum perempuan memiliki kuasa atas jalur kekerabatan, dan di beberapa tempat yang belum berkembang, perempuan adalah follower tanpa suara.

Apapun modifikasinya, sebenarnya Allah Swt telah menurunkan penetapan yang disebutkan dalam QS. An-Nisaa 34.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka  atas sebahagian yang lain , dan karena mereka  telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

mengarungi bahtera dengan senyum dan ikhlas...

mengarungi bahtera dengan senyum dan ikhlas...

Allah menetapkan laki-laki sebagai pemimpin bagi kaum perempuan, karena memberikan kelebihan pada mereka. Akan tetapi, dengan sunatullah tersebut bukan berarti sang pemimpin boleh bertindak sekehendak hati. Kedua belah pihak harus saling menjaga dan memelihara karena suami adalah pakaian dari istrinya, demikian pula istri adalah pakaian bagi suaminya. Karena merupakan pakaian, sudah selayaknya keduanya saling bertugas untuk menjaga kehormatan pihak yang lain.

Sekalipun rasanya terlalu menyudutkan, kaum perempuan sudah seyogyanya mengikhlaskan sunatullah ini dalam menjalankan kehidupan, karena justru dengan melakukannya surga akan dijanjikan bagi mereka. Keharmonisan rumah tangga, dan terbentuknya generasi muda Islam justru berada di tangan kaum perempuan sebagai Ibu. Mungkin kaum laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga, tetapi sebenarnya kaum perempuanlah yang menjaga keutuhan keluarga, dan terbinanya anak-anak menjadi orang shalih dan shalihah.

Dalam sebuah tuntunan, beberapa hal yang harus diperhatikan bila perempuan berkeinginan menjadi istri yang terbaik dalam rangka membentuk baity jannaty:

  1. Taat kepada suami selama bukan untuk kemaksiatan. Termasuk di antaranya menolak tidur dengan suami bila hal itu merupakan kesalahan besar yang harus dihindarkan
  2. Istri yang ideal menurut Islam harus mampu memadukan 3 hal:
    1. Membahagiakan suami bila suami melihatnya
    2. Menaatinya bila suami menyuruh,
    3. Tidak menentang keinginan suami
  3. Izin suami harus didapatkan bila seorang istri berniat:
    1. untuk berpuasa sunnah
    2. untuk bepergian
  4. Mendahulukan hak suami atas orang tuanya sendiri, dan Allah akan megampuni dosa-dosa istri tersebut. Termasuk pula meminta ridho suami, karena ridho suami menjanjikan surga bagi istri
  5. Menjaga kehormatan dan harta suami
    1. Tidak mencemarkan dan memburuk-burukkan suami saat tidak sedang bersama suami
    2. Tidak menerima tamu tanpa suami, atau bercengkerama dengan laki-laki lain tanpa mengindahkan keberatan suami
    3. Menjaga harta suami dengan amanah, tidak meminjamkan milik suami, bahkan hanya menyedekahkan harta  dengan seizin suami
    4. Hanya menjawab seperlunya bila orang bertanya tentang suami
    5. Tidak bercerita tentang masalah seksual atau masalah di antara suami-istri kepada orang lain
  6. Menjaga keharmonisan
    1. Berhati-hati dengan pembelanjaan dan keuangan keluarga, dan tidak meminta tambahan bila tidak perlu sekali
    2. Terbuka, mengakui bantuan kepada orang lain
    3. Berhati-hati saat menyampaikan masalah, namun harus tetap mendiskusikannya di saat yang tepat
    4. Memelihara rumah dan menjaga isinya
    5. Berbicara penuh perhatian pada suami, dan menghindarkan adu argumentasi
    6. Menunjukkan kasih sayang pada suami secara terbuka di rumah, dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya
  7. Menjaga silaturahmi dengan kerabat suami

Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah tidak meminta cerai tanpa alasan yang kuat, dan bila suami meninggal harus berkabung selama 4 bulan 10 hari.

Sekalipun Islam menempatkan laki-laki sebagai pemimpin bagi istrinya, tidak berarti tugasnya menjadi lebih ringan. Tidak berarti pula tugas istri yang dominan berada di rumah juga lebih ringan. Ringan atau beratnya tugas masing-masing pihak dalam menjalankan sunatullah harus dilaksanakan dengan baik dan benar, maka akan terasa lebih ringan. Bila salah satu sudah menyalahi tugasnya, maka tugas pihak lain akan menjadi lebih berat.

Tugas suami adalah menjadi tulang punggung keluarga dan mencari nafkah. Ia harus menghabiskan kehidupan di luar rumah untuk mengais rizki Allah, sehingga larut malam baru bisa kembali ke rumah untuk beristirahat. Ia mengemban amanah untuk mencari penghidupan bagi keluarganya. Sayangnya, tidak semua orang punya semangat yang besar untuk menjadi teladan keluarga, sehingga rizki Allah justru menjauh. Bukannya mencari nafkah, malah berjudi. Bukannya bekerja keras, malah “kloyongan” tak menentu. Bila sudah demikian, istri yang seharusnya menunjang tugas suami dalam membina rumah tangga harus ikut mengorbankan waktu untuk mencari nafkah.

Sama halnya bila seorang istri tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik sebagai istri di rumah, misalnya karena sibuk dengan kariernya di luar rumah. Dampaknya adalah anak-anak yang tidak terurus dengan benar. Kalau sudah demikian, suami harus ikut memikirkan perkembangan anak dengan serius, bahkan mungkin terjun langsung . di era modern ini, semakin jamak dijumpai suami yang justru melakukan tugas istri karena ketidak adaan istri di waktu dan tempat yang dibutuhkan. Di kalangan selebritis juga semakin jamak dijumpai istri yang menggugat cerai pada suami, dengan alasan yang kadangkala tidak masuk akal. Bukan sekedar meminta cerai, tetapi juga bicara lantang di media massa. Nauzubillahi mindzalik…..

Bila sudah bicara tentang sunatullah, tidak ada menang maupun kalah. Yang adalah fungsi dan tugas yang harus dijalankan, agar keluarga bisa memperoleh kebarokahan. Ujungnya adalah rumah yang seperti surga … baity jannaty … insyaallah.