Pemilihan Presiden Indonesia

Posted in Kontemplasi, Sharing on July 8, 2009 by hzulkarnain

Hari ini, Rabu 8 Juli 2008, seluruh warga bangsa Indonesia diberi kesempatan untuk menyalurkan aspirasinya memilih pemimpin negara yang mereka sukai. Sudah tersedia tiga pasang Presiden – Wakil Presiden, yang mewakili 3 kekuatan partai besar dalam Pemilu legislatif beberapa bulan silam.

Capres nomor 1 Megawati adalah representasi PDI Perjuangan yang secara tradisional dikenal sebagai partai nasionalis dan berpihak pada rakyat kebanyakan. Posisinya yang kuat di beberapa propinsi menjanjikan dulangan suara yang harus diperhitungkan. Apalagi, beliau juga didampingi Prabowo Subianto yang tampaknya memiliki cukup kharisma di kalangan muda. Keduanya mengemban konsep kerakyatan yang serupa, dan diwujudkan dengan slogan PRO RAKYAT.

Sang incumbent, SBY yang kali ini menggandeng Boediono, memperoleh nomor 2. Kharisma sang incumbent ini sebagai seorang Presiden sudah dikenal luas. Gaya bicaranya yang reserved dan – sejauh yang saya tahu – selalu dengan emosi yang terkontrol, memiliki nilai positif luar biasa. Ia adalah figur utama dan representasi Partai Demokrat yang secara fenomenal menjadi pemenang dalam Pemilu legislatif tahun ini. Keyakinan beliau bahwa Indonesia sudah berada di jejak yang benar memberi gagasan motto: LANJUTKAN!

Nomor 3 ditempati oleh sang incumbent wakil presiden, JK. Setelah yakin bahwa SBY memasang prasyarat yang tidak bisa dipenuhinya bila hendak meneruskan fungsinya sebagai wakil presiden, beliau memutuskan maju sendiri sebagai representasi Golkar. Dalam Pemilu kali ini, Golkar bersaing ketat dengan PDI Perjuangan dalam peroleh kursi. Dengan menggandeng Jenderal (purn) Wiranto yang sebelum menjadi Ketum Hanura adalah juga fungsionaris Golkar, JK yakin sekali telah menjelma menjadi representasi ideal: Jawa – luar Jawa, sipil – militer, bisnis – birokratis, dst. Sebagai orang bisnis, beliau yakin, Indonesia membutuhkan langkah yang: LEBIH CEPAT LEBIH BAIK.

Hanya sebulan ketiganya secara resmi diijinkan untuk berkampanye secara terbuka, sehingga team sukses masing-masing harus bekerja keras menguapayakan langkah terbaik untuk mengkondisikan hasil paling positif untuk pasangan yang mereka usung. Saling klaim keberhasilan, saling jegal, saling sindir, adalah dinamika yang terjadi selama masa kampanye. Yang lebih mengesankan lagi, tahun ini dimulai acara debat antar calon kandidat Presiden yang diselenggarakan oleh KPU dan ditayangkan oleh hampir semua televisi nasional.

Hari ini – the D-Day – semua dipastikan. Dalam jam-jam terakhir – kurang dari 48 jam sebelum hari pemilihan, Mahkamah Konstitusi mengesahkan aturan penggunaan KTP dan KK sebagai pengganti DPT yang belum lepas dari kekacauan. Artinya, akan lebih banyak warga bangsa yang punya hak memilih. Sekalipun minim dengan sosialisasi, tampaknya peran televisi memberikan dorongan yang luar biasa besarnya pada suksesnya pemilihan presiden hari ini.

Sejak pukul 9-an pagi, secara mengejutkan sudha muncul prediksi angka di televisi swasta yang secara khusus menyiarkan pemilihan kepala negara ini. Prediksi itu berasal dari Exit Polling, yaitu suara pemilih yang baru keluar dari lokasi TPS. Dengan segera pasangan nomor 2 memimpin. Exit polling bukan suara yang sebenarnya, seban ada kemungkinan pesan yang disampaikan secara verbal bisa berbeda dengan hasil yang masuk ke kotak suara.

Pada pukul 12.00, dengan cepat quick count menempatkan pasangan SBY-Boediono leading jauh dari kedua pasangan lainnya. Suara Megawati – Prabowo lebih kurang separuh suara SBY – Boediono; sementara suara JK – Wiranto sekitar separuh dari suara Megawati – Prabowo. Prediksi beberapa pengamat yang menjagokan JK – Wiranto sebagai “kambing hitam” persaingan ternyata meleset jauh. Dari catatan di semua propinsi, pasangan nomor 3 ini tampaknya hanya unggul di 2 atau 3 propinsi. Daerah yang secara tradisional dikenal sebagai basis PDI Perjuangan ternyata tidak memberikan hasil optimal bagi pasangan nomor 1. Bahkan di Ambon, yang dalam Pemilu legislatif didominasi PDI-P, ternyata justru memberikan suara bagi SBY – Boediono.

aku juga nyontreng nomer 2

aku juga nyontreng nomer 2

Dalam pikiran saya, kharisma SBY memang belum bisa dibendung. Langkah-langkahnya yang banyak dikecam oleh Prabowo Subianto ternyata masih disukai oleh para pemilih. Strategi menciptakan image masa depan yang kelam bila pemerintahan sekarang dilanjutkan yang diintrodusir oleh sang cawapres ini ternyata tidak dipahami oleh rakyat. Mungkin sekali bahasa yang dipergunakan terlalu tinggi bagi mereka – tapi ini masih perlu diuji. JK tidak berhasil mendulang suara optimal, menurut Renald Khasali, dikarenakan waktu untuk pencitraan tidak cukup panjang. Konsep ideal yang diusung beliau dan cita-cita untuk membuat negeri ini mandiri, ternyata tidak banyak dipahami juga oleh rakyat.

Bila tidak ada aral melintang, sesuai dengan suara yang diaspirasikan para pemilih dalam ajang Pilpres tahun ini, SBY – Boediono akan melenggang ke kursi kepemimpinan negeri di bulan Oktober 2009 nanti. Insyaallah.

Saya pribadi yakin, pemilihan presiden 5 tahun mendatang akan jauh lebih seru karena tidak ada incumbent yang akan bertarung. Semoga Indonesia selalu dalam lindungan Allah Swt, dan memperoleh pemimpin yang tepat untuk jamannya. Amin.

Kampanye Pilpres: Yang Membosankan hingga Black Campaign

Posted in Sharing with tags on July 2, 2009 by hzulkarnain

Catatan akhir Juni

- baru terposting Juli karena masalah internet -

Awal bulan ini ditandai dengan dimulainya putaran kampanye pemilihan Presiden Republik Indonesia untuk masa bakti 2009 – 2014. Setelah melalui berbagai pertentangan dan tarik ulur kepentingan, tiga pasang capres dan cawapres diresmikan dan didaftarkan ke lembaga KPU. Megawati – Prabowo Subianto memperoleh nomor urut 1, Susilo Bambang Yudhoyono di urut 2, dan Jusuf Kalla – Wiranto memperoleh nomor 3. masing-masing team sukses sama-sama mengusung keyakinan bahwa pasangan capres-cawapres merekalah yang paling pantas untuk menempati kursi RI-1 dan RI-2.

Apakah benar pasangan nomor 1 dan 3 yakin bisa mengungguli sang incumbent yang tampak kokoh di posisinya? Kenyataannya mereka tidak seyakin itu. Hal itu terlihat dari cara team sukses memposisikan pasangan lain dalam peta persaingan mereka. Konon, team sukses nomor 1 dan nomor 3 sepakat (secara tidak resmi) untuk saling mengalihkan suara mereka apabila ternyata dalam putaran kedua Pilpres nanti pasangan yang mereka usung tidak masuk. Secara tidak langsung mereka mengakui bahwa pendukung pasangan nomor 2 masif.

Dengan gaya yang serupa tapi tidak sama, Megawati dan Prabowo selalu menekankan kegagalan pemerintahan yang sekarang meretas kemiskinan, tidak berpihak pada rakyat jelata, bahkan pengangguran semakin banyak. Sisi negatif dan angka statistik pemerintahan dibeber untuk membentuk opini negatif terhadap administrasi kepresidenan yang sedang berjalan. Rakyat dibuat gelisah bahkan hingga takut akan masa depan yang suram bila sang incumbent kembali berkuasa. Jalan masa depan yang cerah adalah perubahan mendasar melakui mereka.

Political of fear (politik ketakutan) memang biasa dipakai dalam membentuk opini massa, dan mengarahkan floating mass ke arah yang dikehendaki pihak yang melancarkannya. Taktik ini seperti yang dilakukan oleh John McCaine dalam kampanye pilpres di Amerika tahun lalu. Bila Obama selalu mengedepankan adanya harapan dan masa depan, McCaine menggelontor rakyat Amerika dengan ketakutan akan terorisme. Kalau saja tidak ada krisi global yang menghempas dunia, belum tentu taktik McCaine bisa dikalahkan Obama dengan telak. Di sini, kita akan melihat nanti, apakah taktik kampanye yang dipilih Prabowo bisa berhasil.

Pasangan SBY-Budiono adalah orang-orang cool yang tidak berapi-api. SBY punya gaya reserved dan berwibawa, dengan determinasi yang kuat tentang langkah yang telah diambilnya. Banyak orang yang menganggapnya lamban dalam memutuskan sesuatu, namun dalam banyak hal justru kehati-hatiannya membawa keuntungan. Di sisi lain, langkah konsisten dan tanpa gejolak yang dipilihnya akan menunjukkan bahwa dalam periode pemerintahannya yang kedua (bila terpilih kembali), rakyat tidak bisa mengharapkan sebuah perubahan yang terlalu drastis. Dengan kata lain, hingga lima tahun ke depan, perubahan yang terjadi akan gradual dan tikda revolutif.

Apalagi, Budiono juga banyak dikenal sebagai sosok pendiam yang tanpa emosi dan ambisi yang berlebihan. Cara berpikirnya dalam, khas seorang teknokrat dan guru, agar ia bisa mempertanggung jawabkan langkah yang diputuskannya. Karakter personalnya seolah-olah mirip dengan SBY, hanya beda arah hidup saja.

Rakyat tidak banyak melihat janji ke depan, karena konsep kampanye pasangan ini: Lanjutkan! berarti semua hal tidak banyak berubah dari masa sekarang.

Pasangan JK-Wiranto seolah-olah hendak menjawab pasangan ideal yang diharapkan bisa memimpin Indonesia. Pasangan Non Jawa – Jawa, sipil – militer, pengusaha – politisi, dsb. JK yang pebisnis punya keyakinan besar bahwa kapasitasnya lebih dari cukup untuk membawa Indonesia ke tempat yang lebih baik. Apalagi ia akan dikawal seorang jenderal berbintang empat, yang sejak lama dikenal handal dalam memimpin. Wiranto punya kemampuan yang kuat dalam mengkomunikasikan pikirannya, persuasif, dan tidak pernah tampak emosional, sebuah sifat yang nyaris berkebalikan dengan Jusuf Kalla.

JK lebih optimis dibandingkan SBY dalam menatap masa depan, dengan mengedepankan ambisi membentuk Indonesia yang mandiri dari tangan asing. Pembangunan bandara tanpa campur tangan kontraktor asing, pemberdayaan pengusaha lokal, dan tujuan akhirnya adalah pembukaan lapangan kerja baru.

TV swasta sudah memberikan kesempatan pada ketiga capres-cawapres untuk mengemukakan visi dan misinya selama 4 – 5 tahyn ke depan bila hendak menjabat sebagai orang nomor satu negeri ini. Ada forum pertemuan dan konsultasi model town hall forum yang kurang menarik, hingga debat sopan santun yang menjemukan. Di luar mereka, beberapa acara televisi justru menyajikan forum antar team sukses yang lebih ramai, lebih berani beradu konsep dan pikiran, dengan pendukung masing-masing. Sayangnya intinya sama: tidak ada yang baru dan membosankan.

Jangan harap bisa menemukan pidato ala Obama yang bernas dan optimis, pidato ala McCaine yang membuat bulu kuduk berdiri, dan forum penyajian yang kreatif. Yahh … kita memang bukan Amerika yang sudah sangat maju dalam urusan pilpres. Negeri ini baru belajar menyelenggarakan pemilihan presiden yang menarik dan melibatkan semua elemen masyarakat. Kalau sekarang kampanye yang ada sangat membosankan, itu memang proses yang harus dilalui. Melihat animo dan keseriusan pihak televisi swasta mengemas kampanye, bukan tidak mungkin lima tahun mendatang kita akan melihat sajian yang jauh lebih menarik.

Munculnya black campaign dalam sebuah ajang pemilihan pimpinan sudah jamak terjadi, dan bukan kali pertama juga terjadi. Karena itulah, pihak KPU dan Polda cepat tanggap dan menangani persoalan ini dengan proper. Hal biasa saja, tetapi karena blow up media massa, sehingga hal biasa menjadi heboh sekali.

Apakah hanya cawapres Budiono yang terkena kampanye hitam? Tidak juga. Kalau ini lolos, bisa jadi yang lain akan bermunculan. Status cawapres Prabowo yang menduda dan keterlibatannya dengan peristiwa 1998, Wiranto yang masih lekat dengan kasus HAM, semuanya potensial terkena kampanye hitam. Rumor sudah di permukaan tetapi belum manifes menjadi kampanye hitam.

Semoga pilpres tahun 2009 nanti akan berlangsung dengan lancar, dan memberikan kebaikan bagi seluruh elemen bangsa ini. Siap menang, siap kalah. Siapapun yang terpilih adalah representasi rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan.

Pilpres dan Pertentangan Kepentingan

Posted in Sharing with tags on June 26, 2009 by hzulkarnain

Beberapa hari belakangan ini, televisi ramai menyiarkan kerusuhan di kota Teheran pasca kemenangan Ahmadinejad dalam pemilihan Presiden Republik Islam Iran untuk periode berikutnya. Di layar kaca Metro TV dan beberapa televisi swasta nasional lainnya terlihat kumpulan orang yang bergerak dalam kelompok besar menyuarakan ketidak puasan terhadap hasil pemilihan umum yang memenangkan kandidat yang tidak mereka dukung. Sebagian yang lain mengklaim adanya kecurangan, dengan tujuan memenangkan sang incumbent Ahmadinejad. Lebih seru lagi, beberapa hari kemudian terdengar kabar terjadinya perusakan di makam Ayatollah Khomeini dan sebuah masjid di luar kota Teheran.

Kondisi ini seperti analogi sebuah minuman bersoda tertutup yang dikocok. Kita tahu ada elemen yang bisa menyebabkan letupan, yaitu air bersoda. Kocokan ringan menyebabkan limpahan buih. Kocokan yang keras bahkan mampu membuat tutup botol meletup.

Iran adalah air bersoda. Wilayah ini sejak dulu sangat rawan konflik, karena sejak awal bangsa ini selalu memiliki ekstrimitas. Kaum Islam dan kelompok majusi yang masih hidup di pelosok negeri. Kaum Syiah yang mendominasi pendudukan memiliki ajaran yang sulit diterima orang Sunni yang berada di sekitarnya. Kaum moderat atau modernis berseberangan dengan kaum konservatif.

Iran adalah negara dengan kandungan minyak yang – konon – terbesar kedua di dunia, dan yang jauh lebih menggiurkan Amerika adalah kandungan uranium di buminya yang cukup melimpah. Itulah sebabnya nuklir Iran selalu menjadi kontroversi.

Tahukah anda berapa sinagog – rumah ibadah kaum Yahudi – di Teheran saja? Sebuah liputan dari National Geographic dari jantung Teheran menyebutkan ada 25 sinagog di Teheran saja. Penduduk beragama Yahudi yang tinggal di Iran merupakan populasi Yahudi terbesar kedua di dunia setelah Israel, dan mereka telah tinggal di bumi Persia jauh sebelum Islam menyebar di sana – yakni sejak sekitar 3000 tahun silam. Apakah mereka berselisih dengan warga Islam yang mayoritas? Bahkan mereka bisa berniaga, membuka toko, dan berbaur dengan warga Iran kebanyaka tanpa hambatan sama sekali.

Ini hanya sedikit dari banyak contoh keunikan bangsa ini.

ahmadinejad

sang zuhud yang kharismatik

Mahmud Ahmadinejad adalah Presiden Iran yang disukai kaum mullah. Hal itu tidak dapat disangkal. Dia awalnya bukan politisi, namun sekarang menjelma menjadi sosok yang disegani di dunia Islam dan tidak disukai Barat – karena berani head-to-head dengan para pemimpin Barat. Termasuk Presiden Amerika kala itu, Bush. Yang lebih pelik bagi Barat adalah karena orang ini terkenal zuhud dan jauh dari kemewahan. Ia tidak meneruskan kebiasaan mewah para Presiden sebelumnya , dan menempatkan dirinya sama dengan rakyat Iran kebanyakan. Sangat sulit menemukan sasaran tembak yang menjatuhkan kredibilitas Ahmadinejad di mata rakyat Iran.

Ketika dia naik sebagai Presiden 4 – 5 tahun yang lalu, tidak ada yang menduga kemenangannya, bahkan dia bukan kandidat yang diperhitungkan sejak awal. Akan tetapi, tampaknya dia adalah orang yang memang digadang para mullah untuk memimpin level eksekutif Iran. Tidak ada gejolak seperti saat ini, entah karena para lawan politiknya masih shock atau intelijen asing belum tahu “si hijau di dunia politik” ini akan berbentuk seperti apa.

Dalam pilpres sekarang, lawan politiknya – termasuk intelijen asing – menemukan titik tembak yang bisa dipergunakan untuk merobohkan dominasi Ahmadinejad: persoalan ekonomi dalam negeri dan ke-Islaman yang konservatif yang tidak didukung orang muda perkotaan.

Begitu telaknya kemenangan Ahmadinejad yang punya basis massa proletar di wilayah non-kota (60% prosen lebih suara) membuat lawan-lawan politiknya langsung meradang dan menuding adanya kecurangan. Dikomandani kandidat dari kaum reformis yang digadang bisa memang Mir Hasan Mousavi (dalam pengejaan lain Musawwi), gelombang unjuk rasa menyergap ibukota Teheran, sebuah fenomena yang tidak biasa terjadi.

Yang lebih unik dan mengherankan adalah, sebuah issue dalam negeri – yang sebenarnya biasa terjadi di negara manapun – menjadi headline televisi berita besar macam CNN dan BBC. Bukan sekedar memberitakan, namun waktu ratusan jam diporsikan untuk berita-berita di seputar pilpres Iran ini seolah-olah hendak menunjukkan tangan besi pemerintah kepada pengunjuk rasa yang menentang hasil pemilu. Dengan bahasanya yang canggih, CNN menyebutkan bahwa video yang diterimanya berasal dari kontributor yang tidak bisa diverifikasi. Sekalipun jelas menyebutkan hal tersebut, tetap saja gambar yang ditayangkan telah membentuk opini internasional.

Kepentingan personal tampak sekali bermain dalam kasus ini. Kepentingan sang kandidat presiden, kepentingan orang-orang yang akan meraup keuntungan, kepentingan dengan tumbangnya sang incumbent, dan kepentingan sponsor unjuk rasa – yang ditengarai adalah pihak Barat. Bahkan pemerintah Iran tanpa ragu menunjuk Inggris adalah pihak Barat yang bermain di sini.

Iran adalah idaman bagi pengendali ekonomi, karena negeri ini terletak di tempat yang strategis dan kandungan minyaknya – konon – terbesar kedua di dunia. Bukan hanya itu, cadangan uranium Iran tentunya membuat negara super power berliur karena iri. Tidak mengherankan bila sejak sekian puluh tahun silam pihak Barat selalu berusaha menanamkan pengaruh di sana. Kecemerlangan bangsa ini beberapa kali tampak ke permukaan, dan yang terakhir adalah ketika Shah Iran berkuasa. Bangsa Persia tampak seperti negeri impian saat itu.

Semua mendadak berubah tatkala people power menggulingkan pemerintahan korup Shah Iran dan menggantikannya dengan republik Islam yang konservatif di bawah pemimpin spiritual yang sempat terbuang Imam Khomeini. Puluhan rakyat Amerika yang tidak sempat lolos menjadi sander di dalam Kedutaan Besar Amerika di Teheran. Dengan trik politik yang kotor, Ronald Reagan dan Bush mengkonversikan tawanan tersebut dengan pembiayaan perang Iran yang saat itu sedang perang dengan Irak. Reagan akhirnya terpilih menjadi presiden, namun pengaruh Amerika di Iran tercabut. Apakah Amerika Serikat dan sekutu Baratnya diam saja? Tidak! Mereka selalu berusaha menanamkan pengaruh lagi di sana.

Setelah sekian puluh tahun, kekuatan massa yang menyebut diri mereka modernis dan reformis mencoba mengembalikan jalur dialog ke Barat yang selama ini ditutup oleh Ahmadinejad, melalui pemilihan presiden. Logikanya, ekonomi Iran akan terbantu bila katup dialog dengan Barat dibuka, sehingga kondisi carut marut yang tidak disukai orang kota sekarang ini akan terselesaikan.

Rakyat telah memilih – dan dengan alasan apapun – mayoritas penduduk telah memilih sang incumbent yang low profile namun merakyat, dan disukai kaum mullah. Mahmud Ahmadinejad punya pekerjaan rumah besar di awal putaran kedua masa jabatannya, yaitu menenangkan unjuk rasa yang sudah mulai anarkis, dan membuktikan bahwa bangsa ini patut disegani di Timur Tengah dan menjadi duri dalam daging bagi Barat dalam upayanya melindungi kepentingan Israel di sana.

Kita harapkan, yang terbaik akan terjadi di tanah para mullah ini. Amin.