Archive for August, 2008

Ketika Anak Berbohong

Posted in Psikologi with tags , on August 25, 2008 by hzulkarnain
kejujuran permata hati

kejujuran permata hati

“Dik, nanti kalo Tante Nani telfon, bilang Mama lagi pergi ya?” Pesan Ibu pada Dita.

“Memangnya Mama mau kemana?”

“Nggak sih, Mama males saja terima telfonnya.”

“Kenapa, Ma?”

“Mama belum punya uang kalau tante itu nagih sekarang. Tolong sayang ya …,” kilah sang Mama.

Mengapa Berbohong?

Tanpa sadar, berapa banyak dari kita sebagai orang tua yang mengajarkan anak kita berbohong. Si anak yang mungkin belum paham maksud sang Ibu melaksanakan saja perintah tersebut, namun lambat laun ia akan paham bahwa sang ibu sedang mencari dalih. Anak juga tidak akan paham maksud di balik dalih sang Ibu, namun pada suatu saat ia akan mengimitasi pencarian dalih tersebut untuk kepentingannya sendiri.

Menurut definisi, berbohong adalah pernyataan yang tidak benar dengan tujuan menipu, seringkali dengan maksud untuk menjaga rahasia atau reputasi, perasaan orang lain, atau untuk menghindarkan diri dari hukuman. Dengan demikian, berbohong adalah menyatakan sesuatu yang tidak benar dengan niat dianggap benar oleh orang lain. Kapasitas untuk berbohong hampir didapati hampir secara universal dalam perkembangan manusia, dan sudah ada sejak dulu.

Anak-anak umumnya punya fantasi yang menarik ketika masih kecil, dan ingin ceritanya diperhatikan oleh orang dewasa. Bagi si anak, imajinasi tersebut seolah-olah dunia yang berada di sebelah dunia nyata mereka. Imajinasi mereka terhadap pahlawan super, figur ideal ala Barbie, membuat mereka lebih hidup dalam bermain peran. Pada anak-anak dengan perkembangan mental yang normal, dunia nyata dan fantasi punya batasan dan mereka selalu bisa diajak kembali ke dunia nyata. Mereka bisa menghentikan bermain boneka atau Playstation, keluar rumah dan bermain petak umpet dengan teman-teman lainnya.

Beberapa anak sengaja membesar-besarkan cerita untuk mencari perhatian orang tua atau teman sepermainan. Misalnya, mereka bilang: “Papaku punya pistol dan pedang, dulu ada orang mau maling, ditembak”. Bagian yang pertama mungkin benar, karena ayahnya memang perwira militer yang punya pistol dan pedang upacara, tapi bagian kedua pengakuannya jelas tidak benar. Ada pula yang secara meyakinkan punya “teman imajinatif”, yang seolah-olah hidup dan bisa diajak bicara. Dunia imajinatif anak memang memungkinkan mereka membuat rekaan kejadian, dan seringkali kita menganggapnya lucu.

Selain berimajinasi untuk mencari perhatian, yang sering terjadi adalah anak mengarang cerita bohong atau alasan untuk melepaskan diri dari hukuman, sekalipun semua bukti menunjukkan dirinya bersalah. Dorongan untuk berbohong terjadi bila anak merasa terancam, karena hukuman menyebabkan perasaan tidak nyaman. Mereka akan terus belajar berbohong dan mempelajari cara berbohong yang lebih baik dari orang-orang yang ada di sekitarnya, orang tua, kakak, atau teman bermain. Mereka ini adalah role model atau kelompok referensi yang menentukan sikap dan pola berpikir anak.

Berapa banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa mereka turut berperan membuat anak suka berbohong? Kalaupun kita sebagai orang tua tidak mengajari anak berbohong, bahkan dengan keras melarang anak berbohong, pola komunikasi di dalam keluarga bisa menjadi pendorong anak untuk berbohong. Ketika anak melakukan kekeliruan, orang tua cenderung segera melakukan hukuman dan meyakini bahwa satu-satunya cara agar anak tidak berbuat kekeliruan adalah dengan cara menghukum. Apalagi bila orang tua sudah punya konsep anak-anak tentu nakal dan mau enaknya sendiri, kemungkinan si anak didengarkan niscaya lebih jauh lagi. Kepercayaan anak pada orang tua yang menipis membuat anak jauh lebih suka tidak berkata jujur.

Membentuk Kejujuran

Idaman orang tua adalah anak saleh yang senantiasa menjaga lidahnya dari dusta dan ketidak jujuran. Sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim : 6). Sayangnya, hal itu tidak mudah bahkan sering kita dapati anak-anak ulama yang hidup tidak dalam jalur agama yang benar. Sebaliknya, kita juga sering melihat anak-anak orang biasa yang justru mampu membangun diri mereka menjadi insan yang utama.

Sebagai Muslim, kita harus selalu yakin bahwa anak (sebagaiaman harta benda lainnya) adalah titipan dari Allah Swt, dan mereka adalah ujian bagi orang tua. QS. Al Anfaal 28 menyebutkan: Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. Terlalu mencintai mereka atau membuat mereka tidak berguna hanya akan mendatangkan kemudharatan. Oleh karena itu harta dan anak adalah amanah yang harus diarahkan di jalan yang benar. Banyak sekali peringatan Allah tentang makna harta dan anak-anak yang akan menjadi cobaan bagi mukmin.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun kejujuran anak adalah sbb:

Kejujuran merupakan permata yang berharga. Konsep ini harus ditanamkan oleh orang tua pada anak dan sama-sama diyakini sebagai kebenaran. Sekalipun sulit, orang tua juga harus belajar untuk tidak berbohong di depan anak. Sebagai role model sekaligus referensi anak, orang tua harus mendorong anak untuk tidak berbohong. Diperlukan kejelian untuk membedakan kebohongan dengan imajinas. Imajinasi perlu dibiarkan berkembang sementara kebohongan harus dikikis.

Bangun pola komunikasi yang demokratis, dan orang tua perlu belajar untuk “mendengarkan” anak. Akhiran “kan” harus menjadi penekanan dengan pengertian orang tua harus aktif menggali permasalahan yang dihadapi oleh anak. Menganggap anak sebagai individu yang tidak signifikan, meremehkan atau menganggap sepele mereka, bisa jadi merupakan cikal bakal terbentuknya kepribadian diri yang tidak utuh. Kita sebagai orang tua tidak akan banyak memahami mereka karena saat anak bercerita tentang teman-teman dan aktivitas sehari-hari telinga kita tidak aktif. Wajar bila suatu saat anak melakukan tindakan yang salah orang tua bingung harus mulai mengoreksi dari mana, dan akhirnya hukuman lah yang jadi senjata.

Hargai prestasi dan kejujuran dengan ganjaran, sekecil apapun itu, bahkan sekedar rasa terima kasih dan ciuman hangat pada anak. Itu disebut dengan positive reinforcement. Anak selalu suka dengan reinforcement ini karena membuat mereka merasa nyaman dan bangga. Ketika anak melakukan kekeliruan, atau berkata tidak jujur, ambil kenyamanan itu tanpa memberikan hukuman secara langsung. Ketidak nyamanan perasaan memang menjadi semacam hukuman, tapi tidak menyakiti fisik maupun ego mereka. Ini disebut dengan negative reinforcement. Pandangan mata yang menegur, teguran pendek seperti “… Dodo, Mama tidak suka!”, atau bahkan sekedar hilangnya senyum seorang Ibu bisa menjadi contoh praktis.

Ada sebuah teori NLP (neuro linguistic programming) yang meminta kita orang tua untuk lebih banyak menggunakan kalimat positif daripada negatif saat menekankan pentingnya kejujuran dan perbuatan baik. Misalnya:

Positif: Mama ingin Dodi berkata jujur, dan Mama akan bangga sekali!

Negatif: Dodi tidak boleh bohong. Mama nggak suka.

Positif: Dodi harus belajar bertanggung jawab, harus mengakui bila sudah berbuat salah.

Negatif: Jangan berbohong Dodi, berani berbuat harus berani tanggung jawab.

Kata tidak boleh atau jangan ternyata menghambat masuknya pesan ke ingatan bawah sadar, berbeda dengan pesan positif. Hal ini tentunya berkebalikan dengan asumsi kuno yang menganggap bahwa kata jangan atau tidak boleh adalah senjata sakti untuk menekan perilaku negatif anak.

Hukuman adalah cara terakhir dalam mendisiplinkan anak, karena efek negatifnya yang membekas pada ego anak. Kalaupun hukuman harus diterapkan, syaratnya ada 2: segera dan terkait langsung dengan kesalahan yang baru dilakukan.

Anak-anak kita adalah bagian dari masa depan kita, karena titipan Allah yang ini bisa mendoakan kita saat kita sudah tidak ada lagi di dunia fana ini. Sayangnya, orang tua masih seringkali memperlakukan mereka secara tidak serius. Kalaupun menyekolahkan mereka di sekolah favorit yang full-day, yang jaraknya jauh dari rumah, lebih karena faktor gengsi dan trend. Kalaupun memasukkan anak ke bimbingan sempoa atau jarimatika bukan karena anak menunjukkan minat dengan hal tersebut tapi alasan yang lain. Komputer disediakan di rumah bukan untuk mengasah wawasan anak, tapi agar kelihatan modern dan tidak mengganggu orang tua, dsb.

Bila sesekali kita temani anak belajar, dengan teve dimatikan, atmosfer kehangatan akan segera terbentuk. Sekalipun di depan kita ada majalah atau buku, anak cukup punya waktu untuk bercerita tentang teman-temannya, dan berbagai sedih-gembira mereka di sekolah. Terlebih bila kita mau menanggapi topik mereka, sekalipun kita tidak paham, anak akan bersemangat untuk bercerita lebih panjang.

Semoga kita bisa menjadi mukmin yang sanggup memelihara amanah.

Terapi Salat Tahajud – Rangkuman (3)

Posted in Kontemplasi, Psikologi, Sharing with tags , on August 23, 2008 by hzulkarnain

Rangkuman ke-3 dari buku Terapi salat tahajud (DR. Moh. Sholeh)

PSIKONEUROIMUNOLOGI SALAT TAHAJUD

Setan mengikat kuduk seseorang

dengan tiga ikatan ketika ia tidur.

Lalu, setan memukul tiap ikatan

pada kuduk orang yang sedang tidur

sambil berkata: ‘Tidurlah, kamu mempunyai malam cukup panjang’.

Bila seseorang yang tidur itu bangun

dan berzikir kepada Allah Swt, lepaslah satu ikatan.

Lalu, jika ia pergi wudhu, terurailah satu ikatan lagi,

dan manakala ia salat, lepaslah ikatan terakhir

sehingga ia menjadi bersemangat dalam beribadah,

terlepas dari segala ikatan kesempitan jiwa dan terlindungi dari rasa malas

- HR Bukhari -

ANALISIS MAKNA TOTALITAS ISLAM

Makna totalitas Islam berkaitan dengan konsep islam, iman, dan ihsan.

Islam

Islam berasal dari kata dalam bahasa Arab aslama, yuslimun, islaman, yang mempunyai beberapa arti, yaitu: melepaskan diri dari penyakit lahir dan batin, kedamaian dan keamanan, ketaatan dan kepatuhan.

Secara etimologis, terminologi islam bermakna: keselamatan, perdamaian, dan penyerahan diri kepada Tuhan. Al-Qur’an sendiri menyebut kata Islam sebanyak 8 kali, yaitu dalam: QS Al-Maidah ayat 3, QS Al-An’am ayat 125, QS Az-Zumar ayat 22, QS Ash-Shaf ayat 7, QS Al-Hujurat ayat 17, dan QS At-Taubah ayat 74.

Sedangkan kata Islam dalam konteks agama, disebutkan dalam QS Al-Maidah ayat 3: … pada hari ini, telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu …

QS Ali-Imran ayat 19: Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam

Islam bukan sekedar sebagai agama, sebagai konsep religion di Barat yang semata hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Islam adalah sistem yang bersifat universal, meliputi seluruh realita kehidupan, mulai dari keyakinan, akidah, dan ibadah yang benar, bahkan hingga tata aturan kehidupan bernegara. Di dalamnya termuat pemerintahan dan rakyat, jihad (perjuangan), seruan dakwah, militer, dan pemikiran strategi.

Pemikir lain mendefinisikan Islam dengan “penyerahan diri kepada Tuhan”. Kata “penyerahan diri” harus digaris bawahi, bukan “ketundukan”. Yang tersirat, penyerahan diri lebih bersifat aktif, penuh inisiatif dari seorang manusia sebagai hamba. Jadi seorang muslim adalah hamba yang menyerahkan dirinya kepada Allah Swt tanpa paksaan. Penyerahan diri juga sudah memuat ketundukan, sementara konsep “ketundukan” sendiri bisa juga menggambarkan tunduk secara lahiriah namun ada di dalam hari terbersit pengingkaran.

Dalam spektrum pengertian Islam yang luas tersebut, apa sebenarnya kewajiban manusia? Apa yang bisa diambil? Bagaimana perjalanan taqarrub dilakukan?

Salah satu kewajiban pertama seorang mukallaf (baliq dan berakal) adalah menerima ajaran Islam dan mengimaninya. Setelah menerimanya, ia wajib melaksanakan kewajiban ibadah fardhu maupun sunnah (di antaranya salat sunat tahajud), serta menjauhi apa diharamkan (bahkan yang dimakruhkan). Selanjutnya melakukan ibadah salat, zakat, puasa, dan haji. Berzikir dan mencari maisyah (penghidupan) yang halal.

Inilah semua garis besar penyerahan diri secara total dan alamiah.

Rasulullah Muhammad Saw bersabda,”Islam adalah engkau bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah Swt dan bahwasanya Nabi Muhammad itu utusan Allah Swt, engkau melaksanakan salat, menunaikan zakat, berpuasa bulan Ramadan, dan melakukan haji jika berkuasa, (HR Muslim).”

Iman

Kata iman berasal dari bahasa Arab amana – yu’minu – imanan. Kata ini memiliki banyak arti, antara lain: percaya, setia, aman, melindungi, dan menempatkan sesuatu pada tenpat yang aman. Pengertian lainnya adalah, “pecaya dengan sungguh-sungguh”.

Harus dibedakan antara kepercayaan dan keyakinan. Kepercayaan diartikan sikap menerima dengan budi, sedangkan keyakinan diterima dengan akal. Catatan: akal berasal dari kata aql yang berarti keseimbangan pemikiran budi, rasio, dan rasa hati atau pemikiran objektif dan subjektif.

Iman harus berdiri di atas keyakinan yang kuat, memiliki ketetapan, tidak berputar-putar, tidka berubah-ubah – baik dalam pikiran maupun hati. Singkatnya, iman akan menjadikan keadaan yang menenteramkan hati, sama sekali tidak ada keraguan dalam segala tindakan.

Secara teknis, iman bertaut dengan akidah. Tauhid (konsep Allah Swt Sang Mahaasal, Mahaawal, asal dari segalanya) adalah inti dari rukun iman, yang merupakan prima causa seluruh atau rukun keyakinan Islam. Iman akan malaikat, kitab, rasul, kiamat, qadha dan qadhar hanyalah akibat logis saja. Artinya, karena adanya iman kepada Allah Swt, secara logis timbullah keyakinan kepada malaikat, rasul, kitab, hari kiamat, dan takdir baik – buruk.

Secara bahasa, kata iman ternyata tidak bisa dipadankan melalui bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris ada kata faith dan belief yang sering dipakai menterjemahkan iman. Belief adalah menerima pernyataan secara intelektual, tanpa meniscayakan adanya perbuatan yang menyertainya. Kata faith lebih sering digunakan sebagai pengganti kata iman, namun berbeda dengan konsep iman, faith tidak meniscayakan adanya ilmu yang mendahului. Iman adalah sesuatu yang didahului oleh ilmu, yaitu pembuktian atas apa yang diketahui dan dikenali.

Para ulama sendiri masih banyak berbeda soal pendefinisian makna iman. Perbedaan ini timbul karena Al-Qur’an dan Hadist tidak memberikan rumusan baku, hanya ada ciri-ciri saja bagaimana orang yang beriman itu:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebutkan nama Allah Swt gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan Tuhanlah mereka bertakwa (QS Al-Anfal: 2).”

“Sungguh beruntunglah orang-prang beriman yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (oerbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-prang yang melampaui batas. Dan mereka yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara salatnya (QS Al-Mu’minun: 1-9)”.

Sementara Rasulullah juga bersabda: “Iman itu percaya kepada Allah Sqt, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, Hari Kiamat, ketentuan baik dan buruk adalah keputusan Allah Swt (HR Muslim).

Keimanan itu mempunyai cabang-cabang lebih dari enam puluh atau tujuh puluh, yang terutama ucapan La-Ilaha Ilallah, dan serendah-rendahnya menyingkirkan gangguan dari jalan, sifat malu itu juga cabang dari keimanan, (HR Muslim)”.

Para fuqaha seperti Imam Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal mengikuti pendapat kelompok sufi yang mengatakan bahwa iman adaalh pengakuan dalam lisan, pembenaran dalam hati, dan amalan perbuatan. Sementara Imam Abu Hanifah, Husain bin Fadl Al-Balkhi sepakat dengan kelompok yang menyebutkan bahwa iman adalah pengakuan lisan dan pembenaran dalam hati.

Jadi secara umum bisa disimpulkan bahwa ciri iman adalah: berpegang teguh pada tauhid, mata berpaling dari hal-hal yang haram, telinga mendengarkan firman Allah Swt, perut suci dari makanan yang haram, dan lidah mengucapkan kejujuran.

Dengan demikian, pemahaman hadist yang menyebutkan bahwa “iman seseorang bisa bertambah atau berkurang” bukan terletak pada substansi iman tetapi cabang iman yang berupa amal ibadah – manifestasi (perwujudan) keimanan itu sendiri.

Ihsan

Kata ihsan berasal dari kata ahsana-yuhsinu-ihsanan yang memiliki arti: berbuat baik. Sebuah hadist menjelaskan makna ihsan sbb: Malaikat Jibril bertanya: “Apa ihsan itu?” nabi Saw menjawab: “Ihsan itu apabila kamu menyembah, beribadah kepada Allah Swt, seakan-akan engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu. (HRMuslim).

Ihsan dapat digambarkan sebagai suasana hati dan perilaku seseorang untuk senantiasa merasa dekat dengan Allah sehingga tindakannya sesuai dengan aturan dan hukum-Nya. Secara definitif, ihsan adalah penghambaan diri kepada Allah Swt dalam suasana ruhaniah yang sangat mendalam. Dalam pengertian yang luas, ihsan menyimpan sifat utama takwa, tawakkal, dan syukur.

Takwa adalah fase kematangan yang sempurna, hasil interaksi antara Islam, iman, dan ihsan. Takwa adalah ilmu, amal, naluri, hati, dan etika. Takwa merupakan kondisi ketika antara kalbu, pikiran, dan anggota tubuh berinteraksi secara harmonis.

Dalam takwa terkandung makna melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya, pengendalian emosi dan penguasaan atas kecenderungan hawa nafsu negatif. Ketakwaan menjadi tenaga pengarah manusia kepada perilaku yang baik dan terpuji serta menjadi penangkal atas perilaku buruk, menyimpang dan tercela. Takwa yang paling tinggi menunjukkan kepribadian yang utuh dan integral. Jalan untuk mencapai derajat takwa adalah mujahadah, perjalanan batin, dengan memperbanyak ibadah sunah seperti salat tahajud.

Janji Allah di dalam Al-Qur’an kepada orang yang bertakwa:

  • dimuliakan oleh Allah (QS Al-Hujurat 13)
  • dimudahkan jalan keluar urusannya (QS Ath-Thalaq 2)
  • diberikan kemudahan (QS Ath-Thalaq 4)
  • penduduk negeri yang bertakwa akan dilimpahi berkah dari langit dan bumi, bila mendustakan akan disiksa (QS Al-A’raf 96)

Tawakal secara harifiah berarti pengakuan ketidak mampuan seseorang dan penyandaran dirinya kepada pihak lain selain dirinya. Dari bahasa Arab, at-tawak-kul berasal dari kata wakkala yang bermakna menyerahkan, memercayakan, atau mewakilkan urusan kepada orang lain.

Secara terminologi, tawakal berarti menyerahkan atau memercayakan seluruh masalah kepada Sang Penguasa dan bersandar kepada kemampuan-Nya untuk menyelesaikan masalahnya. Definisi lainnya, tawakal bermakna menyerahkan segala perkaram ikhtiar, dan usaha yang dilakukan kepada Allah Swt serta berserah diri sepenuhnya kepada-Nya untuk mendapatkan manfaat atau menolak yang mudarat.

Orang yang tawakal tidak akan berkeluh kesah atau gelisah. Ia akan berada dalam ketenangan, ketenteraman, dan kegembiraan. Jika memperoleh nikmat dan karunia dari Allah Swt ia akan bersyukur, namun jika menghadapi cobaan ia akan bersabar. Semua keputusan, bahkan dirinya sendiri, diserahkan kepada Allah Swt setelah usaha dan ikhtiar dilakukan.

Al-Ghazali membagi tingkatan tawakal menjadi tiga, yakni:

  • Tawakal itu sendiri, yakni hati senantiasa merasa tenang dan tenteram terhadap apa yang dijanjikan Allah Swt.
  • Taslim, yaitu menyerahkan urusan hamba kepada Allah Swt karena ia mengetahui segala sesuatu mengenai diri dan keadaannya.
  • Taswid, yaitu rela menerima segala ketentuan Allah Swt bagaimanapun bentuk dan keadaannya.

Hikmah yang diperoleh dari tawakal adalah rasa percaya diri, keberanian dalam menghadapi persoalan, memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa, dekat dengan Allah Swt, kecukupan rezeki, selalu berbakti dna taat kepada Allah Swt, dan senantiasa bersyukur kepadaNya.

Tentang syukur, Quraish Shihab menyebutkan cara bersyukur kepada Allah:

  1. Bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan meyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Allah Swt dan tak ada seorang pun selain Allah Swt yang dapat memberikan nikmat.
  2. Bersyukur dengan lidah, yaotu mengucapkan secara jelas ungkapan Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt.
  3. Bersyukur dengan amal dan perbuatan, yaitu mengamalkan anggota tubuh untuk hal baik dan memanfaatkan nikmat itu sesuai dengan ajaran agama.

Syukur kepada Allah bisa dilakukan dengan sujud syukur, setelah mendapatkan nikmat atau lolos dari musibah, dan dilakukan di luar salat. Allah menjanjikan dalam QS Ibrahim 7 penambahan nikmat bagi orang yang bersukur, dan akan menurunkan azab bila nikmat-Nya diingkari.

(to be continued)

Hamba yang Bersyukur

Posted in Kontemplasi, Tausiyah with tags , , on August 16, 2008 by hzulkarnain
sabar dalam ketaatan

sabar dalam ketaatan

Sebuah riwayat mengisahkan bagaimana Rasulullah Saw sholat malam sambil kerapkali menangis hingga jengotnya basah. Tak jarang beliau juga sholat hingga kaki beliau bengkak karena sholat terlalu lama. Hal itu membuat keheranan Bilal, sehingga menanyakan hal ini kepada Rasul. Jawaban Rasulullah Saw sederhana, semua ini terjadi karena beliau merasa belum menjadi hamba yang bersyukur.

Rasulullah menyebutkan dalam salah satu hadistnya bahwa Allah akan mengangkat derajat manusia bila mau melakukan 3 hal: bersyukur, ikhlas, dan bersabar. Kata syukur sudah sering kita dengar, dan mudah diucapkan. Begitu banyak firman Allah yang menyebutkan soal syukur ini, dan kebanyakan berupa pernyataan: termasuk orang yang bersukur, supaya kamu bersyukur, menjadi orang yang bersyukur, bagi orang-orang yang bersukur, dan sebagainya. Sayangnya, justru Al-Qur’an sendiri yang kemudian menyatakan bahwa akan banyak di antara kita bukan bagian orang yang bersyukur.

QS. Al-A’raaf 10: Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.

QS. Al-MukmiDan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur .

QS. Yunus 60: Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat ? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri.

QS. Al-A’raaf 17: kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur .

Di dunia yang fana ini, hamparan rahmat dan rizki disemaikan Allah semata-mata untuk kemaslahatan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah memerintahkan kita sholat, dan usai melakukannya kita diperintahkan pula untuk bertebaran di muka bumi mencari penghidupan dan rahmat-Nya. Manusia berkecenderungan untuk gembira mencari penghidupan yang banyak memberikan hasil, seperti perniagaan dan kerja lain yang membuahkan penghasilan besar. Bekerja menjadi bagian dari 24 jam kehidupan, bahkan tak jarang menyita waktu pada paruh terbesar waktu harian itu. Bila sudah seperti itu, kadang waktu berlalu cepat hingga lepaslah Dzhuhur dan Ashar. Dalam kelelahan, lepaslah pula Maghrib dan mungkin Subuh.

Kalau untuk perintah yang wajib saja sering lalai, bagaimana pula manusia mampu menunjukkan syukurnya kepada Allah?

Ada sebuah kalimat Allah yang sering dikaligrafikan, dan satu copy-nya yang cukup indah tergantung di dinding rumah saya, yaitu QS. Ibrahim 7: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah kepadamu, dan jika kamu mengingkari , maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”

Allah menghormati orang yang bersyukur dengan membahasakan “Kami”, dan wujud rahmat Allah adalah barokah rizki yang selalu menaungi manusia. Sebaliknya, Allah membahasakan “Aku” pada orang yang tidak bersyukur, disertai ancaman datangnya azab.

Kalau saja manusia mau merenungi makna ayat yang dalam ini, betapa takut seharusnya mereka untuk mengingkari rahmat Allah. Ketika Allah “memalingkan wajah” dari manusia, betapa sengsara mereka dalam mencari penghidupan. Kesengsaraan akan bertambah-tambah tatkala Allah menurunkan teguran dan ujian-Nya, yang sekalipun kita mampu menanggungnya tetap saja terasa berat dan pedih. Bagaimana lagi bila Allah murka dan menurunkan azab-Nya?

Apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan rasa syukur kepada Allah yang Maha Agung dan Penguasa sekalian alam? Sementara tak ada kekayaan yang bisa menyamai dan kemegahan yang setara dengan-Nya?

Pertama, tak berlebihan kiranya bila kita prioritaskan untuk menjalankan kewajiban agama dan beribadah menyembah Allah Swt, dan hanya kepada Allah Ta’ala semata, dengan ikhlas. Dalam Al-Qur’an saja, ada lebih dari 80 ayat yang menyebutkan kata menyembah bahkan mungkin bisa lebih bila ditambahkan dengan pengembangan kata tersebut. Semuanya mengingatkan keharusan untuk menyembah Allah yang Esa dan ancaman bila menyekutukan-Nya. Tentu saja bukan semata ritual, namun memang diniatkan secara ikhlas untuk mendekatkan diri.

Ikhlas mengandung pengertian mensucikan atau memurnikan, yang bermakna penghambaan kepada Allah Swt belandaskan niat suci untuk mencari ridhanya. Selama ada embel-embel lain di sana, keikhlasan manusia dipertanyakan.

Kedua, melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan Allah. Sebuah hadist menyebutkan bahwa: Segala hal di muka bumi ini halal terkecuali apa yang diharamkan oleh Allah. Segala ibadah tidak ada yang perlu dilakukan kecuali yang diperintahkan oleh Allah.

Allah telah menetapkan apa yang haram, dan jangan sekali-kali mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah. QS. Al-Maa’idah 87: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Ada 3 hal yang termaktub di sini: halal-haram, baik (thoyyib), dan tidak melampaui batas. Allah telah eksplisit menyebutkan darah, bangkai, daging babi, dan semua binatang yang disembelih tanpa menyebut asma Allah, sementara Rasulullah telah menambahkan beberapa kategori agar manusia menjadi jelas. Namun demikian, sekalipun suatu makanan sifat dasarnya halal tapi tidak baik (thoyyib), sifatnya berubah menjadi haram. Demikian pula dengan tindakan yang melampaui batas, misalnya terus makan sekalipun telah kekenyangan hingga muntah.

Rasulullah juga mengingatkan tentang ibadah dan ritual yang mengada-ada, dan tidak ada dasarnya dalam pendekatan diri kepada Allah. Islam selalu penuh dengan kesederhanaan, dan tidak akan membenani umat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semua ritual dan ibadah yang secara objektif kita rasakan berat, tetapi seolah sudah menjadi budaya, perlu kita perhatikan dengan jelas. Tidak ada salahnya berkonsultasi dengan ulama dan pemuka agama yang memiliki ilmu agama yang baik agar tidak salah langkah sekaligus menghapus keragu-raguan.

Termasuk pula dalam kategori ini adalah menjalankan perintah untuk menyantuni yatim piatu, memberi makan fakir miskin, melakukan jihad fi sabilillah seperti mencari rizki yang halal untuk keluarga, dan banyak hal lainnya.

Keharaman juga bukan sekedar makanan, karena tindakan yang merugikan orang lain juga termasuk di dalamnya. Menipu, memanipulasi, korupsi, merampok, riba, termasuk di dalamnya. Allah berfirman dalam QS. An-Nisaa 29: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.

Ketiga, yang seringkali sulit dilakukan adalah bersabar. Bersabar, menurut Rasulullah, memuat 3 dimensi, yaitu: bersabar ketika menghadapi musibah (fa shobrun alal musibah), bersabar dalam ketaatan kepada Allah (fa shobrun alaththa’ah), dan bersabar dari melakukan perbuatan maksiat (fa shobrun anil ma’siyah).

Kita selalu dipenuhi dengan rahmat dan karunia Allah, dan seolah-olah tidak ridha bila Allah (selaku pemilik) mengambilnya lagi. Tak jarang kita melihat orang sebelumnya kelihatan saleh kemudian menggugat Allah ketika anaknya meninggal, suaminya berselingkuh, kedudukannya di masyarakat terancam, diturunkan kecacatan pada dirinya, dsb. Satu yang diambil kembali, seperti meniadakan semua karunia rahmat. Protes dan gugatan jauh lebih keras disuarakan daripada perasaan syukur atas 999 rahmat yang tersisa.

Sabar juga berarti tawakal, menunggu keputusan Allah setelah semua kewajiban dan sunah kita laksanakan, dan tetap meyakini bahwa Allah akan memilihkan yang terbaik bagi kita. Yang terbaik bagi kita bisa jadi yang kita senangi, itu biasa, dan kita perlu bersabar dengan keputusan itu.

Kita sebagai manusia normal acapkali mengingkari nurani kita yang melarang kita melakukan perbuatan yang kurang pada tempatnya. Karena kita suka perbuatan duniawi itu! Kita menisbikan kemungkinan Allah tidak ridha. Kalau ini seringkali terjadi, nurani kita teringkari berulang kali karena bertentangan dengan rasa suka kita pada sebuah hal duniawi, nurani akan menutup diri, qolbu akan mengeras, dan kita akan sulit mendengarkan saran dari orang lain, pada suatu saat nanti. Allah pasti akan memberikan penilaian atas kesabaran kita untuk terus melangkah di jalur yang diridhai-Nya.

Pada intinya, mensyukuri rahmat Allah adalah hidup dengan jalan yang ditentukan oleh Islam, dengan ikhlas dan sabar, semata-mata untuk memperoleh ridha Allah. Dulu, KH Zainuddin MZ pernah memberikan tausiyah tentang ridha ini. Karena parameter ridha Allah ini kadangkala tidak sekedar yang terlihat mata dzahir, dan ada hal-hal yang tersembunyi dan serta butuh penalaran, kita manusia ini diminta untuk selalu bertanya pada diri sendiri sebelum melakukan sebuah perbuatan:”Allah ridha apa tidak?”

Semoga kita selalu menjadi manusia yang bersyukur, dan hanya mengharpakan ridha Allah Swt agar selamat dalam menjalankan amanah kehidupan ini. Amin.