Terapi Shalat Tahajud – Rangkuman (4)

Rangkuman ke-4 dari buku Terapi Salat Tahajud (DR. Moh. Saleh)

Shalat Khusyuk

Niat  dan Ikhlas

a. Niat

Secara etimologis, niat berasal dari niyyah atau an-niyyah identik dengan al-qashad, as-‘azimah, al-‘iradah, alhimmah, yang mengandung pengertian: maksud, keinginan, kehendak, keinginan yang kuat , dan menyengaja.

Menurut Qardhawi, definisi niat dari berbagai ulama sbb:

  • Niat adalah kemauan yang kuat
  • Niat adalah tujuan yang terbetik di dalam hati
  • Niat adalah dorongan hati yang dilihat sesuai dengan tujuan, baik berupa rumusan demi mendatangkan menfaat atau menghindarkan diri dari mudarat, baik fisik – material maupun psikis – spiritual
  • Niat adalah tuntutan yang kuat
  • Hakikat niat adalah pengaitan tujuan dengan hal tertentu yang dituju
  • Niat adalah tujuan sesuatu yang disertai dengan pelaksanaannya

Niat itu wajib dalam ibadah, karena merupakan syarat sahnya suatu ibadah. Dalam masalah muamalah dan adat kebiasaan, jika bermaksud untuk memperoleh keridhaan Allah Swt dan mendekatkan diri kepada-Nya, diharuskan memakai niat. Sementara untuk meninggalkan perbuatan maksiat tidak dituntut adanya niat, begitu juga dengan upaya menghilangkan najis.

Mengucapkan niat tidak disyariatkan dalam Islam, kecuali yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah Swt  untuk: melaksanakan ihram haji, waktu akan menyembelih korban, atau hewan denda dalam haji.

Dalam Al-Qur’an, niat itu diungkapkan dengan kata-kata ikhlas dan mukhlish – yang berkaitan erat dengan niat ikhlas; sebagaimana tercantum dalam QS Al-Baqarah 22, Az-Zumar 2, Luqman 32, Al-Ankabut 65, al-Bayyinah 5. Sabda Rasulullah Saw: Tiap perbuatan hanya sah dengan adanya niat, dan tiap ornag akan mendapatkan imbalan sesuai dengan amalnya (HR Bukhari dan Muslim).

 

b. Ikhlas

Makna ikhlas adalah membersihkan sesuatu hingga menjadi bersih, membersihkan segala perbuatan dari ketidak murnian, termasuk apa yang timbul dari keinginan untuk menyenangkan diri sendiri dan mahluk lain, atau tujuan dari selain Allah Swt. Ikhlas adalah manunggalnya tujuan kepada yang Mahabenar dalam ketaatan.

Ahli tassawuf berpendapat bahwa ibadah yang diterima Allah Swt adalah ibadah yang dilakukan dengan niat ikhlas, bersih dari riyaa’ dan syirik. Ketidak bersihan tujuan dari syirik lahir dan batin (meskipun dari segi fisik/syar’i benar) menyebabkan tertolaknya ibadah oleh Allah Swt. Syirik dalam ibadah mencakup segala aspek yang memasukkan keridhaan dan kepuasan dari selain Allah Swt, entah itu dari diri sendiri atau orang lain. Jika itu untuk kepuasan orang lain disebut dengan syirik lahiriah, sementara bila untuk memuaskan diri sendiri disebut syirik batiniah.

Beberapa contoh syirik yang dimaksudkan oleh ahli tassawuf itu antara lain:

  • Ibadah yang dilakukan karena takut pada siksaan Allah dan mendambakan surga, bukan karena ikhlas mendapatkan keridhaan Allah.
  • Niatan shalat tahajjud karena ingin rezeki lebih banyak, bukan karena rindu ridha Allah Swt.
  • Niat bersedekah dan memberi santunan dengan harapan selamat dari bencana, bukan mencari ridha Allah Swt.

Sekalipun secara fikih sah, namun dari segi makrifat ibadah semacam itu tergolong tidak ikhlas karena dilandasi tujuan dan maksud duniawi atau mencari pemeneuhan kehendak nafsu duniawi.

 

Hakikat Khusyuk dalam Salat

Secara bahasa, khusyuk diartikan dengan tunduk, rendah hati, takluk, dan mendekat – hati maupun badan. Jika dikaitkan dengan suara berarti diam, jika dihubungkan dengan pandangan mata, berarti rendah. Menurut pengertian syariat, tunduk itu ada kalanya dalam hati atau dengan badan, seperti diam, atau keduanya.

Khusyuk bisa dibagi atas:

  1. khusyuk lahiriah, yakni melakukan gerak-gerik shalat dan ucapannya sesuai dengan tuntunan dan ajaran Rasulullah Saw;
  2. khusyuk batiniah, yakni melakukan sholat dengan hati penuh rasa harap, cemas, takut, merasa diawasi, dan suasana mendukung terciptanya pelaksanaan lahir batin.

 

Al Ghazali menjelaskan hakikat khusyuk:

(1)     Kehadiran hati;

(2)     Mengerti apa yang dibaca dan diperbuat;

(3)     Mengagungkan Allah Swt;

(4)     Merasa gentar terhadap Allah Swt;

(5)     Merasa penuh harap kepada Allah Swt; dan

(6)     Merasa malu terhada-Nya

 

Rasulullah Saw menyatakan bahwa khusyuk adalah pekerjaan hati, dan khusyuknya hati membawa kekhusyukan fisik, sehingga beliau sering berdoa dengan kalimat:”Ya Allah! Aku mohon perlindungan-Mu dari hati yang tidak khusyuk.

Para ulama berbeda pendapat tentang khusyuk dan sahnya shalat. Sebagian ulama sufi memasukkan khusyuk sebagai salah satu di antara syarat sah shalat, sementara ulama fikih memandangnya sebagai sunnah saja (artinya ketiaadan kekhusyukan tidak membatalkan shalat). Al-Qur’an sendiri membatasi kesuksesan orang beriman itu dengan kekhusyukan dalam shalatnya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (QS. Al-Mukminun [23]: 1-2).

 

Kalangan alim ulama memberikan rekomendasi agar mampu khusyuk sebagai berikut:

  • Ketika shalat, hendaklah merenungkan bahwa ia sedang berdiri di hadapan Allah Yang Mahakuasa, yang Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam pikiran dan hati;
  • Menghayati makna apa yang sedang dibaca;
  • Memasukkan arti tersebut ke dalam hati;
  • Tidak tergesa-gesa dalam ucapan dan amalan shalat;
  • Menundukkan muka ke tempat sujud;
  • Menjauhkan dari segala hal yang dapat mengysik ketenangan hati.

(to be continued)

About these ads

One Response to “Terapi Shalat Tahajud – Rangkuman (4)”

  1. bahasannya sederhana dan enak dipahami
    thank

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: