Archive for April, 2009

Hari Kartini

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on April 21, 2009 by hzulkarnain

 

Ibu Kita Kartini

Putri Sejati

Putri Indonesia harum namanya

Ibu Kita Kartini

Pendekar bangsa

Pendekar kaumnya untuk merdeka

Nama Kartini, siapa yang tidak kenal di bumi pertiwi tercinta ini? Sebuah nama Jawa yang seolah-olah sudah menjadi milik perempuan Indonesia. Hari kelahiran Kartini diperingati sebagai kebangkitan kaum perempuan Indonesia, karena dianggap sebagai perempuan pertama yang mencita-citakan kesetaraan gender.

Banyak kaum perempuan yang perkasa di penjuru negeri ini, bahkan jauh sebelum Kartini dikenal luas oleh orang Indonesia. Siapa yang tak kenal Cut Nyak Dien yang gagah, dan tak kenal menyerah dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda, bahkan sangat sulit ditangkap karena keuletannya. Inspirasi yang hampir serupa juga ditunjukkan oleh istri dan putri Pangeran Diponegoro, saat membantu perlawanan sang pangeran di Jawa Tengah. Christina Martha Tyahahu dikenal namanya di wilayah Ambon. Dan sebagainya. Kalaupun tidak tercatat dengan baik melalui bukti sejarah, bukan berarti mereka tidak ada. Mungkin yang berbeda adalah, Kartini memunculkan gagasannya di level pemikiran dan intelektual.

kartiniKartini dibesarkan dan hidup dalam era kolonialisme yang sudah lebih maju, ketika politik etis berkembang di Negeri Belanda. Sebagai seorang anak bangsawan, kebebasan intelektual yang diberikan oleh orang tuanya pada akhirnya berujung juga pada ketundukan pada ikatan budaya. Menikah di usia muda, begitu sang Kartini remaja memasuki masa akhil baliq. Hampir bersamaan dengan Kartini juga muncul pejuang emansipasi lain, seperti Dewi Sartika di Jawa Barat, namun entah mengapa gaungnya tidak sehebat Kartini.

Kartini adalah simbol, sekalipun beliau tidak pernah benar-benar berhasil memperjuangkan emansipasi.Sebuah simbol mungkin memang tidak perlu sempurna benar, yang penting ada dan menginspirasi banyak perempuan Indonesia modern. Simbol bangkitnya pemikiran yang progresif, melawan ikatan kultural, dan menunjukkan jati diri sebagai manusia yang memiliki kompetensi. Cita-cita Kartini bisa dipahami oleh perempuan yang berada di perkotaan, yang hidup tidak dalam himpitan ekonomi dan kultur. Tak heran bila perempuan modern Indonesia di wilayah urban sudah semakin mencerminkan cita-cita Kartini seabad yang lalu.

Kaum feminis menempatkan ide Kartini sebagai simbol gerakan yang menuntut kesamaan hak dengan kaum laki-laki. Melebihi ide awal Kartini, perempuan dianggap memiliki hak yang sama dalam memanfaatkan ruang publik, yang selama ini identik dengan hak kaum laki-laki. Karena perempuan pada dasarnya memiliki kompetensi setara dengan laki-laki, sudah sepantasnya pula kaum ini berdiri sama tinggi dengan laki-laki.

Kaum agamis tidak sepakat. Dalih mereka, Allah menciptakan manusia dengan porsi dan posisi yang berbeda untuk membentuk keseimbangan. Dengan berpegang pada tuntunan kitab suci, khususnya orang Islam jelas tidak sepakat sepenuhnya penempatan perempuan dalam ruang publik. Perempuan memiliki posisi yang ekslusif dalam ruang privat, tempat mereka bisa beraktualisasi diri dengan cara membangun rumah tangga yang nyaman, dan membesarkan generasi baru yang baik.

Dalam perkembangan dewasa ini, secara alami perempuan Indonesia memiliki kultur tersendiri yang tidak persis seperti yang diinginkan kaum feminis, akan tetapi juga tidak terkungkung dalam ikatan ruang privat. Kita mengenal kaum perempuan yang duduk di jajaran CEO perusahaan terkemuka, terjun dalam berbagai profesi publik seperti dokter dan pilot pesawat, berada dalam jajaran perwira militer maupun kepolisian, dsb. Akan tetapi, juga jamak kita temui artis atau model yang mengundurkan diri dari ruang publik untuk lebih fokus ke ruang privat, hanya sesekali muncul ke depan massa atas ijin suami, namun tidak berhenti berkarya selama bisa dijalankan seraya mengelola tugas rumah mereka.

Sebenarnya tidak perlu ada pertentangan antara kaum feminis dan agamis, karena kita bukan masyarakat Barat yang hanya mengenal agama sebagai formalitas. Sekalipun masyarakat Indonesia mampu berpikir pragmatis, pada kenyataannya nilai religi masih menyelinap dalam pembuatan keputusan. Kita juga bukan masyarakat jazirah Arabia yang hampir meniadakan peran perempuan dalam ruang publik, sekalipun mayoritas orang Indonesia adalah Muslim. Artinya bahwa, bangsa ini punya corak tersendiri, berbeda dengan orang Barat maupun Arab. Muslim Indonesia punya karakter sendiri – sekalipun ada dua kutub yang berusaha menarik mereka menjadi sekuler atau sebaliknya terlalu rigid.

Kalau Kartini masih hidup sekarang, saya yakin beliau akan tersenyum. Tidak ada yang sempurna di muka bumi ini – yang ada hanyalah ideal atau tidaknya sebuah posisi secara relatif dalam sebuah tatanan sosial budaya masyarakat. Bila sekarang ini kita tidak merasa aneh dengan kehadiran kaum perempuan di semua lini aktivitas sosial, berarti cita-cita Kartini sudah terwujud. Tidak aneh lagi melihat dokter perempuan, pilot permpuan, direktur perempuan, hingga presiden perempuan.

Apakah masih ada perlunya merayakan Hari Kartini setiap tahun, dengan mendandani anak-anak kita dengan pakaian daerah ke sekolah?

Romantisme itu sifatnya relatif, tidak ada yang keliru, dan mungkin malah baik untuk tetap mengingatkan generasi baru setelah kita tentang makna perjuangan pemikiran Kartini di masanya, yang melampaui pemikiran kebanyakan perempuan di masa itu.

Di sisi lain, semakin kita merasa tidak lagi perlu memperingati Hari Kartini, dan tidak memerlukan lagi Menteri Negara yang mengurusi perempuan, mungkin bangsa ini sudah lebih maju dalam menyikapi perbedaan gender. Masalah yang terjadi pada perempuan tidak perlu lagi dibahas dalam konteks perbedaan gender, tetapi ditempatkan pada duduk persoalan semestinya: konteks hukum perdata, pidana, sosial budaya, agama, dsb.

 Kartini akan tetap kita kenang dalam kerangka romantisme yang manis, simbol pergerakan pemikiran perempuan yang progresif, dan menjadi dasar bangkitnya bangsa ini.  Insyallah.

Sebuah Kecelakaan, Lautan Kesia-siaan

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags on April 20, 2009 by hzulkarnain

 

BATU | SURYA-Pesta ulang tahun yang digelar sekelompok mahasiswa dari sejumlah kampus di Kota Malang, Rabu (15/4) malam, berakhir dengan tragis. Sembilan dari 17 mahasiswa itu tewas mengenaskan setelah kendaraan yang mereka tumpangi menabrak sebuah pohon angsana di Jl Panglima Sudirman, Kota Batu.

Seluruh korban yang meninggal di tempat, merupakan mahasiswa dari empat perguruan tinggi ternama di Kota Malang. Mereka berasal dari berbagai tempat seperti Malang, Sidoarjo, Pasuruan, NTB (Nusa Tenggara Barat), Lumajang, Sumenep serta Bali.

Kecelakaan itu terjadi Kamis (16/4) dini hari sekitar pukul 00.10 WIB. Kendaraan Daihatsu Taruna dengan nopol DK 1070 XB, yang ditumpangi empat mahasiswa serta lima mahasiswi ini, terlihat melaju kencang sekitar 100 km/jam. Tak lama setelah melintas di depan SPBU Lahor, mobil naas itu menabrak pohon di tepi jalan dekat SPBU Lahor.

Polisi masih menyelidiki penyebab pasti kecelakaan. Namun, para mahasiswa-mahasiswi itu disebutkan usai berpesta ria, merayakan ulang tahun salah-seorang dari mereka di sebuah vila di kawasan wisata Songgoriti, Batu.

“Terdengar suara keras, dan saya bersama beberapa orang berlarian ke lokasi kejadian,” kata saksi mata Eko Cahyono, 30, pegawai SPBU Lahor Jl Panglima Sudirman.

Menurut Eko, mobil terlihat sudah terbelah cukup panjang, dari bagian depan (jok pengemudi) hingga bagian tengah (jok penumpang). Ini membuat beberapa warga dan polisi yang hendak menolang korban yang duduk di kursi jok tengah kesulitan karena korban berada dalam posisi terjepit.

“Kami tak tahu persis kejadian awalnya. Tahu-tahu sudah terdengar suara keras dan saat kami melihat ternyata mobil itu sudah nyungsep di pohon samping warung saya,” tutur Mulyo Miseno, pemilik warung pangsit di samping Tempat Kejadian Perkara (TKP), Kamis (16/4).

Mulyo bersama beberapa saksi lainnya langsung berlarian mendekat ke TKP. Hampir bersamaan dengan tabrakan, Mulyo melihat dua penumpang perempuan yang berada di bangku depan terpental ke depan mobil dan tergeletak di samping pohon.

Seorang korban yang terpental keluar, sudah tak memiliki kaki kiri karena tertinggal di terjepit dalam mobil. “Setelah tabrakan saya tak mendengar satu pun suara jeritan ataupun rintihan minta tolong. Seketika suasana hening. Saat kami membuka pintu mobil, yang saya lihat darah berceceran di mana-mana, dan yang terdengar hanya suara seperti ngorok dari beberapa korban yang sudah kritis,” kata Mulyo.

Mulyo sempat menolong satu korban yang masih bernapas, tapi akhirnya dia pun meninggal dalam perjalanan ke RS Hasta Brata, Kota Batu. Saat mengevakuasi para korban, Mulyo mendapati bagian depan mobil sudah terbelah hingga ke bangku tengah mobil. Karena itu, empat penumpang di jok tengah sulit dikeluarkan karena terjepit.

“Mesin mobil bagian depan sudah tak berbentuk lagi. Jok penumpang bagian depan mobil ringsek terhantam pohon. Namun anehnya, pohonnya tak roboh,” imbuh Mulyo.

Untuk mengetahui penyebab kecelakaan, Tim Laboratorium Forensik Polda Jatim turun memeriksa TKP. Di lokasi kejadian tak didapatkan tanda-tanda penggunaan rem mendadak, selain cuma bekas benturan mobil dengan trotoar yang berjarak beberapa meter dari pohon yang ditabrak.

“Ini termasuk kecelakaan lalu lintas menonjol, di mana korbannya lebih dari lima orang. Tapi hingga saat ini kami masih mengumpulkan data di lapangan,” ungkap AKBP Ir Didik Subiantoro, Kepala Unit Fisika dan Instrumen Forensik Polda Jatim.

 

 

kombinasi maut

kombinasi maut

Ngeri! Mungkin itu kata pertama yang terucap tatkala orang mengetahui bahkan sekedar membaca berita di atas. Sebuah kesalahan, sebuah kenaasan, sebuah kecelakaan, sembilan kematian. Semuanya muda, semuanya adalah anak dari para orang tua yang berharap anak-anak tersebut menjadi orang yang membanggakan mereka. Harapan itu digantungkan melalui biaya yang diupayakan dari manapun dan lelehan air mata doa di setiap sujud mereka pada Sang Pencipta Alam Semesta … tetapi sekarang semuanya sia-sia!

Tidak ada yang bisa menghindari dari takdir, bahkan umur manusia pun sudah tercatat dalam buku besar kehidupan. Yang bisa diusahakan manusia adalah mengakhiri kehidupan tersebut tanpa kesia-siaan. Dalam rentang umur yang terbatas, manusia diberikan akal budi untuk melakukan pertimbangan, menentukan pilihan, dan membuat keputusan yang mengikat dirinya. Itulah gunanya orang tua memberikan dasar pendidikan, dan pendidikan pula yang membuka cakrawala akal budi agar pertimbangan, pilihan, dan keputusan yang dibuat bertanggung jawab.

Dari berbagai laporan di media massa pasca kejadian tersebut, semakin kuat indikasi adanya kelalaian yang mendasari kecelakaan itu. Lalai bahwa hidup ini bukan untuk disia-siakan, lupa bahwa orang tua telah menitipkan kepercayaan, tidak sadar bahwa kelalaian kecil bisa merenggut nyawa seketika.

Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi?

Kota Batu berada di dataran tinggi, dihubungkan dengan Kota Malang dengan lintasan yang cukup berbahaya di malam hari. Jalanan di Indonesia yang tidak banyak yang mulus. Mobil dimuati melebihi kapasitas, dan kondisi mobil secara umum tidak diketahui. Sebuah pesta anak muda. Semuanya bisa disarikan dalam sebuah istilah: HIGH RISK.

Sebuah kondisi dengan resiko tinggi mensyaratkan kehati-hatian dalam penanganan, karena sebuah kefatalan bisa terjadi bila ada kelalaian. Tanggung jawab yang besar berada di tangan pengemudi, karena dia lah yang mengemudikan mobil pembawa kehidupan orang lain. Bila di kursi penumpang depan diisi dua orang (sesuai kabar dari koran), bisa dibayangkan betapa tidak leluasa gerak pengemudi dalam mengganti perseneling – padahal mobil dalam kecepatan yang tinggi. Semua orang memang dalam kecelakaan itu memang menanggung terjadinya kecelakaan, termasuk yang mendiamkan sopir ketika melaju sangat kencang.

Konon, ada seorang mahasiswa yang tidak ikut mobil naas tersebut karena menganggap perilaku mengemudi temannya sudah sangat membahayakan, dan sudah memperingatkannya beberapa kali. Mahasiswa perempuan ini akhirnya memutuskan untuk pulang ke Malang dengan membonceng motor teman yang lain, dan selamat sampai di kos-kosan jam 02.00 dini hari. Jam 11 siang ketika bangun tidur, baru dia ketahui bahwa teman-temannya yang berangkat bersama-sama dari Malang dengan mobil Taruna tidak pernah sampai lagi di Kota Malang.

Setiap kali membaca berita semacam ini, khususnya yang terjadi pada orang-orang muda, satu kata yang selalu terbersit dalam pikiran: Betapa sia-sianya!

Beberapa kejadian naas mengenaskan semacam ini justru tidak melibatkan orang-orang yang kehidupannya dipenuhi bahaya. Anak-anak muda yang terlupa sesaat, tidak teguh sekejap, inilah yang menjadi korban kelalaian di jalan.

Sekian belas tahun yang lalu, ada sebuah kejadian nyata semacam ini, yang menimpa anak tetangga depan rumah. Sebut saja namanya A. Dia adalah anak yang baik, penurut, dan rajin, berbeda dengan kakaknya yang cenderung nakal dan semaunya sendiri. Pada suatu malam, seingat saya tahun baru, si A yang duduk di kelas 2 SMA hang out bersama teman-temannya. Rupanya alkohol menjadi salah satu teman mereka juga (padahal si A ini dikenal anak musholla yang baik). Ia tergelincir, ikut menenggak miras tersebut. Berboncengan motor bertiga juga hal lazim kala itu, dan helm belum jadi aturan. Sialnya, motor tersebut melewati lubang, sehingga si A yang duduk paling belakang terpelanting dengan kepala membentur aspal. Ia tidak pernah sadar lagi hingga meninggal beberapa jam kemudian di rumah sakit. Dengan alkohol di perut, dan suara ngorok di tenggorokan.

Islam menyebut kondisi tersebut dengan akhir yang buruk (kebalikan dari khusnul khotimah – akhir yang baik). Padahal, ancaman dari Al-Qur’an sudah jelas tentang orang yang berakhir dengan buruk, sekalipun banyak kebaikan dilakukan semasa hidupnya. Akhir yang buruk adalah seburuk-buruk akhir hidup manusia, karena bisa mencuci semua kebaikan dalam kehidupan – sekalipun itu hanya karena ”tergelincir”.

Tidaklah Allah menciptakan dunia dan seisinya sekedar untuk main-main, jadi mengapa kita yang sekedar mahluk ini bermain-main dengan kehidupan kita di dunia – dan mempertaruhkan kehidupan lain setelah kematian?

Pemilu … aftermath!

Posted in Psikologi with tags on April 15, 2009 by hzulkarnain

 

Pemilu 2009 adalah bencana!

Itulah yang dirasakan sebagian orang pasca pesta demokrasi 5 tahunan tersebut. Sehari setelah pencontrengan, beberapa kabar duka menyeruak dari tengah-tengah masyarakat, dan kabar-kabar yang tidak menyenangkan lainnya.

Di Bali, seorang caleg Hanura meninggal dunia karena perolehan suara yang kecil dan tidak mampu mengangkat dirinya ke kursi parlemen. Itu kabar resmi pertama yang ditayangkan televisi. Hari Senin kemarin, saat pertamakali bertemu dengan teman-teman kerja seusai libur panjang, catatan tersebut bertambah panjang. Seorang pengusaha lokal yang menjadi caleg Golkar gagal maju, dan dikabarkan meninggal. Seorang lainnya, caleg dari PPP, menderita gejala depresi setelah menghabiskan hampir 300 juta secara sia-sia.

Melalui televisi, muncul kabar mulai masuknya para caleg gagal ke rumah sakit jiwa – mulai sekedar konsultasi karena stress hingga harus awat inap karena depresi. Bahkan rumah sakit jiwa tersebut mempunyai ruangan hingga VVIP! Wow …. Kabar lainnya adalah meninggalnya beberapa caleg kalah dari berbagai macam partai gurem, yang tidak bisa bersaing dengan kandidat dari partai-partai yang lebih besar.

Yang lebih menggelikan dan mengenaskan adalah pernyataan Wiranto soal Pemilu 2009 yang dianggapnya sebagai Pemilu terburuk sepanjang sejarah bangsa ini. Dengan dalih “banyak sekali” pelanggaran yang terjadi, beliau merasa sudah pantas menilai Pemilu tahun ini dipenuhi skandal dan kongkalikong untuk memenangkan partai pemerintah. Masalahnya adalah, beliau menilai “banyak sekali” berdasarkan laporan yang masuk ke Hanura dan berita di televisi – bukan tinjauan statistik.

depressionAftermath Pemilu, sebagaimana bencana lainnya, menimbulkan mekanisme pertahanan ego bagi individu yang terimbas dampak buruknya. Mekanisme ini muncul – bahkan mungkin dibutuhkan – dalam masa transisi pasca kejadian traumatis agar mereka bisa menata menghadapai kehidupan yang akan datang. Mereka yang tidak berhasil memunculkan mekanisme pertahanan ego mungkin langsung kehilangan gairah hidup dan meninggal.

Gejala depresi yang biasa muncul adalah withdrawal atau menarik diri dari pergaulan sosial. Caleg yang merasa gagal merasa kehilangan muka dan harga diri, atau marah pada orang di sekitarnya, sehingga merasa tidak perlu bertemu dengan orang lain. Bukan sekedar menarik diri, tetapi juga lebih suka tidur dan menghabiskan waktu di ranjang untuk melupakan semua masalah yang dialami. Dengan tidu atau tidur-tiduran, waktu akan cepat sekali berlalu – setidaknya itu yang mereka rasakan.

Para petinggi partai seperti Wiranto yang bisa melenggang ke parlemen merasa perlu juga membangun mekanisme pertahanan ego, agar tidak dianggap sebagai total loser. Mereka perlu merasionalisasi kekalahan dengan tudingan kelancungan yang dilakukan oleh pihak ke-3 (dalam hal ini adalah KPU beserta semua aparat di bawahnya). Padahal, jujur saja, tanpa kecurangan sama sekali pun, belum tentu suara yang didulang partai kecil cukup signifikan untuk menandingi perolehan suara partai pemenang.

Yang juga baru kita amati melalui televisi adalah intelektualisasi, semacam langkah rasionalisasi namun dengan model analisis ilmiah sehingga penyebab kekalahan dalam pendulangan suara bisa diketahui. Ujungnya adalah penyelamatan harga diri. Berbagai elit partai diwawancara, dan dengan keras mereka berupaya menjelaskan penyebab kekalahan mereka. Kalapun mereka akhirnya mengakui kekalahan, pengakuan atas keberhasilan partai pemenang masih jauh.

Mekanisme pertahanan ego normalnya muncul dalam situasi transisi yang belum stabil – atau kondisi yang disebut disequilibrium. Rentang waktunya seharusnya tidak panjang, karena orang harus segera menemukan realitas dan kembali hidup berpijak di atas kehidupan nyata tersebut. Mereka yang depresi harus kembali bergairah, yang meyangkal harus menerima, tidak mencari kambing hitam, dan berhenti menganggap orang lain bodoh. Bila berkepanjangan, ada indikasi gangguan yang dialami penderita sudah membutuhkan penanganan yang lebih serius.

Bukankah Al-Qur’an menjelaskan dalam QS Al-An’am 32: Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka . Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Jadi, tidak pada tempatnya manusia terlalu fokus pada hal duniawi, menjadi sakit, terluka, bahkan mati karena urusan dunia yang sia-sia. Sementara kita diajari untuk menyerahkan semua masalah dan kesulitan pada Allah Swt, khususnya bila sedang menghadapi musibah.