Archive for November, 2008

Terapi Shalat Tahajud – Rangkuman (4)

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on November 26, 2008 by hzulkarnain

Rangkuman ke-4 dari buku Terapi Salat Tahajud (DR. Moh. Saleh)

Shalat Khusyuk

Niat  dan Ikhlas

a. Niat

Secara etimologis, niat berasal dari niyyah atau an-niyyah identik dengan al-qashad, as-‘azimah, al-‘iradah, alhimmah, yang mengandung pengertian: maksud, keinginan, kehendak, keinginan yang kuat , dan menyengaja.

Menurut Qardhawi, definisi niat dari berbagai ulama sbb:

  • Niat adalah kemauan yang kuat
  • Niat adalah tujuan yang terbetik di dalam hati
  • Niat adalah dorongan hati yang dilihat sesuai dengan tujuan, baik berupa rumusan demi mendatangkan menfaat atau menghindarkan diri dari mudarat, baik fisik – material maupun psikis – spiritual
  • Niat adalah tuntutan yang kuat
  • Hakikat niat adalah pengaitan tujuan dengan hal tertentu yang dituju
  • Niat adalah tujuan sesuatu yang disertai dengan pelaksanaannya

Niat itu wajib dalam ibadah, karena merupakan syarat sahnya suatu ibadah. Dalam masalah muamalah dan adat kebiasaan, jika bermaksud untuk memperoleh keridhaan Allah Swt dan mendekatkan diri kepada-Nya, diharuskan memakai niat. Sementara untuk meninggalkan perbuatan maksiat tidak dituntut adanya niat, begitu juga dengan upaya menghilangkan najis.

Mengucapkan niat tidak disyariatkan dalam Islam, kecuali yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah Swt  untuk: melaksanakan ihram haji, waktu akan menyembelih korban, atau hewan denda dalam haji.

Dalam Al-Qur’an, niat itu diungkapkan dengan kata-kata ikhlas dan mukhlish – yang berkaitan erat dengan niat ikhlas; sebagaimana tercantum dalam QS Al-Baqarah 22, Az-Zumar 2, Luqman 32, Al-Ankabut 65, al-Bayyinah 5. Sabda Rasulullah Saw: Tiap perbuatan hanya sah dengan adanya niat, dan tiap ornag akan mendapatkan imbalan sesuai dengan amalnya (HR Bukhari dan Muslim).

 

b. Ikhlas

Makna ikhlas adalah membersihkan sesuatu hingga menjadi bersih, membersihkan segala perbuatan dari ketidak murnian, termasuk apa yang timbul dari keinginan untuk menyenangkan diri sendiri dan mahluk lain, atau tujuan dari selain Allah Swt. Ikhlas adalah manunggalnya tujuan kepada yang Mahabenar dalam ketaatan.

Ahli tassawuf berpendapat bahwa ibadah yang diterima Allah Swt adalah ibadah yang dilakukan dengan niat ikhlas, bersih dari riyaa’ dan syirik. Ketidak bersihan tujuan dari syirik lahir dan batin (meskipun dari segi fisik/syar’i benar) menyebabkan tertolaknya ibadah oleh Allah Swt. Syirik dalam ibadah mencakup segala aspek yang memasukkan keridhaan dan kepuasan dari selain Allah Swt, entah itu dari diri sendiri atau orang lain. Jika itu untuk kepuasan orang lain disebut dengan syirik lahiriah, sementara bila untuk memuaskan diri sendiri disebut syirik batiniah.

Beberapa contoh syirik yang dimaksudkan oleh ahli tassawuf itu antara lain:

  • Ibadah yang dilakukan karena takut pada siksaan Allah dan mendambakan surga, bukan karena ikhlas mendapatkan keridhaan Allah.
  • Niatan shalat tahajjud karena ingin rezeki lebih banyak, bukan karena rindu ridha Allah Swt.
  • Niat bersedekah dan memberi santunan dengan harapan selamat dari bencana, bukan mencari ridha Allah Swt.

Sekalipun secara fikih sah, namun dari segi makrifat ibadah semacam itu tergolong tidak ikhlas karena dilandasi tujuan dan maksud duniawi atau mencari pemeneuhan kehendak nafsu duniawi.

 

Hakikat Khusyuk dalam Salat

Secara bahasa, khusyuk diartikan dengan tunduk, rendah hati, takluk, dan mendekat – hati maupun badan. Jika dikaitkan dengan suara berarti diam, jika dihubungkan dengan pandangan mata, berarti rendah. Menurut pengertian syariat, tunduk itu ada kalanya dalam hati atau dengan badan, seperti diam, atau keduanya.

Khusyuk bisa dibagi atas:

  1. khusyuk lahiriah, yakni melakukan gerak-gerik shalat dan ucapannya sesuai dengan tuntunan dan ajaran Rasulullah Saw;
  2. khusyuk batiniah, yakni melakukan sholat dengan hati penuh rasa harap, cemas, takut, merasa diawasi, dan suasana mendukung terciptanya pelaksanaan lahir batin.

 

Al Ghazali menjelaskan hakikat khusyuk:

(1)     Kehadiran hati;

(2)     Mengerti apa yang dibaca dan diperbuat;

(3)     Mengagungkan Allah Swt;

(4)     Merasa gentar terhadap Allah Swt;

(5)     Merasa penuh harap kepada Allah Swt; dan

(6)     Merasa malu terhada-Nya

 

Rasulullah Saw menyatakan bahwa khusyuk adalah pekerjaan hati, dan khusyuknya hati membawa kekhusyukan fisik, sehingga beliau sering berdoa dengan kalimat:”Ya Allah! Aku mohon perlindungan-Mu dari hati yang tidak khusyuk.

Para ulama berbeda pendapat tentang khusyuk dan sahnya shalat. Sebagian ulama sufi memasukkan khusyuk sebagai salah satu di antara syarat sah shalat, sementara ulama fikih memandangnya sebagai sunnah saja (artinya ketiaadan kekhusyukan tidak membatalkan shalat). Al-Qur’an sendiri membatasi kesuksesan orang beriman itu dengan kekhusyukan dalam shalatnya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (QS. Al-Mukminun [23]: 1-2).

 

Kalangan alim ulama memberikan rekomendasi agar mampu khusyuk sebagai berikut:

  • Ketika shalat, hendaklah merenungkan bahwa ia sedang berdiri di hadapan Allah Yang Mahakuasa, yang Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam pikiran dan hati;
  • Menghayati makna apa yang sedang dibaca;
  • Memasukkan arti tersebut ke dalam hati;
  • Tidak tergesa-gesa dalam ucapan dan amalan shalat;
  • Menundukkan muka ke tempat sujud;
  • Menjauhkan dari segala hal yang dapat mengysik ketenangan hati.

(to be continued)

Pelajaran dari Jibril

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags , on November 21, 2008 by hzulkarnain

 

manusia seperti buih di laut bila tiada panduan

manusia seperti buih di laut bila tiada panduan

Dari: Hadits Bukhari –Muslim

Pada suatu hari, Rasulullah Saw muncul di antara kaum muslimin.

Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai Rasulullah, apakah iman itu? Rasulullah Saw menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kita-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kepada hari berbangkit.

Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Rasulullah Saw menjawab: Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan shalat fardhu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadhan.

Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? Rasulullah Saw menjawab: Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu.

Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? Rasulullah menjawab: Orang yang ditanya masalah ini tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya. Tetapi aku akan ceritakan tanda-tandanya; apabila budak perempuan melahirkan tuannya, maka itulah salah satu tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila ada penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah.

Kemudian Rasulullah Saw membaca firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat;  dan  Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.  Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui  apa  yang  akan  diusahakannya  besok  . Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan  mati.  Sesungguhnya  Allah  Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Luqman 34).

Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah Saw bersabda: Panggilah ia kembali! Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah Saw bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah dengan agama.

 

Rasulullah Saw membawa risalah yang meluruskan pandangan manusia terhadap apa yang haq dan bathil, agar manusia senantiasa berada di jalan kebenaran. Islam adalah ajaran yang sederhana dan membumi, menyederhanakan kepelikan berpikir ala jahiliyah tentang penyembahan kepada Tuhan pencipta alam semesta. Bahkan dalam Islam, seberapa khusyuk penyembahan kepada Allah dikembalikan kepada manusia sendiri.

Dalam hadits di atas, Rasulullah menyedehanakan definisi iman dengan indahnya. Sesungguhnya, manusia akan selamat bila mengimani segala hal yang gaib. Allah, malaikat, nabi dan rasul, esensi ajaran kitab, takdir, dan kiamat adalah segala hal yang gaib, dan kaum muslim wajib mengimaninya. Iman jauh berada di lubuk qolbu individu, sehingga keimanan erat kaitannya dengan hal-hal yang dipikir dan dirasakan oleh qolbu.

Sesungguhnya, dari masa ke masa, selalu ada manusia yang lisannya menyatakan keimanan, namun hatinya ingkar. Ketika dunia dan isi materinya menempati posisi lebih tinggi daripada prioritas Allah, itulah saat kekufuran terjadi. Ketakutan akan hilangnya duniawi menyebabkan manusia lantas meminta perlindungan kepada dzat selain Allah SWT. Melupakan esensi takdir, menisbikan kekuasaan Allah, dan sebaliknya mendudukkan kekuatan primbon, fengshui, atau keris pusaka di atas segalanya.

Islam adalah perilaku dan pelaksanaan kewajiban. Didahului dengan tahlil sebagai fundamental perilaku, Islam memerintahkan manusia untuk rukuk dan sujud 5 kali sehari semalam, puasa, zakat, dan pergi haji (bagi yang mampu). Dalam dunia yang modern dan serba instan ini, saat kecepatan seolah meninggalkan sisi religi manusia, betapa banyak pula manusia yang memisahkan Islam dari perilaku sehari-hari. Sholat ditinggalkan di rumah, atau hanya dilakukan seminggu sekali bahkan setahun sekali, puasa dengan enteng dibatalkan, dan zakat atau haji yang dilakukan demi status semata.

Esensi ihsan adalah komunikasi yang intens dengan dzat Allah, dan kesungguhan dalam beribadah semata untuk ketundukan dan ridha-Nya. Allah memang Maha Agung dan Pengampun, sehingga manusia senantiasa bisa mengharapkan ampunan dan pintu surga – selama kita kaum Muslim tidak mengingkari kalimat tauhid. Orang yang mencapai nilai ihsan adalah segelintir orang yang mampu bersujud dengan isak tangis karena takut pada hilangnya ridha Allah – dan itu tidak banyak yang mampu.

Semoga, pelajaran dari Jibril melalui risalah Rasulullah Saw senantiasa menjadi pedoman bagi saya, dan semua yang membaca catatan ini. Amin.

 

 

Maturity

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on November 17, 2008 by hzulkarnain

 

4personalities

kepemimpinan dan teamwork

Beberapa hari yang lalu, saya sempat diskusi dengan pimpinan departemen operasional berkenaan dengan promosi jabatan seorang staff di departemen tersebut. Pada intinya, beliau meminta saya berpendapat tentang calon yang akan dipromosikan tersebut, karena tugas saya antara lain adalah mengikuti perkembangan karyawan, termasuk karakter mereka.

Saya katakan,”Kalau saja calon ini punya kematangan kepribadian seperti sekarang, saya yakin dia sudah pantas menjadi supervisor sejak proses promosi sebelumnya.”

Pada sebuah level, kapasitas teknik seseorang bisa berimbang, dan penentuan karier berikutnya justru terletak pada kualitas non-teknis. Seorang CEO tidak harus menguasai semua bidang yang ada di organisasi yang di pimpinnya, namun ia harus bisa menguasai semua pimpinan departemen yang notabene ahli-ahli di bidangnya. Bila kapasitas teknis yang menjadi pijakan utama penentuan karier, sebuah skema jenjang karier tidak akan bergerak kemana-mana karena teknikalitas selalu berubah, bergerak, menjadi lebih kompleks.

Pimpinan departemen tersebut – seorang expatriate – lantas bercerita tentang sebuah point penting di masa lalunya. Dia masuk induk perusahaan tahun 1994 sebagai engineer, setelah sebelumnya bekerja di perusahaan lain (sebut X) sebagai engineer. Bersamaan dengan dia, rekan seniornya di X juga masuk sebagai engineer, dulu dia adalah asisten manajer dan usianya lebih tua. Selama beberapa tahun bekerja di perusahaan yang sekarang, kemampuan teknis expat yang bicara dengan saya itu meningkat lebih pesat daripada eks seniornya di X.

Empat – lima tahun kemudian, ada posisi lowong di level deputy manager dan keduanya dikandidatkan untuk promosi. Secara teknis, expat yang bicara dengan saya tersebut yakin lebih unggul, demikian juga para koleganya. Tetapi hasil akhir berkata lain, ia kalah karena kondisi yang diyakininya karena faktor non-teknis: maturity. Sebagai orang muda, umurnya belum lagi 35 saat itu dibandingkan dengan umur kandidat lain yang 5 tahun lebih tua, ia selalu berpikir progresif dan terlalu berani mengambil keputusan. Teman-temannya mendesaknya mempertanyakan keputusan manajemen tersebut pada BOD, namun ditolaknya karena ia tidak mau ramai.

Beberapa tahun kemudian, saat ia ditempatkan di Indonesia dan umurnya telah mencapau middle–age, ia bisa berpikir dengan lebih jernih: Di posisi manajemen sekarang, rasanya ia juga akan ngeri bila ada kandidat deputy manager yang terlalu berani mengambil keputusan, sementara nature bisnis tidak menghendaki hal tersebut. Ada kontrol diri yang menurutnya tidak sebaik sekarang. Di sisi lain, ia bersyukur saat itu ia memilih untuk “tidak mau rame”, dan menggantungkan ketidak puasan begitu saja. Kalau saja ia menuruti nasihat teman-temannya untuk memprotes BOD, mungkin karirnya sudah tamat saat itu juga, dan tidak ada peluang baginya dikirinkan overseas (yang bisa menjadi tiket promosi di induk perusahaan).

Apa kaitan antara kematangan kepribadian dengan promosi ke level posisi manajerial?

Secara unik manusia memiliki kecerdasan yang beragam, demikian pula karakternya. Sebenarnya tidak jelas kaitan antara usia dengan kematangan kepribadian, karena pada kenyataannya ada orang-orang yang tidak pernah matang sekalipun telah melewati usia tengah baya. Sebaliknya ada orang yang menunjukkan kematangan kepribadian, karakter yang terbentuk, di saat usia yang masih muda. Kematangan dibentuk oleh kemampuan serap seseorang pada segala pengalaman yang dimiliki, dan menjadikan tiap keping pengaalaman menjadi bagian dari karakternya.

Kepemimpinan, secara ilmu, bisa dipelajari. Tetapi, orang yang paham teori tentang kepemimpinan tidak otomatis jadi pemimpin yang baik. Ilmu agama bisa dipelajari, dan Al-Qur’an bisa dihafalkan, tetapi cukup banyak ustadz yang tersesat dan orang yang paham Al-Qur’an secara teori justru menjadikannya alat klenik.

Artinya, menjalani hidup berbekal ilmu jauh lebih utama daripada menimba ilmu sepanjang hidup tanpa pernah mencoba mengamalkannya dalam pengalaman hidup.

Pantaslah orang Amerika pada awalnya tidak percaya pada kemampuan Obama, karena ia adalah orang muda yang dianggap belum banyak pengalaman. Kandidat lain adalah seorang politisi kawakan, yang telah malang melintang di dunia politik bahkan sejak Obama masih kuliah. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya?

Dari beberapa debat yang ditampilkan, kelihatan jelas bagaimana seorang Obama yang dibesarkan secara multi rasial telah memilih yang terbaik dari dirinya dan segunung pengalamannya sebagai bekal menuju Gedung Putih. Sekalipun McCain jelas lebih banyak memiliki pengalaman hidup, ia tidak mampu memilah point terbaik sebagai senjata melawan “anak kemarin sore” yang brilian itu. Obama tidak pernah memandang negatif kehidupan, dan melihat kegagalan bukan kesalahan ras atau alasan tidak jelas lainnya. Ia tegas mengatakan, dalam video biografinya di acara Metro Files, kalau ia tidak bisa jadi Presiden pasti karena ia tidak mampu meyakinkan rakyat Amerika, atau rakyat Amerika tidak memahami apa yang dipikirkannya … bukan karena sebab lain.

Kematangan kepribadian bisa diibaratkan seperti penyaring atau filter yang memperhalus pengalaman hidup, menyingkirkan residu yang tidak bermanfaat, seraya mengelola sari kehidupan yang berguna untuk langkah kehidupan mendatang.

Bagaimana mengenali kematangan kepribadian?

Tidak ada yang mudah dalam mengenali kepribadian individu, kecuali kita cukup mengenal orang tersebut atau pernah bertemu dengannya sebelumnya. Artinya, untuk memahami kematangan kepribadian seseorang kita memerlukan:

  • Parameter kematangan kepribadian
  • Perbandingan dengan yang tidak memiliki kematangan.

Mungkin kita pernah mendengar orang menilai seseorang: sekarang dia telah banyak berubah, sesuatu yang menggembirakan. Maknanya, telah ada perkembangan kepribadian pada diri orang tersebut, yaitu pencapaian kematangan di level tertentu.

Seorang anak dikatakan telah semakin dewasa bila terlihat kematangan dalam membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu, yang membuatnya lebih bisa dipercaya.

Seorang karyawan yang telah bekerja di bagian produksi selama 10 tahun, telah banyak mengenal seluk beluk pekerjaannya, dan “dituakan” oleh operator lainnya, dianggap telah layak sebagai pengawas, dan karenanya dipromosikan sebagai supervisor.

Dua orang bersuadara, bersekolah di tempat yang sama, bekerja di tempat yang sama, belum tentu memiliki tingkat kematangan kepribadian yang sama. Itulah keunikan manusia, dan menjadikan manusia sebagai individu yang unik. Keunikan manusia menunjukkan bahwa manusia memang mahluk Allah yang paling sempurna.