MEMBERIKAN LEBIH, MEMBERI DENGAN HATI

Posted in Kisah, Psikologi, Sharing with tags on November 15, 2009 by hzulkarnain

Beberapa waktu lalu, di sebuah milis saya menemukan sebuah kutipan kisah inspiratif yang menyentuh. Saya sebut menyentuh, karena pergerakan ini diawali oleh seseorang yang memiliki kecacatan, namun telah berhasil mengubah konsep berpikir banyak orang.

Ken Blanchard, penulis buku terkenal “One Minute Manager”, pada suatu saat membagikan sebuah kisah tentang apa yang dapat terjadi ketika para karyawan di sebuah perusahaan meniru gaya kepemimpinan yang melayani, tak peduli posisi karyawan tersebut di dalam hierarki organisasi.

Seorang konsultan bisnis sedang melatih lebih dari 3.000 karyawan di sebuah grup supermarket di wilayah Barat Tengah Amerika Serikat, agar mereka bekerja dengan tujuan untuk menciptakan kenangan bagi para pelanggan mereka.

Johnny, 19 tahun, adalah seorang petugas di bagian pembungkusan barang belanja yang memiliki penyakit down syndrome. Tanggapannya yang pertama terhadap nasihat konsultan itu adalah, “Saya ini hanya seorang petugas di bagian pembungkus”. Walaupun demikian, ketika ia pulang ke rumahnya ia membagikan perkataan konsultan itu dengan ibunya. Mereka mulai merenungkan apa yang dikatakan konsultan itu tentang bagaimana menciptakan kenangan indah bagi para pelanggan. Johnny mempunyai kebiasaan mengumpulkan kisah-kisah penuh inspirasi yang ia sering baca. Ia memutuskan bahwa ia akan mulai mencetak perkataan-perkataan inspirasional itu dan menaruh kertas inspiratif itu di kantong belanjaan pelanggannya.

Ketika para pelanggan datang melewati jalur pembayaran dan Johnny membungkus barang belanjaan mereka, tak lupa Johnny menaruh kertas inspiratif itu di kantong belanjaan mereka, sambil berkata, “Saya sudah menaruh beberapa kisah inspiratif di dalam kantong ini dengan harapan hal itu dapat menambah semangat anda hari ini. Terima kasih karena anda belanja di sini.”

Setelah berlangsung beberapa minggu, sesuatu yang luar biasa mulai terjadi. Pada suatu hari manajer toko memperhatikan bahwa semua pelanggan mengantri di satu kasir saja, sedangkan kasir lainnya kosong. Ia mulai panik, mengira bahwa mesin-mesin kasir lain sedang rusak. Setelah diselidiki ternyata bukan itu masalahnya. Sesungguhnya, para pelanggan ingin melewati konter Johnny agar mendapatkan kisah inspiratif untuk hari itu.

Seorang wanita mendatangi manajer toko itu dan berkata, “Biasanya saya belanja ke sini seminggu sekali, tetapi sekarang saya datang setiap hari.”

Teladan Johnny menyebar ke departemen lain di supermarket itu. Bagian penjualan bunga membagikan sekuntum bunga kepada setiap pembeli bunga. Bagian penjualan daging menempelkan stiker Snoopy dengan ucapan tertentu yang menarik pada setiap pembelian daging. Tindakan dari seorang petugas pembungkus belanjaan telah mengubah suasana di supermarket itu.

Bagi Johnny, pekerjaannya adalah kehidupannya, karena memang tidak semua pekerjaan bisa ditangani oleh seseorang yang memiliki keterbelakangan mental. Dengan membawa hati ke dalam pekerjaan, semuanya seakan-akan menjadi hidup. Mungkin Johnny tidak pernah berpikir dampak besar yang ditimbulkan hal kecil yang dilakukannya, namun pelanggan bisa merasakan bahwa dirinya diistimewakan.

melayani...memberikan hatiSaya pernah membaca kisah hidup Bob Sadino, yang sejak kecil telah bekerja mengirimkan belanjaan yang dipesan oleh orang-orang Belanda di sekitar wilayah tempatnya tinggal. Sekalipun saat itu konsep marketing belum dikenal seperti sekarang, Bob kecil telah terlatih memberikan kejutan manis di setiap kantong kirimannya – yaitu sekuntum bunga anggrek. Tampaknya sepele, tetapi hal itu membuatnya diingat.

Pada dasarnya, tiap manusia suka diberi secara cuma-cuma, apalagi bila pemberian tersebut berguna sekalipun tidak mahal. Yang diberikan Johnny kepada pembeli supermarket tempatnya bekerja tidak mahal, bahkan bisa diabaikan. Akan tetapi, tampaknya penerima “hadiah” Johnny memilih untuk tidak mengabaikannya karena Johnny memberinya pengantar – sekalipun sangat sederhana. Pengantar ini sebenarnya sekedar mengingatkan bahwa di dalam kemasan yang dibawa pulang pelanggan ada lembaran inspirasi cuma-cuma pemberian dirinya.

Memberikan hati ke dalam pekerjaan bukanlah pekerjaan yang mudah, karena kebanyakan orang yang terjebak dalam rutinitas membuat bekerja adalah bagian dari irama kehidupan, bukan kecintaan akan kehidupan lagi. Oleh karena itu, justru yang lebih sering kita jumpai di pusat perbelanjaan adalah pelayan yang kehilangan passion dalam melayani. Pekerjaan mereka bisa jadi cermat dan efisien, namun tidak lebih seperti robot tanpa jiwa. Saya pernah melihat sebuah toko sepatu yang tidak pernah sepi, berhadapan dengan sebuah toko sepatu yang sepi. Kuncinya bukan pada harga sepatu atau item yang tersedia, namun lebih pada cara pelayanan yang lebih personal.

Memberikan barang ekstra kepada pelanggan hanyalah salah satu cara untuk mengistimewakan mereka. Cara lain untuk menunjukkan bekerjanya hati adalah kualitas pekerjaan yang terbaik. Bagi karyawan, adalah bekerja dengan error minimal, lebih efisien, sadar akan pentingnya menata budget, atau apapun juga yang ujungnya adalah membuat gembira pimpinan. Bagi pekerja profesional, misalnya hairdresser atau sekedar tukang cukur, kualitas pelayanan adalah kunci kesuksesan.

Salah seorang teman saya pernah menceritakan pengalamannya bekerja di sebuah waralaba laundry, dan hal itu membuatnya sangat tidak enak. Suatu saat, mereka menerima sebuah jas untuk dry-cleaning. Ketika akan diambil si-empunya beberapa hari kemudian, teman saya itu mendapati kain keras di leher jas sudah tidak bisa tegak lagi. Manajemen berkeras untuk merahasiakannya. Teman saya itu juga cukup yakin bahwa pemilik jas baru akan menyadarinya beberapa hari lagi ketika akan dipakai, sebab fokusnya pasti pada noda yang minta dihilangkan. Namun demikian, teman saya tersebut sangat tidak suka dengan cara kucing-kucingan seperti itu.

Seringkali, yang diharapkan orang bukan uang atau ganti rugi, tetapi kejujuran. Kalau kita tahu pembantu rumah tangga yang mencuci seragam kita berbuat kesalahan dengan mencampur baju seragam putih dengan cucian lain yang berwarna sehingga luntur, tidak mungkin kita meminta dia menggantinya. Sekalipun marah, kemarahan itu tidak akan lama bila dia jujur da menyesalinya. Sudah pasti akan berbeda rasanya bila pembantu tersebut mengelak, menyangkal, dan merasa tidak bersalah.

Ketika memberikan hati ke dalam pekerjaan, sebenarnya orang telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang prima dan siap menjadi teladan bagi orang lain. Dedikasi adalah kata lain dari kecintaan pada pekerjaan, dan komitmen adalah bagian dari ikatan batin dengan pekerjaan. Tanpa dedikasi dan komitmen pada pekerjaan, hilanglah sebuah kata yang lebih sakral lagi: integritas. Bila ketiga hal tersebut sudah tidak ada, jangan heran bila muncul penjahat di tempat kerja: pemalas, tukang mangkir, bahkan koruptor.

Semoga Allah Swt senantiasa membimbing jalan kita. Amin.

ANAKKU PENCURI?

Posted in Psikologi, Sharing with tags , on November 8, 2009 by hzulkarnain

Sepekan atau dua pekan berselang, seorang teman lama curhat tentang anaknya yang belum lama masuk SMP. Dia punya feeling yang tidak enak tentang anak tengahnya ini, yang kebetulan juga satu-satunya yang laki-laki. Dari ketiga anaknya, hanya anak kedua inilah yang belum dapat dipahaminya dengan sepenuhnya.

Teman saya itu (sebut saya Marta) bersama-sama dengan suaminya membuka dan mengelola apotek yang cukup sukses di sebuah kota di Jawa Timur. Ia bercerita, setiap hari selalu ada setoran berbilang puluhan juta di rumahnya yang akan disetorkan ke bank esok harinya. Uang tersebut tidak di simpan rapih di tempat terkunci, tetapi yang tahu perihal penyimpanannya hanya dirinya, suami, dan anak-anaknya. Seringkali, hitungan awalnya dengan saat hitungan petugas bank berselisih 2 hingga 4 lembar dalam satu ikatan uang. Pada awalnya ia hanya berpikir, mungkin dirinya yang salah hitung. Tentu saja, ia jadi malu bila ternyata bendelan uang yang disetorkannya tidak sejumlah yang dituliskan di slip setoran.

Ketika anak laki-lakinya itu dikhitan, plus saat Lebaran kemarin, sebagaimana lazimnya banyak angpao yang masuk ke sakunya. Semua angpao tersebut diserahkan kepada mamanya untuk disimpan. Jadi, Marta tahu persis berapa jumlah uang anaknya. Ia mengakui anaknya cenderung boros, misalnya beberapa kali mentraktir kakak dan adiknya es krim atau makanan lainnya. Ia juga suka komik dan mainan yang cukup punya harga (mobil-mobilan Hot Wheels misalnya).

Suatu pagi, Marta bersih-bersih kamar anaknya – kali  ini lebih dalam. Ketika membuka loker si anak, di sana didapatinya komik-komik serial yang mencapai puluhan jumlahnya, dan mainan yang tidak murah. Mobil-mobilan Hot Wheels, mobil Tamiya, dan jenis lainnya ada di sana. Ia menaksir nilainya pasti lebih dari 500 ribu rupiah. Dan yang lebih pasti,  sebagian besar bukan ia yang membelikannya.

Perlahan ia kumpulkan ingatan, dan dengan bantuan informasi dari anak-anaknya yang lain, Marta baru menyadari bahwa anaknya sering pulang membawa mainan atau komik baru. Bukan hanya sering, tapi hampir setiap hari.

Marta segera dilanda kebingungan, karena ia tidak ingin suaminya tahu persoalan ini. Adat suaminya yang keras dan keteguhan pada aturan agama membuatnya bisa memprediksi apa yang terjadi bila ia tahu anaknya telah menjelma menjadi pencuri kecil. Di sisi lain, ia tidak tahu harus berbuat apa…..

Puncaknya, siang itu saat anaknya pulang sekolah, ia mendapati uang sebesar 350 ribu berada di dalam tasnya.

 

Tinjauan

child_stealing-cropMencuri – atau mengambil barang orang lain secara diam-diam (sekalipun itu adalah milik orang tuanya sendiri) – bukanlah perilaku natural seorang anak. Apalagi orang tua sudah melambari ajaran agama dan norma yang membedakan perilaku yang benar dan keliru. Dorongan untuk melakukan tindakan tersebut seringkali bukan murni didasari atas keinginan menguasai milik orang lain, melainkan hal lain yang tidak terkait langsung dengan esensi mencuri.

Misalnya, seorang anak yang mendapati teman-temannya memiliki mainan yang mahal dan bergengsi, akan berkecenderungan untuk memiliki hal serupa. Kalau akses untuk mendapatkannya dengan cara normal tidak ada, ia akan mencoba cara apapun. Tujuan akhir dari memiliki benda tersebut bukan sekedar kepuasan, melainkan juga pada harga diri di mata teman-teman yang lain.

Oleh karena itulah, saran saya pada Marta adalah mengenali teman-teman anaknya. Langsung maupun tidak, lingkungan pergaulan mempengaruhi cara anak berpikir, bersikap, dan berperilaku. Orang tua memang selalu menjadi tempat anak kembali bila dalam masalah atau kesulitan, namun teman-temannya menjadi acuannya dalam berperilaku. Kalaupun orang tua pernah membentuk karakter anak, perannya akan tergeser oleh penerimaan teman sebaya.

Teman sebagai kelompok referensi ini bisa bersifat langsung maupun tidak. Berpengaruh langsung apabila anak menjadi anggota kelompok, tidak langsung bila anak hanya sebatas simpatisan. Sekalipun tidak langsung, menjadi sama atau setara dengan orang di dalam kelompok acuan adalah keinginan seorang anak. Standar perilaku yang ditetapkan kelompok tersebut menjadi acuan bagi anak-anak lain yang ingin dianggap seperti mereka. Misalnya, kalau ingin dianggap cool harus ikut trend permainan elektronik yang canggih, harus punya pakaian dengan model yang trendy, harus bisa mengikuti arus pembicaraan soal tokoh kartun Ben10, dsb.

Saat anak menjadikan kelompok acuan sebagai referensi perilaku, sebenarnya tidak ada kaitan secara langsung dengan munculnya perilaku pencuri. Sebuah tindakan kriminal seperti itu terjadi bila ada kesempatan dan ada kemauan untuk melakukannya. Naasnya, karena sangat percaya pada anak-anaknya, Marta selama ini tidak pernah menyimpan uangnya dengan baik. Oleh karena itu, saya menyarankan padanya untuk membeli sebuah petty cash box sebagai media penyimpanan sementara.

Berangkat dari pengalaman pribadi dan pengamatan pada remaja pada umumnya, saya menyarankan Marta untuk mengajak bicara anaknya empat mata dari hati ke hati. Tanpa kehadiran orang lain, termasuk kakak dan adiknya. Dengan melakukan pendekatan personal, yang ditekan adalah hasrat untuk mencuri, sekalipun banyak kesempatan yang terjadi. Dalam kaidah transactional analysis, saat melakukan pendekatan personal orang tua diharapkan turun dari level parent ke level adult, sementara si anak naik dari level child ke level adult. Dengan demikian, pembicaraan menjadi setara.

Saya wanti-wantikan kepada Marta untuk menekan egonya sebagai orang tua, karena bila anak merasa tidak nyaman dengan perlakuan orang tua yang mengedepankan ego orang tua, saya khawatir anak akan menjadi defensif bahkan menutup diri. Sama dengan kita – orang dewasa yang melakukan kesalahan – bila dihadapi boss secara bossy (boss bermain di level ego orang tua dan kita diperlakukan sebagai ego anak) kita akan defensif dan mengelak. Beda dengan boss yang memperlakukan kita sebaga kolega yang keliru.

Saya pribadi selalu mencoba memperlakukan kenakalan atau ketidak patuhan anak sebagai kekeliruan, bukan kesalahan. Mungkin bagi orang lain keduanya punya makna yang sama, tetapi bagi saya tidak. Keliru adalah ketidak mampuan memahami norma kebenaran yang ditetapkan orang tua, sementara salah menunjukkan kegagalan mematuhi hal yang benar.  Karena itu, konsep keliru selalu saya terapkan pada individu yang sedang belajar, sementara salah terjadi pada individu yang gagal menempuh sebuah norma yang sudah disepakati bersama.

Untunglah, teman saya Marta sudah terbiasa berbicara dari hati ke hati kepada semua anaknya, memberikan wejangan setelah sholat Maghrib. Alhamdulillah, dia mencerna pesan saya dan berhasil mengajak anaknya bicara terbuka. Anaknya mengakui semua kekeliruannya, dan meminta maaf kepada ibunya.

Belakangan, Marta menceritakan bahwa anaknya mengeluh kepalanya pusing namun ia tidak mendeteksi adanya infeksi atau demam. Sebenarnya hal tersebut adalah gejala psikosomatis yang wajar pada individu yang mengalami stress karena kehilangan sesuatu yang disukainya.

 

Kesimpulan

Analogi mendidik anak adalah bagaikan memegang seekor burung di tangan. Kalau terlalu keras dia akan mati, kalau terlalu longgar dia akan lepas. Lebih pelik lagi, karena manusia memiliki akal budi, ia bisa membantah, berkilah, menipu, berpura-pura, dan mempermainkan emosi orang tuanya.

Orang tua yang menganggap anaknya adalah anak-anak, sekalipun si anak sudah di sekitar usia akil baligh, sebenarnya telah membuat kekeliruan. Sudah saatnya orang tua berhenti bicara – barang sebentar – dan mulai mendengarkan. Bukan sekedar mendengar (hear) tetapi mendengarkan (listen) – yang bermakna mendengar secara aktif. Bila orang tua tidak juga mau berhenti bicara, dan cenderung menguliahi anaknya, mereka akan semakin kehilangan pegangan pada si anak.

Secara umum, orang tua cenderung marah bila anaknya yang masih SMP pacaran. Si anak akan di sidang dan kata-kata klasik akan keluar: “Kamu tidak boleh pacaran, masih kecil, belum waktunya.” Padahal dulu, si orang tua ini waktu SMP juga curi-curi kesempatan untuk pacaran.

Menyukai lawan jenis adalah hormonal, dan wajar terjadi pada anak yang mulai akil baligh. Seringkali yang dimaksudkan dengan pacaran hanyalah menyukai saja, makan bakso bersama, duduk-duduk dan curhat-curhatan. Tidak lebih. Namun demikian, bila kondisi ini lebih intens, orang tua harus curiga bahwa ada saluran komunikasi yang terhambat di rumah. Akibatnya, anak mencoba mencari penyaluran di luar – di antaranya dengan berpacaran.

Membina generasi baru adalah tugas orang tua, dan anak yang sholeh dan mendoakan orang tua akan menjadi bekal di akhirat. Karena itulah, kita sebagai orang tua harus dengan cermat mengingat konsep ini.

TIDAK MAU MENGALAH

Posted in Kontemplasi, Sharing with tags , on November 3, 2009 by hzulkarnain

Seorang anak lelaki disuruh ayahnya pergi ke kota untuk membeli tepung roti. Anak lelaki itu segera berangkat berjalan kaki. Jarak antara desa tempat tinggalnya dan kota cukup jauh juga. Di perjalanan ia harus melewati sebuah jembatan kecil.

Kini ia tiba di ujung jembatan kecil itu. Di seberang jalan ia melihat seorang anak lelaki lain yang berjalan ke arahnya. Mereka berdua sama-sama berjalan di jalur yang sama. Hingga tepat di tengah-tengah jembatan itu mereka saling berhadap-hadapan. Keduanya berhenti dan berpandangan. Anak lelaki itu berpikir, “Wah, kurang ajar sekali anak ini. Dia tidak mau mengalah dan memberikan jalan padaku.”

Di saat yang sama, anak lelaki lain itu berpikiran hal yang sama, “Seharusnya dia yang mengalah dan memberikan jalan padaku.”

Lama keduanya saling berdiri di tengah jembatan tanpa ada satu pun yang mau mengalah dan memberikan jalan. Keduanya sama-sama berpikir bahwa “Aku harus berteguh hati dan kuat pendirian.” Keduanya saling berpandangan tanpa ada satupun yang berbicara atau bergerak.

Siang pun tiba. Di rumah, ayah dari anak lelaki yang hendak pergi ke kota itu mulai cemas memikirkan mengapa anaknya belum juga kembali. Sang ayah lalu bergegas menyusul anaknya ke kota. Hingga akhirnya ia sampai di jembatan dan melihat ke dua anak lelaki itu saling berdiam dan berhadap-hadapan.

Sang ayah berteriak pada anak lelakinya, “Wahai anakku, mengapa engkau berdiri di situ?”

Anak lelakinya menjawab, “Anak lelaki ini menghalangi jalanku. Ia sama sekali tidak mau mengalah. Bagaimana aku bisa berjalan jika ia menutup jalanku?”

Sang ayah mulai kesal. Ia lalu berkata pada anaknya, “Sudahlah anakku, sebaiknya kau minggir dan segera pergi ke kota untuk membeli tepung. Biar ayahmu ini yang berdiri di sini menggantikanmu dan tidak memberikan jalan pada anak lelaki yang tidak tahu diri ini!”

(Kisah di atas saya temukan dari kiriman email sebuah milis yang saya ikuti, dan disebutkan asalnya adalah sebuah Chinese Wisdom)

Sekilas, kisah di atas seperti sebuah kelakar, namun bila kita amati lebih jauh betapa banyak kemiripan dengan pengalaman yang kita alami sehari-hari.

Secara harafiah, kita sering terbentur pada kondisi tanpa pilihan kecuali berhenti atau bahkan harus mundur, khususnya bila berkendara dengan roda 4 memasuki sebuah jalan kecil. Betapa sering kita harus memiringkan tubuh saat berpapasan dengan orang-orang di pasar atau di tempat umum karena lebar jalan yang tidak memungkinkan.

Akan akankah orang akan bertoleransi seperti memundurkan atau menepikan mobil, atau memiringkan badan, bila merasa kuat dan yakin akan menang? Belum tentu.

Kalau kita sempat memperhatikan bus atau truk di jalan raya, bagaimana sopirnya biasa berperilaku? Sudah bukan rahasia lagi bahwa, bus atau truk terbiasa “memakan” jalur berlawanan karena yakin sekali mobil lain yang lebih kecil akan menepi. Seorang preman yang berbadan besar tidak akan menepi bila berpapasan dengan orang lain, karena ia meyakini lebih berkuasa dan tidak perlu mengalah, bahkan orang lain lah yang harus mengalah.

Mengalah bukan berarti kalah, dan kalah bukan berarti mengalah. Orang yang mengalah memiliki tujuan, sementara orang yang kalah adalah akibat fatal dari sebuah benturan yang tidak dimenangkan. Persamaannya, keduanya belum tentu gagal.

Mengalah bukan sifat alami manusia, karena ia tumbuh dari sebuah konsep yang bernama toleransi. Karena memiliki dan mengembangkan akal budi, manusia bisa mengalah sekalipun lebih kuat dan bisa menang. Binatang mengalah bukan karena toleransi tetapi karena yakin tidak akan menang bila melawan. Kalau badannya sama kuat mungkin binatang itu akan melawan. Negara demokrasi terbangun karena unsur toleransi dan mengalah untuk mencapai tujuan politik para pelakunya. Di kalangan politisi, mengalah untuk menang sudah menjadi bagian dari napas kehidupan sehari-hari.

Kita pernah mendengar konsep win-win solution, yang lebih kurang bermakna penyelesaian menang-menang. Apakah berarti sama-sama menang? Kenyataannya tidak demikian. Orang bisa menganggap dirinya menang bila mencapai tujuan, sekalipun tidak bisa mendominasi. Karena saling merelakan sebagian dari dominasi tersebut, kemudian orang bisa memperoleh hal yang diinginkannya. Jadi, di sebuah sisi kemenangan dalam win-win solution adalah aspek kalah atau mengalah.

Karena bukan sifat manusiawi, mengalah butuh latihan. Anak kecil yang sedang bermain bersama teman-temannya, pada awalnya tidak mengenal istilah mengalah. Kemauannya adalah dominan dan mendominasi. Mainannya tidak boleh dipinjam temannya tapi kalau pinjam harus diberi. Anak yang berusia lebih tua (sekalipun hanya beberapa bulan) dengan mudah akan mendominasi teman yang lebih muda. Di titik awal sosialisasi dengan teman-temannya inilah seharusnya anak dilatih untuk bertoleransi dan mengalah.

Tidak mengalah adalah membatu, seperti tembok. Karena tidak fleksibel, cara untuk melaluinya adalah dengan merobohkan atau melobanginya. Orang dengan pribadi yang seperti itu hanya mengundang orang untuk memusuhi, atau membuat orang berbalik karena tidak suka berhubungan.

Apakah dengan demikian banyak mengalah adalah hal yang utama? Tidak juga. Bagaimana pun, orang  menyukai karakter yang teguh hati. Keteguhan hati juga hal yang layak dipelajari dan diperjuangkan, karena hanya orang dengan keteguhan hatilah yang akan mampu mencapai tujuan. Kadangkala orang sukar membedakan sifat teguh hati dan keras kepala, karena di dalamnya sama-sama memuat unsur keinginan untuk unggul, tidak kalah, dan bertahan. Mungkin bedanya adalah dalam hal menyikapi tujuan yang sesungguhnya.

Bagi orang yang teguh hati, tujuan adalah fokus yang harus diraih – dengan cara terbaik yang bisa dipikirkannya. Kalau pun harus mengalahkan orang lain, mengesampingkan toleransi, dan tidak mau mengalah, itu semata-mata karena memang harus demikian bila ingin berhasil.

Bagi orang yang keras kepala, cara menjadi fokus di atas tujuan. Dominan, unggul, tidak kalah, adalah tujuan. Untuk apa? Tidak jelas. Karena tidak tahu alasan melakukannya, jelas orang tersebut akan mudah kehilangan arah, bahkan tidak akan pernah tahu bagaimana dia akan menyusahkan orang lain.

Betapa banyak orang yang telah kehilangan arah, tidak paham dengan tujuan hidupnya, tetapi bersikap dan berperilaku orang yang punya tujuan. Salah satu indikasinya adalah maraknya artis karbitan, politisi belum matang, jurnalis asal jadi, semuanya dikarenakan peluang dan kesempatan menjadi “orang” terbuka.

Di layar kaca, digambarkan betapa glamornya kehidupan seorang pesinetron atau penyanyi yang sudah jadi. Tetapi, orang tidak tahu betapa melelahkannya dan terkungkungnya kehidupan pribadi mereka, hanya agar memuaskan khalayak penggemar. Kejar tayang, shooting hingga dini hari, skedul roadshow, dsb. Mereka yang tidak pernah membayangkan sulitnya kehidupan seorang artis, mungkin akan mengalami depresi dan memudar dengan cepat bila tak sanggup menahan tekanan seperti itu.

Satu dasawarsa ini adalah era kebangkitan kaum politisi. Bahkan dalam pemilu legislatif yang terakhir, begitu banyak kaum muda yang ingin masuk ke gedung dewan sekalipun rentang mereka masuk ke kancah politik mungkin baru seumur jagung. Kalau kita tengok beberapa surat kabar yang mengetengahkan berita tentang anggota dewan yang harus berurusan dengan polisi, bahkan sudah masuk penjara, sebenarnya kita harus maklum bahwa godaan uang yang tidak halal menjadi bagian dari keseharian anggota dewan. Hanya mereka yang cukup matang lah yang mampu menahan godaan sesaat ilusi kenikmatan uang.

Intinya, tanpa tujuan, hidup yang kita jalani hanyalah keindahan kembangan saja. Seorang perempuan yang ingin bekerja, hanya karena sayang dengan ijazah S-1 nya, seharusnya berpikir ulang. Impian menjadi pegawai negeri adalah ilusi, karena di sana akan ada harapan pensiun sementara pekerjaan hariannya tidak memeras keringat. Padahal, ulama yang menyitir hadits menjelaskan bahwa, dari 10 jalan rizki 9 di antaranya adalah perniagaan. Bila Rasulullah sudah menyatakan demikian, itulah yang seharusnya menjadi buah pikiran kita.

Bukan pegawai kantoran yang mudah menunaikan rukun Islam ke-5 yakni berhaji, melainkan mereka yang kehidupannya justru dalam perniagaan. Seorang pegawai tidak akan kaya, kecuali dia mau bekerja sampingan dengan berniaga.

Semoga kita senantiasa menjadi hamba Tuhan yang berpikir dengan hati dan menimbang dengan nurani. Dengan demikian, kita tidak sekedar ikut-ikutan melainkan dengan mantap mengikuti tujuan yang kita tetapkan sendiri.