Archive for August, 2009

Menjadi Khalifah…

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags , on August 29, 2009 by hzulkarnain

Beberapa hari silam, dalam salah satu episode perbincangan menjelang Maghrib antara Shahnaz Haque dan Ustadz Abu Sangkan, diangkat sebuah fenomena tentang pengusaha muslim yang sukses dan memiliki karyawan hingga ribuan. Pengusaha konstruksi tersebut bisa dikatakan sebagai pebisnis papan atas di sektornya. Yang menarik adalah kutipan sang ustadz pada ucapan sang pengusaha, yang menyebutkan bahwa semua usaha yang dilakukannya semata-mata agar dia menjadi apa yang disebut khalifah di muka bumi.

Menjadi khalifah adalah menjadi kepanjangan tangan Tuhan di muka bumi, dan dalam pengertian sang pengusaha dia ridha menjadi pintu rizki bagi orang lain dengan kemajuan usahanya. Ia istikomah dalam berbisnis bukan semata untuk dimakan atau untuk kepentingan lainnya, namun lebih untuk menjalankan amanat Allah.

Lebih jauh Abu Sangkan menjelaskan hakikat zakat sebagai salah satu pilar dalam rukun Islam. Zakat yang disebutkan di sana adalah memberi zakat, bukan menerima zakat. Implikasinya, umat Islam tidak boleh miskin agar bisa membayarkan zakat. Kalau saja orang Islam memahami konsep dasar ke-lima pilar tersebut, seharusnya orang Islam harus berkecukupan dalam nafkah.

Yang terjadi dewasa ini, justru kebalikan dari semangat Islam yang mulia tersebut. Di beberapa ruas jalan di Jawa, jamak kita jumpai barisan beberapa orang di dekat pembangunan masjid yang berdiri di atas marka jalan – seraya mengacung-acungkan ember atau kaleng untuk minta uang. Ada pengeras suara yang memberikan alasan minta-minta itu – misalnya untuk biaya pembangunan masjid. Saya selalu berpikir, apakah tidak ada cara yang lebih terhormat untuk melakukan pembangunan rumah ibadah semacam itu? Bagaimana pula dengan belasan laki-laki produktif yang hanya berjajar di marka jalan dan meminta-minta dari mobil yang lewat itu? Mengapa tidak sebaiknya mereka bekerja saja daripada mengacung-acungkan ember?

Jangan tanya lagi soal pengemis yang jumlahnya semakin banyak saat memasuki bulan puasa begini. Seolah-olah memanfaatkan kerapuhan hati sebagian muslim di saat berpuasa dalam bersedekah, bulan puasa seolah-olah identik dengan musim pengemis. Satpol PP yang bertugas membersihkan jalanan menjadi momok sekaligus musuh pengemis dan gelandangan musiman, karena mereka tak kenal lelah membersihkan jalanan. Ada perasaan iba campur aduk melihat mereka “digaruk” petugas, tetapi itulah resiko mengemis dan menggelandang di masa sekarang.

Manusia yang dianugerahi akal budi tidak pernah tanpa pilihan, namun memang tidak semua manusia mau bersusah payah melihat peluang yang memungkinkan mereka lebih baik, atau cukup sabar menghadapi cobaan.

Beberapa hari berselang saya membaca kabar pelaku korupsi berjamaah dana sosial yang memasuki tahap vonis. Ke-5 orang jamaah korupsi tersebut (dari jajaran Depsos, pemda, camat hingga lurah), mengkorupsi dana bantuan korban bencana puting beliung di sebuah wilayah di Probolinggo. Dana yang dialokasikan sekitar 285 milyar ternyata yang disalurkan kepada para korban tinggal 14 milyar. Sebanyak 271 milyar raib.

Apakah memang begini karakter manusia yang sebenarnya?

Hingga para malaikat yang biasanya tunduk patuh pada tiap keputusan Allah pun bertanya kepada Allah Swt ketika hendak menetapkan seorang khalifah di muka bumi (QS Al Baqarah 30). Manusia dianggap tidak pantas memimpin dunia, karena ia hanyalah biang kerusakan, dibandingkan dengan para malaikat yang selalu bertasbih. Akan tetapi Allah berketetapan untuk menempatkan manusia sebagai khalifah di antara mereka sendiri.

Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, akan tetapi manusia diletakkan di titik nol – yang serendah-rendahnya. Hanya manusia yang beriman dan beramal saleh saja yang bisa mengangkat dirinya dan meneguk pahala yang tiada habis. Surat At-Tin dengan jelas menggambarkan kodrat manusia yang memang tidak tinggi, namun mereka diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, menjadi orang yang lebih baik, agar menjadi khalifah sebagaimana ketetapan Allah. Orang yang tidak paham akan tetap di tempat yang tidak punya nilai tinggi.

Kalau manusia hanya berpikir untuk mencari makan dalam mengisi kehidupan ini, lantas apa bedanya dengan mahluk hidup lain yang lebih rendah derajatnya? Memang tidak semua orang punya rizki sebaik orang yang lain, namun semua orang punya peluang untuk menjadi diri yang lebih baik. Kalaupun ia tidak bisa menjadi pintu rizki bagi orang lain, setidaknya ia punya waktu untuk mensyukuri rizki yang diterimanya. Bersyukur adalah salah satu cara untuk bangkit dari titik nol, sesuai dengan firman Allah dalam QS Ibrahim, bila kita bersyukur semakin besar karunia Allah. Sebaliknya, bila kita tidak juga mau bersyukur, maka siksa Allah sungguh pedih.

Salah satu kesyukuran yang bisa kita tunjukkan pada Allah adalah dengan memberi pada orang lain. Allah tidak menyukai tangan di bawah, karena meminta-minta bukanlah tuntunan Islam. Orang Islam harus berikhtiar, menunjukkan harga diri, sehingga tiap rupiah yang kita terima terasa jauh lebih manis.

Tangan di atas tidak pernah sama dengan tangan di bawah!

Mari Berpuasa ….

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on August 23, 2009 by hzulkarnain

Tanggal 22 Agustus 2009, secara serentak kaum Muslim negeri ini seharusnya mulai berpuasa, seiring dengan masuknya bulan Ramadhan. Memang ada beberapa anomali yang tidak terhindarkan, misalnya beberapa aliran yang berpayungkan Islam ternyata memilih untuk berbeda. Katakanlah tharikat naqsabandiyah di Sumatera Barat yang berlandaskan ajaran sufisme, ternyata memulai dua hari lebih awal. Anomali lain adalah kelompok orang Islam (paling tidak KTP-nya berbunyi seperti itu) yang menganggap bulan Ramadhan sama dengan bulan lain, tidak lebih – bedanya hanyalah mereka jadi tidak bebas untuk makan di siang hari.

Adanya orang yang tidak berpuasa karena tidak menganggap penting berpuasa di bulan Ramadhan dari masa ke masa ini seolah-olah sudah menjadi garis kodrat manusia, sehingga firman Allah dalam Al-Baqarah 183 pun menyebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Yang diseru adalah “yaa ayyuhalladzina aamanu” bukan “yaa ayyuhannas” – hai orang yang beriman bukan hai manusia. Berpuasa adalah jalan orang yang beriman dan diserukan hanya kepada orang yang beriman, agar semakin mereka mendalami makna puasa, kian besarlah takwa dalam diri mereka.

Secara nyata, memang tidak semua orang suka (bahkan yang beragama Islam) dengan datangnya bulan puasa, karena berarti mereka harus berhenti melakukan berbagai hal yang secara nafsu mereka sukai: makan minum di siang hari dengan bebas, aktivitas syahwat yang menyimpang, dan suasana yang mendadak religius mau tak mau membuat kekangan, setidaknya perasaan yang tidak enak.

Kalau kita simak di layar televisi, menjelang bulan suci ini para Satpol Pamong Praja berkeliaran di tempat-tempat yang ditengarai menjadi basis kemaksiatan dan menertibkan mereka. Para PSK mau tak mau harus ikut berpuasa, karena lokasi mereka dipantau ketat. Tak kalah seru, Ormas yang mengatas namakan Islam seperti FPI juga merazia beberapa tempat yang dianggap sumber maksiat. Pokoknya, aparat pemerintah daerah dan ormas seperti berlomba menegakkan kedisiplinan dalam beribadah.

Puasa sebenarnya bukan monopoli orang Islam, karena sebelum Islam pun berpuasa sudah di-syariah-kan melalui Rasul sebelum Muhammad SAW. Puasa Dawud dan puasa di hari Asyura adalah contohnya. Sebelum di tetapkan hukumnya sebagai sunnah oleh Rasulullah SAW, orang-orang yang hidup di jaman Rasulullah (bahkan Rasulullah sendiri) juga berpuasa di hari Asyura. Pada intinya, dengan kenyataan bahwa puasa adalah tuntutanan agama sejak jaman dahulu, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya. Apalagi puasa di bulan Ramadhan sudah jelas dituliskan dalam Al Qur’an.

Teristimewa di Jawa, datangnya bulan puasa ini juga dimaknai dengan beberapa ritual dan adat yang tidak jelas asal-usulnya. Pertama, sebelum masuk Ramadhan berbagai makam tiba-tiba penuh dengan kerabat ahli kubur untuk “nyekar” (mungkin sekali di beberapa tempat lain juga demikian). Kemudian ada saling antar makanan antara tetangga, khususnya memberi antaran pada orang-orang tua atau yang dituakan. Setelah masuk bulan puasa, pikiran sudah meloncat jauh ke akhir bulan, saat Idul Fitri – karena di Jawa Idul Fitri identik dengan mudik dan perayaan keluarga besar. Beberapa orang yang menjelang bulan puasa belum “nyekar” juga menyempatkan diri untuk berziarah kubur.

Mudik yang masif sekarang sudah menjadi tradisi, adat kontemporer, baik bagi Muslim maupun non-Muslim, bagi Muslim yang khusyuk berpuasa maupun sama sekali tidak melaksanakannya. Tahun ini, dengan meningkatnya teknologi pemesanan tiket kereta, bahkan tiket bisnis dan eksekutif hingga hari H-5 sudah habis terjual ketika bulan puasa belum tiba.

Dengan masuknya bulan puasa, kita kemudian disuguhi acara televisi yang bernuansa ramadhan, dan pada jam sahur semua televisi swasta berlomba-lomba menyajikan konsep acara yang hampir sama dengan tahun lalu: humor dan kuis. Yang sedikit berbeda adalah sinetron Para Pencari Tuhan yang masuk tahun ketiga di SCTV, dan kelanjutan Tafsir Al-Misbah di Metro. Jadi, sambil bersantap sahur,  pemirsa bisa menentukan selera mereka.

Di atas segala apapun, ramadhan adalah biang segala bulan, bulan yang utama karena Allah sendiri yang memerintahkan puasa ini, bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk Allah sendiri. Allah juga yang akan membalas sendiri ketakwaan manusia dengan takaran yang dikehendakiNya. Berpuasa bisa dengan alasan apapun, termasuk semua khasiat dan manfaat yang dijelaskan oleh Rasulullah, tetapi boleh juga hanya mendasarkan diri pada prinsip tersebut di atas: puasa kita ini hanya untuk Allah. Semakin ikhlas kita melaksanakannya, semakin ringan rasanya. Mereka yang berpuasa dengan pamrih karena manusia lain, akan merasakan beratnya puasa ini.

Semoga Allah senantiasa menjaga puasa kita yang dilakukan hanya untuk mencari ridlo Allah semata, dari semua gangguan dan godaan duniawi maupun syetan yang terkutuk.

SELAMAT MELAKSANAKAN IBADAH PUASA.

TERAPI SALAT TAHAJUD 6

Posted in Sharing on August 15, 2009 by hzulkarnain

Makna Salat Tahajud

Makna Salat

bumi Allah, di manapun kau berada

bumi Allah, di manapun kau berada

Secara bahasa, salat berarti doa, karena di dalamnya mengandung doa. Secara terminologi, salat adalah suatu ibadah dengan syarat tertentu yang terdiri atas ucapan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Pentingnya posisi salat dalam Islamdisabdakan oleh Rasulullah Saw:

“Pokok segala urusan adalah Islam, sedangkan tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah berjuang di jalan Allah Swt.”

“Salat itu adalah tiang agama. Barang siapa mendirikan salat, ia telah menegakkan agama dan barang siapa meninggalkan salat, ia akan meruntuhkan agama.”

Tujuan salat adalah pengakuan hati bahwa, Allah Swt sebagai pencipta adalah Mahaagung, dan pernyataan patuh terhadapNya, Tuhan Yang Mahakekal dan Mahaabadi.

Makna Tahajud

Tahajjud artinya bangun dari tidur. Salat tahajud artinya salat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari dan dilaksanakan setelah tidur lebih dahulu walaupun tidurnya hanya sebentar. Orang yang melaksanakan salat tahajud disebut mutahajjid.

Karena pentingnya salat tahajud ini, sebuah riwayat dari Ahmad dan Muslim menyebutkan bahwa Allah Swt sempat mewajibkannya untuk Rasulullah dan sahabat sebelum kemudian menetapkan kesunahannya:

Said bin Hisyam bertanya kepada Aisyah tentang salat Nabi di waktu malam. Aisyah menjawab:”Apakah Anda tidak membaca Surah Al Muzzammil?” “Ya,”jawab Said. Maka, salat malam pada permulaan surah ini, dijalankan oleh Rasulullah Saw dan sahabatnya selama satu tahun, sampai kaki mereka bengkak dan Allah Swt tidak menurunkan ayat akhir (ayat 20 Surat Al-Muzzammil) dalam surat ini selama dua belas bulan. Kemudian, (ayat 20) diturunkan untuk meringankan sehingga salat malam menjadi sunah sesudah diwajibkan.” (HR Ahmad dan Muslim)

Rasulullah Saw menekankan pentingnya salat tahajud dalam sabdanya:

“Kalian harus mengerjakan salat malam sebab itu kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, juga suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt juga sebagai penebus dosa dan kejelekanmu, serta dapat menangkal penyakit dari badan.” (HR At-Tarmidzi).

Namun demikian, bukan berarti salat tahajud bisa dilaksanakan dengan mudah. Kemalasan akibat gangguan setan selalu datang pada saat orang seharusnya bangkit dari tidur untuk menegakkan salat. Imam Bukhari meriwayatkan sabda Rasulullah Saw:

“Setan mengikat kuduk seseorang dengan tiga ikatan ketika ia tidur. Lalu, setan memukul tempat tiap ikatan pada kuduk orang yang sedang tidur sambil berkata:’Tidurlah, kamu mempunyai malam cukup panjang.’ Bila seseorang yang tidur itu bangun dan berzikir kepada Allah Swt, lepaslah satu ikatan. Lalu, jika ia pergi wudu, teruailah satu ikatan lagi, dan manakala ia salat lepaslah ikatan terakhir sehingga ia menjadi bersemangat dalam beribadah, terlepas dari segala ikatan kesempitan jiwa dan terlindungi dari rasa malas,”(HR Bukhari).

Waktu untuk Salat Tahajud

Malam hari sebagaimana yang dimaksudkan untuk pelaksanaan salat malam terbagi atas 3 bagian, yang disebut dengan permulaan malam, pertengahan malam, dan penghabisan malam.

Dalam Surah Al-Muzzammil (73: 3-4) Allah Swt menerangkan waktu untuk salat tahaud dengan sebutan: separuh malam, kurang atau lebih. Artinya, Allah Swt menyerahkan waktu salat tahajud yang tepat sesuai dengan kelonggaran yang ada pada diri Nabi Saw. Namun demikian, menurut hadis yang sahih, sebaik-baiknya waktu untuk menjalankan salat tahajud adalah pada sepertiga malam yang terakhir (sekitar pukul 02.00 atau 03.00 hingga sebelum subuh). Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

“Tuhan kita, Azza wajalla, tiap malam turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir.”

Pada saat itulah Allah Swt berfirman:’Barang siapa yang berdoa kepadaKu pasti Kukabulkan, barang siapa yang meminta kepadaKu, pasti Kuberi, dan barang siapa yang meminta ampun padaKu, pasti Kuampuni.” (HR Jamaah)

“Pada saat manakah salat malam yang lebih utama?” Abu Dzar menjawab:”Saya pernah menanyakan demikian kepada Rasulullah Saw, maka beliau bersabda:’Pada tengah malam yang terakhir, tapi sedikit sekali yang suka mengerjakannya.” (HR Ahmad)

Dari Amar bin Abas berkata:”Saya mendengar Nabi Saw bersabda:’Sedekat0dekatnya hamba kepada Allah Swt ialah di tengah malam yang akhir, maka jika engkau termasuk golongan orang yang berzikir kepada Allah Swt pada waktu itu usahakanlah!” (HR Al-Hakim)

Bilangan Rakaat Salat Tahajud dan Witir

Rasulullah Saw memberikan contoh nyata cara dan bilangan salat tahajud, sebagaimana hadist berikut:

Telah berkata Aisyah:”Bahwasanya Rasulullah Saw pernah salat antara waktu Isya dan Subuh sebelas rakaat, yaitu ia beri salam pada tiap-tiap dua rakaat, dan ia sembahyang witir satu rakaat.” (HR Bukhari)

Telah berkata Aisyah:”Bahwasanya Rasulullah Saw pernah salat malam tigabelas rakaat. Dari tiga belas rakaat itu, ia salat witir lima rakaat, dan ia tidak duduk di antara rakaat-rakaat itu kecuali pada rakaat terakhir.” (HR Bukhari dan Muslim)

Telah berkata Aisyah:”Bahwasanya Rasulullah Saw pernah salat tahajud empat rakaat, tapijangan emgkau tanya bagusnya dan panjangnya, kemudian ia salat lagi empat rakaat, dan jangan tanya bagus dan panjangnya, kemudian ia salat witir tiga rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Said bin Yazid mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw mengerjakan salat tahajud tiga belas rakaat, yaitu dua rakaat untuk salat iftitah, salat pembukaan, delapan rakaat salat tahajud, dan tiga rakaat salat witir.

Untuk memudahkan pelaksanaannya, seseorang diperbolehkan memilih satu model untuk dijalankan secara istiqomah. Atau seserang diperbolehkan juga menggunakna satu model pada satu malam dan pada malam yang lain menggunakan model yang lain pula sesuai dengan kelonggarannya.

Beberapa hadis shahih menerangkan tentang salat tahajud Nabis Saw dan hampir semua hadis tersebut menunjukkan bahwa salat tahajud yang dilaksanakan dengan witir tersebut berbilangan sebelas rakaat atau atau tiga belas rakaat. Bila tiga belas rakaat, dua rakaat berupa salat iftitah, delapan rakaat salat tahajud, dan tiga rakaat untuk salat witir.

Adapun jumlah rakaat salat witir, bilangannya adalah satu, tiga, lima, tujuh, atau sembilan. Bila tiga rakaat, pelaksanaannya tidak boleh sama dengan salat Maghrib – tidak boleh dengan dua tasyahud. Salat witir, berapapun bilangan rakaatnya, hanya menggunakan satu tasyahud pada rakaat yang terakhir.

Etika Salat Tahajud

  1. Berniat akan melakukan salat tahajud ketika akan tidur. Ini sesuai dengan sabda Nabi Saw:”Barang siapa yang mau tidur dan berniat akan bangun melakukan salat malam, lalu tidur sampai pagi, mereka dituliskan apa yang diniatkan itu merupakan sedekah untuk Tuhan.” (HR Ibnu Majah dan Nasai).
  2. Membersihkan bekas idur dari wajahnya, kemudian bersuci dan memandang ke langit sambil berdoa membaca akhir Surah Ali Imran.
  3. Membuka salat tahajud dengan salat iftitah.
  4. hendaknya membangunkan keluarganya untuk bersama-sama salat tahajud.
  5. Jika mengantuk sebaiknya salat dihentikan saja sampai kantuknya hilang.
  6. Jangan memaksakan diri dan hendaklah salat tahajjud dijalankan sesuai dengan kesanggupannya. Karena itu, mengondisikan diri adalah cara yang baik. Karena, bila sudah terbiasa bangun di tengah malam, rasa berat dan kantuk akan tidak ada.

Salat Tahajud dan Kebutuhan Homeostasis

Hikmah dan manfaat salat tahajud yang dapat diambil di antaranya adalah:

  1. Orang yang slat tahajud akan memperoleh macam-macam nikmat yang menyejukkan padangan mata (QS 32: 16-17), tutur kata yang berbobot, mantap, dan berkualitas, qaulan tsaqila (QS 73: 5).
  2. Memperoleh tempat yang terpuji, maqaman mahmuda (QS 17:79) baik di dunia maupun di akhirat, di sisi Allah Swt.
  3. Dihapuskan segala dosa dan kejelekannya dan terhindar dari penyakit (HR At-Tarmidzi).

Hikmah lain dari salat tahajud adalah hilangnya perasaan pesimis, rendah diri dan minder, kurang berbobot, dan berganti dengan sikap selali optimis, penuh percaya diri, dan pemberani tampa sifat sombong dan takabur.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa salat tahajud dapat menjadaga homeostatis tubuh. Ini berarti bahwa Allah Swt mensyariatkan salat tahajud dan supaya dijalankan dengan ikhlas, bukan untuk kepentingan Allah Swt, melainkan untuk kepentingan yang menjakankan itu sendiri. Allah St berfirman:

Barang siapa yang menjalankan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri ….” (QS Al-Jatisyah: 15)..